
Author Pov
"Nanti saat Daddy pulang, kita harus memberikannya kejutan. Okey? Apa kamu bisa melakukannya sayang?" ujar Ashina kepada anak lelaki berusia 2 tahun tersebut yang baru belajar untuk berbicara.
Mata bulat lelaki kecil dengan pipi menggemaskan tersebut menatap Ashina sedikit bingung. Namun kepalanya dianggukan seperti mengerti saja apa yang diucapkan oleh Ibunya.
"Anak pintar!" kata Ashina sambil mengelus pelan pipi Xavier.
Ya, dua tahun lebih Ashina dan Lucien membangun rumah tangga yang sangat dibilang harmonis. Walaupun kadang satu sama lain bergantian membuatnya kesal, namun mereka mudah meminta maaf dan memaafkan, sejauh ini tak ada masalah yang serius.
Keadaan Moon Stone Pack juga terbilang jauh lebih damai karena penjagaan sudah ketat dan tidak menerima orang dengan gerak-gerik mencurigakan.
Pagi tadi.....
"Ash, apa kau lihat dimana sepatuku?" teriak Lucien dari dalam kamar saat Ashina sedang berada dibawah ruang keluarga bermain dengan Xavier.
"Semua sepatumu sudah kutaruh dirak sepatu, kau tinggal cari saja." Balas teriak Ashina.
Beberapa saat tak ada jawaban dari Lucien. Hingga akhirnya suara lelaki tersebut kembali bergema. "Aku tidak menemukannya, bisakah kau kemari membantuku mencari?" keluhnya.
Ashina memutarkan bola matanya malas, kebisaan Lucien seperti ini sama sekali tak bisa dihilangkan. Mau tak mau gadis tersebut berdiri bangkit sambil menggendong tubuh mungil Xavier dan membawanya pergi menuju kamar, kondisi rumah sedang sepi karena keluarga banyak yang pergi keluar.
Gadis tersebut sampai didalam kamar dan menemukan Lucien dengan wajah bingungnya. Kakinya menuju rak sepatu yang dimaksud dan mencari sepatu Lucien, tak butuh waktu lama ternyata sepatu tersebut terselip dibeberapa sepatu lainnya.
"Ini apa?" kata Ashina sambil mengangkat sepatu tersebut kearah Lucien.
Lelaki tersebut mengeluarkan senyuman lebarnya kepada Ashina. "Kau memang mempunyai potensi menemukan barang, Ash." Canda Lucien.
"Ubah kebiasaanmu itu, jika mencari barang pakailah dengan tatapan mata bukan mulutmu," kata Ashina.
"Baiklah-baiklah aku akan teliti lain kali," ujar Lucien sembari memakai sepatu tersebut.
Setelah selesai memakai sepatu, lelaki tersebut berdiri bangkit dan menghampiri Ashina yang masih menggendong Xavier.
"Jangan kesal begitu, nanti cantikmu hilang. Iyakan Xavi?" katanya lagi.
Xavier yang diajak berbicara hanya diam saja karena sibuk dengan mainan ditangannya. "Lihat, anakmu sendiri saja tak menyetujuinya." Ejek Ashina.
"Dia belum mengerti, makanya dia hanya diam saja." Ucap Lucien.
"Benarkah? Xavier, apa kau kesal dengan Daddy-mu yang tidak teliti mencari barang?" tanya Ashina kepada Xavier.
Seketika anak lelaki tersebut menganggukkan kepalanya sambil menatap kearah Ashina. Melihat hal itu membuat tawa Ashina keluar begitu saja. "Lihat bukan? Dia mengerti apa yang aku bicarakan."
"Ah Xavi, kau tidak adil dengan Daddy! Aku pergi dulu." Kata Lucien dengan wajah cemberutnya. Walaupun begitu, dia tidak lupa mencium kening Ashina dan pipi Xavier.
"Hati-hati dijalan, kabari aku jika ingin pulang. Aku akan menyiapkan makan malam, Mommy, Daddy, Mars dan Venus dia mungkin kembali besok." Kata Ashina.
"Iya, baiklah." Balas Lucien sambil keluar dari kamar menuju luar dan pergi bersama Beta Grade menuju kantor.
Senyum Ashina semakin mengembang, matanya yang tadi menatap kepergian Lucien. Kini beralih menatap Xavier. "Kau melakukannya dengan sangat bagus, Baby Boy! Sekarang bantu Mommy lagi untuk memberi kejutan setelah Daddy pulang okey?" bicara Ashina kepada Xavier.
Karena bahasanya yang belum dimengerti, Xavier melakukan hal yang sama. Tidak menjawab apapun. Akhirnya Ashina dan Xavier kembali turun untuk melakukan pekerjaan rumah sekaligus menyiapkan surprise untuk Lucien.
Jam demi jam terlewati begitu saja, langit sudah berubah menjadi merah menuju gelap. Ashina dengan semua kesibukannya kini selesai menata pernak pernik, balon dan kue yang dia buat sendiri. Untungnya Xavier bukan tipikal bayi yang rewel ditinggal sendirian.
Bertepatan dengan pesan Lucien yang masuk diponsel Ashina. Gadis itu membuka pesan yang berisikan jika lelaki tersebut sedang berada dijalan menuju Moon Stone Pack.
Tak lupa Ashina juga menanyakan kira-kira berapa lama lagi. Saat mendengar jika jaraknya dekat, Ashina langsung menggendong Xavier dan membawa kue tersebut dengan kondiri rumah yang masih gelap.
Langit juga sudah mulai, menghasilkan ruangan sangat gelap namun sedikit terang karena remang-remang sinar bulan yang masuk kecelah jendela. Lucien masuk kedalam rumah dan menatap heran, kenapa rumah sangat sepi dan gelap seperti ini? Dimana Istri dan Anaknya?
"Ashina?" panggilnya. "Xavier!" langkah lelaki tersebut masuk kedalam rumah mencari keberadaan kedua nya.
Beberapa kali diteriaki namun tak ada sahutan sama sekali. Hingga kekhawatiran Lucien mulai meraba pikirannya. "Ashina, jangan main-main, kalian dimana?" teriaknya.
Seketika lampu menjadi terang membuat lelaki tersebut sedikit terkejut, lalu disusul oleh suara nyanyian seseorang.
"Happy birthday to you.... happy birthday to you.... happy birthday, happy birthday, happy birthday Lucien..." suara Ashina terdengar sangat bahagia.
Gadis itu menyanyikan dengan kue dan lilin yang menyala ditangan kanannya, sedangkan Xavier digendong disebelah kiri. Melihat hal itu, Lucien langsung menggendong Xavier dan memudahkan Ashina mengangkat kue tersebut dengan kedua tangannya.
"Selamat ulang tahun, wish you all the best Luc, tiuplah lilinnya." Kata Ashina.
Lelaki itu mengangguk, lalu memejamkan matanya melakukan do'a terlebih dahulu sebelum meniup lilin. Tak butuh waktu lama lilin tersebut tertiup membuat senyum diwajah Lucien mengembang dan melupakan kekhawatirannya.
"Terimakasih, Sweetheart. Aku menyayangimu," kata Lucien sambil mengecup seluruh wajah Ashina sehingga dihentikan oleh tangan mungil milik Xavier yang menutupi bibir Lucien seolah mengatakan berhenti melakukannya.
Mendapati hal itu mereka sama-sama tertawa. "Kenapa Daddy tidak boleh mencium Mommy?" tanya Lucien.
"Ah ya Luc, aku punya hadiah untukmu." Kata Ashina sambil memberikan sebuah kotak kecil dari belakang tubuhnya.
Lucien langsung menerimanya. "Apa isinya?" tanya Lucien.
"Buka saja," jawab Ashina.
Lelaki tersebut menatap curiga kearah Ashina. Karena tahun lalu dia diberikan hanya sebuah semir rambut, lalu matanya menatap kotak tersebut dan membukanya dengan perlahan.
Ternyata isinya adalah sebuah garis sedikit panjang, atau yang disebut testpack. Lelaki tersebut mengambilnya dengan sangat hati-hati, ditatapnya sebuah garis yang ada ditengah-tengah. Dua garis merah! Seketika mata Lucien berbinar.
Menatap Ashina dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Benarkah ini?" tanyanya memastikan.
Gadis tersebut menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Melihat Ashina mengangguk membut lelaki tersebut langsung memeluk erat tubuh Ashina dan berkata.
"Terimakasih Ash, terimakasih untuk hadiah terindah tahun ini. Aku menyayangimu." Antusiasnya dengan nada terharunya.
"Tidak perlu seperti itu, aku juga bahagia mendapatkannya." Jawab Ashina.
Pelukan tersebut terlepas, bergantian dengan Lucien mengangkat tubuh Xavier sembari berkata. "Kau akan memiliki adik sebentar lagi, kau harus menjaganya mengerti?" kata Lucien.
Saat masa-masa terharu, tiba-tiba suara lain menyahut. "Aku ingin mempunyai keponkan baru?" sahut Venus yang baru masuk dan menghampiri mereka. Diikuti oleh Luna Ashley, Alpha Drey dan juga Mars dibelakang.
"Kalian pulang malam ini? Bukankah besok?" tanya Ashina.
"Aku memiliki insting jika dirumah sedang ada kabar baik, lagian ini adalah hari lahir Lucien. Oh ya, kau benar sedang hamil lagi?" kata Luna Ashley sembari berjalan mendekati Ashina.
Gadis tersebut mengangguk. "Ah, aku ucapkan selamat untuk kalian. Jaga baik-baik ya?" pesannya.
"Pasti,"
"Selamat ulang tahun untukmu, kak." Kata Venus, diikuti dengan Mars, Luna Ashley dan yang terakhir Alpha Drey.
"Taun... taun..." sahut Xavier berbicara sambil menghentak-hentakan mainanya.
Mendengar Xavier berbicara belum jelas membuat mereka tertawa gemas. Acara pesta kecil tersebut berjalan kembali semakin ramai hingga tengah malam.
Tak disangka nya, rumah tangga yang dibangun oleh Lucien dan Ashina begitu erat sampai hari ini. Ditambah Xavier akan mendapatkan adik baru, semakin membuat kehangatan dikeluarga tersebut.
_*Kebahagiaan itu bukan saat kita bisa mendapati semua apa yang kita inginkan. Tetapi bahagia itu saat kita mensyukuri satu kebahagiaan, maka kebahagiaan yang lainnya akan menyusul sekecil apapun itu. Kebahagiaan itu ada, tapi kita mungkin tidak melihatnya dengan sangat jelas._
\-**Kamu adalah kebahagiaan dalam hidupku. Dan aku ingin kamu tetap menjadi kebahagiaan hidupku sampai akhir nanti\-
Lucien Malvis Anderson*.
\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-
The end....
Hi guys, maaf part ini lama up😭 semoga masih dapet feel nya❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan pesan terakhir untuk ceritaku ini hehe. Like vote dan comment juga ya :)
OH IYA, FOLLOW AKU ATAU KALIAN JANGAN TINGGALIN CERITA INI. KARENA 1 BULAN LAGI AKU BAKALAN UP CERITA BARU TENTANG MARS DAN MATE NYA😳
KIRA-KIRA SIAPA YA??
SEMOGA KALIAN SETIA NUNGGUIN☺️ KARENA AUTHOR MAU CARI REFERENSI OKEY HEHE
SEE YOU NEXT STORY✨✨
AKU SENANG BISA KENAL KALIAN, DAN AKU MAU NGUCAPIN TERIMA KASIH SEBANYAK-BANYAKNYA KARENA SUDAH SEMPAT BACA CERITA INI DAN SUPPORT ASHINA LUCIEN😭❤️
MAAF JUGA KALO AKU BIKIN KALIAN KESEL SAMA ALUR CERITANYA HEHE, OKEY DEH SEKIN DAN SAMPAI JUMPA.
FROM -AUTHOR WAWA, LUCIEN, ASHINA, ALPHA DREY, LUNA ASHLEY, XAVIER, MARS, VENUS, DAN KELVANA. SALAM CINTA UNTUK KALIAN❤️❤️❤️❤️❤️
Bye bye*!!!