
Author Pov
Lucien kembali ke dalam kamar untuk beristirahat, sebelum itu dirinya pun mmebersihkan badan terlebih dahulu dan memakai pakaian untuk tidur. Hari ini sangat lelah, sudah hampir 2 hari dia tak bertemu dengan gadis itu. Apa dia baik-baik saja? Apa dia juga merindukan dirinya?
Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba muncul sebelum mata Lucien terlelap sendiri dalam mimpinya dengan wajah yang lelah. Mimpi indah pasti akan menemaninya.
Keesokan harinya, Lucien sudah rapih dengan pakaian biasa yang dia kenakan, kaos dan jas adalah gaya Lucien. Hari ini dia berniat ingin bertemu dengan gadisnya. Ya, siapa lagi jika bukan Ashina. Namun ditengah sarapan keluarga, tiba-tiba Alpha Drey berkata.
"Luc, apa hari ini kau ada pekerjaan?" tanya Alpha Drey.
Lucien berhenti mengunyah, lalu melirik kearah sang Ayah yang ternyata sedang meliriknya juga. "Tidak ada, urusan kantor sudah aku selesaikan 1 minggu yang lalu. Ada apa memangnya?" tanya balik Lucien.
"Jadi begini, adik-adikmu Ayah suruh untuk datang ke Silver Moon Pack. Tapi mereka bilang ada kelas hari ini, Mom dan Dad tidak bisa datang juga. Apa kau bisa mewakili kita? Itu pesta hanya untuk merayakan jabatan Aagamar yang akan menduduki tahta Ayahnya." Ucap jelas Alpha Drey dengan sangat panjang.
"Tapi--" ucapan Lucien terpotong oleh seseorang.
"Ayolah Nak, kau bisa berkenalan dengan collega Daddy-mu juga disana. Ya, ini hanya pesta walaupun kau tau suka pesta setidaknya hanya datang untuk mewakili keluarga Anderson," pinta Luna Ashley kepada anak lelaki pertamanya tersebut.
"Ayolah kak!" kata Mars dan Venus juga berkata dengan serempak.
Seolah semua keluarganya mendesak dia untuk meng-iyakan. Apa yang Lucien lakukan selain pasrah menuruti apa yang mereka mau, hanya keluarganya lah yang membuat Lucien merasa luluh seketika.
"Baiklah-baiklah, terserah kalian saja." Pasrahnya.
Semuanya tersenyum senang. "Bagus kalau begitu, pesta akan dimulai jam 8 malam, kau bisa mengajak gadismu juga." Saran Alpha Drey.
"Ah ya, aku sangat merindukan gadis itu juga. Bawalah dia kemari Luc," kata Luna Ashley.
"Jika dia tidak sibuk," jawab acuh Lucien.
"Bukan kak Ash yang sibuk, tapi dirimu yang sibuk!" sahut Venus yang sedari tadi menyimak.
"Nah, benar tuh." Tambah Mars.
"Ah kalian kenapa seperti mengucilkanku disini? Sudah sana kalian pergi kuliah!" gerutu Lucien kesal sembari melapas makanannya.
Mereka tertawa serempak, sedangkan wajah Lucien semakin ditekuk. Setelah sarapan selesai, Lucien berniat untuk menyelesaikan pekerjaan kantor tambahan, agar kedepannya dia tidak terlalu sibuk dan kembali menemui gadisnya. Ah ya, bukan hanya keluarganya saja, dirinya pun merindukan Ashina.
Malam hari pun tiba, tepat jam tujuh malam di dalam rumah sudah sepi. Tidak ada orang dirumah karena mereka pergi ketujuan masing-masing, begitu pula dengan Lucien yang sudah siap dengan setelan jas berwarna putih tulang yang sangat cocok ditubuh Lucien.
Langkah tegasnya keluar dari rumahnya dan masuk kedalam mobil yang dia kendarai sendiri, niatnya dia tidak akan pergi sendiri kepesta itu. Ya mungkin dengan seseorang, yang tak lain adalah Ashina. Sudah dikatakan jika Lucien ingin sekali menemuinya dan melepas rindu, wajar saja sudah tiga hari dia tidak melihat wajah lugu milik Ashina tersebut.
Mobilnya berhenti tepat didepan cafe dimana Ashina bekerja. Namun saat masuk dan menanyakan keberadaan Ashina, salah satu pegawai bilang dia sudah pulang karena waktu jam kerjanya sudah habis. Tanpa berpikir panjang Lucien kembali menancapkan gas mobilnya untuk pergi kerumah Ashina.
Namun ditengah jalan, dia melihat sosok gadis yang dikenalnya. Oh itu Ashina, dengan cepat Lucien memarkirkan mobilnya ditepi jalan, lalu melangkah dengan pelan menuju kearah Ashina yang sedang berjalan. Setelah dekat dengan Ashina, tangan Lucien langsung membekap mulut Ashina sehingga gadis tersebut meronta dan memukul lengan Lucien.
Lelaki itu membawa Ashina kesamping dimana mobilnya berada. "Lepaskan!" katanya saat bekapan itu sedikit terbuka.
Lucien langsung menurutinya, lalu dengan cepat Ashina membalikan tubuhnya agar bisa melihat siapa pelaku yang berani membekap mulutnya. Namun wajahnya nampak terkejut. "Lucien?" katanya.
"Hai!" sapa Lucien seperti orang asing yang baru kenal.
"Kenapa kau ada disini? Darimana saja kamu?" tanya Ashina beruntun.
"Ti-tidak, a-aku tidak merindukanmu," kilah Ashina dengan nada gugupnya.
Tentu saja hal itu membuat Lucien semakin percaya jika gadis itu sama seperti dirinya. Iya, sama-sama rindu satu sama lain. Ah mengetahuinya saja sudah membuat hati Lucien berdesir hangat, tanpa aba-aba Lucien langsung memeluk tubuh Ashina dengan sangat erat.
"Aku merindukanmu, Ash!" ungkap Lucien dengan sangat tulus.
Sedangkan Ashina seperti patung, tak tahu harus seperti apa. Detak jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat. "L-Luc, le-lepaskan!" kata Ashina.
"Sebentar saja, aku sangat merindukanmu." Ujar Lucien. Alhasil, Ashina hanya menurut saja, setelah beberapa menit berlalu pelukan Lucien akhirnya terlepas.
Beberapa saat keadaan canggung diantara mereka. Lalu suara berdehem Lucien keluar. "Hmm, Ash. Aku ingin mengajakmu, apa kau ingin ikut?" tanya Lucien dengan kakunya.
"Kemana?"
"Pesta Ayahku, keluargaku juga menyarankan jika kau harus ikut denganku. Sebenarnya aku juga tidak terlalu suka dengan pesta, itu sangat memboskan. Temani aku ya?" kata Lucien meminta diakhir ucapannya.
"Kau yakin ingin mengajakku?" tanya Ashina tak percaya.
"Ya, kenapa memangnya?"
"Lihatlah aku, hanya gadis kuno. Apa kau tidak malu pergi denganku dipesta yang sangat meriah dan banyak orang penting disana?" kata Ashina tak percaya diri.
Kedua tangan Lucien terangkat dan memegang kedua pipi Ashina sembari mengusapnya pelan. "Hey, kau juga orang penting. Penting untukku, untuk Pack-ku juga nantinya," ujar Lucien dengan sangat wibawanya.
Entah mengapa Ashina yang mendengarnya menjadi terharu sendiri, tapi apa dia juga siap menerima Lucien yang seperti ini? Perasaan dilema kembali menyergap perasaan Ashina.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Lucien.
"Ti-tidak, baiklah. Aku akan ikut denganmu, tapi penampilanku seperti ini," kata Ashina sambil menatap pakaiannya.
Senyuman manis mengembang dibibir Lucien. "Kau tidak usah khawatir, aku sudah menyiapkan seseorang untuk merubah penampilanmu. Ayo ikutlah denganku, pestanya akan dimulai sebentar lagi." Ucap Lucien. Ashina hanya mengangguk saja.
Disepanjang perjalanan Lucien tak henti-hentinya bercerita dengan nada yang bahagia. Ashina juga sangat senang melihat Lucien sebahagia ini, dan tak henti-hentinya Lucien menciumi punggung tangan Ashina sehingga membuat gadis itu geli dan sedikit kesal juga.
"Luc, berheti menciumi tanganku!" gerutu Ashina.
"Aku menyukainya," jawab Lucien dengan ringannya.
Ashina langsung menarik tangannya sembari berkata. "Kau ini!" katanya sambil menatap kearah luar jendela mobil.
Lelaki itu hanya tertawa pelan sambil mengacak rambut Ashina dengan tangan kirinya. Jujur saja, Ashina sangat senang diperlakukan seperti ini.
°°°°°°°°°°°°°°°°°
*
*Oke jangan lupa like, vote, dan comment🖤
See you next part🐺**