MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
MAKAN BARENG



"Pa, Hessel merasa kalau pak Rehan dan papa ada masalah, semalam saat Hessel menyelenggarakan makan malam bisnis pak Rehan terlihat aneh sikapnya dan putranya mencoba mengancam Nana, Hessel tidak tau apa-apa tentang kalian tapi Hessel minta tolong sama papa jangan sampai Nana menjadi korban dari perselisihan yang terjadi diantara kalian." ucap Hessel.


"Papa benar-benar tidak tau Hes, papa merasa selama ini hubungan kami baik-baik saja, pak Rehan juga masih sama seperti dulu beliau orang yang hangat, ramah dan baik bahkan kami masih sering berkomunikasi."


"Sepertinya kali ini berbeda pa, saat dia melihat Hessel dan Nana, Hessel bisa merasakan tatapan di matanya penuh kebencian."


"Nanti papa coba hubungi dia, kamu jaga baik-baik Nana, saat ini papa tidak bisa pulang mungkin seminggu lagi papa akan pulang dan menyelesaikan perselisihan diantara kami."


"Hessel juga sedang menyelidikinya, meskipun kita tidak tau apa yang sedang dia rencanakan kita tidak bisa diam saja, kita harus bertindak cepat atau kita yang akan terjebak."


"Bagus nak, papa juga akan terus memantau kalian dari kejauhan, papa tidak akan tinggal diam."


Hessel baru saja melakukan hubungan telepon jarak jauh dengan ayahnya. Hessel memberitahu ayahnya mengenai kejadian yang kemarin malam dialaminya.


Yoga menemui Hessel di ruangannya. Yoga membawa kabar tidak baik, setelah semalaman menjadi mata-mata menyelediki pak Rehan.


"Apa yang kau dapat Ga?" tanya Hessel.


"Hes, sepertinya pak Rehan sedang merencanakan konspirasi besar, aku tidak bisa mendengar dengan jelas karna anak buahnya berjaga di luar rumah tapi dari video ini terlihat jelas mereka sedang membicarakan masalah serius."


Yoga mengunjukkan ponselnya dan menyuruh Hessel menonton video yang di dapatnya. Di dalam sana terlihat pak Rehan sedang berbincang dengan putranya lalu pak Rehan menelepon seseorang dengan raut wajah liciknya. Hessel pun meminta Yoga supaya mencari informasi yang lebih jelas, apapun caranya Hessel tidak mau tau yang jelas Yoga harus berusaha lebih keras.


*****


"Eumh, baby perut sabar dulu ya nanti kita makan makanan yang enak hari inikan aku langsung digaji." ucap Arin bicara pada perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan karna Arin belum makan dari tadi siang.


Sepulang dari syuting iklan, Arin mampir ke sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari kantor. Arin berjalan sendirian memasuki cafe tak disangka di sana Arin bertemu Yoga.


Yoga sedang duduk menunggu pesanan sambil terus memperhatikan Arin. Arin berada di meja sebelah Yoga tanpa mau menoleh ke arah Yoga karna Arin masih merasa malu takut Yoga akan memarahinya setelah apa yang Arin lakukan padanya.


Pelayan cafe menghampiri Arin, Arin memesan makanan yang biasa dipesannya. Tapi, ada laki-laki yang berani mengganti pesanannya.


"Dia tidak minum soda, pesankan jus alpukat saja." kata Yoga menimpal Arin yang sedang bicara dengan pelayan cafe.


"Mbak jangan dengarkan dia, tulis saja air soda." kata Arin masih bersikap cuek tidak mau melihat Yoga.


"Jus alpukat mbak! Jus menyehatkan tubuh sedangkan air soda cuma bisa bikin perut kembung." sahut Yoga lagi sehingga pelayan cafe mencoret pesanan air soda menggantinya dengan jus apel.


"Tidak mbak, saya pesan air soda." kata Arin lagi-lagi pelayan cafe mencoret dan mengganti pesanannya.


"Catat baik-baik jus alpukat, tidak ada minuman yang lain, titik!" timpal Yoga lagi membuat pelayan cafe kesal dengan mereka berdua.


"Tuan dan nona, kalian jangan mempermainkan kami, jika kalian masih berdebat dan duduk berjauhan seolah kalian tidak saling kenal yang nyatanya kalian sepasang kekasih dan kalian juga tidak bisa diam silakan kalian keluar cari tempat makan lain saja."


Sontak Arin tercengang dan melongo mendengar kata sepasang kekasih, sementara Yoga menyunggingkan bibirnya dengan senyum centilnya.


"Mbak jangan berpikir macam-macam, dia makhluk luar angkasa, saya tidak kenal dengan dia." kata Arin mengelak.


"Saya minta maaf mbak, kami baru saja putus makanya dia menganggap saya seperti makhluk asing tapi percayalah mbak kami masih saling mencintai walaupun kami sudah putus, kami putus bukan karna keinginan kami tapi karna orang tua kami tidak merestui hubungan kami." sahut Yoga dengan segala bualannya.


"Maaf ya mbak saya jadi curhat, walaupun saya laki-laki tapi rasanya batin saya juga sakit betapa malangnya kisah cinta kami yang terpaksa harus berpisah demi kebahagiaan orang tua." sambung Yoga lagi semakin banyak membual justru malah membuat Arin jengkel dan ingin sekali melemparnya dengan vas bunga di atas meja.


"Bapak bicara apa?" cengir Arin pelan yang hanya dimengerti oleh Yoga tapi Yoga hanya diam menatap Arin.


"Ya sudah hentikan pertengkaran kalian, silakan kalian duduk di meja yang sama dan mulai putuskan ingin memesan makan dan minuman apa." ujar pelayan cafe.


"Kemari kekasihku, aku merindukanmu!" Yoga memanggil Arin supaya mendekat, semantara pelayan cafe heran melihatnya.


Arin sangat kesal tepaksa dia mengalah, Arin harus pindah tempat duduk ke tempat Yoga. Yoga sepertinya tampak bahagia terlihat dari raut wajahnya yang sumringah sambil menahan senyum saat melihat raut wajah terpaksa Arin duduk bersamanya.


Dengan rasa terpaksa Arin mengikuti semua menu yang dipesan oleh Yoga sehingga mereka memesan menu yang sama, padahal Arin tidak mau makan steak daging sapi apalagi jus alpukat.


Sebelum Yoga memakan steak miliknya yang sudah dipotong kecil-kecil, Yoga melihat steak milik Arin masih utuh dan Yoga langsung mengerti sehingga Yoga menukar steak miliknya dengan milik Arin.


"Pak, kenapa ditukar?" tanya Arin bingung.


"Kau makan yang itu, jangan bilang juga kau tidak bisa makan pakai garpu." kata Yoga juga sedikit meledek Arin.


"Bisa kok pak, terima kasih untuk semuanya." kata Arin, Yoga hanya tersenyum kecil sambil memotong steak.


Arin tersipu malu, ternyata Yoga tau kalau dia tidak bisa memotong steak. Tapi, Arin juga senang laki-laki yang baru dikenalnya ternyata memang orang baik-baik bahkan sampai rela menukar makanan mereka.


Seorang pelayan cafe datang lagi menghampiri mereka dengan membawa semangkuk es krim bukan 2 gelas jus alpukat.


"Maaf Tuan dan nona, kami kehabisan stock buah-buahan sehingga tidak bisa membuat jus, tapi karna pak Yoga pelanggan tetap kami kali ini kami ingin memberikan semangkok es krim coklat Swiss yang hanya diperjual belikan untuk sepasang kekasih dan ini gratis untuk bapak." ujarnya.


"Oh boleh kok mbak." kata Yoga dengan senang hati sementara Arin tidak bisa berkata apa-apa. Arin malah kepikiran bagaimana jika istri Yoga mengetahui mereka makan bersama, tentu saja Arin tidak mau dicap sebagai wanita perebut suami orang.


"Selamat menikmati Tuan dan Nona." ujarnya mempersilakan untuk segera disantap.


"Terima kasih mbak." jawab Yoga dan Arin serentak yang membuat mereka tatap-tatapan lalu dengan cepat Arin menunduk agar dia tidak terbawa suasana, Yoga juga kembali memakan steaknya.


"Jangan ragu untuk memakannya karna es krim itu untukmu." ujar Yoga.


"Lalu bapak minum apa?" tanya Arin tidak dijawab oleh Yoga malah Yoga mengalihkan pembicraan.


"Saya minta maaf sama kamu, karna saya sembarangan berucap mereka jadi salah paham tentang hubungan kita." jelas Yoga. Arin tersenyum dia senang dengan laki-laki yang mau mengakui kesalahannya meski sekecil apapun salahnya.


"Tidak apa-apa pak tidak perlu minta maaf seserius itu, es krim ini bapak saja yang memakannya saya bawa air mineral kok pak." kata Arin sambil mengambil sebotol air dari dalam tasnya.


Yoga sontak tertawa geli, karna botol itu sudah tidak berisi air sementara Arin belum menyadarinya.


"Yang kamu bawa itu botol kosong." ujar Yoga, kontan Arin melihat botolnya mendadak merasa malu.


"Aduh maaf pak tadi memang berisi air, tapi saya lupa kalau airnya sudah habis saat syuting tadi." ucap Arin menjelaskan agar rasa malunya sedikit berkurang.


"Makanya kamu minum saja es krimnya, saya sudah biasa makan tanpa minum."


"Saya tidak mau seperti itu pak, bagaimana kalau kita memakannya secara bergantian, biar adil pak."


Tapi, Arin merasa tidak nyaman jika makan milik orang lain sehingga dia menemukan sebuah ide dan tentu saja Yoga menyetujuinya. Mereka pun memakan es krimnya dengan semangat dan bergantian sampai es krim itu habis.


Arin sampai kekenyangan dan bersendawa beberapa kali di depan Yoga. Yoga hanya mampu tersenyum setelah sekian lama dia mencari wanita seperti Arin akhirnya tanpa dicari sosok Arin muncul dengan sendirinya di hadapannya.


"Kita belum berkenalan, kamu sudah tau nama saya tapi saya tidak tau siapa nama kamu." kata Yoga sambil mengulurkan tangannya.


Arin membalas jabat tangan Yoga dengan ragu-ragu.


"Saya Arin, pak." kata Arin dan secepat mungkin menarik tangannya.


"Nama yang bagus." puji Yoga membuat Arin tersenyum sambil manggut-manggut karna bingung harus bicara apa lagi.


"Pak, saya mau minta maaf tadi saya sudah membuat bapak malu di depan karyawan bapak." sesal Arin dengan tingkahnya yang rada polos dan kaku karna masih dalam tahap belajar menjadi wanita feminim.


"Tidak apa-apa lupakan saja! Dan saya juga minta maaf, saya meninggalkanmu bukan berarti saya marah tapi kebetulan tadi saya ada urusan sama atasan saya." jelas Yoga yang membuat Arin sekarang merasa sedikit lega.


"Tapi bapak tidak terlukakkan, wajah bapak tidak ada yang lecetkan?" tanya Arin memastikan.


"Seperti yang kamu lihat wajah saya masih tampan dan bersih seperti pertama kali kita bertemu." jawab Yoga membuat Arin memalingkan wajah dan tersipu malu hingga tak bisa mengucapkan apa-apa lagi selain berterima kasih.