MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
HANYA ILUSI



Di sebuah Sekolah Menengah Pertama yang tidak perlu disebut namanya.


Kelas 9 B


Prakkk...


seorang siswa menghempas buku dengan kasar di atas meja seorang siswi murid paling pintar di kelasnya namun lugu. Keluguannya selalu dimanfaatkan oleh salah satu teman laki-laki di kelasnya, dia hanya gadis lugu yang takut menerima kekerasan sehingga dia hanya bisa diam saat siswa yang sering mengganggunya itu datang.


"Heh berikan PR mu." ucap Devan kasar.


Tubuh Nuri bergetar setiap kali Devan dan dua temannya memalak untuk menyalin lembar jawaban pekerjaan rumah, dengan rasa terpaksa dan gugup Nuri akhirnya menyerahkan buku PRnya pada Devan.


Bukannya berterima kasih, Devan malah menendang meja Nuri sambil memelototkan matanya yang tajam. Devan dan dua temannya yang nakal dan cuma tau beres kembali ke tempat duduknya.


"Kalian tau, dia dan kakaknya itu tidak ada bedanya hanya orang lemah yang mau dibodoh-bodohin, kakaknya itu di rumahku cuma numpang hidup doang padahal kakakku sama sekali tidak menyukai kakaknya tapi masih saja kakaknya ngejar-ngejar kakakku, tidak tau malu bukan?" seru Devan, membuat semuanya menertawakan Nuri.


Prakkk...


Nuri bangkit dengan wajah sangar lalu menggentar mejanya mengagetkan teman sekelasnya. Diliriknya Devan dengan tatapan sinis juga dibalas oleh Devan.


"Kau pikir karna kau anak orang kaya kau bisa menghina kakakku, kau boleh saja memaki atau menghinaku selama ini aku diam saja tapi jangan bawa-bawa nama kakakku, kau itu lebih memalukan bukankah kakakmu itu sangat pintar dan berwibawa tapi kau apa yang kau bisa, tidak ada selain memalak orang-orang lemah yang ada di sekitarmu." sahut Nuri mulai tersulut emosi.


Devan terhenyak dan diam gadis yang selalu dijahilinya ternyata punya keberanian untuk menentangnya, Nuri mengepal tangannya dengan geram sambil berjalan menuju tempat duduk Devan di pojokkan.


Nuri mendorong satu persatu teman Devan yang menghalangi jalannya untuk menghadapi Devan, kini tinggal Devan sendiri yang berhadapan dengan Nuri saling bertatap mata penuh emosi.


Ditariknya kerah seragam Devan, diangkatnya sedikit keatas dengan kekuatan otot lengannya hingga Devan tak mampu berkutik.


"Heh pria arogan, jika bukan karna hasil jerih payah belajarku kau tidak akan naik kelas, jika tidak ada aku di kelas ini siapa yang akan memberimu contekkan, kau ini memang tidak tau diuntung, tidak tau berterima kasih aku sudah berbaik hati padamu tapi kau perlakukan aku seperti ini, kau hina kakakku dia itu juga kakak iparmu, sebodoh-bodohnya kakakku tapi dia tidak pernah memanfaatkan orang lain agar dia bisa naik kelas, tidak pernah mencontek sepertimu memalukan." kata Nuri begitu tegas, dilepaskannya kerah seragam Devan hingga Devan tersentak duduk di kursinya setelah menerima perlakuan yang tidak pernah dia bayangkan.


Teman-teman sekelas ada yang membela Devan, tapi ada juga yang menyudutkan Devan karna sudah kalah dari Nuri. Devan merasa tidak terima ada orang yang mengalahkannya, langsung saja diterkamnya kedua kepangan rambut Nuri saat Nuri hendak berbalik ke tempat duduknya hingga kepangan itu terlepas yang membuat rambut Nuri berantakkan. Kesabaran Nuri benar-benar sudah dibuat habis oleh Devan, dia pun membalas diterkamnya lengan Devan tanpa sadar Nuri menarik lengan baju Devan hingga sobek.


Suasana semakin bertambah panas dan riuh saat beberapa teman sekelasnya bersorak mendukung mereka untuk bertengkar, terjadilah perkelahian antara Nuri dan Devan hingga menimbulkan keributan dan membuat beberapa guru meleraikan mereka barulah mereka berhenti adu mulut dan saling menjambak rambut.


Akibat dari keributan yang mereka perbuat, Devan dan Nuri harus menerima hukuman membersihkan toilet yang sudah cukup lama tidak digunakan. Mereka masih saja saling adu mulut karna masih menyimpan dendam masing-masing.


"Heh dengar, saat aku lulus nanti aku tidak mau satu sekolah ataupun satu kelas dengan orang sepertimu lagi, amit-amit aku gak sudi gara-gara kamu aku harus menerima hukuman seperti ini, kau tau di rumahku pelayan yang mengerjakan semua tugas ini tapi di sini aku sangat sial karnamu." gerutu Devan, saking geramnya karna Nuri tidak memperdulikan ocehannya, Devan melempar centong yang berisi air kearah Nuri hingga seragam Nuri basah kuyup.


Nuri berhenti dari pekerjaannya dan membalas perbuatan Devan, dilemparnya penyikat kerak wc sampai mengenai muka Devan. Devan menggeram namun tetap mencoba menahan emosinya dan mendengarkan omelan Nuri.


"Ciih, kau pikir aku mau gitu bertemu denganmu lagi, pria tidak tau berterima kasih beda banget sama kak Hessel, keluargamu semuanya baik tapi kau ini sangat kasar dan menyebalkan." sahut Nuri langsung membelakangi Devan setelah dia mengotori wajah Devan.


"Gadis pembawa sial kau memang kurangajar, wajah tampanku kau kotori dengan kerak di lantai, cuih." maki Devan sambil membersihkan mukanya dengan air.


"Emang enak, kau yang mulai duluan, blekkk." sahut Nuri sesekali dia menjulurkan lidahnya kearah Devan seolah-olah Nuri sedang mengolok-ngolok Devan.


"Syukurlah 2 minggu lagi ujian nasional, aku harus tenang sebentar lagi kita tidak akan bertemu." cetus Devan.


"Hah kita, kau aja sana yang pergi, aku lebih senang kau tidak ada, tidak akan ada lagi orang yang memalakku, aku paling benci dengan orang pemalas sepertimu." jawab Nuri yang tidak mau kalah.


"Aku sumpahin kau akan menderita lebih dari ini di sekolah barumu nanti, kau juga akan bertemu orang-orang yang lebih menyebalkan dariku." ucap Devan.


"Kau juga tidak akan naik kelas di sekolah barumu nanti, kau tidak akan bisa tanpa aku, kau akan sulit beradaptasi jika tidak menjahiliku lebih dulu, tapi aku aku sangat bahagia kau tidak ada." sahut Nuri membuat Devan semakin kesal.


"Awas saja kau jika datang ke rumahku, pintu rumahku selalu tertutup untuk orang-orang sepertimu." gerutu Devan.


"Heh jangan gr kau, aku ke rumahmu untuk bertemu kakakku bukan untuk melihat muka jelekmu itu, gak tau malu muka biasa aja gitu ngaku-ngaku tampan, ih bikin kupingku sakit." dengus Nuri.


Tiba-tiba Nuri berdiri, Devan pikir Nuri akan melakukan sesuatu lagi padanya tapi ternyata Nuri tersenyum begitu manis padanya sambil memberikan penyikat kerak.


"Mr. clean, hukumanku sudah selesai ya, aku tinggal dulu, bye bye." ucap Nuri pada Devan, setelah mengambil tas punggungnya Nuri berlari meninggalkan Devan yang masih berada di dalam toilet.


"Apa-apaan dia menyebutku mr. clean apa maksudnya, dia pikir aku ini cleaning servis, hah tak ku sangka aku seburuk itu dimatanya, aku seperti ini kan juga karnanya, bukannya menungguku menawarkan bantuan juga tidak, dia malah meninggalkanku, menyebalkan." gerutu Devan. Devan kebingungan dia merasa tidak mampu menyelesaikan hukumannya karna jijik untuk menyikat lantai toilet sekolahan.


*****


Nana duduk bersantai di pinggir kolam renang, sambil menjuntaikan kakinya ke dalam air dan menyeruput segelas teh yang dibawakan oleh pelayan. Senyumnya sumringah teringat perkataan pak Henry, meski belum pasti tapi Nana berharap dia akan benar-benar hamil.


"Dimana Nana?" ucap Hessel, setelah Henry pulang dia langsung ke kamarnya tapi dia tidak menemukan istrinya di sana.


Dicarinya Nana ke setiap penjuru ruangan sampai akhirnya dia menemukan istrinya.


Dipeluknya Nana dari belakang dengan begitu mesra, Nana pun mendongakkan kepalanya berbalik melihat suaminya yang tersenyum saat menyapanya.


"Nana, kenapa duduk di sini? lihatlah cuaca mendung sepertinya akan turun hujan, mari masuk kau harus istirahat." ucap Hessel.


"Nana mau di sini sebentar saja mas." pinta Nana memohon pengertian.


"Baiklah, aku akan menunggumu kita bersantai sejenak di sini." jawab Hessel.


"Oo itu dia suruh sama rektor buat ngambil data magang tahun lalu."


"Tadi dia mengundang kita makan malam, mau ikut gak?"


"Mas aja yang pergi, Nana gak mau."


"Lho kenapa begitu, kan Henry sudah tau kamu itu istriku."


Nana menatap dalam-dalam wajah suaminya, tiba-tiba dipeluknya suaminya. Nana mengelus permukaan perut rata Hessel perlahan naik mengelus dada Hessel yang bidang.


Hessel sedikit terperanjat menerima tingkah istrinya, elusan tangan Nana yang begitu lembut telah membangkitkan gairah dan mengalirkan sesuatu yang berbeda di dalam darahnya.


"Mas, aku ingin bertanya sesuatu?" lirih Nana masih mengelus dada suaminya.


"Katakanlah apa yang ingin kau tanyakan?"


"Apa aku pantas menjadi istrimu mas, apa aku pantas menjadi ibu dari anak-anakmu?" tanya Nana dengan suara sedih, secara dia tau Hessel tidak mencintainya lalu bagaimana jika dia hamil, dia takut suaminya tidak akan menerima anaknya.


"Kenapa tidak pantas Na? kau itu istriku, bukan orang lain, kau pantas menjadi istriku." jawab Hessel, sambil dipeluknya Nana.


"Bagaimana aku bisa menjadi istrimu mas, sedangkan kamu tidak bisa mencintaiku, kau hanya menerima pernikahan kita bukan menerimaku."


"Ada kalanya cinta tidak harus selalu diungkapkan lewat kata-kata, banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengungkapkan rasa cinta, apa kau mengerti Na."


"Nana tidak mengerti mas, yang Nana tau cinta itu harus diungkapkan dengan kata-kata, dan orang yang selalu mengungkapkan kata cinta pada Nana adalah Andrean, lalu suami Nana sendiri sekalipun tidak pernah mengatakannya."


"Apa kau sedih?" tanya Hessel sembari mengangkat dagu Nana keatas, dilihatnya mata istrinya mulai berkaca-kaca.


"Mas, Nana tidak tau seberapa kuat Nana bisa bertahan dengan orang yang tidak mencintai Nana, tinggal dibawah atap yang sama dengan suami yang tidak pernah menerima Nana itu sangat menyakitkan mas, Nana rasa Andrean lebih pantas dicintai, harusnya Nana tidak memilih kamu mas, harusnya Nana memilih dia, karna dia lebih mencintai Nana."


"Apa maksudmu, apa kau sungguh-sungguh akan meninggalkanku? kamu ingin meninggalkan orang yang sudah menghabiskan hari-harinya bersama denganmu hanya demi orang yang selalu mengatas namakan cinta." ujar Hessel, Nana tidak bisa merasakan betapa hancurnya perasaan Hessel saat dia terus menyebut nama Andrean dengan menyudutkan perasaan suaminya.


Nana melepaskan diri dari pelukkan suaminya, sedikit menjauh dari suaminya dan memilih duduk di kursi yang tidak berada jauh dari kolam renang. Hessel masih dengan segala egonya, baginya kata cinta itu tidak penting, tindakkan yang dilakukannya selama ini dia rasa sudah cukup untuk membuat Nana mengerti bahwa dia sudah bisa menerima Nana sebagai istrinya, namun yang namanya perempuan selalu menunggu kejelasan dan kepastian, tapi Hessel tidak mampu untuk mengatakan semua itu.


Hessel pun mendekati istrinya, lalu berjongkok sambil meraih ke dua tangan Nana dan dikecupnya.


"Jangan menangis Na, aku tidak suka kamu menangis." sambil mengusap binar butiran yang keluar dari kedua sudut mata Nana.


"Aku hanya ingin diakui mas, aku ingin pernikahan kita sempurna tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi, apakah aku salah menginginkan semua itu, selama ini mas tidak pernah memberiku alasan mengapa mas merahasiakan hubungan kita, aku pernah bertanya apakah mas malu punya istri sepertiku atau mas masih memikirkan masalalu atau mungkin ada alasan lain, tapi mas tidak memberi Nana alasan untuk itu, bagaimana Nana bisa yakin jika pernikahan ini suci."


Hessel terdiam sekaligus menjadi pendengar yang baik,


"Dengar Na." ucap Hessel, seketika Nana pun mengangkat kepala melihat suaminya.


"Dengar baik-baik, kamu milikku dan aku milikmu, kita punya hubungan yang kuat walau menikah atas dasar keterpaksaan tapi sejak hari itu kau telah menjadi milikku begitupun sebaliknya tidak ada seorangpun yang bisa memilikimu selain aku." jelas Hessel, Nana masih menatap suaminua dalam-dalam seperti sedang mengharapkan sebuah penjelasan.


"Sebelumnya aku juga tidak pernah menyangka akan menikahi anak muridku sendiri, anak murid yang paling aku benci karna kebodohannya, menyebalkan dan selalu membuat ulah, bahkan aku semakin membencimu saat kau menulis surat cinta itu, rasanya aku sangat malu karna orang-orang tau aku dicintai oleh anak muridku sendiri." ucap Hessel sedikit bercerita sambil dicubitnya pipi Nana dengan begitu gemas.


"Namun, seiring berjalannya waktu setelah kita melewati hari bersama-sama, aku mulai mengenalmu lebih dalam lagi, aku tau baik buruknya kamu, mungkin rasa benci itu kini sudah berubah menjadi rasa cinta."


Nana memejamkan matanya, sambil menahan nafasnya kemudian dia tersenyum.


"Nana, aku menyukaimu." kata Hessel dengan lantang.


Ser ser jantung Nana seakan melompat, Nana bagai terbang di awan saat mendengarkan suaminya menyukai dirinya hingga dia tak mampu berkata-kata,


Saat matanya terbuka ternyata semua hanya hayalannya, dilihatnya Hessel tidak ada di depannya melainkan Hessel duduk disampingnya. Diliriknya wajah suaminya sangat datar bahkan sama sekali tidak memandangnya, Nana kesal sendiri ternyata suaminya benar-benar menyebalkan sampai-sampai membuatnya berkhayal.


"Kau kenapa hah?" tanya Hessel saat menyadari tatapan Nana begitu mematikan. Hessel bangkit begitu pun Nana juga bangkit dari duduknya mereka saling berhadapan, Hessel sendiri bingun apa yang terjadi pada istrinya, kenapa tiba-tiba menatapnya seperti itu.


Nana berjalan mengelilingi Hessel, gerakkan jari-jemari Nana serasa mengklitik dileher Hessel dan kini dia tepat berada di hadapan suaminya. Nana mengaitkan kedua tangannya ke leher suaminya, ditariknya tengkuk kepala Hessel, lalu tubuh mereka menempel satu sama lain, membuat Hessel terperanjat dan terkesiap menerima serangan tak biasa dari istrinya, tapi dengan sigap Hessel membalasnya dengan melingkarkan tangannya ke pinggang Nana.


"Sebelum aku pergi meninggalkanmu, aku ingin kau menjadi milikku hari ini." ucap Nana berbisik ditelinga Hessel.


"Kau tidak akan pergi, kau akan tetap disini bersamaku, aku tidak akan membiarkan kamu pergi." balas Hessel.


Nana menyengirkan senyumnya, dia sudah cukup muak dengan suami tanpa cintanya itu.


"Hah benarkah begitu, Nana rasa mas tidak akan melakukannya, mas itu terlalu naif akan cinta."


"Kita lihat saja nanti aku pastikan kau tidak akan bisa meninggalkanku."


"Buktikanlah!" ucap Nana seraya merayu suaminya, disentuhnya bibir Hessel dengan jari telunjuknya.


Hessel tersenyum tingkah istrinya sudah membuatnya bertambah panas, namun senyum itu mendadak lenyap saat dia merasakan ciuman penuh gairah mendarat di bibirnya. Sesaat Hessel membelalakkan matanya karna saking tak percayanya Nana akan melakukan ini, dia pun tak ingin kehilangan momen sulit ini sehingga dengan cepat Hessel membalasnya dengan mata terpejam yang lebih menggairahkan. Hessel semakin mengeratkan pelukkannya ditubuh Nana dan semakin menghujamkan tubuh Nana ketubuhnya agar memudahkannya untuk bercumbu lebih dalam.


Nana melepaskan ciumannya dan menatap suaminya. Nana sudah tidak bisa menahannya, begitu pun Hessel yang sedari tadi sudah menahan sesuatu yang menonjol di balik celananya itu. Nana berharap dia bisa memenuhi hasrat suaminya saat itu juga, sebelum dia pergi meninggalkan Hessel. Berbanding terbalik dengan yang Hessel harapkan, justru Hessel ingin memuaskan Nana agar Nana memikirkan kembali keputusannya.