
Sarah sudah menunggu Hessel dan Nana pulang lebih dari 3 jam lamanya. Sarah dan Betran sengaja pulang dari Itali tidak memberitahu anak-anak mereka mau bikin kejutan gitu, dan juga karna mereka pulang cuma sebentar hanya 2 hari. Namun sedari tadi menunggu Hessel dan Nana belum juga pulang ke rumah sedangkan waktu sudah hampir menjelang waktu magrib. Sarah menelpon Nana tapi telpon Nana malah gak aktif membuat Sarah mengkhawatirkan mereka.
"Pa, anak-anak kemana sih jam segini mereka belum pulang juga dari kampus, mana ponsel Nana gak aktif." ucap Sarah pada suaminya.
"Coba Ibu telpon Hessel siapa tau dia bisa dihubungi, siapa tau mereka sedang dalam perjalanan pulangkan." saran Betran berusaha membuat istrinya tidak cemas, Sarah pun langsung mencari nomor telpon putranya lalu segera menyambungkan panggilan ke putranya.
dring... dring... dring... terdengar suara dering ponsel milik Hessel ketika Hessel sedang mengemudi.
"Mama" dilihatnya layar ponselnya tertulis MY MOTHER.
Hessel langsung menyambungkan telponnya dengan headset bluethooth.
"Assalamualaikum Hes, ini mama" ucap Sarah saat Hessel sudah menjawab telpon terdengar oleh Hessel suara ibunya panik.
"Waalaikum salam ma, iya ada apa ma, apa mama baik-baik saja?" tanya Hessel dia tidak tau jika mamanya sudah berada di rumah.
"Kamu dimana sekarang Hes?" tanya mama.
"Hessel dalam perjalanan mau pulang ma, tumben mama nanyain?" tanya Hessel balik.
"Istrimu mana, mama kangen nih." ucap mama.
"Nana gak ada sama Hessel ma, ada apa ma?"
"Nana gak bareng kamu kok kamu terdengar biasa-biasa aja sih, kamu tau gak Nana belum pulang sedari tadi, mama sangat mencemaskannya sekarang dimana dia?"
"Bentar, bentar, mama sekarang ada dimana?"
"Mama dan papa sudah pulang, kami kecewa ternyata kalian seperti ini masih saja tidak akur selama kami tinggal."
"Alhamdulillah syukurlah mama dan papa udah pulang, Hessel merasa lega"
"Kau jangan senang dulu kami pulang ada tujuannya."
"Ya ampun ma tujuan apa lagi sih"
"Istrimu dimana, kenapa kamu gak jawab pertanyaan mama, cepat cari dia"
"Tenang dulu ma, Nana ada dirumah orang tuanya" jelas Hessel.
"Apa orang tuanya, jangan-jangan kalian bertengkar dan Nana minggat dari rumah, ya Allah Hessel kenapa kau perlakukan Nana seperti itu"
"Pa, Hessel bilang Nana pulang ke rumah orang tuanya" Hessel mendengar suara mama mengadu ke papa.
"Mama dengar Hessel dulu, bukan begitu kejadiannya, tadi Nana izin keluar mau pergi sama temannya, dan dia bilang dia mau mampir kerumah orang tuanya sebentar."
"Ya sudah sekarang kau jemput Nana pulang, mama kangen banget sama dia."
"Tidak usahlah ma, Nana biasanya juga pulang sendiri naik angkot."
"Heh sejak kapan kau berani membantah mama, dia istrimu jika terjadi sesuatu padanya gimana, ya sudah begini saja kalau kau tidak mau biar mama aja yang ke sana."
"Jangan, jangan ma, baiklah Hessel akan ke sana, mama tunggu aja di rumah, cuaca juga mendung mama jangan keluar rumah."
"Nah gitu donk, itu baru namanya anak mama."
"Kau menyusahkanku saja, percuma aku membeli mobil baru untuknya tapi gak berguna bagi dia." gerutu Hessel langsung tancap gas menuju rumah mertuanya.
Tak lama kemudian Hessel pun sampai di rumah mertuanya. Hessel langsung saja mengetuk pintu dan memberi salam dan langsung di jawab salamnya.
"Nana bukain pintu dulu bu" ujar Nana sembari beranjak dari dapur.
"Siapa ya?" ucap Nana sambil menuju arah pintu.
"Lho mas Hessel, kebiasaan datang gak bilang-bilang." ucap Nana setelah pintunya terbuka.
"Siapa Na?" tanya ibu berteriak karna sedang berada di dapur.
"Menantu ibu datang" jawab Nana.
"Ayo mas masuk dulu"
"Ibu ada Na?" tanya Hessel.
"Ada mas, ayah juga ada di kamar."
"Kamu belum mau pulang Na"
"Nana pasti pulang nanti mas sehabis magrib eh tapi kok mas datang kemari ada apa?"
"Mau jemput kamu lah apa lagi." cetusnya dingin.
"Ahhh tumben?" tanya Nana senang.
"Kan mama yang nyuruh, makanya aku jemput kamu"
"Ahhh menyebalkan kamu mas, tapi kok bisa mama yang nyuruh"
"Mama udah pulang Na, dia menggerutuiku di telpon karna saking cemasnya melihat kamu gak ada di rumah."
"Ya ampun mama, aku jadi merasa bersalah sudah membuat mama cemas, terus mas bilang apa?"
"Aku bilang aja kamu mampir kemari, terus dia lansung menyuruhku untuk menjemputmu."
"Hm iya deh mas, ayo masuk mas udah azan tuh kita shalat dulu"
Hessel pun masuk ke dalam, dihampirinya ayah Nana sebentar. Setelah memastikan ayah mertuanya dalam keadaan yang semakin membaik Hessel keluar dan menghampiri Nana lagi.
Setelah makan Hessel dan Nana melaksanakan shalat magrib bersama di dalam kamar Nana.
Sehabis shalat mereka berpamitan untuk pulang tapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya membuat mereka ragu untuk pulang menerjang guyuran hujan yang lebat.
"Hujannya deras banget mas, gimana kita mau pulang?" ucap Nana, mereka berdua berada di teras depan rumah.
Sementara Hessel segera memberi kabar pada keluarganya.
"Nana, jangan berdiri di situ nanti pakaianmu basah, kemarilah" ucap Hessel.
"Mas, udah lama Nana gak main hujan kayak gini." ucapnya sambil tersenyum senang memandang hujan.
"Iya tapi awas nanti basah ini sudah malam." Hessel pun tak bisa menghalanginya.
"Sini mas, ini sangat menyenangkan aku suka" ucap Nana yang sudah membahasahi tangannya dengan air hujan.
Hessel tersenyum, dia heran bagaimana istrinya itu bisa sangat senang hanya dengan bermain air hujan di teras rumah.
"Aku mulai menyadari bahwa aku telah jatuh cinta" gumam Hessel sambil menatap Nana.
"Hati-hati Na, nanti kau basah dan rumah juga ikutan basah" Hessel masih tak habis pikir istrinya sangat senang memainkan air hujan.
"Masss" panggil Nana.
"Ya ada apa?" Hessel menoleh lagi kearahnya.
"Kena kau mas" Nana terus bermain air dan dengan sengaja membasahi tubuh Hessel dengan percikkan air.
"Berani kamu ya"
"Lagi, lagi, aaa kena kau mas" lagi-lagi Nana membasahinya.
Hessel pun tak bisa menahannya, dia langsung mendekati Nana.
"Nakal kamu ya, rasain ini" Hessel pun membalas Nana.
"Ahhh mas, aku kan jadi basah udah ahhh" rengek Nana.
"Kau yang memulainya" ucap Hessel tertawa tanpa peduli Nana merengek dia terus memercikkan air ke arah istrinya.
"Rasain ini" tiba-tiba Nana membalasnya lagi di saat Hessel mulai berhenti.
"Aaa stop Na, stop, kau curang" kata Hessel.
"Hahaha, mas Hessel kalah, mas Hessel kalah." ucap Nana sambil tertawa puas karna suaminya menjadi lebih basah dari dirinya.
"Awas aja nanti, aku akan membalasnya saat kita dirumah" ancam Hessel.
"Uuhh aku gak peduli, rasain ini." ucap Nana tanpa rasa takut malah semakin semangat membasahi Hessel.
"Hentikan Na, udah jangan main air lagi, aku mengaku kalah." ucap Hessel langsung di tangkapnya tubuh Nana sehingga Nana pun berhenti.
Tapi Nana tidak bisa berhenti menertawakan suaminya yang basah kuyup, meskipun begitu Hessel tidak marah malahan dia senang karna Nana tertawa sangat lepas di depannya padahal mereka hanya melakukan hal sederhana dengan mudahnya Nana bisa bahagia.
"Nak Hessel, kalian ngapain diluar, cepat masuk nak, nanti masuk angin" teriak ibu dari dalam.
"Iya bu, putri ibu nakal sama Hessel." sahut Hessel.
"Cubit saja pipinya" jawab ibu.
dicubitnya sungguhan pipi istrinya membuat senyum Nana menyeringai saling memandang dengan Hessel yang sedari tadi tidak mau melepaskan Nana dari pelukkannya.
"Kita masuk ya" ucap Hessel.
"Emh" Nana mengangguk.
Mereka pun masuk lalu menghampiri ibu dan ayah yang ada di ruang tamu sedang berbincang-bincang. Mereka kaget melihat Hessel dan Nana basah kuyup.
"Kalian ini kenapa bisa basah-basahan seperti ini" tanya ibu heran.
"Dia bu, dia yang membasahi Nana." ucap Nana.
"Gak bu gak seperti itu, justru Nana yang nakal, dia curang bu." sahut Hessel tidak mau kalah.
"Kalian ini ada-ada aja, Nana cepat kau ambil baju ganti buat suamimu, nak Hessel maukan pakai baju ayah?" ucap ibu memerintah sembari bertanya, kebetulan besar dan tinggi ukuran tubuh Hessel tidak jauh beda dengan ayah Nana.
"Hessel mau kok, bu." jawabnya.
"Nana kau ganti bajumu juga, pakai baju Nuri" ucap ibu.
"Iya bu, Nana ambil pakaian gantinya dulu, mas kamu ke kamarku ya aku mau ambil baju dulu." ucap Nana, dia pun pergi ke kamar ibunya untuk mengambil baju ganti sementara Hessel masuk ke kamar.
Selesai berganti pakaian Hessel dan Nana keluar dan kembali berkumpul bersama ayah dan ibu.
"Ayah sedang apa?" tanya Hessel sembari duduk bersila di lantai bersama ayah.
"Membuat bingkai foto, hanya ini yang bisa ayah lakukan nak, ayah gak bisa lagi narik angkot jadi untuk menghilangkan rasa jenuh ayah membuat ini, bisa di jual juga kan lumayan." ucap ayah.
"Ayah, kalau ayah perlu apa-apa jangan segan-segan beritahu saya, sekarang saya menantu ayah saya merasa bertanggungjawab untuk ayah beserta keluarga" kata Hessel.
"Nak, kau dan keluargamu sudah sangat membantu keluarga kami, tapi kami tetap harus bekerja, kami tidak mau terus-terusan bergantung hidup pada orang lain, nak Hessel tenang aja ayah gak akan kerja yabg berat-berat." jawab ayah, seketika mata Hessel berkaca-kaca dia kagum kepada sosok ayah mertuanya itu.
"Boleh Hessel bantu Yah" ucap Hessel meminta izin.
"Nak Hessel mau bantu ayah?"
"Coba-coba aja Yah, sambil belajar." dengan senang hati ayah mengajarkannya.
Hessel pun sibuk membantu ayah membuat bingkai foto, sementara Nana dan ibu hanya memperhatikan mereka.
"Kalian menginap saja di sini" ucap ibu bicara pada Nana.
"Nana sih terserah menantu ibu, gimana mas mau gak kita nginap semalam di sini" ucap Nana sembari menanyai suaminya.
"Tentu saja kita akan menginap malam ini Na, maaf ya bu lamanya pernikahan, Hessel belum pernah sama sekali menginap di sini, saya jadi merasa bersalah." ucap Hessel sedikit menyesal.
Kebetulan hujan juga belum reda malah bertambah lebat disertai petir dan sedikit badai kecil, tidak memungkin mereka untuk pulang sehingga mereke memutuskan menginap di rumah orang tua Nana.