My Mine Is Human

My Mine Is Human
70. Berbincang



Author Pov


Saat Ashina dan Lucien masuk kedalam rumah, terlihat jika keluarga besar Lucien berkumpul seperti sedang menunggu mereka berdua untuk bergabung disana. Luna Ashley yang melihat kedatangan mereka langsung memanggilnya.


"Luc, Ash, kemarilah." Kata Luna Ashley.


Mereka berdua menghampiri dan duduk di sofa yang masih kosong. Saat mereka duduk dan masih dalam keadaan bingung, Alpha Drey membuka suara.


"Kalian sudah lama bertunangan dan menjalin ikatan seperti ini, namun lebih baik lagi jika pernikahan pun segera dilaksanakan. Bukannya apa-apa, aku hanya takut jika hubungan kalian akan terjadi sesuatu kembali dan berujung dengan harapan yang tidak ingin kita lihat." Ujar Alpha Drey panjang lebar.


Luna Ashley menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Suaminya. "Para tetua juga selalu menanyakan kapan kalian akan terikat sepenuhnya." Sahut Appa dengan nada beratnya.


Ashina yang menundukkan kepalanya kini terangkat dan menatap mereka semua. "Tapi..." ucapan Ashina menggantung.


"Kita tahu jika kau pasti belum siap akan ini. Tapi kau juga tahu tentang Werewolf pun dimana seorang Werewolf jika bertemu Matenya maka harus segera ditandai sebagai kepemilikkan, namun kita mengerti dan menghargai keputusanmu jadi..." ucapan Luna Ashley terpotong oleh Ashina.


"Maaf aku tidak sopan menyela pembicaraanmu Mom, aku mengerti apa yang kalian maksud saat ini," kata Ashina. Lalu gadis tersebut melirik kearah Lucien yang sedari tadi memegangi sebelah tangannya.


Ashina menatap Lucien, lalu tangan sebelahnya menggengam tangan Lucien.


"Aku minta maaf Luc karena membiarkanmu menunggu selama ini dan membuat aku seperti menggantungkan harapan. Aku senang mendapat keluarga seperti kalian yang sangat perhatian dan sayang kepadaku, jika kalian ingin pernikahan ini terlaksana aku akan menyetujuinya, karena didalam hidupku saat ini hanya ada Lucien dan kalian semua sebagai keluargaku." Lanjutnya begitu panjang.


Keluarga yang sedari tadi menyimak pembicaraan Ashina kini terlihat jelas wajah bahagia terpancar diwajah mereka masing-masing. "Ah aku sangat senang mendengarnya! Akhirnya aku memiliki kakak ipar seperti mu Kak!" heboh Venus sambil berdiri.


Semua orang tertawa. Alpha Drey menatap Ashina. "Aku tahu pasti keputusan ini sangat berat bukan? Menerima keluarga Werewolf yang berbeda dengan dirimu," ujar Alpha Drey.


Ashina yang diajak bicara tersebut menggelengkan kepalanya. "Tidak juga, tapi awalanya akupun ragu apa aku bisa menerima ini atau tidak. Dan mungkin ini sudah menjadi takdirku untuk menjadi Mate dari Lucien dan menghabiskan sisa hidupku dengannya." Jawab Ashina begitu sangat dewasa.


"Ash!" panggil Luna Ashley sembari merentangkan kedua tangannya tanda minta dipeluk. Ashina yang mengerti hal tersebut langsung menghamburkan pelukkannya.


Setelah perbincangan tersebut, Alpha Drey, Luna Ashley, Appa, Amma dan Mama Lily pergi menemui tetua untuk meminta tanggal yang baik untuk mereka. Rumah begitu masih heboh dengan kabar tersebut, begitu pun dengan seluruh Pack ini.


Malam hari pun tiba. Setelah makan malam selesai, Lucien dan Ashina pamit terlebih dahulu masuk kedalam kamar karena kondisi Ashina seperti lemah karena beberapa hari ini dia sangat sibuk.


Mereka berdua membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur berukurang king size tersebut. Kepala Ashina diletakkan diatas dada bidang Lucien, dan tangan lelaki tersebut merangkul pundak Ashina sebelah.


"Apa ada yang ingin kau bicarakan Ash?" tanya Lucien, karena hampir setiap hari sebelum tidur mereka sesempat mungkin saling bertanya apa ada yang mau diceritakan atau tidak.


"Luc, sebentar lagi kita akan menikah bukan? Kau tahu saat aku masih kecil aku selalu bercerita dengan Ayahku bahwa saat aku dewasa nanti dan menemukan pangeranku, aku akan memintanya mendekorasi pernikahan kita seperti istana," ucapnya lalu berhenti sejenak dan melanjutkannya kembali.


"Lalu Ayahku menjawab jika suatu hari nanti aku akan mendapatkan itu,"


"Ya, kau pasti akan mendapatkan itu Ash." Sela Lucien ditengah-tengah pembicaraan Ashina sembari tangannya terus mengusap pelan rambut Ashina.


"Aku bisa melihat itu nanti, aku senang mendapat mimpiku saat kecil bisa terwujud menjadi nyata. Tapi aku juga berkata kepada Ayahku jika aku menikah Ayah akan mendampingiku dan mengantarkanku di altar pernikahan, tapi Ayah tak menepati janjiku itu. Dia orang baik, makanya tuhan lebih menyayangi Ayahku 'kan?" lanjutnya.


Tak terasa air mata Ashina keluar begitu saja, entah mengapa dia lebih merindukan sosok Ayahnya yang penyayang daripada Ibu nya yang sudah melahirkan dia. Karena Ashina lebih merasakan cinta didekat Ayahnya dari pada sang Ibu.


Lucien yang merasakan bajunya sedikit basah pun langsung mengerti. Dia mengubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan Ashina dan merapatkan jarak mereka, mata kedua nya saling bertatapan dengan mata Ashina yang berkaca-kaca.


"Aku tahu kau pasti sangat merindukan Ayahmu. Kau juga harus tahu bahwa Ayahmu lebih sangat merindukan putri kecilnya yang manis dan keras kepala ini. Ayah pasti bangga melihat perjuanganmu sampai dititik ini, ingat ada aku dan keluargaku yang akan bergantian menjagamu di dunia ini. Jangan bersedih lagi, Ayahmu tidak akan kemana-mana karena Dia selalu ada didalam hatimu, mengerti?" kata Lucien berbicara dengan nada lembutnya.


Gadis tersebut mengangguk, lalu sedikit isakan tangis terdengar keluar. Namun Ashina tahan agar tak semakin menjadi-jadi. Gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Lucien dan menumpahkan semua air mata kerinduan untuk Ayahnya di dalam pelukkan hangat Lucien.


Lelaki itu terus menenangkan Ashina, sampai beberapa lama kemudian gadis itu tertidur dengan air mata yang masih meninggalkan jejak diwajahnya. Lucien sedikit memberi jarak agar Ashina mendapatkan udara lebih.


Disingkirkannya helaian rambut Ashina yang menutupi wajah cantiknya tersebut, dengan hati-hati agar tak membangunkan Ashina. Lucien menghapus sisa-sisa air mata Ashina dengan senyuman diwajahnya.


"Ash, aku akan selalu disisimu bagaimana pun juga kedepannya. Kau aman bersamaku, tak ada lagi kesakitan yang kau dapatkan diluar sana, karena aku akan selalu disampingmu dan tak akan membiarkanmu menangis selain menangis karena bahagia." Ujar lelaki tersebut dengan pelan. Lalu dia mengecup kening Ashina sebentar dan ikut menyusul tidur.


Nyatanya saat kita semakin beranjak dewasa memilih keputusan terbesar dalam hidup itu memang sulit, namun ingatlah kata-kata ini. Jalan masih begitu panjang menyudahi atau melanjutkan, ambil resiko atau hilang kesempatan, berani menyatakan atau mati penasaran. Kamu yang pegang kendali.


Begitulah yang Ashina lakukan saat itu juga, dia tidak ingin membuat Lucien merasa diberi harapan namun dirinya tak seperti memberi harapan. Ashina bertindak daripada menyesal dikemudian hari, masa depan siapa yang tahu? Entah lebih baik dari hari ini atau semakin lebih baik. Semuanya rahasia semesta.


\\\\\\\\\\\\\\\\\


**To be continued....


Yeay bentar lagi menuju wedding nih, siapa yang penasaran??? Berjalan lancar atau ada masalah lain yak😳 pantengin terusss. Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komen yang banyaaaaaakkkkkk biar author semangat up.


Semangatnya author itu saat para readers nya berkomentar tentang isi cerita ini, moodboster banget lho!!💙💙


See you next part guys🐺**