
Di kampus
"Kok rasanya tasku enteng banget yaaa." gumam Nana sembari berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya.
Saat sampai di dalam kelas dan duduk di kursinya, tangan Nana menatap-natap tas gendongnya yang terasa enteng.
"Waduh... laptopku kok gak ada." telisik Nana saat membuka tas.
"Hahhh, mati aku... mana ada kelas mas Hessel dan harus presentasi." prustasi.
"Aku telpon mas Hessel aja deh, siapa tau dia mau bantu bawain laptopku." menemukan ide.
Akan tetapi saat Nana membuka kantong kecil dari tasnya, ponselnya juga tidak ada.
"Yahhh gak ada juga... Nana kau ceroboh sekali, aduhhh gimana aku mau presentasi." bingung dan termenung.
"Semua materinya ada di dalam laptop, ponsel juga gak bawa, masa iya aku harus pulang nanti malah telat." Nana gelisah.
"Hai Nana, tumben awal banget datangnya." terdengar suara Arin memasuki kelas.
"Eh kau Rin, kebiasaan deh datang mengagetkanku."
"Btw, kamu udah hafal belum materinya, materi apa yang kamu pilih Na?" tanya Arin teman sembari duduk.
"Itu masalahnya, mana aku belum hafal, laptopku juga ketinggalan." ucap Nana.
"Kalau gitu telpon saja ibumu, minta dia kemari Na."
"Nahhh itu juga masalahnya ponselku juga ketinggalan Rin."
"Wahhh gawat, habislah kau Nana, kenapa kau ceroboh sekali masalahnya hari ini presentasi pak Hessel."
"Aduhhh jangan nakut-nakutin donk Rin, aku juga gak sengaja ninggalinnya."
Nana melihat jam masih ada sekitar 45 menit lagi, dia rasa masih ada waktu untuk membuat materi yang baru sebelum jam pelajaran di mulai.
"Rin, pinjam laptopmu donk." ujar Nana.
"Untuk apa Na?"
"Aku mau buat materinya, aku salin punyamu ya nanti aku beda-bedain sedikit."
"Boleh sih, tapi apa waktunya cukup, gak sebentar lho Na."
"Atau gini aja, pakai ponselku buat telpon ibumu." saran Arin.
Nana hendak menerima saran Arin, tapi dia ingat dia kan tidak tinggal bersama orang tuanya lagi, melainkan bersama pak Hessel.
"Ahhh... tidak Rin." mendadak Nana menolak.
"Kenapa Na, dari pada nanti kamu di marahin sama pak Hessel."
"Duhhh... sini aku pinjam laptopmu aja."
"Kau kenapa sih Na, kenapa melupakan hal yang paling penting, terjadi sesuatu ya saat kau di rumah?"
"Aduhhh Rin, bisa diam gak sih aku lagi konsentrasi, kapan selesainya kalau kau terus mengajakku bicara.
"Iya, iya, cepatlah selesaikan sekalian di hafal, materi kita pasti beda jadi tidak mudah kau menghafalnya."
"Iya iya dari pada aku gak presentasi sama sekali dan di hukum."
*****
Hessel datang ke kampus, dia bertemu Henry yang menghadangnya di depan ruangan Hessel.
"Banyak banget bawa laptop pak Hes, Rektor mau bagi-bagi laptop gratis ya?" ucap Henry membuntuti Hessel masuk ke ruangannya.
Hessel diam saja seolah masih mengabaikannya.
"Kau masih marah Hes, selama itukah kau marah padaku?" ujar Henry.
"Ini laptop Nana, ketinggalan." jawab Hessel.
"Akhirnya kau bicara juga." Henry lega.
"Btw kok bisa ketinggalan, kau ketemuan sama Nana, kapan? dimana?" lanjutnya.
"Huff... ketinggalan saat les semalam." ups Hessel salah bicara.
"Wahhh... les apa kencan, kalian bertemu malam-malam, dimana Hes, apa kau yang menjemput Nana, atau Nana yang menemuimu?"
"Les lah aku kan mentornya dia, dia yang ke rumah jalan kaki." jawab Hessel ketus.
"Tega bener kau Hes, masa iya gak kamu antar atau jemput dia, jarak rumah Nana kan jauh dari rumahmu, kejam sekali."
"Sekarang Nana dimana?" tanya Hessel.
"Kau mencari Nana?"
"Jangan mikir macam-macam, aku mau mengembalikan laptopnya."
"Oo begitu. Tadi aku lihat Nana masuk ke kelasnya, hari ini ada presentasi di kelasmu kan Hes?"
"Iya benar."
"Hes, kau jangan galak-galak sama Nana saat presentasi nanti."
"Kenapa emangnya, dia memang bodoh siapa yang gak marah punya murid sepertinya, sehari gak bikin ulah bukan Nana namanya."
"Aku aja muak melihat sikapmu yang dingin, apa lagi Nana yang sudah lebih dari tiga tahun menyukaimu, lama-lama dia juga bosan di cuekin dan di marahin."
"Sial lho Hen, lebih baik tolong kau berikan laptopnya, bantu aku Hen."
"Kau sendirikan bisa Hes."
"Katanya teman tapi gak mau bantuin, mereka akan menyoraki kami jika aku yang memberikannya pada Nana."
"Bilang aja kau malu ketemu Nana, sini yang mana laptopnya."
Ketika Henry hendak keluar dari ruangan Hessel bel berdenting.
"Kau saja yang berikan Hes, kau kan masuk kelasnya."
"Ya udah deh." pasrah Hessel.
Lalu Hessel bergegas pergi menuju kelas Nana. Hessel memasuki kelas dimana ada Nana.
"Na, na, pak Hessel datang." ujar Arin.
"Rin, gimana denganku belum selesai lagi." ucap Nana panik.
"Pasrah aja deh Na, mau gimana lagi." turut prihatin.
"Good morning students, how are you to day?" sapa Hessel dengan tegas dan aura karismatiknya selalu terpancar. Hessel lebih sering menyapa dengan bahasa inggris padahal dia bukan dosen bahasa, melainkan dosen kompetensi keahlian.
"Morning pak, semuanya baik." jawab mereka serentak seraya memberi hormat.
Diliriknya istrinya yang tertunduk takut.
"Kasian sekali dia." batin Hessel tersenyum simpul.
"Are you ready for today's presentation, my students?"
Apakah kalian sudah siap untuk presentasi hari ini, murid-muridku?
"Ready pak."
"Ok semuanya kumpulkan flashdisk kalian kedepan, datanya sudah di salin semua kan?" ucap Hessel.
"Ingat semuanya, waktu presentasi hanya 10 menit satu orang tidak boleh kurang atau lebih, manfaat waktu itu sebaik mungkin." jelas Hessel mengingatkan murid-muridnya
"Na, sepertinya itu laptopmu." berbisik menunjuk laptop yang tergeletak di atas meja Hessel.
"Bukan Rin, masa iya laptopku ada di pak Hessel." Nana sudah memperhatikannya sedari tadi pak Hessel masuk dan laptop itu memang miliknya.
"Tapi mirip sekali dengan punyamu Na, ada list pink pink di pinggirannya."
Nana kesal kenapa Hessel tidak memberikan laptopnya, apa yang sedang Hessel rencanakan, rasa takut dan penasaran berkecamuk di dalam pikiran Nana.
"Hanya ada 34 masih kurang satu, siapa yang belum ngumpulin? cepat tunjuk tangan." tanya Hessel seolah dia tidak tau tapi matanya tetap melotot ke arah Nana, padahal jelas-jelas dia tau hanya Nana yang tidak membawa laptop dan flashdisk.
Semua murid hanya diam, termasuk Nana tidak mau mengaku.
"Ok jika tidak ada yang mau mengaku, saya akan panggil siapa yang akan membuka presentasi di awal, dan siap-siap dapat hukuman bagi siapa yang tidak membawa materi presentasinya." ucap Hessel semakin membuat Nana ketakutan.
"Musnahlah aku." batin Nana mengelus dadanya sendiri.
"Kalian sudah siap?"
"Sudah pak." jawab mereka serentak, Hessel menelisik buku absen.
"Nana Daryanani." panggil Hessel sontak Nana langsung berdiri begitu namanya di sebut.
"Saya pak." jawabnya kembali duduk dia pikir sedang absen.
"Kenapa duduk lagi, maju kamu ke depan."
"Tapi kan belum giliran saya pak, nomor absen saya diurutan 17."
"Maju ke depan, mulai presentasimu."
"Tapi pak, sa-sayaaa..."
"Aduh gimana ngomongnya." batin Nana.
"Tapi apa? jangan bilang kalau kau yang tidak mengumpulkan flashdisknya."
"Iya benar pak, Nana mohon maaf banget pak, Nana gak sengaja."
"Berdiri di depan." ucap Hessel tegas tanpa basa-basi.
"Pak, tolong kasihani saya." ucap Nana sambil memohon di depan Hessel, menjadi bahan tertawaan oleh murid-muridnya.
"Diam semuanya, atau kalian mau dihukum juga seperti Nana?"
semuanya pun diam dan takut membantah dosen dingin itu.
"Jewer kupingmu, dan berdiri dengan sebelah kaki sampai kelas saya berakhir" perintah Hessel dengan tegas.
Nana hanya pasrah dan menurutinya, Nana benar-benar merasa malu dia dihukum juga karna ulah Hessel sendiri yang membuatnya malu tadi malam, jadinya dia lupa kalau hari ini ada presentasi.
"Apa-apaan, tega sekali dia memperlakukan istrinya seperti siswa SMA, di hukum seperti ini." dengus Nana.
"Jessi, presentasikan hasil belajarmu." panggil Hessel.
10 menit berlalu
"Bagus Jessi, presentasi yang sangat baik kalian semua harus mencontoh Jessi." ucap Hessel memuji, matanya tetap melirik Nana yang sedang di hukum.
"Terima kasih pak Hessel, semua berkat bapak." jawab Jessi.
"Ishhh... dia pikir aku cemburu, gak banget." batin Nana.
"Hehhh kenapa sebelah kakimu turun, cepat angkat lagi." tegas Hessel memarahi Nana.
"Iya pak." pasrah Nana suara terdengar terpaksa.
Saat mata kuliah Hessel berakhir dan semua murid-muridnya sudah berhamburan keluar. Hukuman Nana juga berakhir, Nana terduduk di kursinya dengan wajah cemberut. Apes nasibnya di hukum dan gak dapat nilai, ujian semester akhir segera datang tapi nilainya tetap nol.
Hessel langsung menghampiri istrinya yang tampak murung.
"Nana, ini ponsel dan laptopmu." meletakkannya di atas meja Nana sementara Nana cuek aja.
"Ingat jangan pelupa lagi, apa lagi lupa bawa ponsel aku kan jadi tidak bisa menghubungimu." ucap Hessel terdengar serius.
Nana mengambil ponselnya tapi masih cuek pada Hessel.
"Untuk apa diberikan saat jam mata kuliah bapak berakhir, bapak belum puas setelah menghukum saya." jawab Nana marah.
"Aku minta maaf Na... jangan marah donk, harusnya kamu ngerti Na nanti apa kata mereka jika mereka melihatku memberikan laptopmu." ujar Hessel meminta pengertia
"Ternyata sakit juga menikah tapi hubungan di rahasiakan, banyak membawa pengaruh terutama untuk diriku sendiri, nilai ku sudah jelek sekarang gak dapat nilai lagi, tambah jelek." gerutu Nana, Hessel tersentak mendengar ucapan Nana yang seolah-olah sudah lelah dengan pernikahan mereka.
"Na, kamu marah? apa kamu sangat marah padaku?" tanya Hessel lembut mengusap pipi Nana dan terlihat menyesal.
Nana tidak bicara sepatah kata pun. Tanpa aba-aba Hessel mencium pipinya dan tersenyum.
"Maafkan aku Nana, aku keterlaluan ya." lirih Hessel berbisik.
"Pulang bareng nanti ya." ucap Hessel berusaha membujuk istrinya.
Nana dan Hessel tidak tau ternyata sedari tadi ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka.
Siapa lagi orangnya jika bukan Laras, Laras berpikir untuk menyingkirkan Nana dari kehidupan Hessel dan dari kampus tersebut.
"Bu Laras, kok disini?" tiba-tiba Jessi datang, dia langsung dicegah oleh Laras untuk masuk ke dalam.
"Kau lihat dia."
"Iya itu Nana, dan pak Hessel bu."
"Mereka sangat dekatkan."
"Iya karna pak Hessel mentornya, bahkan mereka sudah pernah jalan-jalan bareng."
"Kau suka kan sama pak Hessel?"
"Suka banget malah bu, tapi pak Hessel sudah pernah menolak saya."
"Kau lihatlah gadis yang bernama Nana, dia berusaha menggoda Hessel."
"Masa sih bu, gak mungkinlah dia seperti itu."
"Kau lihat saja."
Mulanya Jessi ingin masuk ke dalam kelas, namun langkahnya terhenti saat melihat Nana mencium pipi pak Hessel.
Sehingga Jessi mengira Nana sedang merayu pak dosen tampan itu. Sementara Laras memanfaatkan situasi ini.
"Sekarang kau percayakan dia bukan gadis baik-baik, mana ada seorang murid berani mencium dosennya jika dia bukan jal*ng."
"Ibu benar, ternyata dia seperti itu, aku tidak akan membiarkannya." Jessi kesal.
Hessel dan Nana
Hessel menatap lekat wajah istrinya, masih tak menyangka Nana berani menciumnya lebih dulu.
"Awas kalau mas bohong mau pulang bareng Nana." lirih Nana sedikit mengomeli suaminya.
"Aku gak janji soalnya rektor mau ngadain rapat akhir semester, belum pasti sih tapi jika aku harus menghadiri rapat maka kau akan di jemput supir nanti."
"Hmmm... iya deh mas."
"Aku kembali ke ruanganku Na, kamu tidak masalahkan sendiri di sini?" sambil mengacak-acak rambut Nana.
"Sudah cepat pergi sana mas." Nana tersenyum. Hessel malah berhenti dan tertegun.
"Kenapa belum pergi juga mas?" Nana menatapnya heran.
"Boleh cium satu kali lagi?" pinta Hessel manja.
"Emmm gak mau, malu nanti ada yang lihat mas."
"Ya udah biar aku yang melakukannya."
cuppp... Hessel pun cukup lama mendaratkan ciuman dikening dan bibir Nana.
"Daaahhh istriku, makasih..." lirih Hessel terdengar mesra jantung Nana berpacu seperti ada yang sedang memompanya.
Bibirnya tak mampu lagi bergeming, ciuman hangat dari suaminya di dalam kelas jauh diluar isi kepala gadis lugu itu.