My Mine Is Human

My Mine Is Human
66. Pengakuan Ambarita



Author Pov


Setelah 10 menit berlalu semenjak Ashina sadarkan diri, Kelvana lebih dulu meminta dirinya untuk ditarik infus tersebut dari tangannya karena dia merasa sudah baik-baik saja. Walaupun ada sedikit drama dengan Mars, akhirnya lelaki itu lah yang mengalah. Keluarga sempat terheran mengapa mereka selalu bertengkar, dan tak jauh ujung-ujungnya ditertawakan juga.


Lucien selalu memperhatikan Ashina tanpa berkedip sekalipun, jika Ashina meminta sesuatu dia langsung menurutinya. Sampai-sampai Venus mencebik perlakuan kakak tertua nya tersebut dengan alasan terlalu berlebihan dan posesif.


Tak lama terdengar suara ringisan dari arah dimana Ambarita terbaring. Semua pandangan keluarga Anderson dan Kelvana menoleh kearah sumber suara tersebut, ternyata perempuan yang ditunggu-tunggu kesadarannya untuk dimintai penjelasan tersebut tersadar sudah dari pingsannya yang cukup lama.


Alpha Drey dan Lucien langsung menuju kearah Ambarita. Melihat kedatangan kedua lelaki itu membuat Ambarita yang tengah kesakitan dengan kepala serta merasakan sangat lemah pada tubuhnya seketika mata tersebut berbinar bahagia melihat Lucien menghampirinya.


"Luc, kau datang untuk menolongku bukan?" katanya.


"Nona Ambarita, sudah kubilang tolong turunkan sedikit rasa percaya dirimu." Ujar Lucien sembari selangkah mendekat kearah tempat tidur rumah sakit tersebut.


"Aku datang kesini ingin meminta penjelasan darimu!" katanya lagi.


"Penjelasan tentang apa? Hubungan kita?" tanya perempuan tersebut yang berusaha seperti mengubah topik.


Akhirnya emosi Lucien terpancing, namun langsung dicegah oleh Alpha Drey untuk menahan Lucien agar tak berlaku kasar terlebih dahulu.


"Nona Ambarita. Yang kita tahu kau adalah penyebab semua ini sangat berantakkan dan membuat Pack milikku tidak tenang, kau tahu dan sadar apa yang baru saja kau lakukan saat itu? Apa kau tak memikirkan resiko apa yang akan berhadapan dengan nyawamu?" ungkap Alpha Drey mengujami pertanyaan disela-sela ucapannya.


"A-aku hanya ingin mengambil hakku!" jawab Ambarita dengan nada sedikit tergagap.


Kedua lelaki itu kompak mengernyitkan dahinya bingung. "Hak-mu?" kata Alpha Drey.


"Ya, hakku yang seharusnya Lucien adalah Mate untukku. Hak diriku yang seharunya menjadi Luna di Pack ini untuk berdiri disamping Lucien!" ucap Ambarita sedikit tertekan.


"Kau gila, apa yang sudah kau katakan. Kau sendiri yang meninggalkan begitu saja," desis Lucien.


Ambarita pelan-pelan bangun dari tidurnya dan berganti dengan posisi terduduk. Sedangkan keluarga yang lain hanya mendengarkan dan menjadi penonton saat itu juga.


"Ya aku memang gila saat itu menuruti apa yang dikatakan oleh Ibuku! Aku pikir dengan meninggalkanmu aku bisa hidup tenang dan kau merasa tersiksa. Saat aku mendengar kau begitu stress saat aku mereject dirimu, saat itu pula aku merasa jika rencana yang dibuat oleh Ibu dan Ayahku untuk menghacurkan Pack ini berhasil dan melawannya dengan sangat mudah," ujar panjang lebar Ambarita dengan nafas yang berat.


"Tapi semuanya salah! Itu tak berlangsung lama saat kau berada dikota dan bertemu gadis itu!" tangan Ambarita menunjuk kearah Ashina. "Gadis itu telah menghancurkan semua rencana keluargaku! Dia yang membuat dirimu melupakanku begitu saja tanpa mencari dimana keberadaanku!"


"Kau tahu Luc? Hidupku sangat hancur! Aku marah pada diriku sendiri, aku marah kepada orangtua-ku karena telah menghancurkan masa depanku bersamamu, ak--" ucapan Ambarita terpotong oleh seseorang.


"Dan kau juga telah menghancurkan masa depan seseorang karena sudah merebut Mate dari diriku dan membuat Mate-ku meninggal!" hardik suara tersebut yang tak lain adalah Kelvana sendiri.


Semua keluarga terkejut termasuk Mars sendiri. Rupanya Kelvana pernah memiliki seorang Mate dan itu sudah meninggal karena ulah Ambarita.


"Abian Geraldinka! Kau yang sudah merebut Mateku dari pelukanku dan membunuhnya karena kau dengan teganya mengatakan jika Abian hanya menjadi pelarian saja! Dia meninggal karena depresi! Dia tidak menganggapku sebagai Mate-nya lagi dan percaya jika kau Mate sesungguhnya lalu memilih bunuh diri karena dia tidak bisa hidup tanpamu!" teriak Kelvana penuh emosi.


Kini perasaan yang dipendam oleh Kelvana keluar begitu saja. Isak tangis yang baru dilihat oleh orang-orang membuat mereka terkejut. Perempuan yang dikenal pendiam, ramah senyum dan tak pernah takut itu memiliki jiwa yang rapuh. Mars langsung merengkuh tubuh Kelvana dalam pelukkannya.


Lelaki tersebut berusaha menenangkan Kelvana sebisa mungkin sambil terus mengusap rambutnya. "Dia telah membuat Mate-ku tiada, hikss. Aku berusaha bertahan hidup untuk membalaskan dendam ini." Kata Kelvana dengan isakkan yang semakin menjadi.


Entah kenapa rasa sakit itu perlahan mulai memudar saat semuanya diutarakan. Orang-orang yang berada diruangan tersebut masih nampak shock karena Ambarita perempuan yang sangat-sangat licik.


Mendapati tatapan tajam oleh semua orang membuat Ambarita sedikit ciut nyalinya. "A-aku tidak tahu, di-dia nya saja yang begitu polos percaya padaku!" pembelanya pada diri sendiri.


"Bukan lelaki itu yang polos, tapi dirimu yang licik seperti ular berbisa." Timbrung Ashina membuka suara.


Tatapan mata Ambarita tertuju kepada Ashina saat itu juga. Dengan kekuatan badannya yang masih tersisa perempuan itu turun dari tempat tidur pasien dan berjalan mendekat kearah Ashina yang terduduk diatas tempat tidur pasien.


Dengan brutalnya Ambarita menjambaki rambut Ashina yang tergerai bebas tersebut, dengan amarahnya perempuan itu berkata. "Kau masih berani mengatakan hal buruk denganku! Kau seharunya mati!"


Melihat keributan itu keluarga berusaha melerai dan menjauhi Ambarita dari jangkauan Ashina. "Lepaskan dia!" kata Luna Ashley mendekap tubuh Ashina.


Dengan langkah penuh amarah, Lucien menghampiri Ambarita dan langsung menarik perempuan itu dengan sangat kasar sehingga membuatnya terjatuh ke lantai dengan sangat keras. Ringisan itu bisa mereka dengar jika itu sangat sakit.


Lucien mendekat kearah Ambarita dan setengah menunduk dengan wajahnya yang penuh akan kemarahan. "SEKALI LAGI KAU MENCARI MASALAH DIPACK INI DAN BERANI MENGGANGU MATE-KU. HUKUMAN AKAN LEBIH BERAT DARI INI!" teriak penuh intonasi tinggi Lucien yang bisa dirasakan aura menyeramkan tengah menyelimuti jiwa lelaki tersebut.


"BETA GRADE! GAMMA ALVARO! MASUK KE RUANGAN!" panggil Lucien dengan lantang, tak lama 2 orang yang dipanggilnya datang dengan langkah besar.


Mereka serempak menundukkan badannya hormat. "Bawa perempuan ini ke penjara bawah tanah yang berdekatan dengan hewan-hewan buas yang kita tangkap. Aku akan menyusul untuk memutuskan hukuman apa yang akan dia terima." Kata Lucien yang langsung diangguki kepala oleh mereka berdua.


Ambarita meronta minta dilepaskan. Namun kekuatan dua laki-laki itu tak sepadan dengan kekuatannya yang sudah hilang karena permata itu sudah dihancurkan oleh Kelvana. Hari sudah menjelang jam 4 pagi dan mereka belum ada yang tidur sama sekali karena kekacauan ini.


Setelah Ambarita dibawa pergi, Lucien menghampiri Ashina dan memeluknya dengan sangat erat. Diusapnya rambut yang menjadi sasaran Ambarita tersebut seolah mengusir rasa sakit dikepala Ashina. "Semuanya akan kembali normal." Ujar Lucien.


\\\\\\\\\\\\\\\\


**To be continued....


Gak tau mau bilang apa hehe, semoga sukaa dan tinggalkan jejak like vote dan comment buat dukung cerita ini dan dukung author supaya semangat up☺️


See you next part guys🐺**