
Author Pov
Acara pun selesai dengan berjalan lancar, waktu sudah menunjukkan dini hari tepat jam 1 malam. Keluarga Anderson sudah kembali istirahat dikamarnya masing-masing, begitu pula dengan Ashina dan Lucien. Mereka satu kamar karena itu hal yang wajar bagi pasangan Werewolf.
Ya, ini wajar. Jika Ashina adalah seorang Werewolf sudah dipastikan Lucien akan menandainya sejak awal sebagai kepemilikan. Namun kembali lagi pada takdir, Ashina adalah Mate Lucien yang berwujud manusia biasa. Dia tidak bisa gegabah dalam mengambil tindakkan yang mungkin bisa mengakibatkan kesalah pahaman diantara mereka berdua.
Sejak saat itu, Lucien mati-matian menahan hasratnya agar tak terpancing oleh bau tubuh Ashina yang setiap malamnya membuat Lucien kewalahan. Untung saja dirinya masih bisa mengendalikan dirinya sendiri dan Zerky Wolf nya.
Mereka berdua selesai membersihkan badannya masing-masing dan berganti pakaian dengan pakaian biasa untuk tidur. Kali ini Ashina sudah memiliki baju sendiri karena sudah dibelikan oleh Lucien dan Luna Ashley. Dia sangat senang mendapatkan baju-baju baru yang sangat bagus, walaupun dia tak enak hati karena sudah merepotkan mereka, namun akan sangat salah lagi jika Ashina menolak pemberian mereka dan membuat mereka sedih.
"Pergilah tidur jika kau sudah selesai," ujar Lucien sambil melihat-lihat berkas kerja untuk dilakukannya besok.
Ashina melakukannya tanpa menjawab. Gadis itu membaringkan tubuhnya dikasur berukuran besar dengan kasur yang sangat lembut. Tubuhnya sangat capek hari ini, dia perlu meregangkan otot-ototnya dan banyak istirahat agar besok kembali enakkan lagi.
Namun beberapa kali Ashina mencoba tidur dan mengubah posisinya namun tak kunjung tidur juga. Akhirnya gadis itu kesal sendiri, lalu melirik kearah Lucien yang masih menyibukkan diri dengan berkasnya dimeja kerjanya.
"Luc," panggil Ashina dengan pelan.
Lelaki itu langsung mendongakkan kepalanya menatap Ashina. "Kau belum tidur?" kata Lucien.
Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tak bisa tidur," ucapnya. "Apa kau masih sibuk?"
"Tidak juga, hanya mengecek beberapa berkas saja." Ucap Lucien dengan menutup berkas tersebut dan berjalan kearah pinggir kasur tempat Ashina berbaring.
"Kau ingin apa?" tanyanya lagi sembari mengusap pelan rambut Ashina.
"Tidurlah denganku, aku ingin tidur sambil memeluk tubuhmu. Apa aku boleh meminta itu?" ucap Ashina dengan takut-takut.
Hal itu membuat Lucien merasa gemas. Lalu lelaki itu berdiri bangkit dan memutari tempat tidur tersebut dan tidur disamping Ashina, tangannya mengarahkan kepala Ashina agar diatas dada bidangnya. Lalu mereka berpelukan dengan wajah Ashina yang sedikit ditenggelamkan didada bidang milik Lucien tersebut.
"Tidurlah, tubuhmu pasti sangat lelah." Kata Lucien sambil mengecup pelan kepala Ashina.
"Luc, apa aku boleh bertanya padamu?" ucap Ashina.
"Ya tentu saja." Balas Lucien sambil terus memainkan rambut lurus milik Ashina.
"Setahuku seorang Werewolf jika menemukan Mate nya dia langsung menandai sebagia kepemilikan. Eee... apa kau juga ingin seperti saat bertemu denganku?" tanya Ashina dengan nada gugupnya dan juga sedikit ragu. Namun pertanyaan itu harus dijawab bagaimanapun.
Lelaki itu tertawa pelan. "Tentu saja," jawab Lucien yang membuat detak jantung Ashina berhenti sesaat.
"Tentu saja aku pernah memikirkan hal itu untuk menandaimu secepatnya, kau tahu saat pertama kali kita bertemu dirumah sakit Pack ini? Aku tiba-tiba mencium bibirmu tanpa sebab. Itu karena dorongan dari Wolf-ku karena dia sangat bahagia bahwa aku dan Zerky menemukan Mate," ucap lagi Lucien panjang. Ashina setia mendengarkan cerita Lucien yang masih berlangsung.
"Tapi saat aku tahu kau hanya manusia biasa. Aku sempat berpikir, mungkin aku akan meninggalkanmu atau masuk keduniamu untuk memahami hal apapun yang kau suka. Ternyata kau gadis yang pekerja keras dengan tubuh kecil seperti ini, haha." Lanjut Lucien tertawa kecil diakir ucapannya. Sebuag pukulan kecil mendarat didada Lucien.
"Biarpun tubuhku kecil, tapi aku bisa mencari uang sendiri!" protes Ashina.
Lelaki itu menghentika tawanya. Namun senyumnya tidak. "Ya, ya.. Aku tau itu, maka dari itu aku sangat bangga dengan sifat kerja kerasmu. Apalagi ditambah sifatmu juga sedikit keras kepala," katanya mengejek Ashina kembali.
"Aku hanya bercanda. Kau tahu, seorang manusia biasa menerima manusia setengah serigala itu adalah keputusan yang sangat sulit. Aku sangat senang saat mendengar keputusanmu untuk menjadi Mate-ku seutuhnya, kau tahu. Aku menyiapkan kata-kata tadi penuh dengan perasaanku untukmu, dan aku tak menyangka jika kau akan menangis seperti itu." Cerita Lucien dengan sangat panjang.
"Bagaimana aku tidak menagis, kau orang yang sangat kaku bisa menjadi romantis seperti itu," ucap Ashina sedikit meledek.
"Jangan meremehkan kemampuanku!"
"L-lalu, bagaimana dengan kita yang sudah satu kamar? Kau tidak pernah melakukan apapun denganku selain tidur dengan memeluk." Ucap Ashina lagi.
Lucien menghela nafasnya. "Jika kau ingin tahu, aku adalah orang yang paling tersiksa saat sudah malam hari. Melihatmu tidur diatas kasurku membuatku ingin menerkammu saat itu juga, apalagi dengan Zerky yang semakin hari semakin ganas akan ini. Maka dari itu aku memutuskan untuk mempercepat acara ini. Namun balik lagi dengan dirimu," kata Lucien.
"Dengan diriku?" ujar Ashina bingung.
"Ya, walaupun nanti kita sudah menikah bukankah aku harus melihat apa kau sudah siap atau belum untuk aku tandai." Ucap Lucien.
Bagaimana bisa Ashina menemukan lelaki sebaik dan sesayang ini dengan dirinya? Kenapa Lucien sangat menjaganya walau didalam tubuh Lucien yang lain meronta untuk menandai Mate nya? Hal itu membuat Ashina tersentuh.
"Luc, kau tahu. Jika itu sudah menjadi tradisi untuk para Werewolf, kenapa kau tidak melakukannya?" tanya Ashina lagi untuk kesekian kalinya.
Lelaki itu mengecup kening Ashina sebelum menjawab. "Aku ingin Mate-ku berkata 'siap' untukku. Karena aku tak ingin melukai perasaanmu atau pun tubuhmu tanpa persetujuan kamu, sweetheart." Jawab Lucien dengan begitu manis.
"Kau malam ini terlalu manis Luc, aku menyayangimu." Ujar Ashina tanpa sebab lalu memeluk tubuh Lucien semakin erat.
"Ya, aku tahu itu. Aku juga sangat mencintaimu, kalau begitu mari kita tidur."
"Satu pertanyaan lagi," ucap Ashina.
Lucien lagi-lagi menghembuskan nafasnya berusaha sabar dengan gadis banyak tanya ini. "Apalagi?" katanya berusaha bersabar.
"Kau memiliki Mate sebelum bertemu denganku kan, lalu bagaimana kau bisa yakin jika me-reject sepihak tidak bisa untuk kembali bersama? Aku mendengar cerita Werewolf jika mereka bisa saja ber--" ucapan Ashina terpotong saat bibir Lucine membungkam bibirnya.
Ciuman itu sangat singkat. "Tidurlah, jangan bertanya lagi." Putus Lucien.
Ashina terdiam, lalu menurut saja dan melupakan pertanyaan dirinya tadi. Lambat laun rasa kantuk mereka berdua mulai menyerang dan mimpi pun mulai menjemput mereka berdua.
\\\\\\\\\\\\\\\\
**To be continued.....
Hi guys welcome back hehe. Semoga suka, gak ada cerita hari ini. Jangan lupa like vote dan comment biar author semangat up❤️
Eh ada pertanyaan deh🤣 kalian suka genre horror gak? Jangan lupa comment ya, aku mau tahu.
See you next part guys
Enjoy for reading's💚💚**