
Yoga dan Arin tiba di depan rumah Arin, bersamaan dengan itu hujan juga mulai berhenti hanya tersisa rintik-rintik.
Arin menawarkan Yoga untuk mampir di rumahnya. Yoga dengan senang hati menerima tawaran Arin, dia pun ikut masuk ke dalam rumah.
Di dalam sana ada Pak Romi, ayahnya Arin yang masih menunggu kedatangan Arin. Pak Romi tidak bisa tidur sebelum memastikan putrinya pulang dengan selamat.
Yoga langsung menyalami tangan Pak Romi, ternyata Pak Romi menyambutnya dengan ramah langsung mempersilakan Yoga untuk duduk di kursi.
Yoga terkesima melihat rumah Arin meskipun rumahnya sangat sederhana tapi sama sekali tidak ada sampah yang berserakan benar-benar bersih dan rapi. Di tengah ruang tamu ada tempat sembahyang khusus umat kristiani. Ya, Arin memang bukan umat muslim melainkan umat kristen, Arin beserta keluarganya sangat taat beribadah sama seperti Yoga.
"Ayah, kenalkan ini Pak Yoga atasan Arin di tempat kerja Arin yang baru." ucap Arin memperkenalkan Yoga pada ayahnya.
"Terima kasih Tuan sudah mengantar anak saya pulang ke rumah." ucap ayah.
"Paman tolong jangan panggil saya Tuan, panggil saya Yoga, anggap saja saya sama seperti anak paman." ucap Yoga karna Yoga merasa tidak nyaman saat ada orang yang lebih tua memanggilnya dengan sebutan Tuan.
"Pak Yoga, Anda atasan saya biarkan saja ayah saya memanggil bapak dengan sebutan Tuan." Arin menimpal.
"Serius tidak apa-apa Rin, malahan saya yang tidak enak mendengarnya." jawab Yoga.
"Arin kamu bikinin minum dulu sana." perintah ayah langsung dilaksanakan oleh Arin.
Yoga mulai berbincang-bincang dengan Pak Romi, Yoga akhirnya tau kalau ayahnya Arin ternyata hanya bekerja sebagai tukang ojek. Tepat saat itu adik-adik Arin bangun merengek kelaparan. Arin membawa 2 gelas minuman ke depan, dia melihat kedua adiknya menangis menghampiri ayahnya yang dimana juga ada Yoga.
Arin merasa malu awalnya, karna dia tidak ingin ada orang luar yang tau masalah keluarganya. Arin tidak mau dikasihani apalagi adik-adiknya yang tidak peduli menangis di depan orang, tapi mau bagaimana lagi Yoga sudah terlanjur melihat situasinya, Arin terpaksa menebalkan mukanya.
"Maaf ya nak Yoga, anak-anak saya rewel mereka belum makan dari tadi siang." ucap pak Romi sambil memangku kedua putri kecilnya.
"Ayah, jangan bicara seperti itu." timpal Arin malu.
"Memangnya istri paman kemana, kenapa dia tidak masak untuk anak-anak?" tanya Yoga.
Pak Romi pun berbagi sedikit cerita tentang istrinya, ternyata Pak Romi dan ibunya Arin sudah berpisah beberapa bulan lalu karna ibunya ingin menikah dengan laki-laki kaya, yang tentunya dia tidak akan hidup susah seperti Pak Romi. Ibunya Arin meninggalkan tiga orang anak, yaitu Arin dan kedua adiknya yang masih kecil-kecil. Kedua adik Arin masing-masing masih duduk di kelas 2 dan kelas 4.
Sekarang Pak Romi dan Arin harus bekerja keras untuk membiayai hidup mereka. Yoga yang sedari kecil terbiasa hidup berkecukupan merasa tersentuh dengan kehidupan Arin yang membuat Yoga bertambah kagum dengan sosok Arin.
"Ayah, Arin minta maaf Arin kehujanan sehingga Arin telat pulang dan tidak sempat masak, Arin mau beli nasi bungkus tapi hujan sangat deras." ucap Arin merasa sangat bersalah karna tidak bisa mengurus keluarganya dengan baik.
"Nak, jangan sedih malam ini kita minum air putih saja." kata pak Romi.
"Air putih? apa itu bisa mengenyangkan?" Yoga sangat terkejut mendengarnya.
"Tidak mengenyangkan tapi setidaknya perut kami tidak kosong, kami sudah biasa seperti ini setiap kali tidak ada hasil ngojek." jawab pak Romi.
"Maaf Pak Yoga, Anda harus mendengar masalah kami." ujar Arin lalu menunduk malu.
"Apa iya Arin hidupnya sesusah ini, kasihan dia." batin Yoga merasa terharu.
"Bagaimana kalau kalian semua ikut bersama saya, kita makan-makan di restoran di dekat sini." kata Yoga tiba-tiba memberi usulan.
Kedua adik Arin melompat-lompat kegirangan saat ada orang yang mengajaknya ke restoran, mereka masih kecil dan tidak merasa malu bahkan dengan orang yang baru pernah mereka lihat. Kedua adik Arin langsung memeluk Yoga dan memaksa Yoga supaya cepat-cepat membawanya ke restoran dimana mereka bisa makan makanan yang enak-enak nantinya.
Yoga sedikit kualahan menyikapi kedua adik Arin, sementara Arin terus saja merasa dipermalukan oleh kedua adiknya.
Pak Romi merasa tidak nyaman lagi pula mereka baru saja kenal sehingga dia menolak tawaran Yoga. Tapi, Yoga memaksa mereka supaya mau menerima tawarannya, Yoga tidak tahan melihat adik-adik Arin menangis kelaparan.
Akhirnya karna memikirkan anak-anak, Pak Romi pun setuju ikut bersama Yoga. Pak Romi sangat berterima kasih atas kebaikkan yang telah Yoga berikan.
Arin hanya bisa berterima kasih pada Yoga, baru kali ini Arin bertemu dengan orang yang benar-benar peduli dengan keluarganya. Arin senang melihat adik-adiknya tersenyum puas saat menikmati makanan sampai kenyang di restoran. Arin tidak tau jika Yoga tidak ada entah kapan dia bisa mewujudkan mimpi adik-adiknya untuk membawa adik-adiknya makan di restoran.
Yoga melihat air mata Arin menggenang di kedua sudut matanya. Tiba-tiba Yoga dengan beraninya mengusap wajah Arin dan menghapus air matanya yang membuat Arin langsung menyadari kalau Yoga ternyata memperhatikannya.
"Saya tidak bisa berkata-kata lagi pak, berkat bapak adik-adik saya bisa pergi ke restoran dan tertawa puas malam ini." ucap Arin ikut tersenyum.
"Saya senang bisa membantu keluarga kalian, adik-adikmu mengingatkan saya dengan adik saya, sayangnya 5 tahun yang lalu adik saya meninggal karna tertabrak mobil saat papa dan mama mengajaknya bermain di taman." mendadak Yoga menjadi sedih karna teringat adiknya.
"Ya ampun pak, saya minta maaf saya tidak bermaksud membuat bapak sedih, saya tidak tau kejadian seperti itu." sesal Arin tiba-tiba Arin menggenggam tangan Yoga dan Yoga membalas genggaman tangannya.
"Sudahlah jangan dipikirkan, saya hanya merindukan dia, tapi setelah bertemu adik-adikmu rasa rindu saya bisa terobati." kata Yoga, Arin pun tersenyum senang sehingga dia merasa tidak perlu malu lagi karna memilik adik-adik yang rewel.
*****
Hessel sudah mencari Devan dan Nuri kemana-mana, di sekolah, tempat bimbel sampai ke rumah teman-teman Devan namun tidak ada Devan dan Nuri di sana. Terpaksa Hessel pulang ke rumah dengan tangan kosong.
Ke esokkan paginya, ibunya Nana menelepon yang langsung diangkat oleh Hessel. Ibu memberitahu kalau Devan dan Nuri sudah ditemukan dan sekarang Devan ada di rumah mereka mengantar Nuri pulang.
Hessel dan Nana ikut lega mendengarnya setelah tau adik-adik mereka baik-baik saja. Tapi, Hessel curiga pergi kemana Devan dan Nuri semalam sampai harus pulang sepagi ini.
Begitu Devan sampai di rumah, Hessel langsung menanyai adiknya itu yang pulang dalam keadaan berantakkan masih memakai seragam sekolah. Dimana letak dasi, letak sepatu dan kaos kaki semuanya berantakkan.
"Dari mana kamu semalam Dev?" tanya Hessel dengan nada marah yang membuat Devan malas menjawabnya malah berlalu ke kamar.
Hessel mengejarnya dan ikut masuk ke kamar Devan disusul oleh Nana.
"Mas, tanya baik-baik jangan membuat Devan takut." tutur Nana pelan sembari mengusap belakang Hessel supaya sedikit lebih tenang.
"Pergi kemana kamu dan Nuri semalam Dev?" tanya Hessel lagi.
"Kami kehujanan makanya kami menginap di rumah teman Nuri kak, bagaimana kami bisa pulang semalam hujan sangat lebat." sahut Devan.
"Rumah teman, temannya yang mana?" tanya Hessel penuh curiga saat Devan kesulitan menjawabnya.
"Te-teman yang itu dekat pangkalan, Devan juga tidak kenal hanya Nuri yang kenal." jawab Devan terbata-bata.
"Seharusnya kalian beritahu kami saat akan menginap di rumah orang, supaya kami di sini tidak cemas, kamu tau semalam aku keliling mencari kalian berdua." ujar Hessel tapi sepertinya Devan tidak mendengarkannya terlihat dari kelakuan Devan malah berganti baju disaat kakaknya sedang bicara.
"Ponsel Devan tidak ada sinyal." jawab Devan kemudian.
"Kamu dan Nuri sama-sama punya ponselkan, masa satu pun tidak ada yang berguna."
"Ponsel Nuri mati kak, enggak di charger."
"Kalian bisa men-chargernya di rumah temankan, lalu kenapa kalian tidak meminta bantuan teman kalian." ucap Hessel emosi entah kenapa Hessel merasa kali ini adiknya tidak jujur.
"Sudahlah kakak jangan cemas, aku baik-baik saja dan Nuri juga sama." ucap Devan lalu berlalu keluar kamar sambil membawa laptopnya.
"Heh kamu mau kemana Dev, kamu sekolah hari ini bentar lagi ujian kamu jangan banyak bolos Dev." teriak Hessel sangat keras memanggil Devan.
"Devan sedang tidak enak badan, kak." sahut Devan dari kejauhan berjalan menuju taman belakang rumah.
"Anak itu semakin keras kepala dan susah diatur, aku pikir dia seperti itu karna dulu tidak suka kita bersama-sama tapi sekarang saat semuanya membaik ternyata kelakuannya tetap sama." ucap Hessel tidak habis pikir dengan kelakuan adiknya.
"Sudah mas yang terpenting Devan dan Nuri pulang dengan selamat, mas jangan marah-marah lagi." ucap Nana.
"Aku kesal saja melihat sikap Devan, sepertinya dia tidak senang dinasehati." kata Hessel.
"Sudah mas, biar Nana yang bicara sama Devan sekalian bawain dia obat dan sarapan." kata Nana lembut, Hessel pun menuruti nasehat Nana.