
"Nana, kau duluan ya, aku mau bicara dengan Rektor sebentar." ujar Hessel tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mereka menuju ruang makan.
"Iya mas..." Nana pun meninggalkan Hessel, dia menuju ruang makan dimana sudah ada Jessi dan kedua sahabatnya yang sudah duduk dikursi makan.
Jessi terus saja menatap Nana, memperhatikan setiap gerak-gerik Nana mulai dari Nana berjalan sampai pakaian yang Nana gunakan,bmungkin Jessi berpikir dari mana Nana bisa membeli dress mahal yang sedang Nana pakai, dia merasa iri karna Nana selalu lebih beruntung darinya.
Nana duduk dikursi saling berhadapan dengan Jessi, namun Nana tidak bicara sedikit pun padanya.
"Hai Nana..." sapa Bella tersenyum, Nana hanya tersenyum simpul.
"Silakan dimakan." ujar Nana mempersilakan mereka.
"Emangnya kau ini nyonya, kau berlagak seperti kau pemilik dari villa ini, Bella, Lala kita tunggu pak Hessel saja." ketus Jessi, namun Nana hanya diam dan mulai mengambil nasi.
Tak lama kemudian Hessel mulai terlihat memasuki ruang makan untuk menyantap hidangan makan malam itu.
"Lala kau minggirlah, pak Hessel akan duduk di sampingku." pinta Jessi mengusir Lala, Lala pun terpaksa pindah duduk disamping Bella.
"Jessi, Jessi..." cengir Nana memandangi Jessi yang sangat terobsesi pada suaminya.
"Kenapa kau sangat sempurna mas, aku harus kuat melihat mereka yang juga menyukai dirimu..." ucap Nana dalam hati memandang wajah sang suami dari kejauhan.
"Pak Hessel, duduklah disini." kata Jessi setelah Hessel sampai diruang makan, namun Hessel melewatinya begitu saja menuju Nana tanpa menoleh kearah Jessi membuat Jessi mendengus kasar dan kedua temannya hanya bisa diam.
"Nana, kau tidak menungguku?" ujar Hessel sembari duduk disamping Nana.
"Saya sudah lapar pak, maaf ya pak..." jawab Nana terkekeh, dan Hessel mengacak rambut istrinya dihadapan 3 anak didiknya itu yang terus memandangi mereka dengan menaruh penuh rasa curiga, Hessel mengalihkan pandangannya kearah 3 anak didiknya.
"Silakan dimakan, jangan sungkan-sungkan." ujar Hessel pada ke 3 anak didiknya.
"Iya pak..." Jessi mengangguk.
"Jessi kau jangan khawatir saya sudah bicara pada rektor untuk besok kalian diizinkan cuti sehari dan mobilmu juga sudah diderek ke bengkel, besok pagi sudah diantar kemari saya yang akan bertanggung jawab dengan semua kerusakan pada mobilmu." jelas Hessel.
"Makasih ya pak, bapak sangat baik pada saya, saya tidak tau harus mengatakan apalagi." Jessi sangat senang karna merasa Hessel mulai memberinya perhatian.
"Kalian masih anak didik saya, jadi saya rasa kalian tanggung jawab saya juga." ujar Hessel.
"Nana, kau mau nambah biar aku ambilkan, kau mau makan apa?" tanya Hessel kembali mengalihkan perhatiannya pada Nana yang membuat anak didiknya merasa cemburu.
"Ini sudah cukup pak..." jawab Nana.
"Hmmm... Nana, kamarmu disebelah mana?" tanya Bella tiba-tiba.
"Ahhh... kamar, kamarku di....." Nana bingung untuk menjawabnya.
"Kau tidak mungkinkan tidur bersama pak Hessel." ujar Jessi menimpal.
"Kamar Nana dilantai atas." sahut Hessel.
"Aku bolehkan Na tidur denganmu." pinta Bella memohon.
"Tidur denganku, tapi a-aku..." belum selesai Nana bicara.
"Tidak ada yang boleh tidur sama Nana, kalian satu geng jadi kalian tidur bertiga, atau mau saya minta paman Jon untuk menyiapkan satu kamar lagi untuk kamu Bel?" sahut Hessel memotong pembicaraan.
"Tidak pak, itu tidak perlu kami akan tidur bertiga saja." jawab Bella.
"Pak, boleh saya bertanya sesuatu?" ujar Jessi.
"Iya tanyakanlah!!!"
"Kenapa bapak dan Nana bisa bersamaan datang kemari, sebenarnya apa tujuan bapak kemari, apa Nana yang memaksa bapak untuk membawanya?" tanya Jessi, Nana yang mendengarnya seakan tersulut emosi namun Nana tetap berusaha menahannya agar Jessi tidak curiga.
"Kenapa kau bertanya seperti itu Jes?" tanya Hessel balik dia ingin tau apa alasan Jessi.
"Tidak mungkinkan bapak sengaja mengajaknya."
"Hmmm..." Nana berdehem menatap Hessel dan sesekali menatap Jessi.
"Kamu mau tau Jes, kenapa saya bisa bersama Nana datang kemari?"
"Iya pak, jika bapak sudi menjawabnya."
"Jessi sangat keterlaluan, dia selalu ingin tau urusan orang lain." batin Hessel diam sejenak.
"Jessi, Nana tidak pernah memaksa saya, tapi saya yang memaksa Nana, karna saya ingin berkenca berdua dengannya." jelas Hessel, seketika Nana kaget mendengarnya, apa yang Hessel katakan itu bisa membuat Jessi semakin geram menatap Nana dengan tajam.
"Apa yang bapak katakan?" sahut Nana.
"Menjawab pertanyaan dari Jessi." jawab Hessel santai tanpa peduli Jessi akan curiga tau merasa sakit hati.
"Saya naik keatas, kalian lanjutkan saja makannya." Nana bangkit dari duduknya, dia merasa tidak nyaman setelah mendengar kalimat yang Hessel ucapkan, lebih tepatnya Nana tidak nyaman karna Jessi akan bertambah curiga.
*****
Sesampai dikamar Nana tertegun menatap cermin, dia tidak habis pikir bagaimana Hessel bisa bicara blak-blakan pada Jessi.
Tiba-tiba Hessel datang tanpa Nana sadari karna Nana masih merasa kesal mengingat apa yang barusan Hessel katakan.
Hessel berjalan perlahan mendekati istrinya dan melabuhkan pelukkan kepinggang Nana membuat Nana terperanjat kaget saat suaminya memeluknya dari belakang.
"Mas, kau disini?" kata Nana kaget.
"Kenapa, apa aku tidak boleh seperti ini?"
Nana melepaskan tangan Hessel yang mencengkram pinggangnya dan berbalik badan menghadap suaminya. Hessel bisa melihat wajah istrinya tampak kesal.
"Apa yang mas katakan, apa mas mulai tidak waras, jika Jessi curiga bagaimana?" celoteh Nana membuat Hessel gemes memandangnya bibirnya itu seakan tak mau berhenti bicara.
"Aku waras, aku mengatakan apa yang seharusnya dikatakan, kita memang berkencan kan Na." jawab Hessel sedikit menggoda Nana.
"Musibah lebih tepatnya..." sahut Nana kesal berjalan menuju tempat tidur dan duduk disana.
Hessel mendekatinya dan memeluk Nana dengan tiba-tiba.
"Dinginnn..." ujar Hessel bermanja-manja pada Nana.
"Kenapa ya hujannya gak berhenti-henti, ada yang aneh kayaknya." ujar Hessel mengalihkan pembicaraan, Nana menoleh kearahnya dan Hessel tersenyum menggoda istrinya.
"Mas, aku mau ke kamar mandi sebentar." rengek Nana saat Hessel hendak mengangkat tubuhnya ke kasur, tiba-tiba Nana mencari alasan sehingga Hessel melepaskannya.
"Sebentar ya mas, mas tunggu ajaaaa disini." kata Nana sambil berlari kearah kamar mandi, sedangkan Hessel tersenyum menatap istrinya yang bertingkah aneh, Hessel sudah tau pasti Nana ketakutan jika dia akan meminta hak sebagai suami lagi.
*****
Hari itu Nana dan Hessel berkunjung ke rumah orang tuanya. Suasana rumah ramai dipenuhi massa, Nana yang baru turun dari mobil bersama Hessel mulai merasa degdegan karna tak biasanya rumah Nana dipenuhi orang.
Nana pun seketika terkejut melihat bendera kuning tertancap di depan rumahnya.
"Mas, rumahku... mas, kenapa rumahku banyak orang..." rengek Nana menarik-narik baju Hessel dia ingin Hessel mengatakan sesuatu padanya, namun Hessel hanya diam tertunduk lesu.
"Jawab aku mas... kenapa kau diam, apa terjadi sesuatu pada ayahku?" Nana terus menerus mengguncang tubuh Hessel dan Hessel hanya bisa menganggung.
"Tidak mungkin... arghhh... ayahhhh....." Nana langsung berlari memasuki rumahnya, Hessel mengejarnya dan berusaha untuk menenangkan sang istri.
Seketika Nana terduduk lesu, seakan nafasnya ikut berhenti saat melihat sang ayah terbujur kaku, Nana memandang ibu dan adiknya, dia seakan tak percaya ayahnya sudah tiada. Sang ibu langsung memeluknya, air mata sudah tidak bisa Nana bendung lagi.
"Nana, ayahmu sudah tiada, dia sudah meninggalkan kita untuk selamanya..." lirih ibu memberi Nana kejelasan.
"TIDAKKK... AYAHHH... AYAHHH BANGUN, JANGAN TINGGALKAN NANA..." Teriak Nana histeris, kehilangan seorang ayah adalah hal paling menyedihkan bagi Nana, ayahnya adalah laki-laki sempurna yang paling berjasa dalam hidupnya.
*****
Hessel yang terlelap dalam tidur langsung bangun begitu mendengar Nana teriak-teriak. Saat Hessel membuka mata dia melihat istrinya sudah duduk diranjang sambil menangis dengan nafas yang keluar tak beraturan.
Hessel panik dan langsung memeluknya.
"Ada apa Nana, kamu kenapa, apa yang terjadi...?" tanya Hessel panik.
"Mas, ayahku... ayahku mas..." rengek Nana berlinang air mata.
"Ada apa dengan ayah Na?" tanya Hessel bingung.
hiks... hiks... hiks... Nana terus menangis
"Mas, aku mau bertemu ayah..." rengeknya lagi.
Hessel jadi bingung sebenarnya apa yang terjadi pada istrinya kenapa tiba-tiba menangis dan ingin bertemu ayahnya.
"Nana, ini sudah tengah malam, kita sedang di Bogor, besok pagi kita akan bertemu ayah..." bujuk Hessel mencoba menenangkan sang istri.
"Tidak mas, aku maunya sekarang..." pinta Nana.
"Nana, tenang yaaa Na, besok kita akan bertemu ayah..." kata Hessel.
"Sekarang juga mas, atau aku tidak akan bisa lagi melihat ayah untuk selamanya..." ungkap Nana yang membuat Hessel kaget.
"Apa yang kamu katakan Na, tidak baik bicara seperti itu..."
"Mas, aku mimpi buruk yang membuatku takut..." rengek Nana wajahnya sangat ketakutan.
"Ayah kenapa Na?"
"Mas, ayah akan meninggalkanku untuk selamanya, aku sangat takut mas, aku takut terjadi sesuatu pada ayah..."
"Tenanglah Nana, mimpi hanya bunga tidur, sekarang kamu tidur lagi, besok pagi kita akan bertemu ayah."
"Janji ya mas, kita akan kerumah ayah..."
"Janji Nana..." kata Hessel membaringkan Nana ke dalam dekapannya.
Hessel mengelus lembut kepala Nana, dan sesekali mencium pucuk kepalanya, Nana merasa lebih tenang saat berada dalam dekapan suaminya seperti ini.
"Apa kau ingin aku menelpon ibu?" kata Hessel.
"Untuk apa mas?"
"Hanya memastikan kalau ayah baik-baik saja."
"Iya mas, ayo telpon ibu sekarang." pinta Nana. Hessel pun menyodorkan ponselnya pada Nana.
"Halo bu." ucap Nana.
"Ada apa Na, kenapa menelpon tengah malam?"
"Nana rindu pada kalian semua bu."
"Hmmm... iya sayang ibu tau, tapi Nana gak mungkin nelpon tengah malam seperti ini kalau tidak ada sesuatu yang mengganggu pikiran Nana."
"Sungguh Nana baik-baik saja bu, ayah apa kabar bu, ayah baik-baik sajakan?"
"Ayahmu baik Na, tadi ibu sudah membawanya ke dokter, uang yang kamu kirim untuk Nuri ibu pinjem buat berobat ayahmu."
"Syukurlah bu, soal uang ibu jangan khawatir Nana setiap bulan akan kirim uang buat berobat ayah dan biaya sekolah Nuri, bu."
"Bilang sama suamimu, ibu sangat berterima kasih, dia begitu baik pada keluarga kita."
"Iya bu, Nana tutup dulu telponnya, maaf ya bu Nana jadi bikin ibu cemas."
"Iya sayang tidak apa-apa, Nana istirahatlah sekarang."
Nana akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah tau sang ayah baik-baik saja.
"Gimana Na, ayah baik kan?" tanya Hessel
"Hmmm... iya mas, maaf ya mas aku sudah merepotkan kamu." sesal Nana menundukkan kepala.
"Kamu tidak pernah merepotkan aku Na, kamu ini istriku jangan pernah merasa seperti itu."
cup... Hessel mencium kening Nana, lalu membawa istrinya kembali dalam dekapannya.