
Author Pov
Saat semua keluarga disuruh masuk kedalam rumah, Alpha Drey dan Mars masih berada ditaman tersebut. "Apa kau memiliki insting yang aneh dengan Lucien?" tanya Alpha Drey.
"Aku rasa seperti itu, jika kita lihat lagi. Kak Lucien tak semudah itu menerima mantra atau apapun yang Ambarita berikan kepadanya, yang kita tahu Dad kak Lucien tak selemah itu. Aku heran dengan ini." Jawab Mars dengan nada spontan.
Alpha Drey menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan anaknya tersebut. "Ya, yang kau katakan benar. Ini terasa janggal," kata Alpha Drey.
"Kak Lucien tidak hanya memiliki kekuatan sebagai seorang Werewolf saja, dia memiliki darah setengah vampire juga. Jika kita dipikirkan dengan baik-baik, kekuatan atau mantra apapun tidak akan bekerja sama sekali untuk tubuh kak Lucien." Ucap lagi Mars.
Kali ini Alpha Drey terkejut dengan yang diucapkan Mars. Ya, dia benar. Lucien tak mungkin semudah itu terperdaya oleh mantra yang diberikan Ambarita. Alpha Drey berdiri bangkit dari duduknya.
"Kita harus terus memantau. Kau dan Venus harus tetap menjaga Ashina, bagaimana pun dia akan menjadi bagian dari keluarga ini. Aku mempercayai tanggung jawabmu untuk Ashina saat Lucien lengah seperti ini," ujar Alpha Drey sembari menepuk pelan pundak Mars.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Mars.
"Kita ikuti saja setiap alur yang diberikan oleh perempuan itu. Dengan satu peringatan, kita tidak boleh lengah dengan sihirnya yang tiba-tiba dilayangkan. Ini sudah larut malam, sebaiknya kita istirahat." Kata Alpha Drey sambil memberi kembali tepukkan dipundak Mars sebelum melangkah masuk kedalam rumah.
Mars yang masih diluar ruangan itu menatap kearah langit malam hari yang dipenuhi oleh bintang-bintang. Saat lelaki itu ingin menghilngkan beban dipikirannya tiba-tiba suara ringisan seseorang terdengar tak jauh dari balik-balik semak.
"Siapa disana," kata Mars menaikkan sedikit suaranya.
Suara ringisan itu tiba-tiba hilang. Namun rasa penasaran Mars membuatnya tertarik mendekat kearah semak-semak belukar tersebut. Saat jarak itu sudah dekat, Mars langsung membuka antara kedua semak-semak belukar tersebut.
"Sedang apa kau disini?" tanya Mars saat mendapati Kelvana sedang mengaduh kesakitan dengan memegangi kakinya yang terluka.
"Sedang berubah menjadi putri duyung! Apa kau tidak lihat jika kakiku terluka?" jawab Kelvana dengan judesnya. Bukannya dia tak sopan dengan anak Alpha Drey ini, tapi memang mereka semenjak kenal tak pernah akrab layaknya Mars dengan Venus.
"Kenapa dengan kakimu?" tanyanya lagi.
"Digigit dinosaurus! Kau ini banyak tanya sekali, bisakah membantuku terlebih dahulu? Nanti racun ini akan menyebar diseluruh tubuhku! Jika aku mati bagaimana?!" ketusnya lagi.
Mendengar hal itu Mars langsung mengangkat tiba-tiba tubuh Kelvana dan menggotongnya seperti bridle style. Karena gendongan yang mendadak membuat Kelvana berteriak kaget.
"Kenapa kau berteriak!" kesal Mars.
"Kau mengangkat tubuhku tiba-tiba, bagaimana aku tidak teriak!" balasnya ikut kesal.
"Cerewet sekali!" kata Mars sambil melangkah pergi menuju rumah sakit Pack.
"Apa kau bilang?"
"Tidak ada, hanya seekor gajah terbang diatas langit." Jawab Mars ngawur.
Disisi lain tepatnya didalam rumah, saat Ashina ingin masuk kedalam kamar dia dikejutkan dengan Lucien dan Ambarita yang sudah tidur diatas kasur tersebut.
"Sedang apa kalian disini?" pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Ashina.
Kedua orang itu menatap kearah Ashina yang berada diujung tempat tidur sedang berdiri melihat mereka. "Tidur, apalagi?" kata Ambarita enteng.
"Ini kamarku!"
"Sejak kapan ini menjadi kamarmu? Ini kamarku sejak dulu," suara Lucien.
"Kau ini apa-apaan?! Tak sopan teriak didepan seorang Alpha!" balas Lucien tajam.
"Aku Mate-mu! Dia hanya mantan Mate-mu. Sadarlah, kau ini sedang dipermainkan oleh Ambarita!" katanya lagi sambil mengguncangkan tubuh Lucien.
Lalu gadis itu terjatuh disamping tempat tidur lalu memeluk tubuh Lucien sambil menangis. "Sadarlah Luc, aku merindukanmu. Aku merindukan semua yang kita lakukan bersama, kau bilang kau mencintaiku, lalu kenapa kau seperti ini, hiks." Ucap Ashina dengan tangisannya.
Entah seperti apa rasanya. Tiba-tiba dada Lucien merasakan sesak dan sakit hati yang teramat dalam, ada apa dengannya? Kenapa dia bisa merasakan perasaan yang sama dengan gadis yang memeluknya ini?
Lucien tak bergerak ataupun membalas pelukkan Ashina, Ambarita yang melihat itu pun tersulut emosinya. "Wanita tak tahu diri! Berani sekali kau memeluk Lucien didepanku!" teriak murka Ambarita dan mendorong keras tubuh Ashina dari pelukkan Lucien.
Karena dorongan yang keras tubuh Ashina terbentur bagian pinggir kasur yang terbuat dari besi. Gadis itu meringis kesakitan, namun terlihat tegar yang ditunjukkan oleh Ashina. "Kenapa kau mendorongku!" kata Ashina dengan tatapan marahnya.
"Kau sudah tak tahu diri memeluk Lucien seperti itu!" ucap Ambarita.
"Aku pantas memeluknya, kau yang sudah mengambil Lucien dariku." Ujar Ashina sambil berdiri bangkit walau badannya masih terasa sakit dan nyeri.
Ambarita ikut berdiri dan menghampiri Ashina. "Lalu kenapa jika aku merebutnya dari dirimu? Bukankah itu bagus jika mantra yang aku gunakan dicampuran air minum itu berhasil berpengaruh untuknya?" sombongnya dengan senyuman licik.
"Sudah aku duga jika kau berbuat selicik itu, wanita yang sangat miris." Ujar Ashina dengan tawa yang mengejek.
"Apa kau bilang?!" teriak Ambarita sembari menjambak tiba-tiba rambut Ashina membuat gadis itu terhuyung kebelakang.
"Aaaww, ini sakit Am!" kata Ashina mengaduh kesakitan.
"Tapi kau pantas mendapatkan ini," ucapnya sambil menghempaskan rambut Ashina dan kembali terjatuh dibawah lantai.
Perempuan itu sedikit memundurkan langkahnya. Lalu sebuah cahaya muncul tiba-tiba ditangan kirinya, senyuman licik itu kembali terbit. "Rasakan kesakitan ini untuk waktu yang lama Ashina Seraphine!" kata Ambarita.
Ashina menatap bulat kekuatan yang dikeluarkan Ambarita saat itu, dia tak mengerti apa yang harus dilakukannya saat itu juga. Dia hanya bisa pasrah apa yang akan terjadi dengannya.
Gadis itu menutup matanya rapat-rapat saat sihir dari Ambarita diberikan kepada Ashina. Namun, tubuhnya tak merasakan apapapun, apa sihir Ambarita bekerja seperti ini? Lalu, apakah Ashina sudah mati sekarang?
Mata itu kembali terbuka, tidak ada yang terluka ditubuhnya. Lalu gadis itu berani menatap kembali Ambarita, namun sosok lelaki yang dirindukannya selama ini berdiri didepannya dengan melindunginya dari sihir Ambarita.
"Sudah cukup permainan ini Am, ini sudah keterlaluan! Kau menyakiti Mateku!" kata lelaki tersebut yang tak lain adalah Lucien.
Entah Ambarita maupun Ashina yang mendengar perkataan Lucien seperti itu pun terkejut. "Luc, kau..." kata Ambarita sambil meredamkan sihirnya.
"Ya, permainanmu sangat seru juga. Tapi mungkin ini sudah cukup untuk membongkar apa yang ingin kau lakukan untuk keluargaku dan Pack ini!" Ujarnya lagi dengan senyuman mematikan ciri khas dari seorang Alpha Lucien.
\\\\\\\\\\\\\\\\*l*
**To be continued......
Waaaahhh nahloh, kenapa tuh Lucien😳😳 ternyata dia pura-pura guys, siapa hayo yang udah kesel sama Lucien? Haha gimana kelanjutan ceritanya?
Tetap stay dan dukung cerita ini yak🤗 kasih like vote dan comment biar author semangat up💚💚
See you next part🐺**