My Mine Is Human

My Mine Is Human
22. Bukan orang biasa (2 end)



Author Pov


Ashina yang sudah kembali lagi diruang keluarga dan berkumpul bersama keluarga Lucien, kini dirinya nampak sangat-sangat canggung. Seketika pikirannya berkecamuk dimana-mana, sampai dia lupa tujuannya kemari hanya ingin mengembalikan ponsel milik Lucien.


Seperti dirinya salah saat itu memiliki pikiran untuk datang kerumah Lucien ditengah hutan ini. Keluarganya memang hangat, namun anak pertamanya membuat Ashina ingin sekali membakarnya hidup-hidup. Entah apa yang dipikirkan Lucien sampai bisa-bisanya berbicara seperti itu kepadanya.


"Ash, kenapa kau diam saja? Apa Luc dikamar memarahimu tadi?" tanya Luna Ashley dengan nada lembut sekaligus berhati-hati.


Tentu saja, siapa yang tidak tersentuh hatinya saat orang yang baru kita kenal memiliki hati dan perasaan seperti malaikat? Berbeda dengan sikap Ibunya yang sangat tempramental terhadap dirinya.


"Ti-tidak, Luna Ashley," jawab Ashina dengan gugup. Ya, gadis itu menyebut Ashley dengan sebutan yang sama dengan orang-orang disekitar Pack.


Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu tersenyum manis. "Kau tidak usah memanggilku seperti itu, sayang." Kata Luna Ashley.


Ashina sedikit terkejut mendengarnya. "A-apakah, a-aku salah menyebut namamu?" tanya Ashina takut-takut.


Luna Ashley menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, bukan begitu maksudku. Kau tidak boleh memanggilku dengan sebutan Luna, kau ini akan segera menjadi Mate dari Lucien. Jadi, panggil saja aku dengan sebutan Mom, sama seperti Lucien, Mars dan Venus memanggilku seperti itu." Ucap Luna Ashley panjang lebar menjelaskan.


"Mom?" kata dia ragu, Luna Ashley mengangguk sembari tersenyum hangat. Terbesit rasa haru dalam hati Ashina.


"Kau gadis yang baik Ash, Mom yakin. Lucien kali ini tidak salah memilih pasangan," sahut Alpha Drey yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.


Ashina tersenyum malu, seperti dirinya disini sangat dihargai daripada dilingkungannya terutama rumahnya sendiri. "Terimakasih--"


"Daddy," kata Alpha Drey memutuskan ucapan Ashina.


Lagi-lagi Ashina tersenyum senang. "Terimakasih, Dad." Ucapnya lagi.


Hal itu membuat Alpha Drey, Luna Ashley, Ashina, Mars dan Venus tersenyum dan sesekali tertawa membicarakan Lucien dimasa kecil. Sampai akhirnya keheningan terjadi saat orang yang dibicarakan datang kearah mereka dengan wajah yang terlihat segar.


Senyum cerah terpancar jelas diwajah Lucien, membuat keluarganya heran kenapa sikap Lucien sekarang berubah. Bukannya tadi dia marah?


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Mars heran.


"Memangnya kenapa? Apa tersenyum harus memiliki alasan terlebih dahulu?" tanya balik Lucien.


"Tidak juga, tapi kau tidak biasanya tersenyum sebahagia itu." Jawab Mars sambil menggaruk belakang kepalanya yang tiba-tiba gatal.


"Sudahlah Mars, nanti mood kak Lucien akan memburuk lagi. Kau tahu resikonya nanti!" bisik Venus pelan.


"Aku masih bisa mendengar percakapa kalian! Tidak usah berbisik seperti itu!" kesal Lucien menghilangkan senyumannya.


"Kau sih, sudah kubilang jangan seperti itu!" cerca Venus kesal kearah kembarannya.


"Selalu saja aku yang salah, dasar." Gerutu Mars, lalu diam tak menggubris lagi.


"Sudah-sudah, malu dilihat oleh Ashina. Kalian ini, sudah besar bersikaplah dewasa!" omel Luna Ashley.


"Luc, duduklah," pinta Alpha Drey. Lelaki itu menuruti dan duduk disamping Ashina yang sedari tadi diam dan menundukkan kepalanya.


"Nak, apa gadis disampingmu sudah mengetahui siapa jati diri keluarga kita yang sebenarnya?" tanya Alpha Drey yang kini memasuki waktu serius.


Kepala Lucien mengangguk pelan, lalu matanya melirik kearah Ashina. "Ash, angkat kepalamu. Tidak baik menundukkan kepala saat seseorang berbicara kearah kita," tegur Lucien sambil mengangkat pelan kepala Ashina.


Mereka yang berada diruangan keluarga terkekeh pelan, gemas melihat tingkah laku Ashina yang polos ini. "Apa aku salah berbicara?" tanya Ashina heran.


"Ash, kau ini gadis yang baik. Lucien beruntung bertemu denganmu," kata Luna Ashley.


Ashina nampak segan dengan ucapan Ibunya Lucien. "Tidak Mom, akulah yang beruntung bertemu dengan kalian." Ujar Ashina.


"Jadi?" sahut Alpha Drey. "Apa kau sudah mengetahui kami siapa?" lanjutnya.


"Kalian adalah keluarga dengan perusahaan yang---" ucapan Ashina terpotong oleh Lucien disampingnya.


"Ash, bukan itu yang Ayahku katakan!" ujar Lucien menahan kegemasannya.


Mata Ashina berkedip beberapa kali. "Lalu?" tanyanya tak mengerti.


Lucien menghela napasnya berat. "Kau ingat saat kita.. hmm, pergi kerestoran itu--" kata Lucien dengan nada pelan-pelan sambil melirik kearah keluarganya yang sedang menatapnya dengan menggoda.


"Ya, kenapa?"


"Aku sudah bilang jika aku bukan manusia biasa, aku setengah serigala. Jadi keluargaku termasuk dalam kategori itu, dan aku juga sudah bilang padamu bahwa kau adalah Mate yang sudah Moon Goddess takdirkan untukku." Jelas Lucien panjang lebar.


Ashina terdiam sesaat, seolah tengah mencerna baik-baik ucapan Lucien. "Siapa Moon Goddess?" tanya Ashina.


"Dia adalah Dewi nya para Werewolf," sahut Venus.


"Tapi kenapa kau bisa tahu jika aku adalah pasangan yang tepat untukmu?" tanya nya lagi.


Lelaki itu berdecak pelan. "Gadis banyak pertanyaan!" gumamnya pelan.


"Nak, seorang Werewolf bisa mengetahui jika orang itu adalah Mate-nya karena mereka bisa mencium aroma dari Mate-nya tersebut. Jika dirasa aroma itu memabukkan bagi indra penciumannya, sudah diyakini jika itu adalah Mate mereka. Untuk hal itu, seorang Werewolf harus segera menandai Matenya agar tak lepas dari keterikatan." Jelas Luna Ashley menjelaskan panjang lebar dengan sabarnya.


Gadis itu mengangguk-anggukan kepalanya paham. "Tapi, aku--" ucapan Ashina terpotong oleh Lucien.


"Ash aku sudah bilang padamu, kau belajar menerima diriku yang seperti ini. Bagaimana pun kau menolaknya, aku akan membuatmu terikat denganku seumur hidup," kata Lucien dengan nada serius.


Ashina menelan ludahnya gugup. "Ka-kalian adalah Werewolf dan aku belum mengetahui apa itu Werewolf, tentang Mate, Pack, Luna atau Alpha. Aku masih bingung dengan ini, menerima keadaan disaat pikiranku tak mengerti apapun rasanya ini salah, aku butuh waktu untuk memahami semuanya." Kata Ashina sambil menatap kearah mereka dengan berani.


Seulas senyum terukir dibibir Luna Ashley. "Sayang, kita tidak menyuruhmu untuk segera meng-iyakan hubungan ini. Aku tahu apa yang kau rasakan, tapi Nak, kau juga jangan terlalu banyak memberi waktu. Karena seorang Werewolf jika sudah bertemu dengan Mate-nya harus segera melalukan meting agar tidak terlepas." Kata Luna Ashley.


"Ya aku mengerti, terimakasih sudah memahami kondisiku. Ini sudah malam, sebaiknya aku harus pulang, takut jika nanti Ibuku khawatir mencariku." Ucap Ashina, padahal Ibunya pasti sangat marah dia pulang telat.


"Baiklah, Lucien akan mengantarkanmu. Jika ada waktu luang lagi, datanglah kemari. Akan sangat menyenangkan jika kau setiap hari kesini," ujar Luna Ashley sambil berdiri.


Akhirnya Ashina berpamitan kepada keluarga Lucien. Sampai masuk kedalam mobil dan pergi menuju rumah Ashina, tak ada percakapan sama sekali diantara mereka. Hanya keheningan yang mengisi.


**To be continued......


Hay, maaf up lama soalnya Author lagi bucin sama series Thai😭 malah curhat wkwk. Semoga suka deh, btw kenapa ya Ashina tiba-tiba diem? Hayoloh. Jangan lupa like vote dan comment biar author segera up dan kalian gak penasaran kenapa wkwk.


See you next part🐺❤️**