MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
RUMAH SAKIT



Sepulangnya dari tempat kejadian, Hessel langsung membawa Nana ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan calon buah hati mereka. Setelah dokter periksa ternyata janin yang Nana kandung mengalami stress dan trauma sudah pasti itu disebabkan oleh kejadian yang baru saja menimpa Nana, sehingga Nana harus dirawat secara intensif agar tidak terjadi komplikasi kehamilan dan janinnya bisa cepat sehat kembali.


Hessel ingin dokter melakukan yang terbaik untuk istri dan calon buah hatinya, dokter pun memastikan bahwa janin tersebut akan segera pulih asal Nana diharapkan bisa tenang, selalu gembira dan jangan memikirkan hal apapun, karna jika ibunya ikutan stress maka otomatis membahayakan janinnya.


Untungnya, Nana wanita yang kuat demi menjaga kesehatan janinnya, Nana berusaha selalu tersenyum meski tak bisa dipungkiri tetap terbesit rasa khawatir terhadap janinnya.


"Kamu kenapa sayang?" Hessel melihat Nana melamun lalu memalingkan wajah istrinya agar menghadapnya.


"Mas, Nana takut kehilangan janin ini."


"Sabar dan tetaplah rileks, kamu tidak boleh banyak pikiran Na, aku akan selalu di sini menemanimu." sambil memeluk Nana.


Devan menyusul ke rumah sakit setelah tau dari pelayannya bahwa kakak iparnya diculik dan masuk rumah sakit. Sebelum berangkat Devan yang diantar oleh supirnya menjemput orang tua Nana dan Devan tak lupa mengajak Nuri musuh bebuyutannya.


Pak supir pun langsung tancap gas menuju rumah sakit, tapi tiba-tiba ditengah perjalanan Devan menyuruh supirnya berhenti terpaksa supir menurutinya.


"Paman, bibi, Devan bolehkan pinjam Nuri sebentar?" pinta Devan meminta izin yang langsung disetujui oleh orang tua Nana.


Devan membukakan Nuri pintu sembari mengulurkan tangannya membantu Nuri keluar dari mobil. Nuri masih greget dan kesal kenapa tiba-tiba Devan jadi sangat hangat padahal kemarin mereka saling bully dan bertengkar, dan sejak kapan juga Devan mulai peduli pada kakak iparnya.


Devan menarik tangan Nuri dan mereka pun berlari sambil tertawa masuk ke dalam toko boneka.


Nuri baru kali ini pergi ke toko boneka, dia pangling melihat begitu banyak boneka yang cantik, imut dan lucu.


Devan diam-diam berjalan dibelakang Nuri, begitu Nuri berbalik dia terkejut melihat seseorang memakai kostum spongebob berdiri di belakangnya.


Nuri tidak tau kalau yang ada dibalik kostum itu ternyata Devan, Devan terus mengikuti Nuri yang celingak-celinguk mencari Devan sampai membuat Nuri risih dan memukul orang dibalik kostum.


"Kemana si Devan, jangan-jangan dia meninggalkanku di sini."


"Awas saja kalau dia berani mengerjaiku."


"Nuri di sini aku!" panggil Devan, sontak Nuri balik melihat kebelakang bersamaan dengan Devan yang membuka kostumnya.


"Kau, kenapa kau pakai kostum seperti itu, aku tidak menyukainya sama sekali."


"Jangan kepedean kamu, ini untuk Nana."


"Hah, untuk kakakku?"


"Iya, apa aku salah pakai kostum seperti ini? lucu tidak?"


"Masalahnya kamu lebih lucu dari pada spongebobnya." canda Nuri sambil mencubit pipi Devan dan berlari menjauh.


Saat Devan hendak mengejarnya, dia lupa kalau kostum tersebut menyulitkannya sampailah akhirnya Devan jatuh tersungkur mencium lantai, sontak Nuri tertawa terpingkal-pingkal orang di sekitar pun ikut tertawa.


Sesampainya di rumah sakit, mereka pun buru-buru menuju ruang rawat Nana.


"Bu, kalian menyewa badut ini?" tanya Hessel, ibu, ayah dan Nuri hanya tersenyum karna Devan meminta mereka untuk menjaga rahasia, Nana sangat senang bermain-main bersama badut itu.


"Bagaimana kondisi Nana, nak?" tanya ayah.


"Nana baik-baik saja tapi janinnya mengalami trauma Yah, tapi sekarang Hessel tenang badut itu berhasil membuat Nana tertawa riang lagi."


"Badutnya lucu kan kak." kata Nuri.


"Sangat lucu." jawab Hessel, kemudian mendekati istrinya yang tampak antusias bermain bersama badut.


"Kamu senang sayang?" kata Hessel sambil merapikan rambut istrinya, Nana hanya mengangguk.


"Om badut, jangan terlalu semangat mainnya, pelan-pelan saja biar aman." kata Hessel.


"Mas, ambil foto Nana sama om badut." pinta Nana.


"Aku enggak diajak?" goda Hessel.


"Mas ikut juga."


"Nuri, kemari dek!" panggil Hessel meminta Nuri untuk memotret mereka.


Nana sangat senang akhirnya impiannya untuk berfoto dengan spongebob sudah terwujud, Hessel juga senang ada orang yang mau menghibur istrinya.


"Mas nanti kita beli boneka spongebob yang besar ya, seperti om badut."


"Iya sayang, bila perlu om badutnya aku beli biar di rumah ada yang menghibur kamu selama aku kerja."


"Waktunya makan malam nona!" kata suster yang baru saja datang.


"Enggak mau suster." Nana malah menolak.


"Sayang, kamu harus makan, kamu mau baby kita kelaparan?"


"Enggak mau mas, Nana mau makan yang lain, Nana enggak mau makan makanan rumah sakit rasanya hambar."


"Kamu mau makan apa sayang? biar mas carikan diluar."


"Tapi pak, istri bapak tidak boleh makan makanan dari luar."


"Suster tenang saja, saya pasti memberinya makanan yang higienis."


"Suster, saya sedang ngidam masa saya harus makan makanan dari rumah sakit yang ada malah tambah mual saya, mas pokoknya Nana enggak mau makan, kalau mas masih maksa Nana akan pulang ke rumah dan meminta bibi buat masak."