MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
MAKHLUK KECIL



Suara tangisan bayi yang menggelegar terdengar dari balik ruang bersalin di sebuah rumah sakit. Di luar ruangan sana ada ayah dan ibu beserta mertuanya sedang menunggu proses persalinan Nana.


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, penantian Hessel dan Nana selama 9 bulan lamanya kini terjawab sudah setelah Nana melahirkan bayi laki-laki yang tampan, hidung mancung dan perkasa seperti ayahnya, serta rambut bergelombang dan bola mata yang indah persis seperti ibunya. Hessel seketika itu langsung mencium kening Nana sambil berlinang air mata bahagia yang ditahannya.


"Selamat Nana kau sudah menjadi seorang ibu."


"Rasanya kita menikah baru kemarin mas tapi begitu cepat mas sudah menjadi seorang ayah." sontak Hessel langsung memeluk istrinya.


"Terima kasih untuk segalanya sayang, apa yang kau berikan kepadaku tidak akan pernah bisa aku balas dengan apapun. Aku mencintaimu." sambil membisikkan sebuah kalimat di telinga Nana berulang kali mengecup keningnya.


Hessel terharu serta bahagia melihat perjuangan seorang wanita yang mempertaruhkan hidup dan matinya demi melahirkan makhluk kecil berwujud manusia. Sakit nyamannya perjuangan Nana saat melahirkan tidak bisa terbayangkan oleh Hessel. Bayi mungil yang belum diberi nama itu berhasil mencuri perhatian semua orang di sekitarnya yang berbondong-bondong datang hanya untuk melihatnya. Kini si kecil menjadi kebahagiaan baru di dalam keluarga pasangan suami-istri itu.


"Alhamdulillah bayinya sehat tanpa kekurangan apa pun."


Dokter membawa bayi itu ke atas gendongan Nana. Seketika itu mata Nana berbinar, senyumnya melengkung lebar melihat makhluk kecil di dalam gendongannya.


"Lihat mas betapa imut dan kecilnya dia."


Hessel mendekat lalu duduk di samping Nana sambil merangkulnya bersama-sama melihat jantung hati mereka. Hessel dan Nana pun serentak mencium bayi mereka, nenek dan kakeknya juga ikut menggendong cucu pertama mereka dengan penuh kegembiraan.


Ini pertama kalinya aku melihat senyum dan tawa kedua orang tuaku juga mertuaku setelah kejadian yang menimpa adik-adik kami, mereka seperti kehilangan harapan tapi hari ini begitu bayi ini lahir harapan baru itu seolah hadir kembali.


Dan suamiku, aku mencintaimu lebih dari yang kau tau mas. Semoga semua masalah yang dulu meneror kita tidak terulang kembali, aku tidak mau kehilangan kebahagiaan yang kini tengah kita rasakan.


Istriku, aku bisa melihat di matamu masih ada keraguan akan masalalu yang tidak jelas apakah mereka akan kembali atau tidak. Tetapi aku akan selalu melindungimu dan si jantung hati kita sampai titik darah penghabisan.


Lalu Hessel diminta untuk melantunkan suara azan ke telinga putra kecilnya, mendengar suara sang ayah bayi imut itu ikut tersenyum membuat gemas siapapun yang melihatnya.


"Masha Allah lihatlah si kecil tersenyum mendengar papanya azan." ujar mama semakin bertambah gemas. Rasanya kakek dan neneknya ingin cepat-cepat membawa mereka pulang ke rumah.


Betapa imut dan menggemaskannya bayi mungil itu, Nana sudah tidak sabar untuk menyuruh suaminya memberi anak mereka nama.


"Ayo mas segera namai dia!" pinta Nana. Hessel menggendong bayi kecilnya sangat lembut.


"Namanya adalah Gio Fernando Steven." Hessel mengangkat bayinya ke atas saat nama besar anaknya disebut. Hessel tak lupa selalu mencantumkan nama keluarga besar mereka Steven.



Visual baby Gio Fernando Steven


Kedua kakek mendekati anak dan cucunya itu, mereka beradu senggol untuk memperebutkan siapa yang berhak menggendong cucunya lebih dulu. Siapa yang jatuh dia yang menggendong begitulah peraturan yang dibuat oleh Hessel.


Tentu saja kedua kakek si bayi menjatuhkan diri bersamaan supaya bisa menggendong cucunya. Pak Betrand dan Pak Aryo mengejang-ngejangkan kaki merengek seperti anak kecil yang minta dibelikan es krim tapi kedua kakek ini merengek minta cucu. Ada-ada saja peraturan dan tingkah laku sang kakek yang sedang kumat bahagianya.


"Papa dan ayah tenang saja dulu, sekarang waktunya Nana dan bayinya di pindah ke ruang VIP." ucap Hessel sambil merangkul ayah dan ayah mertuanya berdiri.


"Kalian tunggu saja di luar ya Pa, Yah." cengir Hessel sambil memapah mereka berdua keluar. Pak Betrand dan Pak Aryo terpaksa keluar dengan wajah berantakkan. Sementara Nana dan para nenek terbahak menertawai dua kakek lebay itu.


Terima kasih readersku yang masih setia nunggu up novel ini. Author selalu berusaha update sesuai keinginan kalian, tapi maaf author juga punya kesibukkan selain membuat novel jadi author harap perhatiannya ya😊😊💞 Berkat dukungan dan kesetiaan kalian pelan-pelan author usahakan update terus.