
cekglek...
suara pintu terbuka mengangetkan Hessel dan Nana yang sedang berpelukkan, sontak mereka menoleh kebelakang. Tak disangka-sangka oleh Hessel apalagi Nana melihat Arin datang bersama bocah tengil, siapa lagi kalau bukan Devan.
Hessel dan Nana saling melempar pandangan saat melihat Devan tersenyum menyeringai, menurut mereka sikap Devan sangat aneh, biasanya anak itu acuh tak acuh sama Nana.
"Arin." ujar Nana saat Arin mendekatinya sambil mengambil buket bunga di tangan Arin.
Arin langsung berpelukkan dengan Nana.
"Kalian kok bisa barengan, ketemu dimana?" tanya Hessel.
"Tadi ketemu Devan di..." saat Arin hendak menjelaskan tiba-tiba saja dia berhenti saat mendengar suara Devan, perhatian mereka pun jadi teralihkan.
"Ini untukmu." kata Devan sambil mengunjukkan rantang makanan untuk Nana.
Nana terpaku menatap Devan, sambil sesekali melirik suaminya. Hessel mengambil rantang makanan dari tangan Devan.
"Kak kembalikan! Itu untuk Nana." rengek Devan sambil berusaha merebut kembali karna Hessel membawanya berlari.
"Sepertinya aku kenal aroma ini..." gumam Hessel sambil mengendus-ngendus rantangnya, kemudian langsung dibukanya, benar dugaannya tidak salah lagi pasti isinya opor ayam.
Sontak Hessel mendekati Nana dan menunjukkannya.
"Opor ayam, kelihatannya sangat enak." Nana sangat antusias, sampai-sampai salivanya ikut meleleh saking tergiurnya dan segera dilap pakai tissue oleh Hessel.
Hessel pun memisahkan nasi dan opornya ke dalam rantang yang kosong untuk mereka makan.
"Kak, aku yang membawanya dari rumah harusnya aku yang menyuapi Nana makan." ketus Devan.
"Kau duduk saja sana, Nana ini istriku biarkan aku yang menyuapinya." ketus Hessel balik.
Devan merajuk, sebelum Hessel menyuapi Nana, Nana lebih dulu mengambil tindakkan.
"Devan kemarilah!" panggil Nana, Devan menoleh ke arah kakaknya, dia enggan hendak menuruti Nana.
"Mas, biarkan Devan yang menyuapiku, bukankah mas senang jika adik mas mulai perhatian padaku?" bujuk Nana, dan Hessel pun hanya bisa mengangguk sembari memanggil Devan untuk mendekat.
Devan akhirnya memberanikan diri duduk di tempat yang Hessel duduki, sedangkan Hessel kembali berdiri di dekat Devan sambil melihat istri dan adiknya.
"Kau yang memasaknya untukku, Dev?" tanya Nana lembut.
"Bibi yang masak, kenapa kau sangat bodoh mana mungkin aku bisa masak." jawab Devan masih saja ketus, tapi Nana hanya tersenyum membuat Devan semakin menyukainya.
"Meskipun menurutmu aku bodoh, tapi tetap saja kakakmu mau menjadikan aku istrinya, setidaknya kakakmu lebih peduli padaku." ucap Nana, Devan langsung melotot mendengarnya sementara Hessel dan Arin tertawa tanpa bersuara.
"Jika kau masih bicara aku akan membuang opornya." Devan lagi-lagi sok cuek.
"Jangan-jangan Dev." Nana menahan tangannya saat Devan hendak beranjak dari tempat duduknya.
"Aku ingin sekali makan opor ayam, sebenarnya bukan aku tapi calon keponakan kamu yang menginginkannya, jangan dibuang aku mohon." Nana memasang wajah memelas dan sok imut membujuk Devan.
Akhirnya Devan kembali duduk, dan menyuapi Nana dengan gaya seolah terlihat terpaksa tapi Nana bisa merasakan kali ini Devan tulus memberinya perhatian.
"Biar aku makan sendiri." Nana mengambil alih makanan dari tangan Devan.
Kemudian meracik ayamnya dengan sendok, lalu mengarahkannya untuk menyuapi Devan, Nana mendengar perut Devan keroncongan pasti Devan belum makan makanya Nana ingin menyuapinya.
Tetapi, dengan gaya angkuhnya Devan menolak.
"Makanlah sesuap saja, anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karna kamu sudah membawakan opor untukku."
"Tidak perlu berterima kasih, bibi yang menyuruhku untuk menjengukmu sekalian mengantarkan sarapan untukmu, jika bukan karna mereka aku tidak akan mau datang melihatmu."
"Dasar keras kepala!" Hessel mengacak-ngacak rambut Devan, lalu menarik bajunya menyuruh Devan berdiri dan Hessel yang duduk.
"Na, kau suapi aku saja." kata Hessel dengan wajah sok imutnya.
Nana pun menyuapi suaminya, Devan memegang perutnya sambil menelan salivanya dia tau perutnya sedang lapar tapi masih saja belagak acuh sama Nana.
Akhirnya Devan mendekat dan merendahkan diri.
Hessel dan Nana saling pandang dan menyunggingkan senyum, pelan-pelan Hessel mengalah dan membiarkan adiknya makan dari suapan tangan Nana.
Nana juga tak lupa sama sahabatnya, Nana juga menyuapi Arin sehingga mereka semua kebagian makanan, makan beramai-ramai memang terasa lebih nikmat dibanding makan sendirian.
Tak lama kemudian setelah mereka selesai makan, Bu Dokter yang memeriksa kandungan Nana datang. Nana langsung siap-siap kembali berbaring lalu diperiksa oleh dokter, sedangkan Hessel berada di sampingnya sambil terus memegang tangan Nana.
"Bagaimana keadaan Nana dan bayinya, dok? apa mereka baik-baik saja sekarang?" tanya Hessel.
"Sepertinya pak Hessel sudah tidak sabar ingin membawa istrinya pulang ya?" celetuk bu dokter membaca raut wajah Hessel.
"Dokter bisa saja, tapi jika memang sudah baik jelas saya akan membawanya pulang."
"Nana dan bayinya sudah sangat baik tidak ada yang perlu kita khawatirkan lagi, tapi pak Hessel saya hanya ingin memberikan sedikit nasehat." kata dokter.
"Katakan saja, dok!"
"Ibu hamil sangat sensitif, perasaannya gampang sekali berubah-ubah, kadang suka marah tanpa alasan, sedih tanpa sebab, lalu mendadak bahagia bahkan kadang bertingkah seperti anak kecil. Sulit sekali untuk para suami menebaknya, saya hanya menyarankan bapak supaya selalu memberi istrinya perhatian, turuti saja setiap keinginannya, selalu dorong semangatnya, jangan sampai istrinya stress lagi."
"Saya harus melakukan semua itu, dok?"
"Benar pak, saya harap bapak bisa menerima semua kondisi itu jika sewaktu-waktu Nana bertingkah aneh, dan harus diingat juga saat usia kandungannya memasuki 3-4 bulan bapak harus berhenti melakukan hubungan suami istri sampai Nana melahirkan, itu dilakukan untuk menjaga keselamatan Nana dan bayinya yang saat itu mulai berkembang." jelas dokter lagi.
"Ehem."
Mendadak Devan dan Arin berdehem bersamaan saat dokter melarang Hessel untuk menyetubuhi Nana, sehingga Nana dan Hessel malu mendengarnya.
"Harusnya dokter bicarakan itu berdua dengan saya, di sini ada adik saya yang belum cukup umur." Hessel menggerutu pelan pada dokter, membuat mereka tertawa.
"Dan untuk Nana, tetap harus jaga kesehatan diri dan janinnya, jangan terlalu banyak beraktivitas yang berlebihan, jika tidak diperlukan lebih baik istirahat di rumah, sering-sering olahraga biar pikirannya tetap fresh." kata dokter menyarankan.
"Tidak bisa dok." bantah Nana tidak suka mendengar, sontak membuat dokter kaget.
"Kenapa, apa Nana bekerja?" tanya dokter.
"Istri saya ingin mengunjungi nenek kami di Puncak dok, karna itu dia kecewa saat dokter menyarankannya untuk banyak beristirahat." timpal Hessel menjelaskan sambil merangkul Nana agar emosi Nana menurun.
"Apa saya bisa membawanya jalan-jalan ke Puncak dok?" tanya Hessel.
Bu dokter tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Nana.
"Nana, kamu boleh pergi ke Puncak." kata dokter, sontak Nana mendongak dan tersenyum.
"Dokter, sungguh-sungguh mengizinkan saya?" tanya Nana dengan raut wajah memelas dan tatapan berbinar.
"Tentu saja, justru itu sangat dianjurkan dibanding Nana terus berada di rumah yang bisa memicu stress, tapi harus tetap diingat jangan sampai kelelahan."
"Terima kasih dok." kata Hessel.
"Kalau begitu, saya permisi pak, masih banyak pasien yang harus dikunjungi." ucap dokter berpamitan.
"Mas, mas, aku sudah tidak sabar bertemu nenek." Nana sangat senang.
"Iya sayang kita akan ke rumah nenek sore ini." Hessel kembali memeluk Nana sambil mengelus-elus belakang Nana.
"Devan, kau pulang duluan pinta bibi bereskan pakaian, kita akan menginap di rumah nenek." kata Hessel.
"Enggak mau, besok Devan sekolah kan bentar lagi ujian kelulusan." Devan keras kepalanya Devan menolak.
"Kakak akan meminta cuti dari sekolahmu." kata Hessel dan tak bisa Devan bantah.
"Arin, kamu mau kan ikut kami?" tanya Nana.
"Em tapi aku enggak bawa bekal pakaian." kata Arin.
"Jangan pikirkan itu Rin, kau boleh memakai pakaian Nana." sahut Hessel.
"Benar sekali, mau ya Rin, aku mohon ikutlah bersama kami, sekalian kita liburan sebelum ujian." kata Nana merayu Arin.
"Iya, aku mau ikut bersama kalian." Arin mengangguk dan melempar senyuman untuk Nana, sehingga Nana sangat senang mereka bisa berkumpul bersama.