MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
HILANGNYA DEVAN DAN NURI




Visual Devan dan Nuri pas Devan maksa Nuri naik di motornya, mereka pulang bareng lalu tiba-tiba hujan turun yang membuat mereka harus mencari tempat berteduh.


Sehabis shalat Hessel dan Nana mulai merasa tenang. Mendekatkan diri dengan sang pencipta merupakan cara paling ampuh untuk mengurangi rasa cemas dan gelisah. Sebelum beranjak dari tempat shalat Nana tak lupa mencium punggung tangan suaminya, dan Hessel juga tak lupa mencium kening istrinya.


"Mas, aku lapar." rengek Nana dengan tingkah manja menggelut badan Hessel.


"Ya sudah kita makan dulu, setelah makan baru kamu lanjutkan belajarnya." ucap Hessel langsung membawa Nana kepangkuannya.


"Nana mau makan sambal mangga mas, boleh?"


"Tadi pagikan sudah sarapan pakai sambal mangga sayang, jangan banyak-banyak makan sambal mangga pedas nanti asam lambung, kamu mau?"


"Ah! mas kan Nana sedang hamil, selera makan Nana hanya itu, Nana enggak mau yang lain."


"Ya sudah nanti suruh bi Ijah bikin sambalnya, tapi jangan terlalu pedas." ucap Hessel lembut.


"Terima kasih mas Hessel sayang." kontan Nana mencium pipi Hessel lalu tersenyum senang. Hessel langsung mengajak Nana turun ke bawah.


Saat hendak melangkah tiba-tiba kaki Nana kesemutan yang membuatnya sulit berjalan.


"Auh! Mas kaki Nana sakit." rengek Nana yang sudah terduduk di lantai sambil memanggil suaminya yang berjalan mendahului dirinya dan hendak membuka pintu.


Mendengar rengekkan sang istri, Hessel memutar tubuhnya berjalan menghampiri Nana.


"Kakimu kenapa Na?" Hessel langsung cemas sambil memeriksa kaki Nana takutnya ada yang luka.


"Kaki Nana kesemutan mas." ucap Nana.


Tanpa pikir panjang Hessel langsung menggendong Nana hingga sampai ke ruang makan.


"Bi Ijah tolong bikinin sambal mangga lagi!" ucap Hessel memerintah bi Ijah yang datang menghampiri mereka.


"Baik Tuan, Nona kenapa, Tuan?" tanya pelayan heran.


"Biasa lagi manja bi tidak mau jalan sendiri, maunya digendong." jawab Hessel sambil mendudukkan Nana di atas kursi yang membuat Nana sontak memukul dadanya.


"Kakiku kesemutan mas, Nana enggak manja kok." ketus Nana kesal.


"Cup... cup... Sayang, jangan ngambek aku hanya bercanda sama bibi." Hessel mencium gemas kedua belah pipi Nana membuat Nana risih.


"Sudah mas, panggil Devan dulu ajak dia makan juga." ucap Nana memerintah Hessel.


"Ya ampun sayang aku sudah lama tidak bermesraan sama kamu, saat aku ingin melakukannya kamu malah menyuruhku memanggil Devan."


"Mas, Devan itukan adik kamu seburuk apapun kelakuannya dia tetap adik kamu, kita makan ya dia ikut makan juga, enggak boleh dibeda-bedain mas apalagi kita tinggal satu rumah."


"Oalah, istriku makin pintar dan bijak saja, aku panggil Devan sebentar ya."


"Iya mas, mas lihat aku sebentar." saat berbalik Nana kontan menarik baju Hessel dan langsung mengecup bibir Hessel sekilas supaya suaminya itu tidak merasa kesal karna tadi Nana sempat merasa risih pas dicium.


Hessel pergi ke kamar Devan dengan perasaan senang karna baru saja dapat ciuman mesra dari Nana. Sewaktu membuka pintu kamar lalu masuk, Hessel tidak melihat Devan di sana.


"Pergi kemana anak itu..." Hessel menggerutu karna dia pikir adiknya pergi tanpa berpamitan.


"Biarkan sajalah nanti dia juga tau makan sendiri." ucap Hessel lalu keluar dan menutup pintu kamar Devan.


Hessel kembali menemui Nana yang sudah menunggu mereka di meja makan untuk makan malam bersama.


"Devannya mana mas?" tanya Nana langsung sadar saat Hessel kembali.


"Dia tidak ada, mungkin pergi ke rumah temannya." jawab Hessel santai sembari duduk dan hendak menyantap makanannya yang sudah Nana siapkan.


"Mas, kamu serius Devan tidak ada di kamarnya?" tanya Nana mendadak wajahnya berubah cemas.


"Iya, kenapa kamu terlihat cemas Na?" tanya Hessel bingung.


"Dari tadi Devan belum pulang mas, tadi pagi Devan pamit pergi sekolah katanya sehabis pulang sekolah dia pergi ke bimbel dan akan pulang sebelum magrib Nana pikir dia sudah pulang ini sudah hampir masuk waktu isya ternyata dia belum pulang, Nana khawatir sama Devan mas." ucap Nana menjelasakan sontak Hessel kaget mendengarnya ternyata adiknya belum pulang dari tadi.


Hessel mencoba menghubungi ponsel Devan namun teleponnya sedang berada di luar jangkauan. Hessel dan Nana pergi ke kamar Devan untuk mencari nomor telepon teman-teman Devan yang bisa dihubungi.


Nana menemukan buku telepon dan di sana banyak terdapat nomor teman-teman Devan. Hessel pun mencoba menghubungi satu per satu teman-teman Devan, mereka hanya tau sehabis dari bimbel Devan pamit pulang, mereka tidak tau kalau Devan belum pulang sampai sekarang.


"Mas, ayo kita cari Devan sekarang! Nana tidak tenang mas." paksa Nana merasa sangat khawatir.


"Sayang tenanglah sedikit aku juga khawatir sama Devan tapi kita tidak bisa mencarinya di luar hujan sangat deras, kamu taukan aku tidak bisa mengemudi saat hujan deras."


"Lalu bagaimana mas, dimana Devan sekarang?"


Sayangnya tidak ada yang tau kemana Devan pergi, Hessel bertambah cemas karna belum tau kabar adiknya.


Tiba-tiba ponsel Hessel berdering, Hessel pikir itu telepon dari Devan tapi ternyata dari ibunya Nana.


Ibunya Nana juga menanyakan keberadaan Nuri karna sedari tadi Nuri belum pulang ke rumah dan ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Ternyata Nuri berpamitan sama ibunya setelah pulang sekolah akan mampir ke rumah Hessel untuk menemui kakaknya, namun Nuri juga tidak datang ke rumah Hessel.


"Mas, dimana Devan dan Nuri sekarang?" rintih Nana semakin bertambah cemas.


"Aku juga tidak tau mereka pergi kemana Na, Devan juga tidak pernah pulang malam seperti ini." kata Hessel.


"Nuri juga sama mas, Nana khawatir sama mereka."


"Tenang sayang tetaplah berpikir positif, mungkin saja mereka sedang kehujanan dan berteduh di suatu tempat." bujuk Hessel sambil memeluk Nana dan berusaha menenangkannya.


"Tapi mereka masih sangat muda mas, ini kota Jakarta kejahatan bisa terjadi dimana-mana, Nana takut mereka diganggu sama penjahat." Nana terus merasa cemas.


"Devan bisa bela diri sedari SD mama sudah memasukkannya ke padepokkan silat insha allah mereka akan baik-baik saja jika mereka memang diganggu oleh penjahat." Hessel tetap berusaha membuat Nana tenang.


Menghilangnya kedua anak yang baru puber itu membuat keluarga resah. Hessel terpaksa harus mencari Devan dan Nuri sendirian. Demi mencari adik-adiknya Hessel berusaha bisa menembus hujan deras sendirian dengan mobilnya.


Nana berada tetap di rumah dan hanya menunggu kabar baik dari suaminya karna Hessel melarangnya untuk ikut, mengingat Hessel sulit mengemudi di tengah guyuran hujan deras. Tentu saja suami seperti Hessel lebih mengutamakan keselamatan istrinya apalagi istrinya sedang mengandung anak pertama mereka. Nana pun berharap suaminya baik-baik saja dan pulang ke rumah membawa Devan dan Nuri.


*****


Yoga menawarkan tumpangan pada Arin yang sedang menunggu hujan reda di depan gedung Shine Group.


Arin sempat menolak, dia merasa canggung karna yang dia tau Yoga sudah punya istri, tidak enak bukan diantar pulang sama suami orang, dan apa kata orang nanti beranggapan tentang dirinya.


Yoga teringat dengan ucapannya kemarin bahwa dia sudah asal bicara dengan memberitahu bahwa dirinya sudah menikah, mungkin itu sebabnya Arin selalu menolak ajakkan darinya.


Tanpa basa-basi lagi, Yoga menarik tangan Arin dan membawanya masuk ke dalam mobil. Arin terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Yoga, Yoga memasangkan setbelt ke tubuh Arin padahal Arin bisa memasangnya.


"Pak, jangan seperti ini lagi." ucap Arin.


"Ada apa? kamu tidak senang saya seperti ini?"


"Bukan begitu pak, saya merasa tidak nyaman berteman dengan laki-laki yang sudah beristri, sebaiknya bapak pulang saja pasti istri bapak sedang menunggu bapak di rumah."


"Sejak kapan kita menjadi teman?" kata Yoga sambil tertawa, Arin jadi malu ternyata kedekatan mereka kemarin tidak bisa disebut sebagai teman.


"Ah! Bapak sudah punya istri, sedangkan saya wanita single dan bapak ingin mengantar saya pulang apa kata orang nanti pak, saya enggak mau disebut sebagai wanita pengganggu suami orang." kata Arin untuk menutupi rasa malunya.


Sementara Yoga masih keras kepala tanpa menjawab, Yoga langsung tancap gas untuk mengantar Arin pulang.


"Pak berhenti sebentar!" pekik Arin berteriak sehingga Yoga mendadak menghentikan mobilnya.


"Kenapa? Apa kamu ingin turun di tengah jalan?" tanya Yoga.


"Lebih baik saya turun di tengah jalan, saya tidak peduli walau harus hujan-hujanan dari pada saya diantar sama orang yang sudah beristri." ucap Arin hendak melepas setbeltnya dan benar-benar ingin turun dari mobil, tapi Yoga segera menahannya.


"Aku pria single, kamu tenang saja tidak akan ada yang marah." kata Yoga sambil memegang tangan Arin yang hendak membuka pintu mobil.


"Bapak tidak bohongkan?" tanya Arin memastikan sementara hatinya melompat-lompat senang.


"Biar aku mengantar kamu pulang, di luar hujan lebat jangan nekat ini juga sudah malam." kata Yoga tanpa menjawab pertanyaan Arin.


Arin pun senyum-senyum sendiri sambil kembali memasang setbeltnya. Arin memandang wajah Yoga saat Yoga tengah mengemudi. Wajah yang terkadang manis, tapi kadang-kadang juga tanpa ekspresi itu selalu mampu menggetarkan hati Arin.


"Arin, Arin, dasar bodoh kenapa kamu baru sadar, bagaimana wajah seperti ini kamu bilang sudah menikah." gumam Arin dalam hati menilai wajah Yoga yang masih terlihat muda.


"Sama sekali tidak terlihat seperti laki-laki yang sudah menikah." gumam Arin masih memandang wajah Yoga dan menilainya dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa kamu terus memperhatikanku?" ucap Yoga membuat Arin kaget dan kontan meluruskan pandangannya ke depan.


"Hah bagaimana pak Yoga tau kalau aku sedang memperhatikannya?" batin Arin bingung karna pandangannya Yoga hanya tertuju fokus ke depan tapi ternyata tanpa Arin sadari Yoga tau kalau dia sedang diamati.


"Berhentilah memperhatikanku atau kamu akan jatuh cinta padaku." ucap Yoga dengan penuh percaya diri.


"Hah, jatuh cinta pak? saya belum pernah jatuh cinta." jawab Arin sedikit terkejut tanpa berani melihat Yoga lagi.


"Baguslah, karna jaman sekarang sulit mencari wanita yang belum pernah jatuh cinta." ujar Yoga lagi. Arin tidak menjawab dan hanya manggut-manggut sedang memikirkan sesuatu.



Visual Arin dan Yoga