
"Selamat pagi istriku!" Hessel berujar sambil mengelus lembut wajah Nana. Ditatapnya wajah sang istri begitu manis dan lucu saat sedang tidur.
"Aku berangkat dulu Na, kamu tidurlah yang nyenyak." kata Hessel berpamitan, tak lupa sebelum pergi dia mencium kening dan perut Nana setelah itu menarik selimut menutupi kembali tubuh Nana.
Nana masih terlelap dalam tidurnya yang begitu nyeyak, mungkin lelah setelah berlibur ke Bogor. Tak lama kemudian, Nana menggeliat dengan mata yang masih terpejam.
Nana melenguh sambil menguap. Tangan Nana mencoba menatap-natap keberadaan Hessel di sampingnya tapi Nana tidak menemukan Hessel dan malah memeluk gulingnya.
"Emmm." Nana kesal kenapa guling itu bisa menyerupai wujud suaminya sehingg tanpa sadar Nana mencium-cium gulingnya, setelah sadar mendadak Nana malu sendiri melihat benda yang baru saja diciumnya.
"Ya ampun sudah siang, kenapa sebelum pergi mas Hessel tidak membangunkanku, aku kan harus ke kampus." ucap Nana sambil melihat jam dinding.
Nana tau pasti suaminya sudah berangkat ke kantor karna hari ini suaminya harus menghadiri meeting pukul 07.00 pagi.
Nana pun bangkit untuk mandi lalu siap-siap pergi ke kampus, tapi saat dia hendak menuju kamar mandi tiba-tiba ponselnya berdering.
Nana putar balik dan ternyata mendapat sebuah pesan dari suaminya.
Maaf ya Nana, aku langsung pergi tanpa membangunkanmu, aku tidak mau mengganggu tidurmu yang sangat nyenyak, sebelum berangkat kuliah jangan lupa sarapan, aku sudah menyiapkan sarapan untuk ibu hamil, susunya jangan lupa diminum juga ya sayang biar kamu kuat.
Nana pun seketika melebarkan senyuman dan memeluk ponselnya sesaat tanpa membalas pesan tersebut karna Nana buru-buru pengin mandi.
Selesai mandi dan sudah rapi Nana buru-buru turun ke bawah, benar adanya di meja makan sudah ada sarapan.
Para pelayan menyapa Nana, dan selalu dibalas oleh Nana. Nana pun dipersilakan untuk duduk dan sarapan.
"Bibi, sambal mangganya kok enggak ada?" tanya Nana karna merasa kurang dengan lauk pauknya, rasanya sewaktu ngidam makan tanpa sambal mangga itu kurang lengkap.
"Tuan berpesan Nona jangan terlalu sering makan sambal mangga yang pedas karna itu tidak baik bagi pencernaan, cukup sehari sekali saat jam makan siang." jelas seorang pelayan.
Nana tersenyum dengan setiap perhatian dari suaminya, betapa Hessel sangat menyayangi Nana dari hal-hal sederhana yang selalu dia lakukan.
Sepulang dari kampus, seperti biasa Nana menunggu angkot, angkot satu-satunya alat transportasi yang Nana sukai karna setiap kali naik angkot Nana selalu teringat ayahnya, Nana ingat sewaktu kecil dia selalu ikut narik angkot bersama ayahnya.
Di sela-sela menunggu angkot Andrean datang dari arah belakang Nana.
"Nana..." panggil Andrean, sontak Nana berbalik melihat kebelakang ternyata Andrean berdiri tegap menatapnya.
"Kamu kenapa Dre?" tanya Nana setelah melihat wajah Andrean tampak bersedih.
"Aku mau pamit Na."
"Pamit? memangnya kamu mau kemana Dre?"
"Na, aku sudah memutuskan untuk melanjutkan S2 di Australia."
"Wah itu sangat bagus Dre semoga kamu sukses ya, tapi omong-omong kenapa pamitnya harus sekarang, kenapa enggak setelah lulus saja?"
"Aku takut enggak sempat Na, soalnya begitu ujian selesai ayahku segera mengirimku ke sana."
"Oh begitu, aku cuma bisa mendoakan yang terbaik untukmu Dre."
"Na, aku punya sesuatu buat kamu."
"Apa Dre?"
Andrean membuka saku tasnya mengambil sebuah box kecil berisi kalung yang sangat manis.
"Na, aku harap kamu mau menerima pemberianku ini."
"Tapi Dre..."
"Simpan saja kamu tidak perlu memakainya, kamu jangan khawatir Na ini menjadi hadiah terakhir yang ku berikan untukmu, karna aku juga sudah dijodohkan oleh orang tuaku untuk menikah dengan gadis pilihan mereka."
"Lalu apa kamu setuju?"
"Iya aku setuju, aku harap kamu mau menerima pemberianku."
"Baiklah Dre, aku terima tapi maaf aku hanya bisa menyimpannya, aku tidak bisa memakai pemberian dari laki-laki lain selain suamiku."
"Tidak apa-apa Na, aku senang banget, kalau begitu aku pergi dulu, kamu hati-hati pulangnya Na, jaga baik-baik kandunganmu."
Setelah Andrean pergi, Devan datang dari arah yang berlawanan, Devan menghentikan motornya tepat di depan Nana. Devan turun dari motor kemudian menyapa kakak iparnya. Kebetulan Devan habis mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya jadi dia bisa sekalian menjemput kakak iparnya, Nana pun pulang ke rumah bersama Devan.
Pukul 20.00 malam,
Hessel belum juga pulang dari kantornya, Nana merasa bosan sendirian sedari tadi, masuk kuliah juga enggak ada semangat karna tidak melihat suaminya, hingga dia memutuskan untuk menonton tv sambil menunggu suaminya pulang.
Nana menerima sebuah pesan dari suaminya, Hessel selalu mengingatkan Nana untuk makan dan tidur lebih awal meski tanpanya. Meskipun begitu, apalagi disaat sedang hamil jelas saja Nana sangat membutuhkan suami di sisinya tapi Nana selalu mengerti posisi Hessel seperti apa, bukan hanya istri yang harus diurusnya melainkan tugas kantor juga sama pentingnya.
Di sisi lain, selepas bertemu client di restoran Hessel langsung pulang. Hessel tau pasti istrinya sedang kesepian karna sedari pagi Hessel lembur di kantor.
"Kasihan sekali Nana pasti dia sedari tadi menungguku." gumamnya.
Hessel melihat istrinya tidur di sofa kamar depan tv dengan tv yang masih menyala. Hessel pun menutup pintu kamarnya lalu berjalan perlahan mendekati Nana sambil tersenyum.
Pelan-pelan Hessel membungkuk dan menempelkan hidungnya dengan hidung Nana.
"Sayang bangun." ucap Hessel dengan hidung mereka yang masih menempel.
Karna tidak mendapat respon Hessel mengganti posisinya duduk di sisi Nana sambil mengelus wajah Nana.
"Maaf sudah membuatmu menunggu." lirihnya pelan sambil menatap lembut wajah Nana.
"Ahh kamu sudah lama pulang mas?" Nana bangkit lalu tersenyum.
"Belum lama, kamu sudah makan dan minum susu Na?" tanya Hessel dibalas anggukan oleh Nana.
"Mas sudah makan?" Nana bertanya balik.
"Sudah sayang."
"Mas pasti capekkan, sini Nana pijet."
"Tidak perlu sayang, rasa capeknya langsung hilang saat aku melihat istriku yang manis ini." Hessel suka sekali mencubit pipi Nana yang sedikit chubby itu.
Nana pun menyuruh suaminya untuk mandi lebih dulu sebelum mereka kembali tidur, Nana langsung mengambilkan Hessel handuk dan Hessel pun berlalu ke kamar mandi sementara Nana menunggunya.
10 menit kemudian
Hessel keluar dari kamar mandi sudah memakai piyama, begitu pun Nana sudah mengganti bajunya dengan piyama yang sama dengan Hessel.
Mereka berdua tertawa bersamaan karna merasa lucu saja melihat diri masing-masing memakai baju dengan motif dan warna yang sama. Piyama couple tersebut pemberian dari Devan sewaktu mereka berlibur ke Bogor, mau tidak mau malam ini Hessel dan Nana harus memakainya.
Hessel langsung menggendong Nana membawanya ke atas tempat tidur.
"Nana, kamu tambah gendut ya biasanya enggak seberat ini." celetuk Hessel sengaja membuat Nana kesal sontak Nana menampar dadanya.
"Nana enggak gendut, Nana sedang hamil mas." ketus Nana jengkel berbalik membelakangi suaminya.
Hessel malah meraba perut Nana membuat Nana geli, lalu diputarnya tubuh Nana menghadap ke depan agar dia bisa mencium istrinya.
Sebelum Hessel berhasil mencium Nana tiba-tiba Nana menahannya.
"Mas, ada yang mau Nana bicarakan." kata Nana tiba-tiba serius membuat Hessel berdebar-debar dan penasaran.
"Apa itu Na?" tanya Hessel penasaran.
Nana bangkit mengambil tasnya lalu mengambil sebuah box kecil yang berisi kalung untuk memperlihatkannya pada Hessel.
Nana tidak mau Hessel salah paham, makanya Nana memberitahunya lebih dulu daripada nanti Hessel yang menemukan kalung itu.
"Dimana kamu membeli kalung sebagus ini Na?" tanya Hessel heran, ekspresinya mulai kesal.
"Mas, mas jangan marah ya sama Nana."
"Jangan bilang kamu menerima pemberian Andrean lagi?" tanya Hessel, Nana hanya bisa mengangguk.
"Harus berapa kali aku bilang jangan terima pemberian dari pria lain, baik itu Andrean atau siapapun kecuali aku."
"Mas jangan marah, Nana terpaksa menerimanya karna Andrean mau pergi keluar negeri untuk melanjutkan S2 di sana tadi dia berpamitan sama Nana."
Hessel diam dengan tatapan kosong dan wajah datarnya. Agar Hessel tidak salah paham Nana juga memberitahu bahwa Andrean sudah dijodohkan oleh orang tuanya.
"Mas, mas jangan diam saja, Nana mohon maafkan Nana." Nana meneteskan air mata saat suaminya tidak merespon kontan Hessel memeluknya dengan erat.
"Kita tidak tau mereka punya niat apa, aku hanya takut mereka punya niat jahat Na, bukannya aku sengaja melarang kamu untuk menolak pemberian dari orang lain, kamu mengertikan Na?"
"Maafkan Nana yang bodoh ini mas, tapi Nana yakin Andrean tidak sejahat seperti apa yang mas pikirkan." sesal Nana.
"Iya saat ini tidak jahat, tapi kita tidak tau kedepannya seperti apa setiap orang bisa berubah Na."
"Jika mas tidak suka maka Nana akan membuang kalung ini."
"Kamu tidak perlu membuangnya, simpan saja jika kamu menyukainya."
"Kenapa mas bicara seperti itu? Nana tidak suka kepadanya."
"Apa kamu tau Na ini kalung mahal, kamu lihat liontinnya ini asli, ayahku pengusaha berlian aku tau mana berlian yang asli dengan palsu, kamu mau tau berapa harga kalung ini?" kata Hessel walau nada bicara pelan tapi Nana jadi merasa bersalah.
Nana terdiam tanpa berani bicara sepatah katapun melihat suaminya sangat marah.
"Harga kalung ini bisa mencapai ratusan juta Na, sekarang apa kamu tidak bisa merasakan dia punya niat apa sebenarnya sama kamu? Aku tidak ingin berburuk sangka pada siapapun, tapi coba kamu pikirkan Na mana mungkin orang yang sudah dijodohkan dengan oranglain berani memberi wanita lain barang semahal ini jika dia tidak ada niatan lain."
"Nana tidak tau mana kalung mahal dengan tiruan, Nana tidak menduga dia bisa bertindak sejauh ini mas, Nana minta maaf."
Nana langsung memeluk Hessel dan memohon maaf, tentu saja Hessel selalu memaafkannya. Kepolosan istrinya itu bisa membahayakan dirinya sendiri, Hessel harus lebih berhati-hati lagi menjaga Nana.
"Aku akan mengembalikan kalung ini pada ayahnya." kata Hessel sambil mengelus kepala Nana.
Hessel memilih mengakhiri perdebatan tadi, pelan-pelan Nana berbaring diikuti oleh Hessel.
"Besok malam ada acara, kamu mau ikut sayang?" tanya Hessel sambil memeluk Nana.
"Acara apa mas?"
"Ikut saja pokoknya nanti aku ingin memperkenalkan pada semua orang yang hadir di acara tersebut, aku ingin mereka semua tau bahwa kamu adalah istriku."
"Nana mau ikut mas." Nana tersenyum.
"Besok malam dandan yang cantik ya." goda Hessel.
"Emangnya selama ini Nana jelek?" mendadak Nana jadi kesal.
"Kamu selalu cantik, bahkan kamu tidak dandan pun semua orang akan iri melihatmu, begitulah kecantikkan istriku yang tidak hanya cantik wajahnya tapi juga hati sama cantiknya." puji Hessel membuat Nana tersenyum malu sampai pipinya ikut merona.