
Klinik aborsi ilegal itu berhasil dilacak lokasinya dan sedang diintai oleh polisi. Tak lama kemudian, Hessel beserta kawan-kawan datang ke lokasi. Polisi hanya berhasil menangkap pemilik klinik, tapi tak lupa menanyakan kemana Laras dan anak buahnya kabur.
Laras beserta anak buahnya sudah menerobos hutan untuk menemukan Nana. Untunglah pemilik klinik bersedia memberitahu bahwa Laras sedang mencari Nana di dalam hutan belakang rumahnya.
Hessel sudah sangat mencemaskan istrinya, langsung saja dia lari masuk ke dalam hutan sebelum polisi memberi aba-aba.
"Nana!!!" Hessel terus berteriak memanggil istrinya.
"Aku datang Na, kamu jangan takut aku pasti akan melindungimu." teriak Hessel lagi.
"Dimana kamu Na, aku harap kamu dan calon anak kita baik-baik saja Na."
Setelah berlari kesana kemari, celingak-celinguk memantau kekanan dan kiri namun tetap tidak menemukan istrinya tanpa sadar Hessel terduduk dibawah pohon besar sambil terisak.
"Dimana kamu Na?" lirih Hessel tiba-tiba dia mendengar langkah kaki orang, dengan cepat Hessel berdiri dan mengintai orang tersebut.
Orang berbaju hitam, bertubuh tegap dengan senjata ditangannya mulai berjalan dengan hati-hati mendekati pohon tempat Hessel berdiri sambil menodongkan senjata api kedepan.
Brukkk...
dengan gerakkan yang cepat Hessel menangkap dan membekap orang tersebut, borgol yang polisi berikan kepada Hessel kini Hessel gunakan untuk memborgol tangan penjahat tersebut lalu Hessel mengambil senjata milik si penjahat.
"Katakan, dimana istriku!" bentak Hessel sambil menodongkan senjata ke kepala penjahat.
Penjahat itu tidak mau menjawab diam seri bahasa bahkan tidak berani menatap mata Hessel.
"Siapa yang sudah menyuruhmu untuk menculik istriku?" bentak Hessel lagi, penjahat itu masih tidak mau menjawab karna geram akhirnya Hessel memukul penjahat tersebut sampai hampir tak berdaya.
"Katakan siapa boss kalian, atau aku akan melenyapkan nyawamu disini!" ancam Hessel.
"Laras." hanya sepatah yang keluar dari mulut si penjahat.
"Brengsekkk!" Hessel menepis kepala penjahat itu dengan kasar lalu meninggalkannya.
Hessel melanjutkan perjalanan mencari istrinya, disusul oleh beberapa polisi serta Henry, Andrean dan Arin.
Suasana menegangkan saat tempat persembunyian Nana berhasil ditemukan oleh Laras. Nana langsung ditangkap lalu disiksa, hingga wajahnya lebam.
"Bunuh saja aku, ayo bunuh aku." pekik Nana saat Laras menghantamkan sebuah tamparan ke pipinya.
Dorrr... dorrr...
suara dentuman senjata api membuat Nana terperanjat.
"Kau mau mati rupanya." Laras menjambak rambut Nana dengan kasar.
"Aku tidak akan segan membunuhmu, dan membuang mayatmu ke laut agar tidak ada yang menemukanmu."
"Wanita gila, tuih." kata Nana tak diduga meludahi wajah Laras.
Hessel mendengar suara tembakkan dan langsung bergegas menuju sumber suara. Betapa terkejut Hessel saat melihat istrinya ditahan dengan kasar oleh anak buah Laras.
"Lepaskan dia." teriak Hessel mengagetkan mereka semua.
"Mas." panggil Nana, seakan tak percaya suaminya datang bagaikan pahlawan untuk menyelamatkan dirinya begitupun pandangan Hessel hanya tertuju pada istrinya.
Hessel sangat marah melihat istrinya disiksa, apalagi saat melihat darah mengalir dari sudut bibir Nana.
"Aku pikir kau tidak akan datang menyelamatkan wanita malang ini." ketus Laras.
Tanpa memperdulikan Laras, Hessel menerjang anak buah Laras satu per satu yang sedari tadi memegang tangan Nana hingga mereka tersungkur dan Hessel langsung memeluk istrinya.
"Kau baikkan Na, kandunganmu apa semuanya baik?" Hessel panik memeriksa semua anggota tubuh Nana.
"Aku tidak apa-apa mas." Nana menangis.
"Wajah dan bibirmu terluka."
"Mas, kau datang untukku."
"Aku akan membawamu keluar dari sini."
"Aku takut mas, aku sangat takut."
"Tenanglah semua akan membaik, kita hadapi bersama." kemudian Hessel mencium kening Nana juga mencium beberapa bagian di wajahnya. Tanpa terasa air mata haru membasahi pipi Nana, dengan segera Hessel menghapusnya dan kembali meyakinkan Nana bahwa dia aman karna mereka sudah bersama.
Hessel berjalan sambil memeluk istrinya, dan tangannya masih menodongkan pistol kearah Laras dan anak buahnya.
"Jangan ikuti kami, atau aku akan menembakkan kalian semua." ancam Hessel, namun tak digubris oleh Laras yang langsung mengambil senjata api di tanah lalu menodongkannya kearah Nana.
"Tidak akan."
"Aku akan menembak kalian berdua."
"Kau tidak akan menembak siapapun, kau tidak waras."
"Aku gila itu karnamu, aku tidak pernah rela wanita itu bahagia bersamamu karna aku tidak bisa melihat dia bersamamu." ucap Laras teriak-teriak.
"Sadarlah sekarang dia istriku, aku tidak akan pernah bisa melihat istriku disakiti oleh siapapun apalagi oleh orang sepertimu, aku akan melindunginya sekalipun aku harus mati."
"Brengsek kau Hessel, bersiap-siaplah kalian akan mati ditanganku."
"Benarkah yang kau katakan mas, kau rela mati demi aku?" ucap Nana dalam hati sambil menatap wajah suaminya yang merah padam.
Laras berancang-ancang untuk menembak Hessel dan Nana, tepat saat Laras akan menembak dengan cepat Hessel membawa Nana kedalam dekapannya lalu mengelak meski harus berguling di tanah.
dan Dorrr... dorrr... terdengar 2 kali suara tembakkan.
Nana pikir dia sudah mati terkena tembakkan begitu pun Hessel berpikir yang sama. Namun, ternyata saat mereka membuka mata dan saling bertatapan rupanya mereka masih baik-baik saja langsung saja Hessel memeluk istrinya dengan penuh rasa senang. Ternyata Laras lah yang tertembak, polisi datang menembak kaki Laras dari belakang hingga senjata ditangan Laras terlepas begitu saja dan Laras jatuh tersungkur tak sadarkan diri.
Henry, Andrean, dan Arin datang menghampiri Hessel dan Nana. Mereka akhirnya bisa bernafas lega setelah menemukan Nana.
"Auh." rengek Nana kesakitan saat menyentuh bibirnya.
"Sakit ya." sontak Hessel cemas dan langsung dilihatnya bibir istrinya.
"Bagaimana kamu bisa menjaga kandunganmu?"
"Nana hanya berusaha mempertahankannya mas, Allah lah yang telah melindungi bayi ini hingga bayi ini bertahan di dalam rahim Nana."
"Aku minta maaf karna datang terlambat, aku tidak bisa membayangkan betapa kejamnya mereka, semua karna aku kamu jadi sasaran kemarahan Laras, maafkan aku Na aku sama sekali tidak bermaksud membawamu dalam bahaya seperti ini." Hessel benar-benar menyesal sambil mencium tangan Nana, dia tak mampu membayangkan jika dia datang terlambat sedikit saja mungkin dia sudah kehilangan Nana untuk selama-lamanya.
"Sudahlah mas yang penting sekarang Nana baik, bagaimana kalau kita pulang saja." kata Nana menenangkan Hessel hingga Hessel bisa kembali tersenyum.
"Aku rindu kamu, Na." ungkap Hessel lalu mencium Nana.
"Aku juga merindukkan kamu, mas." membalas ciuman yang Hessel berikan.
Sampai akhirnya atasan polisi mendekati mereka, barulah mereka tersadar kalau di sini tidak hanya ada mereka berdua.
"Pak polisi terima kasih sudah membantu saya." ucap Hessel.
"Sama-sama pak, kami akan menindak lanjuti kasus ini, tapi sepertinya saudari Laras mengalami gangguan kejiwaan." ujar polisi.
"Saya serahkan semuanya kepada bapak, berikan mereka hukuman yang layak."
Setelah bicara dengan polisi, Hessel kembali merangkul istrinya, teramat menakutkan bagi Hessel saat membayangkan istrinya yang hampir dibunuh.
"Ternyata kau pintar ya?" Hessel menggoda istrinya.
"Pintar, maksud mas pintar seperti apa?"
"Pintar nangis dan membuat aku cemas." ucap Hessel.
"Menyebalkan!" Nana menonjok perut Hessel dan menginjak kakinya.
Dengan sigap Hessel menangkap tangan istrinya yang tadi sudah meninju perunya.
"Aku bercanda sayang, kamu itu pintar sebelum aku datang kamu bahkan tidak kehilangan akal untuk kabur atau pun bersembunyi, coba jika tadi kamu tidak bersembunyi aku tidak tau apakah aku masih bisa melihatmu atau tidak."
"Memangnya mas khawatir gitu sama Nana?"
"Nana, kamu mau tau seperti apa dia khawatirnya sama kamu, tadi sebelum kami sampai di sini dia habis nangis, bukankah sangat memalukan jika laki-laki menangis." sahut Henry sontak Nana tertawa dan tidak mempercayai Henry.
"Mana mungkin dia bisa menangis, pak." kata Nana menertawakn suaminya.
"Hen, kau jangan macam-macam, jika istrimu diculik aku yakin kau juga akan merasakan hal yang sama." ketus Hessel.
Sementara Andrean sedari tadi hanya diam memperhatikan Nana yang berada dalam rangkulan pak Hessel. Dia ingin sekali bicara sama Nana walau hanya sekedar untuk mengucapkan rasa senang karna Nana selamat, tapi mengingat pak Hessel sudah melarangnya untuk mendekat apalagi menyentuh Nana, Andrean jadi tidak punya keberanian.
"Hei, jangan melamun." kata Arin menyadarkan Andrean.
"Aku senang melihatnya tertawa dan tersenyum seperti itu."
"Aku tau kamu cemburu, tapi kamu tetap harus terima kenyataan ini." kata Arin menguatkan Andrean dan Andrean terpaksa tersenyum.