
Author Pov
Matahari pagi mulai terlihat menandakan jika langit gelap akan berganti menjadi awan yang cerah. Ashina sudah meminta untuk pulang saja dan ikut melihat para warrior yang bergugur dimedan perang untuk dimakamkan dibelakang Pack.
Beberapa keluarga dari warrior yang gugur nampak terlihat tegar, walaupun semuanya tahu jika menerima takdir seperti ini sangatlah menyakitkan, apalagi jika itu keluarga yang kita sayangi.
Alpha Drey memberi beberapa kata disepanjang pemakaman tersebut hingga akhirnya membubarkan diri saat proses tersebut sudah selesai. Semuanya kembali kerumah masing-masing, penjagaan di Pack semakin diperketat oleh Alpha Drey.
Semua keluarga Anderson masuk kembali ke dalam rumah. Ada yang langsung membaringkan tubuhnya diatas sofa, ada pun yang langsung masuk ke kamar untuk istirahat. Di ruangan keluarga, Alpha Drey, Luna Ashley, Lucien dan Ashina berkumpul sedangkan yang lainnya ada yang terlelap.
"Jadi bagaimana?" tanya Alpha Drey.
"Tindakkan yang dilakukan oleh Ambarita sungguh membahayakan dan diluar kendali, aku harus memberikan hukuman sepadan untuknya." Kata Lucien.
"Aku minta Ambarita dihukum mati sekarang juga!" sahut Kelvana yang tiba-tiba menghampiri mereka.
"Maafkan saya jika lancang masuk kemari tanpa izin. Tapi ini adalah waktu yang saya tunggu-tunggu untuk membalaskan dendam saya kepadanya Alpha." Lanjutnya lagi.
Ashina menatap Kelvana dengan raut wajah yang sulit diartikan. Karena kondisi Kelvana juga sangat berantakkan, kantung mata yang hitam, mata yang merah beserta hidungnya karena terlalu lama menangis.
Gadis itu berdiri bangkit lalu menghampiri Kelvana dan memeluknya dengan sangat erat. "Aku pastikan kemauanmu akan terpenuhi, Kelv." Ujar Ashina berbisik.
Kelvana kembali menangis. Entah sejak kapan dia menjadi gadis yang mudah menangis dan lemah seperti ini, seolah sifat keras kepala dan tegarnya hilang begitu saja. Pelukkan itu berakhir.
"Aku harap kau benar-benar melakukannya. Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Kelvana sambil menundukkan sedikit badannya dan pergi dari hadapan mereka.
Ashina kembali duduk disamping Lucien. "Jika aku boleh berpendapat, mungkin hukuman yang dimaksud oleh Kelvana aku setuju untuk itu." Kata Ashina.
Luna Ashley berdehem sembari berucap. "Aku berpihak pada kalian, hukum di Pack ini harus ditegaskan. Walaupun dia perempuan, namun perbuatan dia sangat kejam dan tidak mempunyai perasaan sedikit pun. Dia berusaha mencelakai Ashina, Venus dan semuanya. Aku harap keputusan terbaik bisa kau ambil Luc." Ucap Luna Ashley.
"Kalian akan mendengar keputusan itu nanti sore, sekarang kita beristirahat untuk beberapa waktu. Mom dan Dad juga terlihat sangat letih karena terjaga semalaman, aku meminta maaf karena menjadi Alpha yang belum sepenuhnya mengendalikan lawan." Kata Lucien.
Tangan Alpha Drey menepuk pelan bahu anak lelaki pertamanya tersebut. "Kau sudah melakukan yang terbaik untuk Pack dan semua rakyat disini. Kita bangga kepadamu, terutama dengan keras kepala Mate-mu yang berhasil menghilangkan sihir Ambarita." Ujar Alpha Drey sembari tersenyum tipis.
Ashina menundukkan kepalanya malu, lalu Lucien menatap kearah Ashina sambil tersenyum tipis juga. "Dia memang gadisku yang sangat pemberani!" ucap Lucien sambil merangkul tubuh Ashina.
Pipi gadis itu seketika mengeluarkan semburat berwarna jambu merah karena menahan malu. "Kalian berlebihan," kata Ashina dengan nada pelannya.
Semua orang tertawa mendengar nada Ashina yang seperti itu. "Baiklah, kita akan istirahat dan kembali berkumpul sore nanti. Kalian juga harus tidur, jangan macam-macam, kasihan Ashina butuh istirahat." Ujar Alpha Drey seperti menangkap gelagat yang akan dilakukan Lucien.
Alpha Drey dan Luna Ashley berdiri bangkit. "Ingat Luc, suruh Ashina tidur!" sahut Luna Ashley sambil tertawa geli.
"Mom!" kesal Lucien namun tak dipungkiri juga lelaki itu malah ikut tersenyum.
Akhirnya mereka berdua pergi dengan tawa yang masih terdengar. Tinggallah Ashina dan Lucien saat itu juga, ah lupa. Ada Mars yang terbaring disofa panjang namun cukup jauh dari posisi mereka.
Lucien menatap Ashina. "Ayo istirahat," ajak Lucien.
"Tidak usah, dia sudah terbiasa tidur dimanapun. Ayo!" kata Lucien sambil menarik tangan Ashina menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
Sesampainya didalam kamar, Lucien langsung menutup pintu dan menguncinya. Ashina langsung duduk dipinggir kasur, disusul oleh Lucien yang terduduk disampingnya.
Lelaki itu merentangkan kedua tangannya untuk meregangnya otot-ototnya. "Apa semalam sangat melelahkan?" tanya Lucien setelah meregangkan ototnya.
"Sangat melelahkan, aku baru berada disituasi seperti ini. Kau tahu, saat aku berada ditengah medan perang, Kelvana selalu menjagaku dan memberi arahan. Saat itu juga diriku yang lemah hilang begitu saja berganti dengan Ashina si gadis pemberani!" seru gadis itu bercerita.
Lucien tertawa pelan terus setia mendengar ocehan gadisnya tersebut. Dia sangat merindukkan moment ini lagi setelah berhari-hari berusaha mendiami Ashina.
"Saat aku mengendalikan sihir itu sangat keren, seperti buku fantasi yang aku baca. Aku begit--" ucapan Ashina terpotong saat bibir Lucien mendarat untuk membungkam mulut Ashina yang terus mengoceh tersebut.
Seketika badan Ashina menegang dan matanya melotot. Lalu didorongnya tubuh Lucien dan berkata. "Kenapa kau menciumku tiba-tiba?" protes Ashina.
"Aku hanya ingin menjalani hukuman untukmu." Kata Lucien.
"Kenapa aku harus dihukum? Bukankah aku sudah membantumu juga? Ini tidak adil!" tak terima Ashina.
"Tapi kau harus mendapatkan hukuman ini Ash, kau ingin tahu apa kesalahanmu? Pertama, saat aku berpura-pura dekat dengan Ambarita, kenapa kau terlalu dekat dengan Mars? Kenapa kau tak memperdulikanku padahal aku memancingmu untuk melihatku? Kenapa kau tak terlihat cemburu saat aku bersama perempuan itu? Apa kau berbohong soal mencintaiku?" tanya lucien beruntut membuat Ashina melongo mendengarnya.
"Kau tertular sifat banyak tanya-ku" ujar Ashina sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.
Lucien yang melihatnya merasa gemas sendiri. Lalu mendorong tubuh Ashina dan terjatuh diatas kasur, lelaki itu langsung menghujami Ashina dengan kecupan diseluruh wajah Ashina serta disela-sela pundaknya. Hal itu membuat Ashina tergelitik geli.
"Luc hentikan, apa yang kau lakukan?" kata Ashina dengan diselingi tawa karena merasa geli.
"Kau harus menerima hukumanku!" ucap Lucien.
"Ta-tapi Mom bilang kita harus tidur dan butuh istirahat, badanku juga sudah lelah sekali Luc!" ujar Ashina.
"Aku akan memberikanmu beberapa tenaga yang aku punya, tenang saja." Kata Lucien tak mau kalah. Karena tak ada alasan lagi, Ashina hanya pasrah apa yang dilakukan oleh Lucien namun tidak diluar batas karena mereka belum terikat pernikahan dan Lucien ingin menjaga perasaan Ashina yang belum siap untuk itu.
Pagi itu diawali dengan pasangan yang diselimuti oleh kehangatan dan cinta yang besar. Mudahnya, seberapapun maut dan orang yang ingin memisahkan cinta yang terbangun dengan dinding yang kokoh, maka mereka tak akan bisa merobohnya sampai waktu itu benar-benar datang untuk memisahkan mereka satu sama lain.
Pergunakan waktu berharga kita dari sekarang untuk orang-orang yang kita cintai.
//////////////////////
**To be continued.....
Hi guys kembali lagiii, semoga suka jangan lupa tinggalkan jejak like vote dan comment💚💚
See you next part🐺**