
Author Pov
"A-aku, ingin me-melihat serigalamu. Boleh?" tanya Ashina dengan gugup. Lelaki itu berhenti memainkan jari Ashina sambil menatapnya dan berkata.
"Kau serius?" tanya Lucien dengan tak percaya.
Gadis itu mengangguk pelan. Entah angin darimana Ashina tiba-tiba saja ingin melihat Serigala Lucien sekarang.
"Aku baru melihat serigalamu sekali, apakah aku boleh melihatnya lagi?" tanya lagi Ashina.
Lucien tampak berpikir dan berbicara sebentar dengan Zerky melalui Mindlink. "Apa kau yakin soal ini? Aku tak ingin kau menyakiti Ashina," ucap Lucien kepada Zerky.
"Oh ayolah, dia juga Mate-ku. Mana mungkin aku melukainya kau ini gila! Biarkan aku dan dia bertemu. Jangan terlalu posesif begitu, aku juga bagian dari dirimu!" balas Zerky seperti menggerutu.
Lucien menatap Ashina yang tengah menatapnya juga. Mata gadis itu mengerjap. "Kenapa? Apa aku tak boleh melihatnya? Jika tidak tak mas--" ucapan Ashina terpotong saat tangannya digenggam dan ditarik oleh Lucien.
Lelaki itu membawa Ashina kesuatu tempat yang biasa digunakan Lucien untuk bertarung sendiri. Sebuah taman yang cukup luas dengan satu pohon yang sangat tua dengan dedaunan yang rindang sekali.
"Wow, ini indah sekali. Kenapa kau tak memberitahuku jika ada tempat sebagus ini selain taman?" kata Ashina reflex melepaskan genggaman Lucien.
Suasananya memang sangat indah, ditambah dengan kondisi langit yang berwarna jingga karena matahari akan terbenam. "Ini tempat rahasiaku jika aku banyak pikiran, memang tempatnya sangat indah. Dan hanya aku yang tahu, dan sekarang menambah menjadi kau juga tahu." Ujar Lucien sambil mendekat kearah Ashina yang berdiri tepat dibawah pohon tersebut.
"Ash," panggil Lucien dengan nada lembutnya. Gadis itu bergumam sembari membalikkan tubuhnya menatap Lucien.
Jarak mereka sangat dekat. Membuat jantung Ashina kembali berdetak cepat. "A-ada apa, Luc?" gugupnya.
"Apa kau yakin ingin melihat sisi serigalaku?" tanya lagi Lucien untuk memastikan.
"Tentu saja, aku berkata dengan yakin. Apa aku salah?" jawab Ashina.
"Baiklah jika itu maumu, menjauhlah sedikit dariku," perintah Lucien.
Ashina menaikkan sebelah alisnya bingung. "Mengapa?" katanya.
Lelaki itu berdecak pelan. "Aku akan berubah wujud menjadi serigala yang besar, butuh ruang juga agar kau tak terluka nanti." Ujar Lucien mencoba bersabar dengan Mate nya.
Tawa pelan Ashina terdengar begitu renyah. "Haha baiklah, kau tak usah kesal seperti itu," katanya sambil memundurkan langkahnya menjauhi Lucien. "Ayo, lakukanlah." Sambungnya lagi.
Lucien menatap Ashina. Lambat laun geraman terdengar oleh Ashiha. Suara seperti tulang patah itu membuat Ashina sedikit linu mendengarnya, apa itu sakit? Itu yang sempat Ashina pikirkan saat mendengar suara seperti retakkan tulang tersebut.
Dengan wajah yang cengo, Ashina terus menatap perubahan Lucien yang mulai berubah menjadi serigala dan kini sepenuhnya tubuh manusia Lucien berubah menjadi serigala besar berwarna abu-abu tua tersebut.
Mata Ashina semakin membulat, entah itu kaget atau kagum melihat serigala secara dekat seperti ini. Tanpa disadari, langkah Ashina mendekat kearah Zerky. Setelah mendekat tangan gadis tersebut meraih badan Zerky yang dipenuhi bulu-bulu lebat yang sangat halus.
Tanpa diduga, Zerky menerkam tubuh Ashina hingga gadis itu ada dibawah tubuh serigala. Sempat terkejut namun sedetik kemudian gadis itu tertawa geli, karena Zerky menjilati leher dan juga wajah Ashina dengan lidahnya.
"Ah hentikan Zer, ini sangat menggelikan." Pinta Ashina diselingi dengan tawa.
Namun Serigala tersebut tak mendengarkannya dan semakin menjilati wajah Ashina dengan gemasnya. Lalu serigala tersebut berhenti sendiri, tawa Ashina pun lambat laun terhenti dengan air mata disudut matanya.
"Oh astaga, ini sangat melelahkan. Kau membuatku tertawa," ujar Ashina sambil mencoba bangkit.
Mereka bertatapan, mata Zerky memiliki bola mata yang sangat indah. Berwarna hijau muda yang sangat segar dilihat. Tangan Ashina terulur untuk mengelus bulu-bulu Zerky dibagian wajahnya tersebut.
Zerky membalasnya dengan suara melolong bahagia. Gadis itu tertawa kembali, "kau sama tampannya dengan Lucien, aku juga akan sangat mencintaimu." Kata Ashina sambil terus mengelus bulu Zerky.
"Dengar bukan? Dia berkata jika aku sangat tampan dan dia juga mencintaiku," bangga Zerky berbicara dengan Lucien melalui Mindlink.
Lucien memutar bola matanya malas, dia sangat malas membalas ucapan serigalanya ini yang terlalu kelewat percaya diri. Bukankah Ashina berkata jika serigalanya sama tampannya dengan Lucien, lalu apa bedanya dengan wajah Lucien. Dasar.
Mereka sedikit bermain-main hingga langit berubah menjadi gelap karena sudah menjelang malam. "Ah, Zerky. Ini sudah malam, keluarga pasti sudah pulang semua, biarkan Lucien kembali kesemula ya? Kita akan bertemu lain waktu lagi." Ucap Ashina panjang lebar.
Serigala itu melolong pelan seperti tak ingin waktu ini cepat berlalu. "Sangat manis, kenapa kau tampak sedih, huh?" kata Ashina sambil menangkup wajah serigala tersebut. "Bukankah kau bisa melihatku setiap hari dari dalam tubuh tuanmu?" lanjutnya.
Serigala itu menjilati kembali wajah Ashina sehingga gadis tersebut kembali tersenyum. "Zer, hentikan ini." Pinta Ashina, serigala itu seperti menurut saja lalu jarak mereka seperti menjauh. Dan suara retakkan tulang itu kembali terdengar.
Mata Ashina yang semula terpejam, kini menatap kedepan melihat apakah Zerky masih ada atau tidak. Ini sangat cepat, dia saja belum sempat mengucapkan selamat tinggak dengan Zerky, mengapa langsung berubah wujud Lucien kembali?
Ashina langsung berjalan cepat kearah Lucien yang terlihat sedikit lelah. Yang gadis itu tahu, saat seorang Werewolf berganti Shift memang butuh banyak energi yang dikeluarkan. Mungkin saja tubuh Lucien juga tak sanggup menahan lemahnya tubuh sekarang, karena lelaki itu pun baru saja pulang dari kantor dan disuruh berganti shift saja dengan Mate nya.
"Luc, apa kau baik-baik saja?" tanya Ashina sambil menahan tubuh Lucien ditanah.
"Ya, aku hanya sedikit lemah saja." Jawab Lucien dengan nada pelannya.
"Kalau begitu akan aku bantu kau berdiri dan kembali kedalam rumah." Ujar Ashina yang dianggukkan kepala saja oleh Lucien.
Lalu gadis itu membawa Lucien masuk kedalam rumah dengan jarak yang tak terlalu jauh. Langit memang sudah kembali menggelap, namun ternyata dugaan Ashina salah, ternyata baru Mars dan Venus lah yang pulang. Kata mereka, Luna Ashley dan Alpha Drey akan pulang 15 menit lagi.
Sedangkan Ashina membawa Lucien kekamar untuk beristirahat sebentar dan membersihkan badan sebelum makan malam dimulai.
"Mandilah, nanti kita makan malam." Ujar Ashina yang baru selesai mandi dan duduk disamping Lucien yang tengah berbaring dipinggiran kasur.
Tubuh lelaki itu bangkit dan duduk bersampingan dengan Ashina. Kedua tangannya melingkar dipinggang Ashina sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh Ashina.
"Kau harum sekali," ujar Lucien sambil membenamkan wajahnya disela leher Ashina.
"Luc hentikan. Mandi dulu, badanmu sudah sangat lengket." Ucap Ashina sambil mendorong tubuh Lucien.
Pelukan tersebut terlepas. "Baiklah, aku akan segera mandi dan kita akan makan malam. Setelah itu--" ucapan Lucien terpotong.
"Setelah itu kita mengobrol seperti biasa dibawah dengan keluarga. Sudah cepatlah mandi!" potong Ashina.
Wajah Lucien seketika datar dan badmood. Lalu berjalan melangkah masuk kedalam kamar mandi, Ashina tertawa pelan. Dia sudah tahu apa yang dipikirkan oleh lelakinya tersebut, maka dari itu dia menyelanya.
////////////////////
**To be continued.....
Apa kabar semua?? Sehat selalu ya. Semoga suka, jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan comment biar author semangat up nya❤️❤️
Maaf ya kalo lama kelamaan garing😭 aku usahain dapet feel nya lagi, semogaa masih suka dan setia sama LucAsh😩💙
See you next part🐺**