My Mine Is Human

My Mine Is Human
37. Oh My Girl!



Author Pov


"Bicaralah!" timpal Mars yang juga ikut gemas melihat tingkah mereka berdua.


Dengan ragu-ragu, Ashina membuka suaranya dan menyapa. "Hai, Luc!"


Bukannya menjawab, lelaki itu hanya terdiam. Matanya menatap kepada keluarga yang melihat mereka berdua, tatapan nyalangnya diberikan dengan senang hati oleh Lucien. Dengan kompaknya mereka langsung mengalihkan pandangan untuk menghindari tatapan tajam Lucien.


Lelaki tersebu kembali menatap Ashina. Namun setelahnya, dia pergi begitu saja keluar dari rumah. Ashina yang melihat hal itu merasa jika Lucien benar-benar sedang marah dengannya saat ini.


Luna Ashley dan Venus menghampiri Ashina yang menundukkan kepalanya, gadis itu berusaha untuk tak menjatuhkan air matanya didepan keluarga Lucien. Dia tidak boleh terlihat lemah seperti ini.


"Ash, apa kau baik-baik saja? Maafkan tingkah Lucien terhadapmu ya," kata Luna Ashley dengan nada tak enak hatinya.


Kepala Ashina mendongak, terlihat jika Ashina harus memaksakan senyumannya. Gadis itu menggelengkan kepalanya sembari berkata. "Tidak apa-apa Mom, aku baik."


"Memang dasar! Kak, kalau begitu kejarlah dia. Jika dia masih mendiamimu, aku akan membantumu untuk memusuhi kakakku sendiri!" ucap Venus dengan kesalnya.


Tawa Ashina terdengar pelan. "Kau ini tidak boleh memusuhi saudara sendiri, aku akan menyusulnya. Ini juga salahku," kata Ashina sambil pamit untuk mengejar Lucien yang sudah berada didepannya.


Dengan berlari kecil, Ashina menyusul langkah Lucien yang sudah berada jauh didepan matanya. "Luc, tunggu aku!" kata Ashina berteriak dengan lari yang semakin kuat.


Setelah langkahnya seimbang dengan Lucien, mereka bertepatan dengan Lucien yang masuk kedalam ruangan kerjanya. Sebelum membuka pintu, Ashina menahan pembuka pintu tersebut agar Lucien tak masuk terlebih dahulu.


"Kau ini kenapa?" tanya Ashina dengan nafas tersengal-sengal.


Lagi dan lagi Lucien hanya menjawabnya dengan kebisuan. "Kau marah padaku? Kenapa kau tak ingin bicara denganku? Jawablah Luc!" paksa Ashina.


Dengan wajah datar, Tangan Lucien menghempaskan tangan Ashina yang memegang pembuka pintu tersebut. "Menepilah!" katanya dengan nada dingin.


Entah seperti sihir atau apa, Ashina menurut hal itu. Dia sedikit bergeser agar Lucien bisa masuk kedalam. Namun gadis itu juga ikut masuk kedalam ruangan kerja Lucien, langkah lelaki itu terhenti saat pintu tersebut tertutup dan Ashina ada didalam bersamanya.


"Kenapa kau ikut masuk? Keluarlah!" perintahnya sambil membelakangi tubuh Ashina.


Dengan langkah kesal, Ashina menghentak-hentakkan kakinya dan kini berhadapan dengan Lucien. Sesaat gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam, lalu dikeluarkannya secara perlahan lewat mulut. Entah keberanian dari mana Ashina menatap dengan wajah menyolot seolah ingin mengajak Lucien baku hantam. (wkwk gitu deh)


"Kau ini bukan anak kecil lagi, kenapa kau marah padaku seperti anak TK yang tengah merajuk tidak kebagian permen saja!" ocehnya dengan nada kesal.


"Jawablah Luc, aku butuh jawabanmu! Kita selesaikan masalah ini. Apa kau marah padaku? Apa aku berbuat salah padamu? Bicaralah agar aku tahu apa yang terjadi!" luapnya semakin menjadi-jadi. Lucien kali ini benar-benar seperti anak kecil yang tengah merajuk saja.


"Aku tak apa-apa." Jawab enteng Lucien.


"Kau!" tekan Ashina. Lagi-lagi gadis itu menahan emosinya. "Jika kau tak apa-apa, maka bicaralah denganku lagi." Lanjutnya menurunkan intonasi suaranya.


"Bukankah kita sudah bicara sedari tadi?" ucap Lucien seolah-olah ini adalah hal biasa.


Langkah Ashina semakin menyapu jarak diantara mereka, membuat Lucien sedikit kebingungan sekaligus merasa was-was. "Ash, kau ingin apa?" tanya Lucien.


Jarak mereka semakin menipis, kini wajah mereka sangat dekat sehingga hidung mereka berdua saling bersentuhan. Seperti dorongan, Ashina tiba-tiba mencium bibir Lucien dengan memejamkan matanya. Tentu saja hal itu membuat mata Lucien membelalak.


Apa ini sungguh Ashina gadis yang dia kenal polos? Kenapa dia berbeda hari ini. Beberapa detik terlewatkan, bibir mereka masih bersentuhan, hanya sentuhan tanpa lebih. Lalu tiba-tiba tangan Lucien mendorong tubuh Ashina agar menjauh.


"Kau ini kenapa?!" kesal Lucien sekaligus bingung.


"Itu yang kau inginkan, bukan? Sebuah jawaban? Jika aku menciummu kau tahu apa jawaban sebenarnya. Aku pergi dulu, sudah muak meladeni dirimu seperti ini!" ucap gadis tersebut.


"Aku merindukanmu, tolong jangan pergi dariku." Kata Lucien dengan nada pelan dan seraknya. Membuat bulu pundak Ashina meremang.


"L-Luc, le-lepaskan pelukanmu." Gagap Ashina sambil berusaha melepas tangan kekar Lucien yang melingkar dipinggang rampingnya.


"Tidak akan," kata Lucien sembari menaruh dagunya dipundak Ashina. Dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh dari Matenya tersebut, Lucien sangat merindukan aroma ini. Aroma dari Matenya yang membuat dia mabuk.


"Kau sudah memancing Alpha Moon Stone Pack, Mrs.Ashina. Kau akan bertanggung jawab akan hal ini." Lanjutnya dengan senyuman smirik.


"Luc, aku hanya bercanda." Kata Ashina mencoba terus melepaskan.


"Jika kau bercanda. Kenapa kau menciumku? Itu ciuman yang aku rasakan adalah banyaknya cintamu untukku, kalaupun kau bercanda. Maka aku akan serius." Ungkapnya. Lalu lelaki itu melepaskan pelukannya.


Saat Ashina ingin menjauh dan berbalik, tubuhnya kembali berdekatan dengan Lucien. "Kau bilang ciumanmu adalah jawabanmu sebenarnya bukan?" tanya Lucien, gadis itu mengedip pelan.


Lalu Lucien kembali berkata. "Jika ciuman aku artikan sebagai jawaban Iya, maka kau bersedia menjadi Mate ku seutuhnya bukan?"


"Jika kau sudah mengerti, maka menjauhlah sedikit dariku Luc!" kata Ashina sambil mendorong.


"Tidak akan, ayo duduk." Ajak Lucien menarik tangan Ashina agar duduk disofa panjang yang tersedia diruangan tersebut.


Nampak lelaki itu berubah sifatnya. Yang tadinya diam dan dingin kepada Ashina, kini seperti bayi yang sangat manja dengan Ibunya. Ah Ashina memiliki bayi besar sekarang?


"Lucien, mneyingkirlah. Tubuhmu sangat berat! Duduklah dengan baik." Kesal Ashina saat Lucien terus-terusan memeluknya dari samping.


"No, baby. Aku sangat sangat merindukanmu, kau tahu? 1 minggu aku tak bertemu denganmu!" ucap Lucien dengan nada campurnya.


"Salah siapa sok marah kepadaku? Dasar," sindir Ashina.


Mereka sesaat terdiam. Entah sedang melepas rindu atau bagaimana, namun tiba-tiba pelukan Lucien terlepas. Lelaki itu menatap Ashina dengan dalam.


"Ash, apa aku boleh meminta sesuatu? Tapi kau harus berjanji meng-iyakan permintaanku ini." Ucap Lucien.


Ashina berdecak kesal. "Itu sama saja kau meminta namun memaksa. Baiklah, katakan saja." Kata Ashina tanpa basa-basi.


"Bolehkah aku menciummu lagi?" pintanya.


"Tidak,"


"Tapi kau sudah bilang jika kau harus menyetujuinya!" protes Lucien.


"Ah baiklah, kenapa kau harus meminta izin ter---" ucapan Ashina terpotong oleh mulut Lucien yang sudah ******* bibir Ashina dengan lembut, namun makin lama ciuman itu semakin menuntut lebih.


Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun ini juga keputusan Ashina untuk tetap berada disisi Lucien, apapun lelaki itu berasal dia tidak ingin kehilangannya. Dia butuh orang yang selalu menghangatkan hatinya, tidak seperti keluarganya sendiri. Ini keputusan Ashina untuk masa depannya, berharap jika ini memang takdir yang terbaik.


\\\\\\\\\\\\\\\\\\


**To be continued....


Hay, up lagi. Hayoloh ini bakalan makin manis eps nya hahaha, aku bakalan up cepet biar cepet ending juga😂 semoga suka guys


Jangan lupa tinggalkan like vote dan commentnya💙


See you next part🐺**