
Setelah menempuh perjalanan mereka pun tiba di Villa hujan juga masih lebat belum juga berhenti. Hessel menghentikan mobilnya di garasi villa lalu dia membantu Nana keluar dari dalam mobil sedangkan Jessi dibantu oleh kedua temannya. Hessel terus merangkul tubuh Nana yang menggigil, bahkan Hessel seolah tidak peduli dengan kehadiran 3 anak didiknya yang terus menatap tajam kearahnya.
"Paman Jon..." teriak Hessel memanggil penjaga villa agar segera menghampiri mereka untuk membawakan payung.
Pak Jon pun segera menghampiri tuannya dengan membawakan payung.
"Paman, tolong siapkan kamar untuk mereka, dan minta bibi Sartika memasak makanan untuk kami semua." perintah Hessel.
"Iya tuan..."
Hessel mengiringi Nana berjalan mereka hendak masuk ke dalam villa.
"Pak Hessel." tiba-tiba suara Jessi memanggil menghentikan langkah Hessel dan Nana seketika. Hessel dan Nana langsung saja berbalik badan tanpa menyahutinya.
"Pak, lalu kami bagaimana?" tanya Jessi.
"Nona, saya yang akan mengantar kalian." kata Pak Jon.
"Pak, terima kasih bapak sudah memberi kami tumpangan tempat untuk bermalam." ujar Bella.
"Ya." Hessel hanya mengangguk.
"Ayo Na kita masuk, tubuhmu sudah sangat menggigil aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Hessel terus merangkul tubuh Nana dan mereka segera masuk ke dalam villa.
Jessi masih mematung di garasi menatap aneh tingkah Hessel dan Nana. Jessi tak menduga sama sekali Hessel bisa seperhatian itu pada Nana, hingga membuatnya susah payah menghembuskan nafasnya yanh mulai resah takut tersaingi oleh si stupid kampus itu.
"Sebenarnya kau menyukai pak Hessel apa Andrean sih?" Kata Bella tiba-tiba menepuk pundaknya Jessi.
"Kau tidak perlu ikut campur." ketusnya.
"Habis aneh, Nana dekat pak Hessel kamu marah, Andrean dekatin Nana kamu juga marah."
"Lebih baik kau diamlah Bel." tegas Jessi dengan kasar.
Pak Jon pun segera mengantar Jessi dan kedua sahabatnya menuju kamar yang sudah siap untuk mereka tempati.
"Silakan nona, selamat beristirahat..." ujar pak Jon.
"Terima kasih paman." jawab Bella, dan pak Jon pun berpamitan dari sana.
Bella dan Lala yang sedari tadi menopak tubuh Jessi untuk membantu Jessi berjalan segera mendudukkan Jessi ditempat pembaringan.
"Kakiku sangat sakit, kepalaku juga." rengek Jessi padahal lukanya tidak terlalu serius tapi dia memang sedikit manja.
"Ini semua karna Lala, kau itu teman yang tidak berguna, kalau aku tau kejadiannya akan seperti ini aku tidak mau menurutimu." seru Jessi merasa kesal.
"Kenapa jadi aku yang salah?"
"Iya Jes, kenapa kamu bicara seperti itu sama Lala?" sahut Bella.
"Jika aku tidak menuruti keinginannya kejadian ini tidak akan terjadi, mobil baruky tidak akan rusak, dan kita tidak akan bertemu si stupid itu yang sok baik, sok sokan memberi bantu itu." dengus Jessi menatap tajam kearah Lala.
"Salah kamu, kenapa kamu menerima tawaranku padahal aku hanya becanda, sedangkan kamu menyanggupinya dengan alasan agar kita bisa bolos ngampus besok, dan ini gara-gara kamu Tuhan mengabulkannya." seru Lala tidak mau mengalah.
"Itu juga si stupid kenapa pak Hessel care padanya, memangnya apa kelebihannya, bagaimana mereka bisa pergi berdua ke Puncak jika tidak terjadi sesuatu diantara mereka." kata Jessi kesal dan curiga.
"Sudah-sudah, apa kalian tidak malu bertengkar di kediaman orang, kalau mereka dengar gimana?" Bella mencoba menjadi penengah.
"Gak ada untungnya berteman sama Lala, pembawa sial." ketus Jessi.
"Sudah apa kalian tidak bisa diam, kita ini di rumah orang jangan berdebat." tutur Bella.
*****
Hessel dan Nana tampak sudah mengganti pakaian basah tadi dengan pakaian salinan. Hessel dan Nana duduk berdua diatas tempat tidur sembari Hessel mengeringkan rambut Nana dengan handuk kemudian Hessel menyisir rambut sang istri, Nana merasa mendapat perhatian lebih dari sang suami dan dia senang diperlakukan seperti sekarang.
"Oo ya mas, kenapa tadi mas merangkulku didepan mereka? mas terlalu banyak menampakkan perhatian padaku." tanya Nana.
"Loh emangnya gak boleh ya?"
"Bukan begitu tapi sepertinya Jessi dan kedua temannya mulai mencurigai kita, mas, kan mas sendiri yang ingin merahasiakan hubungan kita." tutur Nana mengingatkan Hessel mungkin Hessel lupa.
Hessel memutar tubuh Nana membuatnya saling berpandangan.
"Ikuti saja apa yang aku lakukan." kata Hessel membuat Nana bingung.
"Melakukan apa?"
"Ya maksudku begini jika aku tiba-tiba romantis atau tiba-tiba marah atauapalah itu kamu ikuti saja."
"Hemm..." Nana hanya mengangguk padahal dia sama sekali tidak mengerti.
"Aku tinggal sebentar ya Na?" kata Hessel hendak turun dari tempat tidur namun Nana menahannya.
"Mau kemana mas?" tanya Nana.
"Memastikan bibi Sartika dia sudah masak atau belum, kamu mau ikut Na?" jelas Hessel dengan lembut.
"Ahhh tidak, aku disini saja mas."
Sebelum pergi Hessel menyempatkan mengecup pucuk kepala Nana yang membuat pipi Nana memerah seketika.
*****
Nana berjalan sendirian dengan membawa kotak P3K dan beberapa helai baju lebih tepatnya daster menuju kamar dimana Jessi dan teman-temannya berada.
Karna pintu kamar tersebut sedikit terbuka jadi Nana memberanikan diri untuk bertemu Jessi dan langsung masuk tanpa mengetuk pintunya yang membuat perdebatan mereka berhenti tiba-tiba saat melihat Nana berdiri tepat di depan pintu.
"Nana..." sapa Bella saat melihat Nana, namun Nana tidak membalasnya.
"Ahhh... dia lagi..." ketus Jessi memalingkan wajah dari hadapan Nana.
"Aku bawakan kotak p3k, dan juga ada beberapa helai daster anggap saja untuk baju ganti kalian yang basah itu karna tidak baik baju basah dibawa tidur." kata Nana.
"Terima kasih Nana, kamu baik sekali." puji Bella mengambil daster yang Nana bawa.
"Bella, jangan terima bantuannya lagi." seru Jessi.
Bella tidak menghiraukan Jessi, begitu Nana dia malah masuk dan menghampiri Jessi yang duduk diranjang itu, Nana duduk di depan Jessi yang tampak kesakitan menahan perih pada lukanya.
"Obatilah lukamu dengan ini, jika tidak segera diobati lukamu bisa infeksi." Nana menyodorkan obat antibiotik pada Jessi tanpa menatap Jessi sedikitpun.
"Nana, sekali lagi terima kasih ya." ucap Bella, tanpa menjawabnya Nana pun keluar dari kamar tersebut.
Bella pun dengan segera mengobati luka di beberapa bagian tubuh sahabatnya itu, begitu pun Lala dia membantu Bella melakukannya.
Tak lama kemudian Nana menampakkan dirinya lagi ke kamar tersebut membuat Jessi bertambah kesal karna harus terus menerus melihat Nana.
"Makan malam sudah siap, setelah mengobati lukanya segeralah ke dapur untuk makan malam." ujar Nana dengan menatap mereka secara sekilas.
Saat Nana berbalik badan dan hendak meninggalkan kamar tersebut
"Nana tunggu..." tiba-tiba Bella menarik tangannya, yang membuat Nana terpaksa mengentikan langkah kakinya dan menoleh kearah Bella. Nana memandang Bella dengan wajah datarnya tanpa tersenyum atau bicara padanya.
"Terima kasih banyak Na, kamu begitu baik pada kami padahal kami selalu berbuat buruk terhadap kamu." ucap Bella menatap Nana dengan mata yang berkaca-kaca sepertinya Bella mulai sadar akan kesalahannya. Nana hanya mengangguk tanpa tersenyum, lalu meninggalkan kamar tersebut.
"Kalian lihat tingkahnya, dia terlihat bak nyonya pemilik villa ini, dia semakin ngelunjak." ucap Jessi.
"Benar." Lala membenarkannya.
"Untuk apa memberi kita baju daster seperti ini, sangat kampungan." Jessi melempar pakaian yang Nana bawakan, namun Bella tetap memungutnya dan mau menggunakan pakaian tersebut.
"Aku yakin dia membantu kita pasti ada maunya, jangan harap kita mau berteman dengannya." dengus Jessi.
"Hentikan Jes, dia tulus membantu kita, kita padahal tau Nana memang orang yang baik, tapi kita selalu berpikir buruk tentangnya, lihatlah dia sama sekali tidak membalas kejahatan kita saat kita kesusahan seperti ini, mungkin kalau kita tidak bertemu Nana dijalanan itu kita sudah mati kedinginan menunggu bantuan datang." sahut Bella.
"Apa kau mulai membela si bodoh itu?" tanya Lala.
"Jika kau ingin berteman dengannya silakan, kami tidak peduli." ketus Jessi membuat hati Bella sakit mendengar pernyataan Jessi.
"Jadi ini balasan kalian untukku." seru Bella.
Bella yang sakit hati memberikan kotak p3k yang masih dipegangganya pada Jessi. Bella berlari keluar dari kamar tersebut, Jessi dan Lala beberapa kali memanggilnya namun Bella terlanjur sakit hati sehingga tidak ada gunanya baginya untuk mendengarkan mereka.
*****
Nana kembali ke kamarnya saat dia hendak masuk tiba-tiba Hessel malah keluar dari kamar membuat mereka berdua kaget karna tubuh mereka saling berbenturan.
"Nana, kau disini, aku pikir..." belum selesai bicara.
"Apa yang kau pikirkan, kau mau kemana?" tanya Nana.
"Aku mencarimu, karna aku pikir kau diculik pria lain." jawab Hessel.
"Disini tidak ada pria lain, hanya ada mas dan paman Jon, jika bukan paman yang menculikku itu berarti mas yang menculik istrinya sendiri." ujar Nana membuat Hessel tertawa seketika.
Nana menarik suaminya masuk kedalam kamar dan menyuruhnya duduk di tempat tidur sedang dia sibuk memandang dirinya didepan cermin dan Hessel hanya bisa geleng kepala melihat istrinya yang semakin percaya diri akan kecantikan yang dimilikinya.
"Sebenarnya tadi kau pergi kemana, kenapa saat aku kembali kau menghilang?" tanya Hessel, Nana berhenti mengagumi dirinya dihadapan cermin dan berbalik badan melihat suaminya.
"Aku dari kamar Jessi, mengantar obat dan pakaian ganti untuk mereka." jawab Nana tersenyum. Hessel terdiam dan menatap Nana dengan lembut.
"Mereka itu jahat, orang sepertinya tidak pantas mendapat bantuan darimu." kata Hessel.
"Tidak baik bicara seperti itu, sebagai sesama kita berkewajiban membantu orang yang sedang terkena musibah, karna itu aku membantu mereka mas."
"Tapi Na, mereka terlalu sering mempermalukan kamu, apa kamu tidak ingat kamu hampir kehilangan nafas saat kamu mengejar Jessi yang membawa lari surat itu, dan masih banyak lagi keburukan yang mereka lakukan, apa mereka meminta maaf padamu, tidakkan Na?" tutur Hessel.
Nana hanya diam dan tertunduk, tanpa sadar air mata mengalir begitu saja dari mata Nana saat dia mengingat kembali kejahatan yang Jessi dan teman-temannya lakukan.
Hessel bangkit dan mulai melangkahkan kakinya mendekati istrinya yang tampak sedih itu. Hessel meraih wajah Nana dengan kedua telapak tangannya dan menghapus setiap butiran yang berjatuhan itu.
"Maafkan aku Na, aku tidak bermaksud mengingatkanmu, tapi sampai kapanpun mereka tidak akan pernah bisa berubah."
"Aku yakin mas, seiring berjalannya waktu semua orang bisa berubah termasuk mereka, mas, kita tidak boleh menghakimi keburukan orang lain, belum tentu kita lebih suci darinya, dan kita harus selalu memaafkan mereka meski mereka tidak mau meminta maaf, karna begitulah kehidupan mas." tutur Nana, Hessel memperhatikan wajah istrinya dengan seksama menatapnya semakin kagum, gadis kecil ini ternyata mempunyai banyak sisi dewasanya yang bahkan Hessel sendiri tidak miliki.
"Na, kamu tau kenapa aku masih mempertahankan hubungan kita, meskipun aku belum bisa memahami perasaanku sendiri terhadapmu itu seperti apa?" tanya Hessel. Nana hanya diam menatap mata Hessel dan menggelengkan kepalanya.
"Kau itu berbeda dari yang lain..."
"Hmmm..." Nana hanya berdehem ingin Hessel mengatakan lebih banyak lagi.
"Kau mempunyai hati yang lembut, kau bisa dengan mudah memaafkan orang lain, dan melupakan setiap kesalahan yang pernah mereka lakukan."
Nana seketika memeluk Hessel dan Hessel membalasnya dengan hangat.
"Nana, aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lagi, aku akan selalu menjagamu, jangan pernah menangis lagi Na." ucapnya lalu memberikan Nana ciuman dipucuk kepala dan keningnya, dan mengeratkan pelukkannya ditubuh Nana.
Tiba-tiba suara perut Nana mengacaukan suasana haru tersebut.
"Kamu kentut Na?" kata Hessel.
"Bukan, itu suara perutku mas..." Nana tertunduk malu.
"Ya allah kenapa aku tidak menyadari kalau istriku sangat lapar."
"Ayo kita makan mas, mereka juga sudah disana, mas tidak masalahkan keluar bersamaku di depan mereka?" ajak Nana.
"Tidak masalah, ayo Na..." dengan gembira Hessel dan Nana menuju dapur mereka tidak peduli lagi apa tanggapan Jessi dan teman-temannya.