My Mine Is Human

My Mine Is Human
41. It's oke, don't crying



Author Pov


Disepanjang perjalanan Ashina berusaha untuk menenangkan dirinya. Walaupun tak ada isakkan yang keluar namun air matanya tak kunjung juga berhenti, ini sakit. Bagaimana seorang Ibu tega mengusir anaknya dengan cara seperti ini? Didepan orang lain dengan cara yang tak sopan, dada Ashina sesak dan sangat merasa bersalah kepada keluarga Anderson karena perlakuan dari keluarganya yang tidak menyenangkan untuk mereka.


Sesekali, Lucien yang duduk disamping pengemudi melirik kebelakang. Ingin sekali rasanya dia menukar posisi dengan Ibunya saat ini, namun sepertinya Ashina memang sedang membutuhkan pelukkan seorang Ibu. Mungkin itu lebih baik.


Akhirnya kedua mobil yang mereka bawa masing-masing tiba didepan Pack. Mereka turun, Lucien langsung membukakan pintu mobil untuk Ibu dan Ashina. Saat turun pandangan Ashina dan Lucien sesaat bertemu, gadis itu memberikannya senyuman tipis seolah mengatakan jika dirinya baik-baik saja.


Namun mata Ashina seolah tak ingin berbohong kepada Lucien. Karena tak ingin menambah beban pikiran gadisnya, lelaki itu ikut membalas senyuman Ashina semanis mungkin. Lalu memuntutnya untuk masuk kedalam rumah, mereka mendaratkan tubuhnya diatas sofa yang empuk.


"Hufft, panas sekali siang ini. Rasanya ingin mandi dan minum es," keluh Venus sambil mengibaskan tangannya kewajah sendiri.


Ashina duduk disamping Lucien, dengan kepala menunduk tak berani untuk menatap mereka semua, terutama kepada Alpha Drey. Dia sangat malu karena perkataan Ibunya yang tidak sopan kepada beliau.


Seorang Omega datang membawa minuman, Venus dan juga Mars langsung menyambar gelas tersebut dan meneguknya hingga tandas.


"Akhirnya!" lega mereka berdua secara serempak.


"Kalian ini, kalo minum pelan-pelan. Nanti tersedak, jangan mengulanginya lagi!" tegur Luna Ashley.


"Maafkan kami Mom, tapi hari ini memang cuacanya sangat panas. Tenggorokkan ku sangat kering, karena disana aku belum sempat minum sudah disuguhi marah-marah saja." Oceh Mars dengan entengnya.


Hal itu membuat semua menatap pandangan matanya kearah Mars, kecuali Ashina yang masih menunduk. Tangan Venus mencubit pelan perut Mars, biarpun pelan namun cubitan Venus terbilang sangat menyakitkan.


"Argh, sakit Ve!" kata Mars dengan sedikit berteriak.


"Jagalah ucapanmu, Mars! Ada kak Ashina disini!" bisik pelan Venus dengan nada menekan.


Lelaki itu cengengesan seperti orang yang merasa bersalah. "Hehe, maafkan aku kak Ash. Aku tak bermaksud untuk menyinggungmu," ucap Mars meminta maaf.


Gadis itu mendongakkan kepalanya. Mungkin air matanya sudah tidak keluar sekarang karena sudah terlalu banyak dikeluarkan. Gadis itu mencoba untuk tersenyum sebisa mungkin.


"Tidak apa-apa, memang keluargaku lah yang salah. Maafkan atas kejadian tadi, atas nama Ibu dan Adikku tolong maafkan mereka ya?" kata Ashina dengan suara sembab karena terlalu banyak menangis.


Tangan Lucien marangkul pundak Ashina dan mengelusnya dengan pelan seolah memberi kekuatan kepada Mate nya tersebut. Luna Ashley menatap kearah Ashina.


"Nak, tidak perlu seperti itu. Kejadian tadi biarlah berlalu, kita sudah memaafkan mereka. Tapi aku juga ingin meminta sesuatu kepadamu," ungkap Luna Ashley.


"Apapun itu, akan aku lakukan jika bisa." Ujar Ashina.


"Tolong lupakan kejadian ini dan hiduplah bahagia ya? Mommy hanya meminta itu saja, jika kau bahagia, kita semua akan bahagia terutama Lucien. Mulailah hidup baru diPack ini, bisa?" pinta Luna Ashley.


Sebelum menjawab Ashina melirik kesemua keluarga Lucien. Alpha Drey, Mars dan Venus megangguk pelan dengan senyuman manisnya, lalu menatap Lucien yang sama juga seperti mereka. Hal itu membuat tangis Ashina kembali pecah.


"A-aku tidak tahu, a-aku sangat beruntung bisa bertemu dengan keluarga seperti kalian. Terimakasih... terimakasih," katanya dengan sedikit menundukkan badannya.


Tentu saja Lucien langsung mencegahnya agar tetap duduk seperti biasa. "Kau jangan seperti itu, Ash!" tak suka Lucien sembari memeluk tubuh Ashina dan menepuknya dengan pelan.


"Luc, bawalah Ashina kekamar-mu. Biarkan dia istirahat. Kita lanjutkan pembicaraan besok," kata Alpha Drey.


"Benar, kalian masuklah. Biarkan Ashina tidur siang ini," tambah Luna Ashley.


Lucien menganggukkan kepalanya pelan sembari membawa tubuh Ashina dan menuntutnya naik ketangga dan masuk kedalam kamar. Tinggallah mereka berempat diruangan tersebut, semuanya menyenderkan badannya disenderan sofa.


"Mars, Venus. Ashina akan tinggal disini dan kalian tahu itu, Mom dan Dad hanya minta satu. Kalian jangan pernah mengungkit masalah kejadian tadi, bisa 'kan?" pinta Luna Ashley kepada kedua anak kembarnya tersebut.


"Baiklah, kalian juga istirahatlah dikamar kalian masing-masing." Ujar Alpha Drey.


Mars mengangguk namun Venus menggelengkan kepalanya. "Mom, Dad, aku ada janji dengan teman kampusku. Apa aku boleh pergi?" tanya Venus meminta izin.


"Teman kampus atau teman kampus?" ledek Mars.


"Mars!" gerutu Venus.


Mereka tertawa pelan. "Baiklah, namun kembali kerumah sebelum makan malam ya?" kata Luna Ashley.


Venus berdiri dengan semangat. "Siap! Terimakasih Mom, aku pergi dulu. Bye Dad, Mom, Mars!" pamitnya sambil melangkah pergi keluar.


Disisi lain, dimana Lucien dan Ashina berada. Lelaki itu menyuruh Ashina untuk berbaring ditempat tidurnya, namun gadis itu hanya duduk dipinggiran tempat tidur saja. Lucien melepaskan Jasnya lalu menghampiri Ashina dan duduk disampingnya.


"Masih memikirkan kejadian tadi?" tanya Lucien dengan nada pelannya.


Gadis itu menggeleng pelan. "Maafkan aku, Luc." Katanya dengan sangat pelan.


"Maaf untuk apa?" katanya. Namun tak ada jawaban dari Ashina, "Ash, lupakan kejadian tadi ya? Aku mohon padamu." Lanjutnya.


Tetap saja Ashina hanya terdiam. Lelaki itu menyuruh Ashina untuk berbaring dan tidur, gadis itu hanya menurut saja. Diusapnya pelan kepala Ashina, membuat air mata Ashina terjatuh.


"Aku akan tidur disofa," kata Lucien sambil berdiri bangkit. Namun tangan Lucien dicekal oleh Ashina.


"Temani aku ya?" pintanya


Sesaat Lucien terdiam, lalu dia ikut membaringkan tubuhnya disamping Ashina. Tangannya memindahkan kepala Ashina didada bidangnya.


"Kau tahu, kita memang belum kenal terlalu lama. But it's okay if you want to tell me your feels I'll listen it." Katanya sambil terus mengusap kepala Ashina.


"A-aku tidak tahu Luc bagaimana kedepannya." Ujar Ashina.


"Kau akan tinggal disini dengan kita. Aku akan mengumumkan hal ini kepada semua rakyatku, apa kau siap? Siap untuk memulai hidup baru disini." Ucap Lucien dengan nada selembut mungkin.


Gadis itu hanya terdiam. Dia bergerak sedikit seperti mencari tempat yang nyaman diatas dada Lucien. "Tidurlah, kita akan bicara nanti." Katanya lagi.


Ashina terlelap dengan mata yang sembab, disusul oleh Lucien yang ikut terbawa kantuknya. Mereka berdua tidur dengan memeluk satu sama lain. Apakah ini awal dari segalanya? Menjalani hidup baru dengan keluarga Andreson diMoon Stone Pack?


Bagaimana selanjutnya? Apa Ashina akan cepat menjadi Luna untuk Pack ini dan Lucien? Atau akan ada rintangan baru yang menimpa mereka?


\\\\\\\\\\\\\\\\\


**To be continued.....


Hi guys, back again. Hehe gak jelas ya dipart ini? Karena ide nya ada yang ilang, jadi aku buat yang ada dikepala aja🙂 semoga suka, jangan lupa like vote dan comment biar author semangat up


Terus dukung cerita LucAsh yaaa Luv❤️❤️


See you next part🐺


*Wawaa💚***