My Mine Is Human

My Mine Is Human
40. Drama



Author Pov


Mata Lucien terlihat nyalang menatap mereka berdua, hal itu membuat Luna Ashley yang menyadari langsung menenangkan sang Anak dengan menepuk pelan pundaknya.


"Kau tidak boleh mencari masalah dirumah orang," bisik Luna Ashley.


Sekilas Lucien melirik kearah Ashina, lalu menatap kearah samping dimana Luna Ashley berada. Perlahan lelaki itu masih bisa menurunkan emosinya, tentu saja dengan Serigalanya yang masih bisa dicegah oleh Lucien.


"Memang benar kenyataannya, aku yang membesarkan dia tahu sisi buruknya." Kata bu Meisha secara blak-blakan.


Hal itu membuat Ashina yang semula terdiam hanya mendengar kini menarik tangan Ibunya untuk sedikit menjauh dari keluarga Andreson tersebut.


"Apa sih!" kata bu Meisha sembari menghempaskan tangan Ashina dari pergelangan tangannya.


"Bukankah kita sudah janji jika hari inh tidak boleh mencari masalah denganku. Ini kesepakatan, kenapa Ibu melanggarnya?" ucap Ashina dengan nada pelan.


"Jika masalahnya seperti ini, kita batalkan kesepakatan itu!" ujar bu Meisha seraya pergi meninggalkan Ashina dan kembali bergabung.


Bu Meisha duduk kembali disamping Alissa, sesaat dia berdehem lalu berkata. "Baiklah, aku akan menyetujui jika putramu ingin menikahi anak itu," ujar bu Meisha seraya melirik kearah Ashina yang berjalan membawa minuman diatas nampan.


Gadis itu memberikan satu persatu gelas untuk mereka, lalu berdiri disamping bu Meisha. Matanya melirik kearah Lucien yang tengah serius menanggapi ucapan Ibunya.


"Namun dengan syarat," lanjutnya.


"Katakan saja." Beo Luna Ashley.


Senyum misterius terpancar jelas dibibir bu Meisha. "Kau harus memberiku uang 100 juta sebagai mahar putriku." Kata bu Meisha dengan nada percaya dirinya.


"Bu!" sentak Ashina merasa jika sang Ibu sudah kelewatan kepada keluarga Anderson. Dia sangat malu dan tidak enak hati sekarang dengan orangtua Lucien.


"Kenapa? Bukankah itu menguntungkan untuk kedua belah pihak? Aku mendapatkan uang 100 juta dan mereka mendapatkanmu untuk... Ya mungkin, nanti kau disana dianggap sebagai pembantu?" ucap bu Meisha.


"Yang Ibu katakan benar!" imbuh Alissa dengan bangganya.


Lucien mengepalkan tangannya kuat-kuat. Lalu diraihnya gelas yang ada dimejanya dan membantingnya dengan sangat keras hingga pecahan-pecahan gelas tersebut berceceran kemana-mana. Semuanya terkejut, terutama dengan Ashina yang sampai menutup mulutnya dan berusaha tak meneteskan air matanya.


Dia sangat takut jika kemarahan Lucien akan memburuk. Dia tidak bisa membayangkan nantinya seperti apa, terlihat lelaki bertubuh jangkung itu berdiri bangkit. Sekilas dia melirik kearah Ashina dengan tatapan yang berbeda dari tatapan biasanya, bisa Ashina rasakan jika itu bukan Lucien.


Lelaki itu menatap nyalang kearah bu Meisha dan Alissa yang sudah sedikit ketakutan dengan keadaan seperti ini. Disisi lain, keluarga Anderson tak bisa melakukan apapun lagi. Jika ditahan, maka bisa dipastikan amarah Lucien akan meledak.


"Apa kau bilang? Berani sekali kau mengatakan kepada gadisku dengan sebutan pembantu! Dia akan menjadi gadisku bagaimana pun juga! Jika kalian ingin mendapatkan uang 100 juta, tidak usah menghina gadisku seperti ini!" tekan Lucien disetiap katanya.


"Mars!" panggil Lucien, lelaki yang dipanggil namanya tersebut langsung bangkit dari tempat duduknya. "Pergi keluar dan ambil uang didalam bagasi mobil." Lanjutnya lagi.


Mars menuruti apa yang diucapkan kakaknya tersebut. Dia bergegas pergi dan mengambil uang yang sudah disiapkan, tak lama Mars datang dengan tas berisi uang yang mereka mau. Lelaki itu menyerahkan tasnya kepada Lucien.


Dilemparnya tas itu didepan mata bu Meisha dan Alissa. "Maaf jika perlakuan saya tidak sopan dengan kalian, tetapi kalian lah yang menginginkan seperti ini. Ambil uang itu dan berhenti mengolok-olok gadisku!" geram Lucien.


Langkahnya mendekat kearah Ashina. Gadis itu sudah menangis dalam diam, isakkan nya tak terdengar, membuat Lucien yang melihatnya merasa sakit yang amat dalam. Karena seorang Mate yang sudah menemukan pasangannya akan merasakan apa yang pasangan itu rasakan.


"Tunggu dulu!" kata bu Meisha. Seketika mereka berhenti bersama. "Ada yang ingin aku bicarakan terlebih dahulu sebelum kau membawa gadis tersebut." Sambungnya lagi.


Keluarga Anderson ikut berdiri, Venus memeluk tangan Luna Ashley karena gadis itu sangat tidak suka jika sudah disituasi seperti ini. Sudah seperti drama yang sering dia tonton bersama teman-teman kampusnya.


"Ashina," panggil perempuan lanjut usia tersebut sambil mendekat kearah Ashina. Tangan Lucien dan Ashina terlepas saat gadis itu menoleh kesumber suara sang Ibu.


"Kau tahu? Aku sangat senang hari ini. Pertama karena berkat dirimu aku mendapatkan uang banyak. Kedua, aku tidak akan muak setiap hari melihat wajahmu dirumah ini, dan..." ucapan bu Meisha seolah sengaja digantung sebelum kembali berkata.


"Aku harap kau tidak balik lagi kerumah ini, karena aku benar-benar muak denganmu!" sambungnya.


Tangan Ashina terkepal kuat, walaupun dia berusaha mati-matian menahan. Namun kali ini Ibunya terlewat batas, selangkah Ashina mendekat kearah sang Ibu. Dengan tatapan tajamnya, Ashina berkata.


"Ibu tahu, saat aku sudah mendapati kekerasan setelah Ayah meninggal, apa aku pernah marah balik denganmu? Jika tidak ada aku, apa kalian bisa hidup sampai sekarang? Ingat bu, aku tidak dendam denganmu. Tetapi aku sangat menyayangkan caramu memilih kasih dengan adikku sendiri, mungkin aku bisa membencimu atau justru memaafkanmu?" kata Ashina panjang lebar. Kini segala rasa sakitnya harus dia luapkan sekarang. Dia pun bisa muak dengan siapa saja.


Satu tamparan mendarat mulus dipipi Ashina. "TAK TAHU DIRI!" teriak bu Meisha, lalu menjambak rambut Ashina hingga gadis itu kehilangan keseimbangan.


"Ashina!" kata mereka serempak mengkhawatirkan kecuali bu Meisha dan Alissa.


"Apa lagi bu? Kau ingin menamparku lagi sebelum aku benar-benar pergi? Lakukan saja sebelum aku benar pergi dan kau akan merindukan menampar pipiku!" teriak Ashina tak ingin kalah.


"PERGILAH, AKU SUDAH TAK MEMBUTUHKANMU!" amarah bu Meisha sembari mendorong keras tubuh Ashina kebelakang. Untungnya Lucien berhasil menangkap tubuh Ashina.


Gadis itu terisak, wajahnya sudah tak karuan karena air mata dimana-mana. Luna Ashley berlari kearah Ashina untuk memeluk menenangkannya.


"Kau sudah keterlaluan nyonya!" angkat bicara Alpha Drey. "Jika kau ingin Ashina keluar dari rumah ini, biarkan dia keluar. Tidak usah dengan kekerasan, aku bisa saja menuntut ini kepengadilan atas kekerasan terhadap anak sendiri!" ancam Alpha Drey tak main-main.


Seketika nyali bu Meisha menciut. Itu membuat Ashina mendongakkan kepalanya. "Alissa, aku akan pergi. Dan aku harap kau lebih dewasa dan cepatlah cari kerja. Karena aku yakin uang itu akan cepat habis." Katanya sebelum melangkah pergi keluar bersama Luna Ashley dan Venus.


"ANAK SIALAN, AKU HARAP KAU BENAR-BENAR MATI!" teriak murka bu Meisha. Hal itu membuat Alissa harus menenagkan sang Ibu.


Satu tamparan mendarat dipipi perempuan tersebut. "Oh maaf, tanganku sangat gatal ingin menampar pipimu Nyonya." kata Mars sebelum melangkah pergi menyusul keluarganya yang sudah keluar duluan.


Bu Meisha berteriak keras karena hal itu. Ditutupnya pintu rumah dengan sangat keras, sedangkan diluar Ashina masih ditenangkan oleh Luna Ashley didalam mobil.


"Semua akan baik-baik saja." Bisik Luna Ashley, saat mobil tersebut berjalan meninggalkan rumah Ashina.


Hari yang penuh drama!


\\\\\\\\\\\\\\\\\\


**To be continued.....


Kesel gak? Dapet feel nya gak😭 semoga suka, maaf kemarin gak up karena lupa hehe soalnya keterusan nonton series(aduh curhat) oke deh semoga suka, jangan lupa like vote dan comment buat dukung cerita ini💚💚


See you next part🐺


*Wawaaaa 。◕‿◕***。