
Nana, Arin, Hessel dan Yoga kompak bersama-sama menghadiri pesta pernikahan anak konglongmerat. Kali ini status Arin sudah sebagai tunangan Yoga sekretarisnya Hessel. Dan Nana sendiri istri seorang Boss besar nomor 1 di Indonesia. Hessel sangat berpengaruh dalam dunia bisnis sehingga wajib bagi semua pengusaha untuk mengundangnya. Hessel menggandeng tangan Nana, malam ini Nana tampak sangat cantik dengan balutan gaun panjang dan kalung emas putih yang melingkari di lehernya. Yoga dan Arin juga saling bergandengan, Arin tampak cantik dengan gaun mini dress yang sesuai dengan tubuhnya, ya walau jalannya masih agak kelaki-lakian mengingat dia tomboy yang berubah jadi feminim.
Mereka berempat pun berjalan di atas karpet merah, bersama-sama memasuki ruangan pesta yang sudah di sediakan. Di dalam sana sudah ada pemilik acara yang menyambut mereka, dan mereka pun saling berjabat tangan mengucapkan selamat.
Meski demikian, semua orang sudah tahu Hessel sudah mempunyai istri dan anak tapi tetap saja semua orang mengaguminya. Semakin dia berumur semakin menjadi daya tarik publik, Hessel masih sama seperti dulu dia tidak senang memandang wanita selain istrinya.
"Ehem..." Nana sengaja berdehem menyindir suaminya.
"Enak udah bawa istri masih aja dilihatin cewek-cewek, gimana kalau Nana enggak ikut pasti udah disamperin kali." celetuk Nana memanasi suaminya. Hessel hanya tersenyum melihat kecemburuan Nana sambil menarik pinggang istrinya dari samping.
"Seperti tidak tahu saja siapa suamimu ini." bisik Hessel ketelinga Nana dengan nada yang seolah memanasi Nana.
"Ya udah Nana pulang sekarang, mas sama mereka aja sana." niat mau nyindir suami malah Nana yang ngambek.
"Eh jangan sayang, kan mas maunya sama kamu. Kalau mas mau sama mereka udah dari dulu, mas enggak akan milih kamu." untungnya Hessel selalu tenang membujuk istrinya.
"Ayo kita ke pelaminan." ucap Hessel.
"Ngapain?" tanyanya seperlunya. Nana masih cemberut.
"Biasanya pelaminan untuk apa?"
"Nikah."
"Nah itu."
"Kita Nikah lagi gitu?"
"Iya."
"Kan udah nikah."
"Sekali lagi."
"Enggak mau!"
"Serius enggak mau nikah sama aku? ya udah."
"Em...?"
"Ya mau lah mas. Mas bukannya mujuk malah marah."mengejar Hessel dan menarik tangannya, sedangkan Hessel tersenyum nakal.
"Siapa yang marah sayang? Emangnya mas ngomong kasar sama Nana?"
"Ya enggak. Tapi mas bilang ya udah doang, itu cuek namanya."
"Mana mungkin mas cuek sama istri mas, mas udah ngomong panjang lebar tapi Nana yang ngambek terus, lagi sensi ya? kedatangan meteor." canda Hessel mencubit lembut hidung istrinya.
"Enggak!" menggeleng sambil manyun padahal emang benar sedang datang bulan.
"Terus kenapa ngambek terus?"
"Nana sebal lihat mereka, mereka melihat mas terus seolah Nana enggak dipedulikan."
"Jadi itu masalahnya. Baiklah mulai sekarang mas akan jalan seperti ini biar mata mas lihat Nana terus." Hessel pun menyampingkan tubuhnya dan berjalan seperti kepeting seketika Nana tersenyum tapi dengan cepat kembali memasang muka masam.
"Jangan gitu juga mas! Nanti kalau mas jatuh gimana?"
"Tadi mas jalan ke depan bilangnya sebal karna dilihat cewek-cewek, mas udah nyamping supaya melihat Nana terus tapi Nana juga takut mas jatuh."
"Ya biasa aja mas."
"Seperti ini. Siapa pun yang membicarakan istriku maka mas tidak akan segan untuk mengusirnya dari sini." Hessel pun mengalungkan tangan Nana di lengannya dengan erat.
"Kita mau nikah ya mas?" Nana tersenyum.
"Ya! Ya enggak lah Nana. Cuma mau ngucapin selamat sama pengantinnya."
"Tadi mas bilang kita mau nikah?"
"Ya kali nikah di tempat orang, sayang. Duh istriku lama-lama bikin aku pengin makannya."
Sementara itu Yoga dan Arin memisahkan diri dari Hessel dan Nana, kemudian mereka bertemu lagi saat pesta dansa akan di mulai.
"Kalian dari mana saja?" tanya Hessel.
"Biasa lah jalan-jalan sebentar." sahut Yoga.
"Sini Rin, kita ambil minum yuk." ajak Nana.
"Ayo Na."
"Rin, minuman buat kita juga ya."
"Minum yang mana?"
"Tuan kita minum apa ya?" tanya Yoga.
"Ya minum air lah Ga, gimana sih kamu?"
"Aduh, Tuan bisa aja. Maksud saya itu mau minuman jenis apa, bergas atau juss?"
"Kelamaan nunggu kalian mikir, udah minta diambilin banyak mikir lagi. Terserah kami aja deh." Nana sontak menarik Arin menjauhkannya dari Yoga dan mereka mengambil minuman.
"Istri Tuan kok judes banget, biasanya lemah gemulai."
"Biasa penyakit bawaan, sebulan sekali." jawab Hessel santai.
"Kenapa enggak dibawa ke dokter sih Tuan, kan kasihan istri lagi sakit gitu."
"Sejak kapan sih kamu jadi polos Ga, saya tanya emangnya Arin enggak punya penyakit bawaan?"
"Penyakit bawaan itu apa maksudnya ya Tuan?
"Kamu mau tahu, Ga?"
"Iya Tuan."
"Nanti saya tanya Tuan."
"Ga, Yoga!" panggil Hessel, Yoga berhenti dari langkahnya menoleh kebelakang.
"Ya Tuan."
"Jangan ditanya."
"Kenapa Tuan?"
"Malu-maluin lah Ga, nanti malah kamu bilang aku yang nyuruh."
Nyebelin juga ya si Yoga, kenapa jadi bodoh kayak gitu.
Yoga hanya manggut-manggut sambil nyengir melirik Hessel.
Kemudian Nana dan Arin pun datang membawa minuman. Terdengar suara MC mengarahkan tamu undangan untuk merapat dan mengambil posisi bersama pasangan masing-masing karna sebentar lagi pesta dansa akan dimulai.
Nana dan Arin sudah berencana dari awal inilah saatnya mereka melancarkan aksinya untuk mengerjai pasangan mereka. Dia pun saling nyengir seolah mengisyaratkan untuk segera pergi.
"Kayaknya mau kebelakang dulu deh, kebelet soalnya." kata Arin sambil pura-pura menahan kencing.
"Nur, temenin kebelakang yuk udah diujung ni." Arin dengan sigap menangkap tangan Nuri, mereka serentak melangkah pergi.
"Kalian jangan lama-lama ya, sebentar lagi dansa." kata Hessel.
Nana dan Arin tak memperdulikan itu, mereka berdua sama sekali tidak ke toilet melainkan berpindah kepojokkan yang sedikit gelap sambil mengawasi Hessel dan Yoga yang sedang celingak-celinguk menunggu.
Pesta dansa dimulai, semua sudah dengan pasangannya masing-masing, sedangkan Hessel dan Yoga hanya berdiri di tengah-tengah tanpa pasangan.
"Pak, di mana pasangan Anda?" MC menegur mereka sekaligus menghampirinya.
"Diberlakukan hukuman untuk tamu yang tidak membawa pasangan." tegas MC.
"Anda siapa berani menghukum kami, apa Anda tahu siapa kami?" Yoga membusungkan dada menakut-nakuti MC.
"Ta...Tapi Tuan, tertulis dalam catatan acara, saya hanya menjalankan tugas Tuan." nyali sang MC mendadak menciut begitu saja.
"Gimana nih Tuan, masa kita harus menari."
"Ikuti saja Ga, enggak apa-apa kok kan kita narinya berdua."
"Tuan gimana sih, masa laki-laki kayak kita dansa laki sama laki kan enggak banget."
"Pak MC, kita boleh milih musiknya kan?" tanya Hessel.
"Tentu saja Tuan silakan."
"Ya sudah Ga, cepat putar musik buat senam." bisik Hessel.
"Apa? Senam malam-malam gini."
"Udah sana buruan."
Tanpa berpikir panjang Hessel dan Yoga naik ke atas pelaminan yang di belakangnya ada sepasang pengantin sedang bersanding. Mereka saling berpandangan dan memantapkan hati.
Seharusnya malam ini aku yang jadi bintang, ini malah pria angkuh ini. Batin si pengantin wanita yang agak kecewa karna perhatian hadirin teralihkan pada Hessel dan Yoga bukan pada dirinya.
Nana dan Arin sontak kaget melihat kelakuan mereka yang seolah tak punya etika malah menghalangi pengantin dan itu menjadi perhatian tamu undangan.
"Kayaknya kita dikerjain deh sama dua wanita tadi." Yoga kesal.
"Siap-siap aja pimpin senam zumbanya." sahut Hessel santai.
"Memangnya Tuan tahu gitu?"
"Ya enggak lah."
"Lalu gimana dong?"
"Diam aja deh Ga, pikirin gerakkannya."
"Mari kita sambut penampilan dari Tuan Hessel dan Pak Yoga yang akan mempersembahkan sebuah tarian, ayo semuanya kita ikuti tarian dansa mereka." semua bersorak memberi tepukkan jarang-jarang ada orang terkenal seperti mereka mau berdansa di atas pelaminan.
"Kita berhasil Rin, sekarang tunggu saja bagaimana mereka melakukan gerakkannya."
"Benar Na, 2 pria angkuh itu harus sesekali kita kerjain biar mereka tahu betapa menyenangkan jika kita hidup saling menghargai orang lain."
Semua orang masih bersama pasangan masing-masing bersiap sedia menunggu tarian dansanya di mulai. Yoga memberi kode pada si pemutar musik agar segera memutar musik yang tadi dipilihnya.
1 2 3 musik pun di putar
Musik dansa yang tenang penuh cinta kasih yang seharusnya diputar malah berubah jadi irama musik zumba yang lincah dan menguras tenaga.
Kedua pria itu dengan percaya dirinya memimpin senam zumba dengan gerakkan yang sama sekali tidak beraturan tetapi tetap saja tamu undangan mengikutinya.
Tubuh mereka sangat lentur, pinggul Hessel dan Yoga kompak bergerak ke kiri dan ke kanan, pantatnya bergoyang seperti itik serati sedang berjalan dan sesekali kakinya melayang ke atas sedikit mengundang tawa para tamu.
"Na, kayaknya kita salah prediksi deh."
"Padahal kita mau ngerjain mereka tapi mereka malah kompak sama para tamu."
"Lihatlah betapa gemulainya Pak Hessel." sindir Arin sambil cekikikan.
"Kamu tidak lihat Yoga lebih lentur dari pada suamiku, lihatlah pantatnya mengarah ke kamu." balas Nana sambil cekikikan juga.
"Nana tega banget sih."
Mereka berdua sama sekali tidak pernah membayangkan adegan ini, entah dari mana pasangan mereka mendapat gerakkan erotis seperti itu. Nana sampai tak mengenali suaminya saat sedang zumba.
Musik berhenti setelah 5 menit lamanya, cukup melelahkan dan benar-benar membuat keringat bercucuran. Keduanya serentak membungkukkan badan seraya berterima kasih kemudian berdiri tegap layaknya pria angkuh. Hessel dan Yoga langsung merapikan jassnya yang tak beraturan lagi berbarengan dengan tepuk tangan yang gemuruh menyambut mereka membuat riuh ruangan tersebut. Walau para hadirin dan pemilik acara masih tak menduga seorang pengusaha nomor 1 bisa melakukan semua itu.
Mereka berdua tersenyum dengan bangga seolah mereka sangatlah hebat dan sudah setara dengan yang lainnya. Sementara Nana dan Arin mematung sambil saling berpandangan dan nyengir enggak jelas, masih terbayang zumba yang dilakukan oleh suaminya.