
Author Pov
Pagi harinya, seperti biasa Ashina mengawali paginya dengan rutinitas yang ada hingga berangkat kerja. Dengan menenteng novel milik Anna yang dia pinjam kemarin, hari ini dia berniat untuk mengembalikannya karena dalam waktu semalam dia sudah mengerti semuanya.
Walaupun ada rasa takut yang berlebihan akan masa depannya, justru Ashina lebih merasa takut jika dirinya menolak Lucien sebagai pasangannya. Apalagi keluarga dari Lucien sangat baik ketimbang keluarganya sendiri.
Karena kini dia mengerti, jika seoranh Werewolf menemukan pasangannya lalu salah satu dari mereka menolak atau disebut meriject pasangannya. Maka Werewolf tersebut akan merasakan sakit yang teramat sakit dan memilih mengakhiri hidup sebagai jalan satu-satunya. Namun, sepertinya tidak semua Werewolf seperti itu.
Menurut Ashina, ketika seorang Werewolf ditolak oleh pasangannya dan dia depresi. Maka solusinya hanya dukungan dari keluarga, tapi kenapa dia ingin mencari tahu apakah selain dirinya, Lucien pernah bertemu pasangan lainnya?
"Hey! Masih pagi sudah melamun saja!" tegur Anna yang duduk disamping Ashina.
Gadis itu tersenyum tipis. "Eh, ini bukumu. Terimakasih ceritanya sangat seru." Kata Ashina sambil menyerahkan buku yang kebetulan sedang dia pegang.
Anna meraih buku tersebut. Lalu pandangannga beralih kembali kepada Ashina. "Kau suka fantasi Werewolf juga?" tanya Anna.
"Sedikit," jawab Ashina seadanya.
"Apa kau percaya setelah membaca ini?" tanyanya lagi.
"Percaya tentang?" tanya balik Ashina.
Anna menghembuskan napasnya kesal. "Tentang makhluk Immortal, apa kau percaya akan keberadaannya? Katanya mereka bisa saja berada disekitar kita tanpa kita sadari," ucap Anna dengan polosnya.
Ashina terkekeh sendiri. "dia belum tahu saja jika aku sudah bertemu makhluk tersebut, bahkan bukan hanya aku saja. Pegawai disini pun selalu melihat makhluk itu, tapi kenapa hari ini dia tidak datang?" ucap Ashina dalam batin dengan termenung.
"Hey, apa kau baik-baik saja? Kenapa tertawa sendiri dan melamun seperti itu?" kata Anna terheran sendiri.
"Tidak ada, hanya saja pertanyaanmu terlalu lucu Ann," ujar Ashina dengan senyuman seolah mengartikan sesuatu.
"Aku bertanya dengan serius, kenapa kau menanggapinya dengan nada bercanda?" ucap Anna kesal.
"Ya, aku memang pernah bertemu dengan makhluk Immortal, apa kau percaya itu?" tanya Ashina lagi.
"Tentu saja tidak, apa kau sedang bercanda sekarang?" kata Anna dengan tawanya.
"Aku serius," ucap Ashina dengan wajah datarnya. Seketika tawa Anna terhenti.
"Benarkah itu? Apa dia menyeramkan? Dimana kalian bertemu? Apa dia ingin memakan atau menyerangmu? Oh ayolah Ash, katakan padaku!" pertanyaan bertubi-tubi dilemparkan oleh Anna kepada Ashina.
Namun saat Ashina ingin membuka suara tiba-tiba seseorang memanggil namanya. "Ash, antarkan pesanan ini untuk meja nomor 21!" teriak seseorang.
"Ya, aku datang!" balas Ashina lalu meninggalkan Anna dengan beribu pertanyaan yang menggantung.
Hari ini, pelanggan cukup banyak hingga sore menjelang. Namun seseorang yang ditunggu Ashina tak kunjung datang, kemana dia? Apa dia marah karena perlakuannya? Tapi dia tidak melakukan apapun kepada lelaki tersebut. Itulah pertanyaan yang terus berputar diotaknya.
"Shift mu sudah selesai nona, apa kau tidak ingin pulang?" tanya Anna sambil membersihkan meja.
"Hati-hati, ingat Ash kau masih berhutang jawaban untukku! Nanti malam akan aku tagih." Seru Anna yang diabaikan oleh Ashina yang melangkah keluar dari tempat kerja.
Langkah gadis tersebut terlihat lesu, sesekali mengecek ponselnya namun tak ada notifikasi pesan dari siapapun kecuali Anna yang sedari tadi minta penjelasan tentang Ashina yang bertemu dengan makhluk Immortal.
Sesekali gadis itu juga membaca ulang pesan yang dikirimkan oleh Lucien kemarin malam. Malam ini sudah sangat larut, dilihat dari langit yang sudah senyap akan apapun. Gadis itu memilih untuk tidur saja, siapa tahu harapannya besok lelaki itu akan datang kembali.
Sudah tiga hari lamanya namun Ashina tak mendapati tanda-tanda jika Lucien akan datang. Jika kalian berpikir bahwa Ashina mencarinya karena dia khawatir, mungkin itu salah satunya. Tapi ada satu yang lebih penting, Ashina ingin bertanya dengan Lucien apakah yang ditulis dalam buku novel tersebut sama halnya dengan dunia Immortal yang sesungguhnya.
Namun tiga hari gadis tersebut menunggu dengan penasaran yang menggantung diotaknya. Pekerjaan yang sering lalai hingga terkena teguran beberapa kali.
"Dirumahmu ada masalah lagi? Jika kau mau cari tempat saja untuk kau menginap, daripada terus dimarahi oleh Ibu atau adikmu." Usul Anna yang diangguki oleh Jeifa.
Tatapan Ashina yang semula mengarah kedepan menatap luar, kini berganti menatap kedua temannya yang berada disampingnya. "Bukan, Ibuku tidak pernah memarahiku akhir-akhir ini. Mungkin karena aku juga lebih berhati-hati," ucap Ashina dengan senyuman tipisnya.
"Apa kau yakin?" tanya Jeifa ragu akan jawaban Ashina.
Gadis itu mengangguk dengan yakin. "Lalu apa yang selama ini menggangu pikiranmu? Kau tak pernah fokus akan apapun sampai kena tegur beberapa kali." Ujar Anna.
"Entahlah, aku sedang banyak pertanyaan yang menggantung dipikiranku," kata Ashina sambil memijat pelan pelipis kepalanya.
Sebuah usapan halus didapatankan oleh Ashina. "Tenangkan dirimu, jangan terlalu banyak memikirkan apapun Ash, nanti akan mempengaruhi kesehatanmu." Kata Anna dengan bijaknya, Jeifa juga mengangguki dengan senyuman manisnya.
"Terimakasih, aku beruntung memiliki teman seperti kalian." Ucap Ashina dengan terharu.
Suasana mendadak menjadi sedih. "Ah apa ini? Kenapa kita malah bersedih-sedih, ayo kembali bekerja. Nanti dimarahi oleh pak Boss lagi!" ujar Jeifa dengan tawanya.
Mereka serempak mengusap sudut mata yang sudah tergenang oleh air mata. Lalu tertawa selayaknya teman yang tengah mengobrol seru, dan kembali bekerja setelahnya sampai cafe tutup.
Gadis itu menunggu bus untuk pulang kerumah dengan bersenandung pelan. Hingga beberapa menit kemudian bus pun datang dan Ashina langsung menaikinya, setelah menempuh jarak untuk sampai kerumahnya. Bus itu sampai juga didepan halte yang tak jauh dari rumah Ashina.
Gadis itu kembali berjalan kaki untuk sampai kerumahnya. Lagi-lagi, dirinya bersenandung ria untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Tetapi hal tak terduga membuatnya terkejut. Bagaimana tidak, tiba-tiba tangannya ditarik begitu saja oleh seseorang dari samping, alhasil membuat keseimbangan tubuh Ashina goyah. Namun tak membuat Ashina terjatuh begiti saja.
"Hmmptt!! Lepaskan aku!" kata Ashina berusaha melepaskan bekapan mulutnya dari tangan orang tersebut.
Namun orang tersebut tak menggubrisnya, malah semakin berjalan ditempat yang cukup gelap. "Kau mau membawaku kemana? Lepaskan!" cerca Ashina sambil memukul pelan lengan orang tersebut.
Hingga akhirnya, bekapan dan dekapan tersebut terlepas. Namun, tubuhnya tiba-tiba diputar dan kini bertatap langsung dengan wajah orang tersebut.
"Hey, ini aku!" kata orang tersebut sambil memegang wajah Ashina dengan kedua tangannya.
**TO BE CONTINUED....
Hay, semoga suka. Jangan lupa like vote dan comment biar author semangat up nya, kalo ada typo tinggal bilang aja ya wkwk🌼
See you next part🐺**