MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
PENDAPAT ISTRI



Di Kamar Hessel dan Nana


Nana sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampus, Hessel masuk ke kamar di lihatnya istrinya sudah rapi tapi masih duduk di depan cermin rias sambil mengepang rambutnya.


"Naaa" panggilnya, Nana pun menoleh suaminya yang duduk di tepi ranjang.


"Hm, kenapa mas." jawabnya mengangguk, Hessel perlahan mendekatinya di peluknya sebentar Nana kemudian di kecupnya kening Nana.


"Na, jika aku membantu ayah mengurus bisnis di kantor gimana, boleh gak?" tanya Hessel.


"Mas bertanya apa sih, jelaslah Nana membolehkan lagipula membantu orang tua itu sudah seharusnya kan mas." jawab Nana.


"Aku hanya meminta izin darimu, kata orang ridho istri adalah ridho Allah kunci keberhasilan seorang suami, makanya sebelum aku bertindak melakukan sesuatu aku ingin istriku mengetahuinya juga, benar begitu kan?" kata Hessel sambil menatap istrinya.


"Hm manisnya, tapi jika untuk membantu orang tua tidak perlu meminta izin dariku mas, selama membantu untuk kebaikan sudah pasti aku mengizinkan." jawabnya balik menatap suaminya.


"Iya makasih Na, tapi ada satu masalah lagi." kata Hessel dengan nada lesu.


"Masalahnya apa mas?" tanya Nana bingung.


"Jika aku berhenti menjadi dosen gimana, apa kau setuju?" katanya membuat Nana sedikit kaget.


"Lho kenapa berhenti mas, menjadi PNS bukankah itu cita-cita kamu mas"


"Kamu kan sebentar lagi lulus, ya aku merasa gak nyaman aja apalagi masih ada Laras disana." ucap Hessel.


"Itu masalahmu mas?" Nana sedikit tertawa.


"Iya memangnya kenapa Na, kok malah tertawa."


"Setahu aku mas itu kalau sedang berkerja selalu profesional dan totalitas, buktinya aja mas bisa bersikap seolah hubungan kita ini hanya sebatas dosen dan muridnya saat di kampus sampai tak ada yang mencurigai kita, lantas kenapa mas takut sama bu Laras, dia hanya masalalumu mas, apa jangan-jangan mas masih menyimpan rasa pada bu Laras, tidakkan mas?" kata Nana sedikit mencurigai.


Hessel terdiam kemudian dengan cepat dia menjawab.


"Bukan masalah perasaan Na."


"Lalu apa masalahnya?" cetus Nana merasa kesal.


"Dia itu licik aku takut dia mengganggumu, disaat aku sibuk bekerja nanti dia malah menyakitimu"


"Hm, mas gak perlu khawatir sekarang istrimu ini sudah cukup berani"


"Kau ini Na selalu berusaha membuatku tenang"


"Ehh Nana baru ingat mas kan gak khawatir sama Nana." ketus Nana lalu berpaling membelakangi Hessel.


"Kapan aku bilang begitu?"


"Barusan saat di rumah ayah." jawab Nana dengan wajah datar.


"Arghhh kau ini" lagi-lagi mengacak rambut Nana hingga kepangannya berantakkan dan membuat Nana jengkel.


"Aaa mas hentikan rambut Nana jadi berantakkan, kan Nana jadi jelek" rengeknya jengkel memukul Hessel dengan sisir.


"Aku gak tau kenapa aku suka memberantakkan rambutmu" ucap Hessel sambil tertawa melihat ekspresi lucu istrinya di cermin.


"Sepertinya itu akan menjadi kebiasaan baru bagiku." sambung Hessel.


"Arghhh mas, nanti Nana balas perbuatanmu mas" ucap Nana mengancam.


"Emang kau berani membalasnya, kira-kira istriku mau balas dengan cara apa ya?"


"Olesi bibir Nana lipstik" rengek Nana sedikit memaksa.


"Kau serius Na, pegang lipstik aja aku gak pernah gimana mau mengolesnya di bibir"


"Nana tidak mau tau, mas harus mengoleskanya di bibir Nana ini" kata Nana sambil menggigit kecil bibirnya dan menunjukkannya ke dekat wajah Hessel, membuat Hessel saat itu ingin sekali menciumnya.


"Ayo olesi bibir Nana" pinta Nana dengan manja.


"Kau ini ada-ada aja, kalau belepotan jangan salahin aku" kata Hessel mengambil lipstiknya dan mulai mengoleskannya.


"Ehh tapi mas, Nana setuju-setuju aja apapun keputusan yang mas pilih nantinya, Nana akan mendukung kamu mas, mas mau kerja di kantor boleh, mau jadi dosen aja boleh, mau dua-duanya juga boleh." kata Nana mulai serius membuat suaminya tersenyum.


"Baguslah, tapi untuk sementara waktu aku akan memilih dua-duanya, tidak mudah juga untuk melepas jabatan hanya karna masalah yang tidak masuk akal." jawab Hessel.


"Hm, tuh mas tau sendirikan, masa hanya karna bu Laras sampai mas rela lepasin jabatan"


mendadak dipeluknya Nana dari belakang saat Nana hendak membuka pintu kamar untuk berangkat kuliah.


"Kenapa kamu gak mau naik mobil yang aku belikan, apa mobilnya kurang keren?" tanya Hessel sambil memeluk Nana.


"Em"


"Bukan gitu mas, Nana gak enak aja mobilnya terlalu mewah apalagi jika mereka lihat Nana ke kampus dengan mobil mewah pasti mereka akan membully yang tidak-tidak, mending mas kembalikan lagi mobil itu." ucap Nana.


"Bilang aja kamu mau naik mobil bersamaku." ucap Hessel menggoda Nana.


"Iya itu juga alasannya." kata Nana secepat kilat dan membuang muka.


"Jangan pikir aku tidak mendengarnya" sindir Hessel.


"Kuping mas kan budek mana mungkin mas mendengarnya."


"Kau ini malah mengejekku, karna kamu bilang seperti itu ayo korekkan kupingku"


"Ishhh gak mau, Nana kan mau kuliah" Nana berhasil melepaskan diri dari Hessel tapi Hessel malah menarik tangannya sehingga Nana kembali mendekat.


"Nanti kita pulang bareng ya" bisik Hessel lembut.


"Memang boleh mas? bagaimana kalau dilihat orang-orang" tanya Nana sedikit kaku.


"Boleh-boleh aja tapi harus pakai trik." ucap Hessel membuat Nana bingung.


"Trik apaan mas, mau nebeng aja mesti pakai trik."


"Trik menghilang kayak di film-film, nanti kamu gak bakal ketahuan masuk ke dalam mobilku." seketika mereka pun tertawa, dukun aja gak bisa ngilang.


"Udah ahh mas nanti Nana gila gak jadi ke kampus"


"Dengar aku, hari ini aku gak masuk kampus"


"Hm, kenapa emangnya mas?"


"Mau ke kantor papa, bolehkan?"


"Tentu saja boleh mas, semoga lancar ya hari pertama kerjanya."


"Aamiin makasih" cuppp dikecupnya kening Nana.


"Kamu kuliah yang benar, jangan dekat-dekat sama cowok" ucap Hessel memberi peringatan.


"Apa mas cemburu, aaa mas cemburukan Nana dekat-dekat sama mereka?" ucap Nana sedikit menggoda suaminya.


"Ishhh gaklah, kau kan istriku setidaknya hargai pernikahan kita." jawab Hessel dengan nada datar.


"Hm, iya deh mas" pasrah Nana, dia tidak akan memaksa untuk dicintai oleh suaminya, bisa bersama suaminya saja rasanya Nana sudah bahagia jadi dia tidak ingin menuntut apapun lagi.


"Cemburu, cinta, tidak, selalu tidak jawabnya, emmm kasian kamu Nana, entah kapan kamu bisa mencintaiku, mas." gumam Nana.


Saat Nana melangkah keluar, Hessel kembali memanggilnya.


"Kau melupakan sesuatu, mendekatlah" panggil Hessel.


"Em, apa mas?" Nana bingung dan mendekat.


"Jika mau pergi harus pamitan dulu sama suami" ucap Hessel.


"Bukannya mas udah tau Nana mau ke kampus, kan mas lihat sendiri ngapain harus pamit lagi." sahut Nana.


"Mau jadi istri sholehah gak, kalau gak mau ya udah jadi saja istri durhaka aja pergi sekalian kabur dari rumah."


"Mas kok gitu nyumpahin Nana" ucap Nana mendadak sedih.


"Bukan nyumpahin dasar Nana, kita membiasakan diri aja biar terlihat lebih sopan dan manis." kata Hessel sambil tersenyum.


Nana pun tersenyum dan langsung diraihnya tangan kanan Hessel kemudian menyaliminya.


"Assalamu'alaikum mas" ucap Nana sambil menyalimi suaminya dengan tulus.


Cuppp... diraihnya tengkuk kepala Nana kemudian dikecupnya kening Nana.


"Wa'alaikum salam, hati-hati perginya, maaf aku gak bisa mengantarmu" ucap Hessel diusapnya pipi kanan Nana dengan lembut membuat hati Nana berdebar-debar.


"Hm, iya gak masalah mas, mas kerjanya yang benar."


"Nanti pulang kuliah, kamu jangan pergi kemana-kemana tunggu aja di kampus."


"Kenapa begitu mas"


"Aku akan menjemputmu nanti, kamu mau kan?"


Nana tersenyum dan mengangguk, dia tidak tau bagaimana harus mengekspresikan rasa bahagianya saat mendapat perlakuan hangat dan manis dari suaminya, dia pun berangkat ke kampus penuh dengan semangat dan wajahnya berseri-seri.