My Mine Is Human

My Mine Is Human
63. Biarkan Ashina melakukannya



Author Pov


Karena melihat gerak gerik Ashina yang sudah beda, Kelvana berkata. "Ini sudah waktunya, kau pasti bisa. Kita mulai dan kau harus fokus dan jangan sampai pikiranmu terganggu. Lupakan Lucien untuk waktu sesaat, fokuskan pikiranmu hanya untuk menyelamatkan Pack ini." Kata Kelvana.


Ashina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Melihat gadis itu mengangguk Kelvana langsung menutup kembali matanya dan merapalkan mantra-mantra, sedangkan Ashina berusaha fokus dengan batu biru yang ada ditangannya.


Tiba-tiba gadis itu sedikit terlonjak kaget karena batu biru yang dia pegang mengeluarkan cahaya yang begitu terang sekali. Namun dia berusaha untuk tenang dan kembali mengontrolkan pandangannya.


"Arahkan batu itu kearah pusaran angin yang Ambarita buat, kau harus mengucapkan niatmu untuk apa kau memegang batu itu." Kata Kelvana.


Ashina langsung mengerti, gadis itu memejamkan matanya sembari berkata didalam hati. "Aku hanya ingin keributan ini berakhir dan semuanya kembali normal, aku ingin Ambarita menyadari perbuatannya yang salah. Bantu aku!"


Seketika batu biru itu semakin memancarkan sinarnya membuat siapapun yang berada disana menutup rapat-rapat mata mereka agar cahaya itu tak menusuk pengelihatan. Keadaan semakin kacau saat kedua kekuatan bercampur melawan satu sama lain.


"Tetaplah seperti itu dan kau harus bertahan Ash, aku akan mengeluarkan beberapa kekuatanku untuk membantumu!" teriak Kelvana.


"Akan aku coba, kau harus berhati-hati!" balas teriak Ashina.


Perempuan itu mengepalkan tangannya begitu kuat, rambut yang semula berwarna hitam lebat kini berubah seketika menjadi biru keputihan yang sangat menakjubkan. Kelvana berubah menjadi sosok yang tak dikenal.


Kelvana mengeluarkan tongkat sihir yang begitu panjang. Diujung tongkat tersebut terdapat batu permata berwarna biru tua yang berkilauan.


"Avec le pouvoir de la pleine lune, lancez une aura noire détruisant la magie et aidez-moi à la détruire!!" mantra yang dikeluarkan Kelvana mampu membuat sihir itu keluar cukup kuat, lalu segera mengarahkan kepada angin topan yang sangat kencang tersebut.


Saat ketiga kekuatan itu saling menyerang, angin Ambarita perlahan mengecil dan terus mengecil, namun bersamaan dengan Ashina yang berkata. "Kelv, tubuhku tak kuat menahannya lagi,"


"Kau harus bertahan sedikit lagi dan semuanya akan berakhir!" balas Kelvana.


Ashina hanya menuruti saja, dia tidak akan langsung menyerah. Apa yang diucapkannya tadi tidak boleh menjadi omong kosong belakanya saja! Dia harus membuktikan jika manusia biasa juga bisa menjadi pahlawan.


Beberapa menit berlalu dengan sekali hentakkan Kelvana, angin yang dibuat Ambarita langsung lenyap begitu saja bersamaan dengan Ambarita yang terpental cukup jauh.


Saat angin dan semua kekuatan hilang, Pack terlihat jauh lebih kacau dari sebelumnya. Beberapa pohon tumbang dan mayat-mayat terseret kesana kemari mengikuti arah angin.


Tubuh Ashina terjatuh lemas ketanah dengan batu biru itu terlepas dari genggaman tangannya. Lucien yang melihat itu langsung mendekat kearah Ashina untuk mengecek kondisi Mate-nya.


"Ash, apa kau baik-baik saja? Apa yang terluka? Tubuhmu lemas?" pertanyaan beruntut langsung dilayangkan oleh Lucien.


"Aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir." Jawab Ashina dengan suara yang parau.


"Bagaimana aku tak khawatir? Kau pucat seperti itu masih bilang baik-baik saja? Ayo aku bawa kerumah sakit Pack!" kata Lucien sembari ingin mengangkat tubuh Ashina, namun terhenti saat Kelvana datang dengan wujud yang kembali seperti semula.


"Tunggu!" cegahnya.


Ashina dan Lucien melirik kearah Kelvana, dengan wajah yang datar Lucien berucap. " Ingin apa lagi kau?"


"Maaf Alpha, tapi kekacauan ini disebabkan karena kedatangan Luna Ashina juga disini. Aku hanya membaca jika keributan ini bisa diatasi jika Luna Ashina yang turun tangan dan menyelesaikannya." Ujar Kelvana.


Lucien berdiri bangkit dengan emosinya. "Kau ini sudah gila! Ashina terlihat lemas begini dan kau suruh dia menyelesaikannya?! Kau ingin melihat Mate-ku tiada?!" amuk Lucien.


Lelaki itu kembali melirik kepada Ashina. "Tapi ini kelewatan, kau butuh istirahat bukan menyelesaikan masalah ini. Biarkan aku yan--" ucapan Lucien terpotong oleh dorongan Kelvana.


"Menghindar!" teriaknya sembari mendorong tubuh Lucien dan terjatuh.


Sebuah panah yang menuju kearah Lucien meleset begitu saja berkat Kelvana. "Kau baik-baik saja?" tanya Kelvana berlari kearah Lucien dan Ashina. "Maafkan aku karena tiba-tiba mendorongmu, aku tak tahu darimana datangnya panah itu. Tapi aku bisa mencium dari aromanya jika anak panah itu sudah dilapisi oleh serbuk bunga mortem!" ujar Kelvana.


Lelaki itu terdiam. "Terimakasih telah menyelamatkanku," kata Lucien. "Tapi aku masih tidak mengizinkanmu mengajak Ashina untuk membereskan masalah ini, biarkan aku dan para warrior ku yang bekerja!" sambungnya.


Ashina bangkit lalu mendekat kearah Lucien. "Kali ini aku yang harus mengatakan ini bukan waktunya menunjukkan sifat keras kepalamu, Luc! Semuanya akan baik-baik saja." Kata Ashina.


"Tapi kau--"


"Apa?!" bentak Ashina sembari melototkan matanya tajam membuat Lucien terdiam seketika. Kelvana yang melihat kejadian itu langsung membalikkan badannya.


"Ah, anggap saja aku hanya sebuah pohon. Kalian bisa lanjutkan drama rumah tangga kalian namun jangan lama-lama, kasihan yang lain sedang bertarung juga." Celetuk Kelvana sambil menahan tawanya.


Mata Ashina yang tadinya menatap Kelvana kini berganti menatap Lucien lagi. Mulutnya mendekat kearah telinga Lucien sembari berbisik.


"Biarkan aku melawan ini atau kau akan tahu akibatnya nanti jika masih berani mencegahku. Luc, aku bisa merasakan jika memang aku yang menjadi penyebab kekacauan ini dan harus menyelesaikannya. Jika aku gagal kau bisa membantuku bersama para warrior lainnya, namun untuk saat ini biarkan aku dan Kelvana yang menuntaskan."


Bisikkan Ashina yang terdengar lembut itu membuat hati Lucien tak karuan. Disatu sisi dia bimbang disisi lain juga dia ingin sekali mengurung Ashina dikamar mereka dan menghukumnya dengan cara menyenangkan.


Lelaki itu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. "Baiklah, jika terjadi sesuatu padamu aku tak akan memaafkan diriku sendiri karena tak bisa menjagamu! Jika kau berhasil aku akan menghukummu! Jangan membantah, ini sudah final, kau boleh melakukkan apapun aku akan membantumu juga."


"Kau memang terbaik! Kita akan membicarakannya nanti soal hukuman! Aku menyayangimu!" kata Ashina sambil mengecup sekilas pipi Lucien sehingga membuat lelaki itu sedikit terkejut.


Gadis itu berdiri dan menghampiri Kelvana. "Ayo kita tuntaskan bersama!" ucap Ashina sembari menggandeng tangan Kelvana.


Kelvana menoleh kearah Lucien yang juga tengah menatap mereka berdua sambil terduduk ditanah. Perempuan itu tertawa geli lalu menganggukkan kepalanya kepada Ashina dan pergi dari sana menuju tempat yang rusuh tersebut. Jika bertanya dimana Ambarita, perempuan itu tiba-tiba menghilang.


Atau mungkin anak panah beracun itu milik Ambarita? Lucien yang masih berusaha mencerna kejadian tadi pun menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayang-bayang Ashina yang mencium pipinya.


"Awas saja kau Ash, aku akan menghabisi semua Rogue ini termasuk Ambarita sekalipun! Setelah kemenangan berpihak kepada Moon Stone Pack, jangan harap kau bisa lari dari pelukanku!" ujarnya entah pada siapa.


Lalu berdiri bangkit dan kembali untuk mengeluarkan emosinya kepada kawanan Rogue yang jumlah nya masih terbilang banyak tersebut, namun untungnya para warrior yang dimiliki Lucien begitu tangguh tak mudah lelah.


\\\\\\\\\\\\\\\\\\


**To be continued.....


Hiii, aduuh gajelas banget ya alurnya?😭 semoga ngefeel deh, aku pengen cepet-cepet pertarungan ini berakhir tapi belum ada ide, semoga part selanjutnya makiiiinnn bisa ngalahin hahaha atau Moon Stone Pack beneran hancur?


Stay teruss jangan lupa tinggalkan jejak like vote dan comment biar author semangat up💚💚


See you next part guys🐺**