
Author Pov
Telihat Ashina sedari tadi hanya memfokuskan matanya kearah meja yang dimana Lucien duduki dan dihampiri oleh seorang perempuan yang menurutnya memang sangat cantik, apalagi jika dilihat dari cara berpakaiannya. Wanita itulah yang akan menang, tapi Ashina yakin, Lucien tidak memandang fisik seseorang.
"Hai, apa aku boleh berkenalan denganmu?" tanya perempuan tersebut dengan nada seperti menggoda Lucien.
Sedangkan lelaki yang sedang menyeruput kopi nya itu melirik kearah sang perempuan. "Penting?" tanya balik Lucien dengan dinginnya.
"Sangat, karena aku melihat kau adalah masa depanku yang sedangku cari." Katanya dengan sangat percaya diri.
Lucien mengerutkan dahinya heran. "Aku tidak ingin berkenalan denganmu," ucap Lucien.
"Apa kau sedang menolakku secara tidak langsung?" tanyanya sembari mendekati kearah Lucien, perempuan itu duduk disamping Lucien dan memandangnya secara intens, tanpa disadari ada mata lain yang menatap kearah mereka.
Lelaki itu menatap perempuan asing dihadapannya dengan kesal. "Pergilah,"
"Tidak akan, beritahu namamu terlebih dahulu," ucap perempuan tersebut.
"Aku sudah punya gadis," kata Lucien tanpa memikirkan perkataan itu terlebih dahulu.
"Kau tengah berbohong?"
"Tidak, apa kau tak percaya?" ujarnya dengan datar. Kepala perempuan tersebut menggeleng pelan.
Mata Lucien menyapu seluruh ruangan cafe tersebut dan mendapati gadis yang tengah dicarinya juga sedang menatap kearah mejanya. Namun entah mengapa Lucien malah menarik sudut bibirnya dan tersenyum misterius.
Ashina yang terpergok sedang menatap mereka pun gelagapan sendiri, tapi kenapa lelaki tersebut malah tersenyum menyeramkan?
"Apa kau ingin berkenalan denganku?" tanya Lucien sedikit menaikkan suaranya agar terdengar oleh Ashina.
Perempuan yang berada didepannya itu mengangguk antusias, sedangkan Ashina mendengarnya dengan sangat penasaran. "Ya tentu saja!" seru perempuan tersebut.
Tangan kanan Lucien terulur dihadapan gadis tersebut lalu berkata. "Aku Lucien," katanya memperkenalkan diri.
Mata perempuan tersebut berbinar-binar, tanpa menunggu waktun lama. Perempuan tersebut membalas uluran tangan Lucien. "Aku Angbeen, senang berkenalan denganmu." balasnya seraya tersenyum manis.
Disisi lain, entah mengapa Ashina merasakan udara hari ini didalam ruangan sangatlah panas. Padahal AC sudah menyala dimana-mana, napasnya pun seperti naik turun tak terkontrol, ada apa dengan dirinya.
Saat tangan Ashina mengepal kesal, pundaknya ditepuk oleh Anna dari belakang. "Hey, kau kenapa?" katanya heran.
Seketika kepalan tangan Ashina menghilang. "Tidak," jawab Ashina singkat.
Mata Anna mengikuti arah pandang Ashina saat ini. Lalu sebuah senyuman jahil muncul dibibirnya. "Ah, kau tengah cemburu Ash?" ucap Anna menebak.
"Tidak, aku cemburu untuk siapa?" katanya mengelak.
"Sudahlah Ash, aku ini temanmu. Dari wajah dan tatapanmu sudah mengatakan jika kau sedang cemburu, lihat itu," ucap Anna sambil menunjuk kearah Lucien yang sedang mengobrol dengan perempuan didepannya. "Kau sedang cemburu karena itukan?" tebak Anna tepat sasaran.
"Kau mengada-ngada saja, sudahlah kita kembali bekerja saja," suruh Ashina sambil bergegas pergi dan melanjutkan pekerjaannya.
Anna menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum simpul. "Temanku sedang merasakan api kecemburuan." Ujar Anna sambil mengikuti Ashina mengurus pesanan.
Disisi lain, nampaknya perempuan tersebut tidak berhenti-berhentinya mengoceh sedari tadi. Hal itu membuat Lucien sedikit jenuh dan bosan, ini tidak beda jauh dari Ashina yang banyak pertanyaan. Bedanya, Lucien senang berada didekat Ashina.
"Apa kau tidak haus?" tanya Lucien sedikit menyindir, namun kelihatannya Angbeen itu tak peka.
"Ya, tenggorokanku sangat kering." Jawab Angbeen dengan entengnya.
"*I*tu karena kau sedari tadi mengoceh terus!" sahut suara Zerky dari dalam. Lucien membalas ucapan Zerky dengan berkata. "Kau benar," lalu tak ada percakapan lagi.
"Permisi, apa aku bisa memesan?" kata Angbeen sembari mengangkat tangan kanannya.
Ashina yang tidak sibuk pun menghampiri meja tersebut sembari membawa catatan. "Ingin memesan apa?" tanya Ashina masih dengan ramah dan tersenyum simpul.
"Samakan saja pesananku dengannya," ucap Angbeen sembari menunjuk kearah minuman Lucien.
Ashina mengikuti arah petunjuk tersebut, hatinya semakin bergemuruh. Sedangkan Lucien menahan kegemasannya terhadap Ashina, dia mengetahui dari balik wajahnya jika Ashina tengah kesal saat ini.
"Baiklah, tunggu sebentar." Kata Ashina dengan judes.
"Kenapa?"
"Kau bilang kenapa? Kenapa kau cuek seperti itu kepada pelanggan?" tanya Lucien memancing kekesalan Ashina.
"Biasa saja Tuan, saya permisi." Jawab Ashina sambil melototkan matanya dan bergegas pergi.
Terdengar Zekry tak kalah kesalnya dengan Lucien karena telah membuat Ashina kesal. "Kau ingin bertarung denganku, Luc?" tanya Zerky melalui Mindlink.
"Tidak ada waktu untuk hal itu," jawab Lucien enteng.
"Kenapa kau membuat Mate kita terlihat kesal seperti itu!" marah Zerky.
"Aku hanya ingin menguji perasannya saja." Ucap Lucien lalu memutuskan Mindlink dengan sepihak.
Tak lama pesanan yang dibawa oleh Ashina diberikan dimeja tersebut. "Selamat menikmati," kata Ashina dengan ramah.
Saat tubuhnya akan berbalik, tiba-tiba suara dari depan pintu cafe memanggil nama Ashina.
"Ashina!" panggil suara tersebut.
Gadis yang dipanggil namanya tersebut melirik dan matanya seketika berbinar. "Josh!" kata Ashina dengan nada senangnya.
Sedangkan Lucien masih tak memahami kondisi saat ini, siapa lelaki tersebut? Kenapa Ashina sangat senang karena melihat lelaki tersebut? Pertanyaan itu terus memutar dikepala Lucien.
Ashina langsung berlari kecil menghampiri lelaki yang bernama Josh tersebut. "Hey, apa kabar?" kata Ashina sambil berjalan mendekat.
"Seperti yang kau lihat, aku sangat baik!" seru Josh sambil memeluk Ashina secara tiba-tiba. Membuat gadis tersebut terkejut karena situasi ini sangat salah.
Lalu pelukan terlepas. "Kau sendiri? Kenapa semakin kecil saja tubuhmu?" kata Josh lagi dengan nada meledek.
Ashina memukul pelan dada bidang Josh. "Kau ini! Tumben sekali kau kemari? Ayo duduklah," ujar Ashina sembari duduk dimeja sofa panjang.
"Aku libur kantor, makannya kesini hanya untuk melihat kau saja!" ucap Josh sambil menjawil hidung mungil Ashina.
Gadis itu tertawa. "Kau masih tidak berubah," kata Ashina.
"Apa aku masih tampan?" tebak Josh.
Ashina menggelengkan kepalanya pelan. "Kau masih tidak berubah, tak ada perempuan disampingmu." Kata Ashina sambil tertawa renyah.
Mereka seperti tengah melepas rindu, sesekali tertawa dan sesekali Ashina tinggal karena ada pelanggan. Sedangkan Lucien yang memiliki rencana untuk membuat Ashina cemburu, kini malah sebaliknya yang membuat dirinya tengah dilanda api kecemburuan.
"Kenapa dia terlihat sangat bahagia dengannya," lirih Lucien pelan. Namun Angbeen sedikit samar mendengarnya.
"Kau berbicara apa tadi?" tanya Angbeen.
"Tidak, tidak ada. Aku ada urusan mendadak dan aku harus pergi." Kata Lucien dengan tergesa.
Lelaki itu berjalan kearah kasir untuk membayar, namun setelah itu dirinya berkata. "Bisakah aku meminta kertas dan meminjam pena sebentar?" ucap Lucien kepada pegawai.
"Tentu," kata pegawai tersebut sambil menyerahkan permintaan Lucien.
Lelaki tersebut menuliskan sesuatu dan melipat kertas itu. "Jika tidak keberatan, apa kau boleh memberi kertas ini kepada gadis itu?" tanya Lucien sambil menunjuk kearah Ashina berada.
"Ah ya, tapi---" ucapan pegawai tersebut terputus.
"Berikan saja. Ini untukmu," kata Lucien sembari memberi beberapa lembar uang kertas. Lalu berjalan keluar dari cafe.
Sebelum benar-benar keluar, Lucien berhenti sebentar dan menatap kearah Ashina yang tengah tertawa. Bertepatan Ashina ikut menatap Lucien, lelaki itu melototkan matanya dan memberi pandangan menusuk. Membuat Ashina terdiam sesaat.
Setelahnya Lucien benar-benar pergi dari cafe tersebut.
**To be continued.....
Ciyeee niatnya mau bikin cemburu malah sendirinya cemburu🤣 semoga suka jangan lupa like vote dan comment yang banyak❤️❤️
See you next part🐺❤️**