My Mine Is Human

My Mine Is Human
21. Ungkapan rasa



Ashina Pov


"Luc?" panggilku tepat didepan pintu kamarnya.


Lelaki yang aku panggil namanya tersebut mendongak dan menoleh kearahku, dengan wajah memerah entah karena malu atau marah, Lucien berdehem pelan.


"Ingin apa kau kemari?" tanyanya dengan anda dingin.


Pertanyaan Lucien seketika membuatku berpikir, apa yang ditanyakan oleh Lucien benar. Untuk apa aku datang kekamarnya? Kenapa aku malah menurut saja disuruh kemari, oh astaga aku masuk dikamar orang dan kamar ini kamar Lucien!


"A-aku ke-kesini, apa kau marah padaku?" tanyaku tergagap sendiri.


Lucien bangkit dari sofa yang berada dikamarnya tersebut, kaki jenjangnya berdiri tegak hingga tubuh tinggi Lucien menjulang. "Masuklah," katanya.


Dengan langkah ragu dan tak yakin, akhirnya aku berani masuk kedalam kamarnya. Pintu kamar Lucien ku biarkan terbuka, karena aku tak ingin jika keluarga maupun orang yang berada dirumah besar ini salah paham dengan kami.


"Tutup pintunya." Ujarnya lagi dengan dingin.


"Tapi, terbuka lebih baik untuk menghindar kesalahahaman." Kataku dengan sedikit gemetar.


"Aku bilang tutup pintunya!" bentaknya sedikit menaikkan nada suara dari yang tadi.


Aku bergeming ditempat, seperti kaku untuk menuruti perkataan lelaki didepanku ini. Namun Lucien terlihat melangkahkan kakinya dengan cepat lebih dekat denganku, lalu tangan kanannya mendorong tubuhku hingga terpentok didinding kamar, bertepatan tangan kirinya menutup pintu kamat tersebut.


Mendapati hal tersebut, aku membelalakkan mataku tak percaya. "Lu-Luc, ka-kau ingin a-apa?" tanyaku semakin tergagap.


"Kenapa? Kau takut denganku? Kau takut akan aku makan atau kau takut ingin aku makan dengan cara lain?" tanyanya beruntutan dan pertanyaannya terakhirnya membuatku berpikir ambigu.


Aku hanya terdiam, entah apa yang harus aku jawab. "A-aku disini hanya disuruh oleh adikmu untuk membawamu kembali keruangan tamu, ayo. Pasti mereka sudah menunggu." Kilahku sambil memaksa melepaskan kurungan Lucien.


Bukannya menjawab, lelaki itu malah menarik pinggangku dan kita semakin berdekatan. Kedua tangan kekarnya melingkar sempurna dipinggang kecilku, wajahnya dia taruh diatas pundakku, hembusan hangat dari nafas Lucien membuat bulu leherku meremang geli.


"Luc, le-lepaskan aku," pintaku dengan gemetar.


"Sebentar saja." Ucapnya yang kali ini nada bicaranya tak sedingin tadi. Lembut dan tulus.


Bukannya aku menolak, namun tubuh ini malah tak bisa berbuat apa-apa. Seolah hati dan pikiranku berbeda pendapat saat itu, selang beberapa menit, akhirnya Lucien melepaskan pelukannya namun kedua tangannya tak berubah sama sekali.


"Ash," panggilnya dengan nada serak.


Aku yang dipanggil dengan nada seperti itu mendadak deguban jantungku bertambah dua kali lipat lebih cepat. Kenapa suara dia harus seperti itu!


Aku tak menjawabnya, namun lelaki itu kembali memanggil. "Ash, Ashina!" katanya sedikit menekan.


"Ya?" sahutku dengan nada kecil.


"Angkat wajahmu, lihat kearahku!" suruhnya sambil mengangkat daguku dengan tangan kanannya secara pelan.


Mata kita saling bertemu, kilatan mata berwarna biru dan merah silih berganti. Kini walaupun aku sudah mengetahuinya, namun tetap saja aku masih takut akan kenyataan ini.


"Jadilah gadisku," ucapnya sambil membelai pelan wajahku, tersirat dari wajahnya ucapan itu tulus dari hati. Aku yang mendapati ucapan seperti itu bingung seketika.


"Apa maksudmu?" tanyaku masih tak paham.


"Jadilah gadisku, Mateku, Luna diPack ini, dan Ibu dari anak-anakku kelak." Jelasnya secara rinci dan mata berbinar tulus.


Seketika tubuhku menegang, apa dia tengah melamarku saat ini? Kenapa situasi ini seperti mimpi? Ah benar ini pasti mimpi.


"Luc, apa kau sedang ada dimimpiku saat ini?" tanyaku dengan bodohnya saat itu.


Lelaki itu berdecak pelan, namun tangan kanannya mengacak pelan rambutku dengan gemas? "Ini nyata, tidak mimpi. Apa kau ingin membuktikannya jika ini bukan mimpi?" tanyanya dengan wajah yang misterius.


Karena aku tipikal perempuan yang gampang waspada, aku segera melototkan mataku. "Tidak, tidak. Aku tahu apa yang ingin kamu buktikan padaku, tak usah!" tolakku dengan cepat.


Lucien tertawa pelan, entah kenapa aku suka melihatnya tertawa. Seperti berlipat-lipat kali lebih tampan dari biasanya, ah bicara apa aku ini? Lupakan! Aku sedang tidak memujinya.


"Kau ingin mencium bibirku bukan?!" tebakku dengan memicingkan kedua mataku waspada.


Lagi-lagi, lelaki tersebut tertawa. Tawanya kali ini seperti sangat bahagia. "Kenapa kau tertawa? Aku sedang tidak melucu." Ucapku kesal sendiri.


"Kau sangat menggemaskan Ash, aku tidak ada niatan ingin mencium bibirmu," katanya lalu menghentikan ucapannya sebentar. Sedangkan wajahku sudah dipastikan memerah karena malu. "Tapi, jika kau mau. Aku siap melakukan hal itu." Sambungnya.


Satu layangan cubitan kecil aku berikan kepadanya. Enak sekali dia berkata sevulgar itu dihadapanku, dasar lelaki cambul!


Aku langsung mendorong tubuhnya dengan kuat, lalu menarik knop pintu. Namun tidakkan Lucien lebih cepat dari yang aku bayangkan. "Kenapa kau sangat terburu-buru. Pertanyaanku saja belum kau jawab," katanya. Apa perlu aku jawab dalam situasi seperti ini? Lagian ini sama sekali tidak romantis jika dia benar sedang melamarku.


"Aku tidak bisa jawab sekarang!" ketusku.


Terdengar lelaki itu menghembuskan napasnya pelan. Lalu tangannya kembali menarik tanganku dan kini kita berdekatan kembali.


"Kalau begitu, biarkan aku mengambulkan tebakanmu tandi," ujarnya.


Aku mengerutkan dahiku bingung. "Tebakanku yang mana?" kataku.


"Yang ini," ucapnya lalu dengan cepat bibirnya mendarat dibibirku. Aku terkejut dan melototkan mata, tubuhku tegang seketika.


Aku sedikit memberontak, namun Lucien malah ******* pelan bibirku. Terdengar lelaki itu menggerang pelan ditengah ciumannya. Sedangkan aku terus memberontak agar minta dilepaskan.


Saat lumatan Lucien semakin menjadi-jadi, tiba-tiba suara ketukkan pintu dan suara seseorang berhasil menyelamatkanku dari lelaki cabul ini!


"Kak, apa kalian masih hidup didalam? Kita tengah menunggu, cepatlah." Teriak suara seorang perempuan yang aku yakini jika itu adalah adik kembarnya Lucien.


Seketika ciuman lucien berhenti, lalu wajah lelaki tersebut terlihat kesal dan berdecak. "Sebentar lagi," jawabnya menaikkan suara tingginya. "Kau menggangu saja!" katanya lagi.


Aku melototkan matanya, apa maksud dari kata menggangu tersebut? Apa adik Lucien tidak akan berpikiran macam-macam?


"Memang kalian sedang apa?" tanya gadis tersebut yang aku ingat bernama Venus.


"Kita sedang--" aku langsung membekap mulut Lucien dengan tangan kananku.


"Sebentar lagi kita akan kesana, tunggu lima menit lagi." Kataku sedikit menaikkan suaranya agar terdengar.


"Oh baiklah, aku pergi dulu." ucapnya. Dirasa Venus sudah melangkah menjauh dari pintu. Aku langsung melepaskan bekapan tanganku.


"Kau ini!" sinisku kesal.


"Kenapa?" tanyanya seperti berpura-pura tak tahu.


"Ah sudahlah, bicara denganmu tidak ada ujungnya, menyebalkan!" gerutuku.


Saat aku ingin melangkah keluar, tanganku dicekal kembali. "Ck, apa lagi?" tanyaku kesal.


"Aku hanya ingin mengecup bibirmu sekali saja," ucapnya lalu mengecup sekilas bibirku. "Aku akan mandi sebentar, kau tunggu diruang tamu. Atau jika mau kau tetap dikamarku," ucapnya lagi.


"Enak saja!" ujarnya sambil melangkah keluar dari kamar Lucien.


"Tunggu aku mandi, jangan pulang dulu!" teriak Lucien yang tak aku pedulikan sama sekali.


Aku melangkah cepat menuju ruang keluarga. Ini seperti kesialan atau apa aku masuk kedalam kamar Lucien, tapi ciuman ini. Seperti.... ah sudahlah lupakan!


**TO BE CONTINUED....


*Hi guys, maaf baru up hehe. Gimana masih setia dan nunggu cerita ini up kan? Jangan lupa kasih like vote dan comment biar author semangat up.


Oh iya guys, minal aidzin wal faidzin ya bagi yang merayakan🙏❤️***


See you next part guys🐺