
Nana terbangun dari tidurnya setelah mendengar azan berkumandang. Nana duduk menyandarkan tubuhnya disandaran tempat tidur sembari menatap Hessel yang masih terlelap dalam tidurnya dengan membelakangi Nana.
"Sekarang semuanya sangat berbeda, aku sudah menjadi seorang istri, Nana kamu harus patuh pada suamimu meskipun dia tidak mencintaimu tapi sekarang kalian sudah resmi menikah, orang bilang cinta itu bisa tumbuh setelah menikah, kamu hanya perlu bersabar menantinya." batin Nana tersenyum dengan hayalannya.
Nana memberanikan diri membangunkan Hessel untuk mengajaknya melaksanakan ibadah shalat subuh.
"Pak Hessel, bangun... sudah subuh." Nana menggoyangkan tangan Hessel.
Hessel menggeliat sembari menggosok matanya, dia melihat Nana tersenyum manis.
"Nana, kamu sudah bangun?" tanyanya sambil berusaha bangkit untuk duduk.
"Iya pak, mari kita shalat pak."
Hessel pun turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk wudhu diikuti oleh Nana.
Hessel menghentikan langkahnya dia menoleh kebelakang melihat Nana.
"Kamu mengikutiku?"
"Aku juga mau wudhu pak."
"Oh... silakan kamu duluan."
"Kenapa pak, apakah seorang istri tidak boleh wudhu bersama-sama dengan suaminya?"
"Ya sudah kita wudhu bersama."
Setelah itu mereka pun melaksanakan ibadah shalat subuh dengan khusyuk. Selesai shalat mereka mendengar suara gaduh di luar kamar.
"Kenapa riuh sekali diluar?" tanya Hessel.
"Aku tidak tau pak, sebaiknya kita keluar mungkin ada sesuatu yang terjadi."
"Iya kita lihat diluar."
Nana pun berjalan mengikuti Hessel di depannya. Mereka melihat ternyata ibu dan ayahnya Nana ingin pulang, sedangkan mama dan papa Hessel berusaha mencegah mereka pulang.
"Ibu, ayah, Nuri, kalian mau kemana?" tanya Nana mendekati orang tuanya.
"Kami mau pulang Na." ujar ibu.
"Mama dan papa sudah meminta mereka untuk tetap tinggal disini tapi mereka bersikeras ingin pulang Na." sahut mama.
"Ibu, ayah masih sakit lebih baik kalian tinggal disini bersama kami semua." ucap Nana membujuk ibunya.
"Tidak Na, ibu dan ayah akan tetap tinggal disana." ucap ibu.
"Kak Betran, mba Sarah terima kasih kalian begitu baik kepada kami tapi kami tidak bisa meninggalkan rumah kami." lanjut ibu.
"Aliya, tinggallah bersama kami" bujuk mama tapi ibu Nana masih saja menolak.
"Ya sudah jika ibu dan ayah ingin tinggal disana biarkan saja ma, tapi jika terjadi sesuatu pada ayah segera hubungi kami bu." ujar Hessel menjadi penengah.
"Iya ayah, Hessel akan menjaga Nana sebaik mungkin sekarang dia sudah menjadi tanggung jawab Hessel." ucap Hessel.
"Nuri, jaga ibu dan ayah ya, kamu sekolah yang benar jangan jadi seperti kakakmu yang bodoh ini." ucap Nana berpelukkan dengan Nuri.
"Nuri akan merindukan kakak." ujarnya.
"Kakak juga akan merindukanmu dik."
"Jaga kesehatan ayah, Nana minta maaf sekarang Nana tidak bisa menjaga ayah." ucap Nana memeluk sang ayah.
"Nana jadilah istri yang baik dan patuh pada suamimu, sekarang kamu bukan putri kecil ayah lagi kamu sudah menikah, kamu sudah dewasa, jangan manja-manja lagi." Ucap ayah mencium Nana. Nana sangat sedih karna harus berpisah dengan keluarganya sekarang dia benar-benar akan sendirian berada di rumah mertuanya.
"Kak Sarah, jangan sungkan untuk menegur Nana jika dia melakukan kesalahan."
"Iya Aliya, Nana itu sudah seperti putri kami sendiri."
"Ibu, kalian pulang naik apa?" tanya Hessel.
"Kami naik angkot nak Hessel." jawab Ibu.
"Oo... Ibu, supir saya akan mengantar kalian, ayah juga sedang sakit akan lebih nyaman naik mobil pribadi." ujar Hessel.
Kini mereka pun pulang diantar oleh supir Hessel. Nana sedih ini pertama kalinya dia harus terbiasa berada jauh dari orang tuanya.
Hessel mendekati Nana yang duduk diatas ranjang sedang menangis tersedu-sedu.
"Apa kau memang anak manja?" tanya Hessel.
"Saya tidak pernah berpisah dengan orang tua saya sedari saya bayi, tapi sekarang saya harus berpisah dengan mereka." kata Nana masih terisak tangis.
"Sudahlah jangan menangis lagi, setiap minggu kita akan menemui orang tuamu." ujar Hessel.
"Bapak serius?" senyum Nana mulai terlihat.
"Iya, buang air matamu, saya paling tidak senang melihat wanita menangis."
Nana menghampus air matanya, dia terus tersenyum menatap Hessel.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"
"Saya tidak tau, saya pikir setelah menikah dengan bapak, bapak akan membenci saya."
"Nana, Nana, ada-ada saja... saya tidak sejahat itu." menggeleng sambil tersenyum melihat Nana.
"Apakah suatu saat bapak bisa menerima saya?" tanya Nana.
"Saya tidak tau pernikahan kita seperti apa kedepannya, yang jelas sekarang kita sudah menjadi suami istri, kita tidak bisa menghindari takdir, Nana meskipun aku tidak mencintaimu tapi karna sumpah sudah ku ucapkan saat akad nikah maka aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu."
"Tapi kenapa semalam bapak bilang ingin merahasiakan pernikahan kita?"
"Itu benar saat diluar kita tidak boleh terlihat seperti suami istri, tapi jika sudah berada dirumah aku akan memperlakukan kamu seperti istriku." ujar Hessel, Nana pun tersipu malu.