
Author Pov
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua." Kata Ashina dengan wajah serius. Mars terlihat bingung, sedangkan Venus semakin dibuat penasaran olehnya.
"Apa?" tanyanya lagi.
"Tapi bisakah kita sedikit menjauh dari mereka?" ucap Ashina.
"Mungkin diruang bawah tanang bisa semakin tenang." Ketus Venus yang sudah kesal.
Tawa Ashina terdengar. "Kau kelihatan sangat ingin tahu. Tapi bukankah kau bilang bisa membaca pikiranku?" ujar Ashina.
"Ya memang, tapi pikiranku juga sudah random karena kau tiba-tiba sok misterius begitu," cetusnya.
"Kenapa kalian malah bertengkar? Jadi bicara tidak?" lerai Mars namun memakai intonasi nada kesal juga.
"Baiklah, dibawah pohon itu," kata Ashina sembari menunjuk dimana pohon rindang itu berdiri. "Kita duduk dibawah pohon itu dan membicarkan hal ini." Sambungnya.
Mereka berdua mengangguk serempak lalu berjalan bersama menuju pohon tersebut. Sesampainya dibawah pohon, mereka langsung duduk dan Ashina langsung membicarakannya.
"Kalian tahu jika kalian bisa berpotensi membantuku untuk menyingkirkan perempuan itu." Kata Ashina langsung to the point.
Mereka sama-sama terlihat bingung. "Aku tak mengerti apa maksudmu," ujar Mars yang diangguki setuju oleh Venus.
Ashina menatap Mars dengan serius. "Mars aku tahu sejak dari awal kau mengetahui gelagat aneh dari Ambarita bukan?" kata Ashina, lalu bergantian menatap Venus. "Ve, kau juga merasakan hal aneh tentang itu 'kan?" lanjutnya.
"Tentang Ambarita?" kata Venus. Ashina menganggukkan kepalanya.
"Aku memang menebak gelagat aneh saat dia tiba-tiba muncul dan bilang ada masalah. Apalagi dia meminta menginap di Pack ini, aku ingin memberitahu kalian semua tapi aku juga tak boleh gegabah akan hal ini." Jawab Venus akhirnya.
"Ya, aku juga sependapat dengan Venus. Kak Ash, bukannya aku tak ingin membantumu atau mencegah perbuatan Ambarita. Tapi perempuan itu memang licik dari awal tanpa disadari, dia bisa melakukan apapun tanpa sepengetahuan kita, maka dari itu sekuat apapun kekuatan yang aku punya, kita tidak bisa mencegah perbuatannya. Semacam bayangan yang tidak bisa digapai." Ucap panjang Mars.
"Kau salah Mars. Sesulit apapun hal itu, kita pasti bisa dan memiliki jalan keluar menyelesaikannya. Asalkan..." ucapan Ashina sedikit menggantung diudara, membuat Mars dan Venus yang medengarnya penasaran.
"Asalkan apa?" tanya mereka serempak.
"Asalkan kita mau bekerja sama, tapi jika kau masih setuju Luc dengan Ambarita. Aku tak masalah, mungkin takdirku dengan Lucien hanya sebatas pertunangan saja." Kata Ashina diakhiri dengan senyuman tipis.
"No! Aku tak suka dengan Ambarita. Aku lebih setuju jika kak Lucien denganmu, jangan pernah katakan itu lagi. Kau tahu? Aku sudah sangat sayang denganmu dan menganggapmu sebagai kakak perempuan terbaikku!" oceh Venus sambil merangkul Ashina dari samping.
Ashina tersenyum sangat manis. "Kau juga sudah aku anggap seperti adikku sendiri, terimakasih. Aku saya kau juga." Ujar Ashina.
Mars yang melihat drama antara dua perempuan itu memutar bola matanya malas. "Haruskah aku melihat drama paling dramatis ini?" cetus Mars kesal.
Mendengar hal itu, Ashina dan Venus langsung menyudahi pelukan tersebut. "Baiklah, kita kembali ke topik awal," ucap Ashina.
"Jika kita bekerja sama lalu apa rencanamu?" tanya Mars.
Ashina mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu dan masih bingung. "Entahlah aku pun tak tahu, aku baru mengenal dia tiga hari belakangan ini. Aku tidak tahu dia berasal darimana, punya kemampuan apa dan lainnya. Apa kau tahu tentangnya?" tanya balik Ashina.
"Aku tahu apa yang harus kita lakukan nanti!" ujar Venus dengan wajah misteriusnya.
"Apa?" tanya Mars dan Ashina serempak.
"Mendekatlah padaku, akan aku bisikkan!" ucapnya. Awalnya mereka saling berpandangan heran, lalu mereka menuruti perkataan Venus dan merundingkan rencana yang dibuat Venus.
Disisi lain, dimana seorang perempuan yang tak lain adalah Ambarita sedang berjalan mengelilingi Pack, lalu tak sengaja matanya melihat Ashina, Mars dan Venus yang tengah duduk dibawah pohon yang lebat dengan dedaunannya.
Seketika rasa penasaran Ambarita memuncak, perlahan langkahnya mendekat kearah mereka yang tengah mengumpul dan sesekali tertawa. Selangkah dekat dengannya, perempuan itu berkata.
"Sedang apa kalian disini?"
Mendengar hal itu, seketika mereka bertiga yang sedang duduk menoleh kearah Ambarita. "Oh, hai wanita menyedihkan." Sapa Venus langsung menyindir.
Kedua tangan Venus terlipat didepan dadanya, dengan wajah yang dibuat semenjengkelkan mungkin dimata Ambarita itu berdiri lalu mendekat selangkah berhadapan dengan Ambarita.
"Aku yakin kau tak sebodoh yang kita pikirkan." Kata Venus dengan tawa pelannya.
"Kau berani mencari masalah denganku?!" tegas Ambarita dengan sedikit nada menekan.
"Tidak, aku hanya menyapamu dan kau malah tersinggung seperti itu, sangat lemah sekali bukan hatimu? Ups, haha." Sindirnya begitu tajam.
Saat tangan Ambarita ingin menjambak rambut Venus. Ashina langsung mendorong badan Ambarita agar menjauh dari Venus. Ambarita terkejut dan langsung terdorong kebelakang.
"Aaaww!" ringis Ambarita. "Berani sekali kau mendorongku!" murka perempuan tersebut.
"Kenapa aku tak berani mendorongmu? Kau pikir aku gadis yang benar-benar polos dan lemah? Huh, yang benar saja!" kata Ashina sambil mengibaskan rambut panjangnya.
Ambarita melototkan matanya mendengar hal itu. Sedangkan Mars dan Venus tak menyangka melihat tingkah Ashina yang sedikit berani hari ini. Didepan mata mereka, jika keadaan tidak sedang memanas, sudah dipastikan jika Venus dan Mars memuji keberanian gadis itu. Tapi ini sedang panas-panasnya.
"Oh ya? Aku tak percaya akan hal itu. Seberani apapun kau, jika Lucien tak mengenalmu sebagai Mate aslinya, buat apa? Buang-buang tenaga saja jika kau melawanku!" bangga Ambarita.
"Mungkin untuk saat ini kau memang menang. Tapi ingat, kelicikkan tak selamanya menang diatas tahta. Keberanian dan kekuatan cinta sesungguhnya lah yang akan mengalahkanmu! Perlu ku ingatkan lagi, Lucien hanya mencintaiku. Dan kau? Hanya masalalunya." Ujar Ashina dengan nada tegasnya.
"Berani-beraninya ka--" ucapan Ambarita terpotong oleh teriakan Lucien.
"Ambarita, cepatlah kemari! Aku membutuhkan bantuanmu," teriak Lucien.
Mendengar teriakan itu membuat senyuman Ambarita mengembang sempurna. Sedangkan Ashina seperti dihantam oleh batu besar.
"Ya, sebentar lagi aku akan kesana!" balas teriak Ambarita. Lalu perempuan itu menatap kembali Ashina.
"Lihat? Sia-sia kau berkata seperti itu. Baiklah, lelakiku sedang membutuhkanku saat ini, jadi aku tinggal dulu. Bye!" pamitnya dengan nada menjengkelkan yang mereka bertiga dengar.
Sepeninggalan Ambarita dari tempat tersebut membuat kepalan tangan Ashina mengeras. Venus dan Mars mendekat kearah Ashina sembari berkata.
"Jangan pikirkan yang perempuan tak tahu diri itu katakan. Kau tahu? Tadi aku sangat bangga dengan ucapanmu! So proud of you!" kata Venus sambil memeluk Ashina dari samping dan memeberikannya semangat.
"Venus benar kak Ash, jangan terlalu dipikirkan. Ucapan kau juga pasti membuat dia kesal, aku bangga denganmu. Dan ingat, kita mempunyai rencana yang bagus untuk menyingkirkan perempuan itu!" ucap Mars.
Venus juga menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Mars. "Ya, aku harap kerjasama kita membuahkan hasil. Tapi, apa aku boleh berlatih bertarung dengan kalian?" tanya Ashina.
"Benarkah?"
"Kau serius?"
"Tentu saja, aku tidak ingin dianggap menjadi gadis lemah. Walaupun aku tak memiliki kekuatan, setidaknya bertarung menjadi tameng bagiku!" ucap Ashina lagi.
"Aku senang mendengarnya." Ujar Venus
"Aku akan melatihmu mulai besok, ayo kita balik kedalam rumah dan menyiapkan untuk pesta nanti malam." Kata Mars.
Mereka berdua mengangguk lalu pergi dari tempat tersebut dan masuk kedalam rumah yang sudah ditunggu oleh Luna Ashley.
\\\\\\\\\\\\\\\\
**To be continued......
Hi guys, untuk part selanjutnya sudah dipastikan makin seru😳 author spoiler dikit ya, akan ada kejadian yang buat Lucien marah besar! Kira-kira apa ya?? Stay tune terus😁😁
Jangan lupa tinggalkan jejak like vote dan commnet biar author semangat up💚💚
See you next part🐺**