
Author Pov
Matahari semakin naik menandakan hari sudah siang, semua keluarga kembali berkumpul kecuali Lucien dan Ashina yang belum turun. Mereka berkumpul untuk mendengar keputusan apa yang dibuat oleh Lucien untuk menghukum Ambarita.
Tak lama kedua orang yang tengah ditunggu-tunggu pun keluar dari kamar dan turun kebawah mendekat kearah mereka semua. Ashina yang berjalan sedikit dibelakang Lucien. Luna Ashley yang melihat hal tersebut pun bertanya.
"Apa kau baik-baik saja Ash? Mengapa kau memakai baju hangat sampai menutupi lehermu?" tanya Luna Ashley.
Ashina yang ditanya seperti itu pun gelagapan seperti orang yang tengah terciduk mengambil sesuatu. "A-aku baik-baik saja, hanya ingin mengenakan baju ini." Jawab gugup Ashina.
Mata Luna Ashley dan Venus seketika memicing seolah mencari kebenaran dibalik mata Ashina. Lalu mereka berdua sama-sama tertawa geli seolah mengetahui arti lain dari ucapan Ashina.
Mereka berdua saling berpandangan dan menyeringai menahan tawa. "Apa kau melihat kejanggalan itu Ve?" tanya Luna Ashley sambil menahan tawanya.
"Sepertinya Mom, aku juga mencium aroma-aroma orang tengah berbunga-bunga selain mendapatkan kemenangan Pack ini." Kata Venus ikut menahan tawa juga.
"Mom, berhenti membuat Ashina seperti ini. Tidak baik," ujar Lucien yang mengerti maksud dari ucapan Ibu dan adiknya tersebut.
Mereka berdua tak tahan untuk tidak tertawa. Melihat Luna Ashley dan Venua tertawa membuat Ashina menyembunyikan wajahnya dibalik punggung badan Lucien menyembunyikan pipinya yang memerah karena malu.
Tangan Lucien menarik tangan Ashina dan meminta gadis tersebut untuk menampakkan wajahnya. "Ada apa dengamu Ash?" tanya Luna Ashley.
"Tidak ada Mom," jawab Ashina.
"Kalau begitu angkatlah wajahmu, kenapa kau sembunyikan seperti itu? Ayolah, Mom dan Venus minta maaf karena telah menggodamu." Kata Luna Ashley berusaha tak tertawa.
Gadis itu perlahan mengangkat wajahnya dan menatap mereka. Wajahnya masih memerah, namun Luna Ashley dan Venus berusaha untuk tak menggodanya lagi. "Duduklah kemari," ucap Venus sambil menepuk bagian sofa yang masih kosong.
Ashina menurut lalu berjalan terlebih dahulu dan duduk disamping Venus. Lucien duduk disofa single, lalu menatap keluarganya dan berkata.
"Aku menyuruh Beta Grade untuk membawa Ambarita diruang eksekusi dan menjatuhi hukuman tembak mati. Saat kalian masih tertidur, Gamma Alvaro mengatakan kepadaku jika diruang bawah tanah Ambarita mengamuk tak terkendali hingga membuat beberapa warrior terluka karena goresan pisau yang ada disana. Namun untungnya Gamma Alvaro bisa menenangkannya dan membius Ambarita agar tenang, ini sudah semakin diluar kendali. Mau tak mau aku harus mengambil tindakkan tegas dan menghukum mati adalah jatuhan hukum untuknya." Bicara Lucien begitu panjang lebar.
Keluarga yang mendengar dan menyimak ucapan Lucien menghembuskan nafasnya tenang. "Kau mengambil keputusan yang tepat, ini tidak hanya membantu menuntaskan masalah di Pack ini, namun juga balasan dendam Kelvana." Ujar Alpha Drey.
Tiba-tiba Beta Grade datang dan menundukkan sedikit badannya hormat. "Salam Alpha, semuanya sudah dipersiapkan. Kita harus melakukan hal ini secepatnya agar Ambarita tak membuat ulah kembali." Kata Beta Grade.
Lucien berdiri bangkit, diikuti oleh Alpha Drey lalu semua keluarga ikut berdiri. "Kita pergi sekarang." Ucap Lucien sambil melangkah pergi.
Saat Ashina ingin ikut, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Luna Ashley. "Kau yakin ingin melihat langsung?" tanya Luna Ashley mencemaskan kondisi Ashina.
Gadis itu mengangguk. "Aku ingin melihatnya dan mengucapkan selamat tinggal untuknya." Kata Ashina sembari tersenyum tipis.
"Tidak perlu cemas seperti itu Mom, kak Ashina bukan gadis yang lemah. Iyakan kak?" ucap Venus yang diangguki Ashina sembari tertawa.
Luna Ashley menghembuskan nafasnya setelah itu tersenyum. "Baiklah, ayo pergi." Kata Luna Ashley.
Mereka berkumpul diruang eksekusi yang sangat tertutup dan gelap tanpa celah sedikit pun. Sangat-sangat mengerikan dan udara didalam ruangan ini sangat sedikit, saat mereka masuk kedalam ruangan tersebut terlihat Ambarita yang sudah ditali kedua tangannya dan kakinya seperti disilang namun dengan berdiri.
"Tidak lebih mengerikan dengan sifat busuk kalian." Sinis Ambarita.
Venus tertawa. "Perlu diberitahu, mengacalah sebelum berucap." Kata Venus.
"Ada yang ingin kau ucapkan sebelum aku menghukummu?" tanya Lucien sambil berhadapan dengan jarak jauh.
Gadis itu membuang wajahnya muak. Tak ada jawaban dari Ambarita. "Am, maafkan aku karena tak bisa mewujudkan keinginanmu sendiri. Tapi aku selalu ingat Ayahku bilang 'usahakan apa yang membuatmu senang, tak peduli omongan orang yang menghinamu'. Kau tahu, kesenanganku adalah membuat Pack ini menang tak peduli omonganmu yang ingin menghancurkan Pack ini," kata Ashina lalu berdiam sebentar.
"Karena itu, aku minta maaf sekali lagi karena kaulah yang akan mendatangi dewa kematian, bukan aku. Aku harap kau diperlakukan baik disana, dan selalu ingat jika manusia biasa tak bisa dipandang rendah walau tanpa kekuatan. Kemampuan tak menjamin orang itu bisa mengendalikannya bukan? Jadi, aku ucapkan selamat tinggal untukmu." Lanjutnya.
Semua orang mendadak terdiam. Ada yang terkejut ada juga yang suka dengan ucapan Ashina, tak disangka ucapan Ashina terbilang sangat sadis dan menyakitkan. Apa ini yang akan menjadi tameng dia kelak menjadi Luna di Pack ini?
"Arrghh! Ash kau wanita yang sangat aku benci!!" teriak Ambarita mengamuk.
Ashina langsung ditarik oleh Luna Ashley karena takut sewaktu-waktu ikatan itu terlepas dan Ambarita kembali menyerang. Lucien melirik kearah anggota yang membawa nampan diatasnya terdapat sebuah pistol.
Lucien menyuruh anggota tersebut mendekat kearahnya dan menyerahkan pistol tersebut. Lucien mengambilnya sembari mengusap ujung pistol tersebut.
"Pistol ini aku sudah persiapkan jauh-jauh hari untuk dihadiahkan untukmu. Tak banyak yang aku berikan untukmu disaat-saat terakhir kehidupanmu ini, tapi tenang saja dipeluru ini aku buatkan khusus untukmu," kata Lucien sambil menatap kearah Ambarita.
"Aku memberikan peluru berjenis perak, diselimuti serbuk bunga mortem. Ini mungkin akan sangat menyakitkan, namun menurutku ini juga pantas untuk kau terima. Sudah siap untuk itu?" sambungnya lagi.
"TIDAK! AKU BILANG JANGAN LAKUKAN ITU PADAKU LUC, AKU INI MANTAN MATE-MU. BIARKAN AKU HIDUP DAN AKU BERJANJI TAK AKAN MENGGANGGU KALIAN LAGI." Teriak dengan sangat keras Ambarita sembari meronta.
Lucien menatap kearah Beta Grade yang berada tak jauh disamping Ambarita. Lucien menganggukkan kepalanya singkat seolah memberi tanda, Beta Grade mengangguk. Lalu menghampiri Ambarita yang terus meronta, lelaki itu menutup kepala Ambarita dengan tudung kepala.
"Berhenti meronta dan diam ditempat!" perintah Alpha Drey.
Seketika tubuh Ambarita yang ketakutan dan lemas tersebut berhenti. "Dalam hitungan ketiga, aku akan menembakmu." Ujar Lucien.
"1.... 2.... 3...."
DORR!!!
Peluru tersebut lepas dan bunyi pistol tersebut membuat Ashina memejamkan matanya dan memeluk Luna Ashley.
Seketika tubuh Ambarita tergulai lemas tak bernyawa. Karena yang orang tahu peluru perak bisa membunuh Werewolf biasa, lalu bagaimana jika ditambahkan dengan serbuk bunga mortem yang terbilang mematikan? Sudah dipastikan Ambarita benar-benar merenggut nyawanya saat itu juga.
\\\\\\\\\\\\\\\\\\
**To be continued....
Aaaaa serius author gak tega buat Ambarita meninggal :( tapi mau gimana lagi yakan dia jahat😭 semoga suka dan bantuu support like vote dan comment nya karena ini bakalan masuk dipart-part ending😍
See you next part guys🐺**