MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
POHON MANGGA BIKIN GEGER



Nana pun menarik tangan Hessel dan berlari keluar rumah.


"Nana jangan lari-lari, jalan pelan-pelan saja pikirkan kandunganmu." seru Hessel memperlambat jalannya.


"Mas, Nana mau mangga." rengek Nana menggandeng erat lengan Hessel sambil mencak-mencak, di pekarangan rumah nenek memang tidak ada pohon mangga.


"Tapi sekarang bukan musim buah mangga Na, kita beli di supermarket saja ya!" bujuk Hessel.


"Enggak mau mas, Nana mau buah yang langsung dipetik dari pohonnya." rengek Nana.


"Di sini tidak ada pohon mangga sayang, aku ambil kunci mobil kamu tunggu di sini, kita ke supermarket sekarang."


"Pokoknya Nana mau petik langsung buahnya, Nana enggak mau beli mas."


"Astaga sayang bawel banget sih dibilangin, ya udah kita cari di sekitar sini."


Akhirnya Nana pun kegirangan karna suaminya mau menuruti keinginannya, tapi Hessel jadi kebingungan dimana dia akan menemukan pohon mangga yang sedang berbuah.


Hessel dan Nana berjalan kaki sambil mampir ke rumah orang satu per satu untuk membeli buah mangga yang langsung di petik dari pohonnya. Pohonnya memang banyak, tapi tak ada satupun dari pohon tersebut yang sudah berbuah.


Para tetangga bilang sekarang bukan musimnya panen buah mangga, mereka menyarankan untuk membeli di pasar atau di supermarket saja tapi Nana tetap ngeyel pengin metik langsung buah mangga dari pohonnya.


"Dimana ya pak, saya bisa menemukan pohon mangga yang sedang berbuah sekarang?" Hessel masih berusaha menanyai orang-orang yang lewat.


"Sekarang langka pak belum musimnya, tapi bukan berarti tidak ada, bapak bisa temukan buahnya di persimpangan jalan gang ini, itu pohon mangga selalu berbuah tapi tidak ada pemiliknya siapapun boleh menggambilnya atas izin RT di sini dan kesepakatan masyarakat menjadi milik bersama." jawab orang tersebut.


"Mas, kita ambil yang itu saja." kata Nana mulai riang.


"Iya sayang sebentar." bisik Hessel.


"Istrinya lagi ngidam ya pak?" tanya orang tersebut.


"Iya pak, lagi rewel-rewelnya." jawab Hessel kontan Nana refleks mencubit pinggang Hessel.


"Nana enggak rewel ya!" ketus Nana dengan muka cemberut.


"Kalau begitu saya beli ya pak, kami pendatang di sini." kata Hessel sambil mengunjukkan sejumlah uang pada orang tersebut.


"Tidak perlu beli pak, siapapun boleh mengambilnya secara cuma-cuma."


"Ya sudah pak ambil saja uangnya buat keperluan sehari-hari." Hessel tetap kekeh memberi orang tersebut.


"Terima kasih pak, terima kasih banyak semoga kebaikkan bapak dan istrinya dibalas oleh yang di Atas."


"Aamiin, terima kasih juga sudah memberitahu kami."


Setelah itu Hessel dan Nana pun melanjutkan perjalanan sampai akhirnya mereka menemukan pohon mangga yang mereka cari, ternyata pohon mangganya baru mulai berbuah pas banget untuk Nana yang sedang ngidam.


Tentunya Nana sudah ngiler melihat mangga muda yang bergelantungan di pucuk pohonnya. Ingin sekali dia meraihnya dan memakannya sampai puas.


"Pohonnya lumayan tinggi ya Na." Hessel menyeringai melihat pohon di depannya dan Nana secara bergantian.


"Kenapa mas, jangan bilang kalau mas enggak bisa manjat?" tebak Nana dengan muka datar dan mata sinis.


"Bisa Na, tapi aku pinjam tangga ke tetangga sebentar ya."


"Ah! kelamaan mas, Nana saja yang manjat." Nana mulai ngeyel membelakangi Hessel.


"Jangan sayang, kamu sekarang jadi bawel banget ya gemas aku." Hessel memutar pelan tubuh Nana.


"Habisnya mas enggak bisa manjat, sebal Nana." ketus Nana kesal dan cemberut.


"Iya aku manjat tapi pakai tangga bolehkan sayang?" Hessel dengan tenangnya berusaha membujuk istrinya sambil mencubit dagu Nana.


"Ya sudah pergi sana, cepat!" ketus Nana dengan pandangan mendongak ke atas melihat buah mangga.


"Iya, kamu tunggu di sini ya jangan kemana-mana."


Hessel pun pergi ke rumah tetangga untuk meminjam tangga supaya dia bisa memetik buah mangga untuk istrinya yang sedang ngidam.


Saat Hessel meminjam tangga, mobil nenek melewati pohon mangga dimana ada Nana.


"Nenek, bukankah itu Nana?" kata Arin sambil menunjuk ke arah pohon mangga, sontak nenek menyuruh supirnya berhenti dan nenek kaget melihat Nana manjat pohon mangga.


"Astaga dimana suaminya, istrinya dia biarkan manjat pohon, kalau terjadi sesuatu sama cicitku bagaimana?" gerutu nenek sembari turun dari mobil diikuti oleh Arin, mereka pun menghampiri pohon mangga.


"Nana, turun sayang jangan manjat bahaya!" panggil nenek dengan raut wajah penuh kecemasan.


"Tenang saja nek, Nana waktu kecil sudah biasa manjat, pohon kelapa juga bisa Nana panjat." teriak Nana dari atas.


"Ya ampun anak ini apa yang dia pikirkan." keluh nenek sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Suamimu dimana sayang, kenapa kamu sendirian, cepat turun Na." tanya nenek sambil masih berusaha menyuruh Nana turun.


"Astaga mereka ada-ada saja." gerutu nenek dalam hati.


"Na, kebetulan nenek beli buah mangga dari supermarket, kamu turun ya Na."


"Pasti buahnya matangkan nek, Nana enggak mau yang matang, Nana maunya yang mentah lebih enak."


"Turun sayang, nenek takut kamu jatuh."


Tiba-tiba suara benda terjatuh dari atas membuat nenek dan Arin kaget, sontak mereka menoleh ke belakang takutnya Nana yang jatuh, ternyata malah buah mangga muda yang jumlahnya banyak berhasil Nana petik.


"Nana turun sayang, kamu membuat nenek hampir jantungan."


"Maaf nek maaf, Nana turun sekarang nek." sahut Nana dengan santai dan mulai turun dengan hati-hati sampai akhirnya kakinya dengan aman kembali menginjak tanah.


Nenek langsung memeluknya, dan Nana tetap meyakinkan nenek kalau dia baik-baik saja, nenek tidak perlu cemas tapi kelakuan Nana tentu saja membuat orang-orang di sekitarnya cemas.


Tepat saat itu juga Hessel datang membawa tangga, Hessel tentunya kaget melihat buah mangga cukup banyak tergeletak di tanah dan di sana juga ada nenek dan Arin.


"Kau lihat Hes, kelakuan istrimu." ujar nenek dengan nada ketus bicara pada Hessel.


"Semua ini Nana yang petik nek?" tanya Hessel tidak habis pikir.


"Kau dari mana saja, kalau istrimu tadi jatuh nenek akan marah besar pada kalian berdua."


"Hessel meminjam tangga nek, Hessel juga sudah meminta Nana untuk menunggu sebentar."


"Bodoh kamu! sudah tau istri sedang hamil masih saja dipercayai omongannya." kata nenek, Hessel mendekati Nana dan merangkulnya.


"Aku minta maaf ya Na!" kata Hessel sambil memegang kedua kupingnya pertanda sedang memohon maaf pada Nana.


Nana meraih kedua tangan Hessel dan melepasnya, Hessel tidak perlu meminta maaf karna Nana sadar diri dialah yang bersalah sudah membuat mereka semua cemas. Nenek senang melihat Hessel dan Nana sama-sama mau mengakui keteledoran masing-masing dan saling meminta maaf, itu tandanya mereka tidak egois.


"Lalu siapa yang akan menghabisi mangga muda sebanyak ini?" kata Arin.


"Aku, aku pasti akan menghabisinya." sahut Nana seolah-olah yakin bisa memakan semuanya.


"Dasar istriku rakus." Hessel mencubit pinggang Nana.


Setelah itu mereka pergi dari sana dan kembali ke rumah. Sesampainya di rumah Nana langsung mandi, sementara Hessel mencuci bersih buah mangganya.


Nenek dibantu oleh pelayannya dan juga Arin sedang menyiapkan hidangan untuk makan malam. Sehabis mandi Nana juga tak lupa membantu nenek memasak di dapur, dia akan memakan buah mangganya sesudah makan malam nanti.


Hessel bersama Devan sudah menunggu di meja makan, mereka berdua seperti raja yang menanti dayang-dayangnya mengantar makanan lalu menyuapinya.


Makan malam pun berjalan menyenangkan, mereka masih duduk di meja makan, Nana sibuk sendiri mengupas kulit mangganya.


"Nana, nenek ambilkan kamu kecap manis ya!" kata nenek.


"Tidak perlu nek, Nana sudah ambil garam, makan mangga muda lebih enak dicacah pakai garam saja." jawab Nana sambil mulai memakan mangganya.


Begitu mangga itu masuk ke dalam mulut Nana, semuanya meleleh melihat Nana sangat menikmati mangga muda yang rasanya pasti sangat asam tapi Nana sangat menikmatinya.


"Ergttt... Nenek ke kamar saja, Nana bikin ngiler." kata nenek sembari bangkit dan dia pun pergi ke kamarnya.


"Kalian mau?" tanya Nana sambil menyodorkan ke arah Arin dan Devan.


Arin dan Devan sontak menolak walau sebenarnya mereka ngiler ingin memakannya, tapi mereka tau rasanya pasti sangat asam apalagi hanya dimakan bersama garam. Arin dan Devan pun ikut beranjak pergi ke kamarnya.


Nana masih menikmati mangganya, ditemani oleh sang suami yang sedari tadi menopang dagu hanya bisa meneguk saliva saat memperhatikan Nana makan mangga muda dengan garam.


"Kamu tidak pergi juga sayang?" tanya Nana tanpa menoleh ke arah suaminya dan Hessel menggeleng.


"Apa itu rasanya sangat enak, Na?" tanya Hessel.


"Eemm... kamu mau mas?" kontan Nana menyodorkannya pada Hessel.


"Tidak sayang, kau makanlah sendiri, aku sudah kenyang melihatmu sangat menikmatinya." jawab Hessel sambil tersenyum gemas mengusap-usap kepala istrinya.


"Ayolah mas makan sedikit saja, enak kok." bujuk Nana mengarahkan tangannya yang memegang seiris potongan mangga yang sudah bercampur garam untuk disuapkan ke mulut Hessel.


Hessel berusaha mengelak dan menolak, tapi jahilnya Nana tetap memaksa potongan mangga itu masuk ke dalam mulut suaminya sampai akhirnya Nana berhasil.


Sontak Hessel menggelinjang dan menjerit karna rasa asin yang bercampur dengan rasa asam membuat ekspresi wajahnya sangat lucu, sampai membuat Nana tertawa terbahak-bahak saat Hessel berusaha menelannya tapi malah kembali memuntahkan.


"Kau mau meracuniku sayang?" gerutu Hessel kesal, sementara Nana masih menertawakannya.


"Bagaimana, apa rasanya enak mas?" tanya Nana sambil tersenyum menahan tawa.


"Rasanya sangat aneh." mendadak Hessel semakin mendekatkan tubuhnya alih-alih akan mencium Nana, tapi dengan usilnya Nana mengambil garam di atas meja dan mengoleskannya ke bibir suaminya yang hendak menciumnya tadi.


Sontak Hessel terngaga dibuatnya, dan Nana tertawa sambil berlari menjauh dari Hessel, Hessel tidak mau kalah akhirnya mereka main kejar-kejaran di dapur sampai Hessel berhasil menangkap istrinya.