MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
KABAR BAHAGIA UNTUK NENEK



Selepas shalat Zuhur, Hessel dan Nana bersiap-siap berangkat ke rumah nenek. Arin dan Devan sudah menunggu di luar.


"Biar aku saja yang menyimpannya ke bagasi, kakak iringi kakak ipar masuk ke dalam mobil." kata Devan sambil mengambil alih koper yang dibawa oleh Hessel.


Hessel dan Arin pun mengiringi Nana berjalan, sementara Devan menyimpan koper ke bagasi mobil.


Setelah semuanya masuk ke dalam mobil, Hessel langsung melajukan mobilnya menuju arah Kota Bogor. Ini bukan pertama kali bagi mereka pergi ke kota itu, tapi suasananya tetap saja sama sangat menyenangkan, apalagi sekarang mereka perginya berlima dengan janin yang ada di perut Nana.


Beberapa jam menempuh perjalanan Jakarta-Bogor, akhirnya mereka sampai di kediaman nenek. Mereka pun turun, sambil menyeret koper masing-masing.


Hessel memencet bel, dan langsung dibukakan oleh nenek. Betapa terkejutnya nenek begitu melihat cucu-cucunya datang memberi kejutan. Nenek nb langsung memeluk dan mencium cucunya satu per satu, tapi nenek terhenti saat melihat Arin, seorang gadis asing yang belum dia kenal. Nenek dan Arin hanya saling pandang sambil melempar senyuman.


Sebelum bertanya nenek mempersilakan mereka masuk terlebih dahulu, dan duduk di ruang tamu dengan pasangan masing-masing. Saat semuanya sudah duduk, nenek memanggil pelayannya untuk menaruh koper mereka ke dalam kamar tamu dan pelayan yang lain diperintahkan untuk mengantarkan minuman dan cemilan.


"Nenek tidak tau kalian akan datang, jika nenek tau pasti nenek sudah menyiapkan hidangan makanan untuk menyambut kalian." kata nenek menyesal.


Hessel bangkit dari duduknya di sisi sang istri lalu berpindah mendekati dan memeluk nenek, saat itu juga minuman dan cemilan datang diantar oleh pelayan.


"Nenek tidak perlu repot-repot menyiapkan segalanya, cucu perempuan nenek yang punya ide seperti ini dan terpaksa Hessel hanya menuruti kemauannya." kata Hessel memberi penjelasan.


"Na, kenapa kau lakukan ini pada nenek? nenek bukannya tidak suka kalian datang tapi nenek merasa tidak enak saja tidak menyediakan apa-apa untuk kalian."


Nana pun ikut berpindah duduk di samping kiri nenek dan mengenggam kedua tangan nenek sambil tersenyum.


"Nana punya kabar gembira untuk nenek." ujarnya penuh semangat.


Nenek menolah kearah Nana dan Hessel secara bergantian, masih penasaran dengan kabar gembira itu.


Hessel mulai memberitahu tentang kehamilan Nana pada neneknya. Bukannya senang mendengar cucunya hamil, nenek malah memukul Hessel.


"Brengsek!" tiba-tiba nenek mendorong Hessel sampai Hessel terpental.


Hessel menjerit kesakitan, neneknya selalu seperti itu marah-marah tanpa sebab.


"Apa yang nenek lakukan padaku?" rengek Hessel dengan tampang menyedihkan, nenek berdiri bergaya seperti model di depan Hessel sambil memelototinya.


"Bukankah ini yang nenek harapkan? dulu sebelum Nana hamil nenek maksa-maksa pengin cepat punya cicit, sekarang giliran Hessel berhasil menghamilinya tetap saja nenek masih memukulku." Hessel merasa sangat sedih, sementara Nana, Devan dan Arin lelah menahan tawa.


Nenek melirik kearah mereka, lalu tiba-tiba memeluk Hessel dan mencium-cium pipi Hessel secara bergantian. Hessel terpaku dan membisu, dengan mata terbelalak Hessel berusaha memahami sikap neneknya yang aneh.


"Lepaskan nek!" Hessel mendorong sedikit nenek dari tubuhnya. Nenek malah tersenyum menyeringai dengan sedikit jahilnya.


"Ini tentang nenek dan cucunya, kau tau sayang nenek sangat senang saat tau istrimu hamil." Nenek pun dengan tulus memeluk Hessel dan Nana secara bersamaan.


"Nenek, aku pikir nenek marah karna Hessel menghamili cucu nenek."


"Dasar bodoh! gelarmu saja seorang dosen tapi kau tetap cucu nenek yang paling bodoh, mana ada orang tua marah saat anaknya menghamili istrinya sendiri." nenek sempat-sempatnya menjitak kepala Hessel membuat Nana, Devan dan Arin tertawa.


"Nenek membuatku malu." cengir Hessel.


Tak lupa nenek selalu memberi ucapan selamat untuk mereka berdua.


"Kamu sudah cek ke dokter Na, bagaimana kandunganmu?" tanya nenek mulai serius.


"Sudah nek, alhamdulillah kandungan Nana sehat nek." kata Nana, tapi nenek bisa melihat wajah Nana masih pucat pasi. Nenek sendiri tidak tau apa yang sudah terjadi pada Nana sedangkan Hessel dan Nana akan merahasiakan kejadian itu supaya nenek tidak cemas, dan menjaga jantung nenek agar tidak kambuh.


"Tapi wajahmu pucat sayang, apa kamu sakit?"


"Nana sehat nek, mungkin ini efek dari kehamilan Nana makanya terlihat tidak sehat." jawab Nana.


"Benar nek dokter juga mengatakan kalau Nana dan bayinya sehat, nenek tidak perlu khawatir Hessel pasti selalu menjaga Nana dan calon cicit nenek." tambah Hessel meyakinkan neneknya.


Setelah merasa tenang mengenai kehamilan Nana, nenek pun mengganti topik pembicaraan. Nenek ingin mengenal gadis tomboy yang duduk di samping Devan. Arin sangat gugup saat nenek menyapanya mengajak berkenalan, tapi Devan malah menarik tangan Arin mengarahkannya menjabat tangan nenek.


"Kamu pacar Devan ya?" tanya nenek tiba-tiba, sontak mereka semua terkejut dan melotot menatap sorot mata Arin yang tidak berani melihat mereka satu per satu.


"Cie, cie, Devan sama Arin." ledek Nana semakin membuat Arin menunduk.


"Kamu masih dalam tahap masa-masa puber Dev, enggak cocok sama Arin." sahut Hessel meledek adiknya membuat Devan jengkel.


"Nenek apa-apaan sih, mana mungkin Devan pacaran sama anak kuliahan sementara Devan SMP saja belum lulus." seru Devan mencairkan suasana.


"Hessel setuju-setuju saja nek, tapi papa dan mama mungkin tidak akan menyetujuinya." kata Hessel lagi.


"Kenapa tidak setuju? Arin teman Nana pasti dia juga gadis baik-baik seperti Nana."


"Nenek taukan bagaimana cucu nenek yang satu itu, jika dia perlu apa-apa masih teriak-teriak manggil Nana, bagaimana dia bisa menghidupi istrinya kerja rumah saja belum mampu." jelas Hessel.


"Nana juga setuju nek tapi nanti, Devan harus lanjut kejenjang SMA lalu kuliah setelah Devan lulus kuliah saat itu pikiran Devan sudah matang dan sudah waktunya untuk menikah." tambah Nana berpendapat.


Arin pun memberanikan diri untuk ikut berbicara agar mereka tidak salah paham.


"Maaf nek, Arin menyela pembicaraan kalian, tapi sepertinya kalian sudah salah paham, Arin sama Devan enggak ada hubungan apapun, Arin juga tidak pernah naksir sama Devan, bagi Arin dia sudah seperti adik karna dia adik ipar teman Arin jadi Arin juga menganggapnya demikian, maaf nek."


"Nenek dengarkan apa yang dia katakan, lagi pula Devan sudah punya perempuan idaman sendiri, Devan enggak mau dijodohkan seperti kakak." sahut Devan.


"Ya sudah nenek tidak memaksa kalian, tapi berjanjilah kamu harus sekolah sampai jadi sarjana, jika tidak maka nenek akan menikahkan kamu dengan gadis pilihan nenek." kata nenek menakut-nakuti Devan, Devan jelas tidak mau dijodohkan walau di sisi lain dia memang tidak ada niat untuk kuliah, tapi dari pada menikah lebih baik kuliah.


"Nek, bolehkan Hessel dan Nana masuk ke kamar duluan?" kata Hessel saat mereka bersantai makan cemilan.


"Silakan sayang, kalian semua boleh istirahat nenek mau belanja ke supermarket." kata nenek.


"Arin boleh ikut nek?" tanya Arin menawarkan diri.


"Boleh, kau mau ikut juga Dev?" tanya nenek.


"Enggak mau, lebih baik Devan tidur." ketus Devan langsung berlari ke kamar.


"Baik-baik sama nenek, Rin." bisik Nana sambil menepuk pundak Arin sebelum mereka naik ke lantai atas.


Hessel pun membawa Nana ke dalam kamar yang sudah di sediakan untuk mereka, sementara nenek dan Arin pergi berbelanja.


Saat mereka masuk kamar, Nana langsung membongkar isi kopernya dan mengambil baju ganti untuk Hessel.


"Mas, ganti bajumu dulu." pinta Nana.


Hessel pun berbalik ke arah Nana dan mengambil baju yang diletakkan Nana di atas kasur. Nana juga ikut mengganti pakaiannya.


Setelah mengganti pakaian, Hessel langsung meraih tangan istrinya dan membaringkannya di atas kasur. Dibelainya dengan lembut wajah Nana, tak lupa juga mengecup bibir sang istri.


"Berada di Bogor seperti ini, aku merasa kita seperti sedang berbulan madu ya Na." goda Hessel.


"Setiap malam juga kita bulan madu mas." kata Nana sambil tersenyum membelai pipi dan leher Hessel secara bergantian.


"Hari ini bolehkan Na?"


"Aish! enggak mau mas."


"Baiklah, tapi cium bolehkan?" Nana menggangguk dan langsung saja Hessel melepas bajunya lalu ikut berbaring dan mencumbui istrinya.


"Sudah mas, Nana mual." tiba-tiba Nana berhenti dari ciuman mereka.


Hessel malah fokus mencium ketiak dan nafasnya.


"Aku bau ya, Na?" tanya Hessel.


"Bukan kamu bau mas, tapi Nana mual pengin muntah." kata Nana.


"Sayang, aku antar ke kamar mandi ya."


"Tidak perlu mas."


"Maunya apa sayang? katakan!"


"Em... di sini ada pohon mangga enggak mas?"


"Pohon mangga?"