MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
DIBALIK KECURIGAAN



"Hufff, untunglah gak ada yang liat" gumam Nana menghela nafas lega, sambil buru-buru menuju kelasnya.


Andrean datang langsung merangkul Nana membuat Nana sedikit kaget hingga langkahnya terhenti.


"Ke kantin yuk" ajak Andrean.


"Kau saja Dre, aku ke kelas aja" jawab Nana.


"Kamu udah sarapan?" tanya Andrean yang selalu penuh perhatian.


"Udah, kau pergilah Dre." sambil menurunkan tangan Andrean dari bahunya.


"Aku maunya sama kamu" bujuk Andrean.


"Aku udah sarapan Dre".


"Temani aku makan, mau gak?"


"Hufff, malu Dre diliatin banyak orang" ucap Nana menolak secara halus agar Andrean tidak kecewa.


"Iya deh aku mengerti, aku suka sikap pemalu ini." Andrean tersenyum dan tidak memaksa.


Saat Andrean hendak pergi sementara Nana hendak berjalan menuju kelasnya, tapi tiba-tiba kepala Nana serasa berputar, matanya berkunang-kunang, dia merasa ingin ambruk saat itu juga, beruntung Andrean yang melihatnya dengan sigap menyambut tubuh Nana.


"Nana, Nana, kau kenapa?" tanya Andrean merasa cemas sambil menampar-nampar pelan wajah Nana untuk menyadarkannya. Arin yang baru sampai ke kampus juga melihat Nana bersama Andrean dan dia langsung menghampirinya.


"Tidak tau Dre, bantu aku masuk ke kelas" lirih Nana setengah sadar dan begitu lemah.


"Dre, Nana kenapa, kau sakit Na?" tanya Arin seketika saat menyadari suhu tubuh Nana sedikit lebih dingin, dan gemetar.


"Dre, kita bawa dia ke ruang kesehatan aja, ayo Dre." pinta Arin mengajak Andrean.


"Aku mau ke kelas aja, bawa aku ke sana." ucap Nana menghentikan Andrean dan Arin.


Andrean pun menurutinya lalu menggendong Nana menuju kelasnya, dan Arin mengikutinya dari belakang. Di dudukkannya Nana di atas bangku, lalu Andrean pun ikut duduk di samping Nana sambil menghangatkan tangan dingin Nana.


"Gimana Na, sudah mendingan?" tanya Andrean.


"Sakit Rin" lirih Nana sambil memegang perutnya yang tiba-tiba terasa sakit.


"Perutmu sakit Na? apa kau masuk angin ya." tanya Arin sembari menekan-nekan perut Nana.


"Gak tau, sakit banget" rintih Nana.


"Kita ke ruang kesehatan aja kau harus istirahat Na, aku tidak bisa melihatmu seperti ini." kata Arin sembari mengajak Nana.


"Tidak Rin, nanti aku malah ketinggalan banyak mata pelajaran." kata Nana sambil berusaha terlihat baik-baik saja.


"Aku beliin bubur dulu, Rin kau jaga Nana sebentar" ucap Andrean sembari berdiri lalu pergi membeli bubur.


Tak lama kemudian Andrean pun datang dengan membawa semangkuk bubur dan segelas susu panas yang dibelinya di kantin.


"Kamu makan ini dulu mungkin saat di rumah tadi kamu salah makan makanya seperti ini." kata Andrean.


Nana mengangguk, saat dia ingin memakan sesuap bubur dari tangan Andrean tiba-tiba saja perut Nana merasa mual, dadanya terasa sesak dan ingin muntah karna mencium bau amis racikan udang yang dicampur ke dalam bubur.


"Aku tidak tau kalau kamu tidak suka udang, aku akan menggantinya." kata Andrean heran, dia langsung minta maaf tapi Nana menggeleng pertanda bukan tidak suka udang tapi bau amis udangnya membuat dia mual.


"Kau minum susu aja" kata Andrean menyodorkan susu. Nana pun mencoba meminum susunya tapi saat mencium aroma susu lagi-lagi perutnya mual.


"Rin, aku mau muntah temenin ke toilet yuk" kata Nana sembari beranjak dari tempat duduk dan menarik Arin untuk ikut ke toilet.


Sambil menahan muntahnya Nana dan Arin pun berlari menuju toilet, sementara teman sekelasnya menatap Nana dengan curiga, termasuk Jessi, mereka menerka-nerka dengan pikiran masing-masing.


"Palingan Nana hamil, kan dia sudah tidur dengan banyak laki-laki" cetus Jessi menyindir Andrean yang masih terduduk di bangku Nana, Andrean tidak menanggapinya sambil berjalan keluar kelas dan menunggu Nana.


"Apa iya Nana hamil, tapi hamil anak siapa, Andre kau tidak boleh terpengaruh, Nana itu gadis baik-baik gak mungkin melakukan hal seperti itu" diam-diam Andrean juga memikirkan kata-kata Jessi, tapi dia tidak bermaksud mencurigai Nana sebelum tau kebenarannya.


Di toilet tak sedikit mata yang melihat Nana, mereka berasumsi masing-masing saat melihat Nana muntah-muntah. Nana tidak memperdulikan mereka, setelah dirasanya mualnya mulai reda Nana dan Arin berjalan kembali menuju kelas mereka, sebentar lagi juga mau masuk jam pelajaran pertama yang akan di isi pak Hessel, tapi hari ini Nana rasa suaminya tidak masuk karna ada tugas di kantor jadi dia pun mengajak Arin berjalan pelan-pelan saja.


Saat menuju kelas Nana dan Arin dihadang oleh beberapa mahasiswi yang menyimpan rasa curiga terhadap Nana saat melihat Nana muntah-muntah.


"Kau sakit?"


"Berarti benar donk gosip yang beredar, kalau dia jadi wanita bayaran, memalukan"


"Jika dosen dan rektor tau, kau bisa di DO kalau hamil diluar nikah"


"Sudah tidak heran lagi, kalau wanita bayaran hamil diluar nikah"


"Serendah itukah aku dimata kalian?" sahut Nana mencoba melawan.


"Heh kalian semua jangan sembarangan berucap, kalian itu juga perempuan berhentilah mengusik orang lain, sebaiknya intropeksi diri masing-masing." ujar Arin.


"Sudah Rin jangan diladenin orang-orang seperti mereka." ucap Nana.


Hujatan mereka satu persatu, membuat Nana merasa sangat sesak berada ditengah-tengah kerumunan mereka. Arin yang mengerti dengan kondisi Nana karna kurang sehat langsung menepis satu-persatu orang yang menghalangi jalan.


"Minggir, minggir kalian semua." kata Arin meninggikan suaranya mencoba membuka jalan agar temannya itu bisa keluar.


Sementara Nana mengikut dibelakang Arin, meski mereka berhasil keluar dari keramaian tapi tiba-tiba


bruukkk...


tubuh Nana ambruk, tidak sadarkan diri. Arin yang berada didepan sontak menoleh kebelakang saat mendengar suara orang jatuh. Betapa terkejut Arin melihat temannya terkulai kaku dilantai.


Andrean ingin menyusul Nana di toilet langsung berlari menghampiri kerumunan yang ditengahnya ada Nana. Andrean menyusup masuk ke dalam kerumunan. Andrean langsung menghuyung tubuh Nana ke dalam dekapannya.


"Ada apa ini?" terdengar suara Laras ikut masuk ke dalam kerumunan.


"Nana bu, dia pingsan." jawab Andrean.


Di sisi lain


"Selamat Hen, nanti kapan-kapan aku main ke rumah kamu" ucap Hessel.


"Makasih sob, aku tunggu kedatanganmu, kau harus datang melihat putriku" kata Henry.


Hessel masih berada di parkiran bersama dengan Henry mereka berbincang-bincang membahas tentang anak pertama Henry yang baru lahir tadi malam. Ditengah asiknya berbincang mereka melihat keanehan saat murid-murid berlarian di koridor kampus.


"Ada apa ya?" kata Hessel heran.


"Sepertinya terjadi sesuatu di kelas Nana" kata Henry karna murid-murid itu terlihat berlari kearah kelas Nana.


Mendengar itu Hessel langsung teringat dengan Nana, dia pun merasa cemas, langsung saja tidak menunda-nunda waktu Hessel juga menuju kelas Nana.


"Beri saya celah" ucap Hessel, sontak murid-murid pun membuka celah untuk Hessel masuk.


Langkahnya terhenti begitu saja, mata Hessel terbelalak kaget, membulat secara sempurna, ternyata dia melihat istrinya pingsan padahal tadi Nana terlihat baik-baik saja saat bersamanya.


"Ya sudah cepat bawa dia ke ruang kesehatan, tunggu apa lagi." kata Laras saat melihat Hessel, dia sengaja menyuruh Andrean untuk menggendong Nana, supaya Hessel marah dan membenci Nana.


"Jangan sentuh dia" pekik Hessel memperingatkan Andrean. Andrean tidak mengerti dia masih saja menghuyung Nana dalam dekapannya.


"Minggir" seketika Hessel mendorong Andrean, seolah Hessel membalas apa yang pernah Andrean lakukan padanya saat itu.


"Saya peringatkan pada kalian semua, jangan ada yang menyentuhnya." tegas Hessel dengan tatapan serius, apalagi pada Andrean dia tidak main-main.


"Cepat kalian masuk ke kelas masing-masing, biarkan saya yang mengurusnya." kata Hessel dengan tegas. Mereka menurut begitu saja masuk ke dalam kelas, hanya Andrean, Arin, Laras, dan Henry yang masih tertegun merasa aneh dengan sikap Hessel.


Tanpa pikir panjang Hessel pun langsung menggendong istrinya, membawa Nana ke ruangnya, bukannya ke ruang kesehatan, dia tak memikirkan apapun lagi selain rasa cemas dengan kondisi Nana.


"Benih-benih cinta mulai tumbuh." batin Henry sambil menatap Hessel yang semakin menjauh.


"Aku masih tidak percaya, Pak Hessel menguasai Nana" ucap Andrean.


"Sial, harusnya dia marah dan membiarkan gadis itu." gumam Laras merasa kesal karna malah Hessel yang membawa Nana bukannya Andrean.


.


.


.


Bersambung