
Author Pov
"Luc, kau..." kata Ambarita.
"Ya, kenapa? Apa kau terkejut dengan diriku?" tanya Lucien.
Saat Ambarita tak menjawab, lelaki itu menoleh kebelakang untuk melihat kondisi Ashina saat itu juga. Lucien menghampirinya lalu berjongkok untuk membantu Ashina berdiri.
"Apa kau baik-baik saja? Apa yang terluka? Katakan padaku." Kata Lucien dengan nada khawatirnya.
Bukannya menjawab, Ashina menangis begitu keras. Hal itu membuat Lucien bingung dengan tingkah Ashina dan dia tak tahu harus bagaimana.
"Hey, kau kenapa?" tanya Lucien lagi dengan nada selembut mungkin sembari mengangkat kepala Ashina agar menatapnya.
Mata itu dipenuhi dengan genangan air mata. Terlihat jelas didalam mata Ashina terdapat kerinduan sosok dirinya yang terlalu dalam. Seketika Lucien yang sudah memiliki keterikatan batin walau belum sepenuhnya menandai Ashina tapi dia bisa merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh Mate nya.
Tanpa diduga Ashina langsung menghamburkan pelukannya kepada Lucien dan menumpahkan semua kerinduan serta tangisnya yang semakin pecah. "A-aku merindukanmu, Luc. Hiks... Kau ini kenapa," kata Ashina menangis namun juga membingungkan sifat Lucien.
Tangan Lucien mengelus lembut bagian belakang kepala Ashina sembari membalas pelukkanya. "Maafkan aku, ada yang harus aku selesaikan dengan cara seperti ini." Ujar Lucien.
"Kau menyakitiku," isakknya.
"Maafkan aku, Ash. Maafkan aku," ucapnya lagi sembari memeluk lebih erat tubuh Ashina.
Dia tahu kalau tindakkannya sangat salah sehingga menyakiti hati dan perasaan Ashina. Tapi ini adalah salah satu jalan untuk membongkar kedok Ambarita sejak awal.
"Aarrrgghh, aku muak melihat ini!" teriak Ambarita cukup lantang dan membanting sebuah kursi kayu yang ada didalam kamar tersebut.
Karena bantingan dan teriakkan Ambarita cukup kuat hal itu membuat Lucien dan Ashina terkejut lalu membalikkan badannya untuk melihat kearah Ambarita. Tak butuh waktu lama juga, Luna Ashley, Alpha Drey serta Mars dan Venus menghampiri kamar Lucien yang sudah setengah berantakkan tersebut.
"Ada apa ini ribut-ribut." Suara Alpha Drey menggema.
"Apa yang akan kau lakukan lagi dengan Ashina Luc? Belum puas kau menyakitinya? Belum puas kau melihat Ashina terus menangis?!" kata Luna Ashley saat melihat wajah Ashina yang sudah basah dengan air matanya.
"Mom!" kata Lucien yang terbawa emosi juga.
"Kak! Kau berbicara tinggi dengannya!" balas Venus tak terima.
"Aku tidak bermaksud untuk membentakmu Mom, tapi aku juga tidak ingin menyakiti Ashina. Aku ha---" ucapan Lucien terpotong.
"Hanya apa? Hanya memberikan rasa sakit yang terus menerus? Jika kau tak ingin Ashina menjadi Mate-mu, Mommy bisa bawa Ashina pergi dari sini daripada terus menerus melihat dia tersakiti dengan tingkah kalian ber--" kali ini ucapan Luna Ashley juga terpotong oleh Lucien
"Mommy! Aku menyayangi Ashina! Dia Mate-ku!" tersulutnya Lucien.
Ashina mencoba meleraikan dan menenangkan Lucien. "Sudah!" kata Ashina, lalu menatap Luna Ashley. "Mom, Lucien kembali lagi dengan keluarga kita." Lanjutnya dengan suara parau.
"Hentikan drama ini!!" Teriak Ambarita yang sedari tadi diam.
"Aku benci dengan kalian! Aku benci dengan semuanya! Kenapa aku tak pernah mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya aku miliki!" teriaknya dengan sangat frustasi.
"Kau!!" tunjuknya kepada Ashina yang kini dilindungi oleh Lucien. "Kau seharusnya tak menjadi Mate pengganti dariku! Lucien milikku, hanya milikku!" ujarnya lagi dengan wajah yang begitu menyeramkan.
Satu tamparan berhasil mendarat dipipi Ambarita oleh tangan Lucien sendiri. "Berani sekali kau berkata seperti itu kepada Mate-ku!" amarah Lucien.
"Terlalu berkhayal tinggi." Desis Lucien.
"Ta-tapi kau ingat Luc, kau ingat saat malam kemarin. Kau tidur denganku, kau menandaiku bukan? Kau sudah menjadi milikku, kau terikat denganku." Kata Ambarita masih memperjuangkan.
Lucien tertawa meremehkan dan terdengar sinis. "Benarkah? Kau yakin jika aku tidur denganmu dan menandaimu?" ucap Lucien.
"Tentu saja, semua keluargamu termasuk gadis yang berada disampingmu melihat sendiri jika kau dan aku tidur bersa---" ucapan Ambarita terpotong.
"CUKUP!" teriak keras Lucien penuh amarah. Dengan sigap, Ashina langsung ditarik oleh Mars untuk mendekat kearah mereka. Sedangkan Alpha Drey keluar dari kamar tersebut menuju depan Pack karena merasakan aura yang berbeda disekitar Moon Stone Pack ini.
Lelaki itu mendekat kearah Ambarita. "Kau bilang kita tidur bersama?" tanya Lucien dengan pelan namun seperti menekan nadanya. Perempuan itu mengangguk penuh harapan.
"Baiklah, jika begitu apa kau ingat yang kita lakukkan?" tanya nya lagi. Mendengar hal itu perasaan Ashina mulai campur aduk, apakah Lucien tanpa sadar menyuruh Ambarita menceritakan setiap detail yang mereka lakukan didalam kamar tersebut?
Ambarita melirik sekilas seolah ada harapan jika sihir didalam tubuh Lucien belum sepenuhnya hilang. Perempuan itu mendekat, dengan tangan kanannya, dia meraba dada bidang Lucien.
"Aku sangat ingat apa yang kita lakukan saat itu. Kau saat itu sangat manis denganku," katanya seolah-olah tengah memanasi Ashina.
"Biar ku beritahu," kata Lucien. "Mempunyai sifat terlalu percaya diri itu menurutku tidaklah baik, biar ku ceritakan kejadian sebenarnya...."
*Flashback on..
Ambarita menyuruh seorang Warrior mengangkat tubuh Lucien dan membaringkannya didalam kamar yang dia tempat, lalu menyuruh Warrior tersebut keluar dari kamar dan menutup pintu kamar tersebut.
Dengan senyuman liciknya, tangan Ambarita menyapu seluruh badan Lucien termasuk wajahnya. "Kita akan memulai permainan ini dengan bersama, sangat bagus juga ramuan yang diberikan oleh penyihir itu. Aku tak sia-sia membayar mahal." Ujarnya dengan senyuman.
"Dengan ini aku akan sangat mudah mengambil tahta seorang Luna dan menguasai Pack ini. Lalu memperdaya seluruh keluargamu termasuk dirimu agar menurut denganku,"
"Ah, aku akan segera kembali untuk menyiapkan malam kita yang menyenangkan dan malam mereka yang paling menyakitkan. Aku akan segera kembali Luc," kata Ambarita lagi sembari pergi keluar dari kamar tersebut.
Setelah kepergian Ambarita, mata Lucien yang tiba-tiba terbuka, lelaki itu menatap sekitar kamar tersebut. Untungnya dia tahu arah kamar mandi dan langsung masuk kedalam sana, lalu menumpahkan semua minuman yang dia simpan didalam mulutnya sedari tadi.
Lelaki itu kumur-kumur dengan air agar minuman itu bisa hilang sepenuhnya dari mulut dia. "Kau pikir aku bodoh bisa percaya denganmu begitu saja? Kita lihat, permainanku juga tak kalah seru! Tapi mungkin ini akan menyakitkan bagi Ashina dan keluargaku." Katanya seolah berpikir panjang.
"Jika ini demi kebaikkan semuanya dan menyingkirkan Ambarita, apa salahnya kita mencoba?" sahut Zerky dari dalam sana melalui mindlink.
"Ya, kau benar. Kita ikuti permainan dia dan permainan kita dengan bersamaan!" kata Lucien sembari tersenyum licik.
Lalu lelaki itu kembali keluar dari kamar mandi dan berbaring ditempat tidur sebelum Ambarita kembali masuk kedalam kamar*.
\\\\\\\\\\\\\\\\\\
**To be continued.....
Hi guys, flashback nya akan disambung dipart selanjutnya. Semoga dapet feel, dan maaf bikin kalian malah kesel sama semua cast yang aku bikin😭😭
Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan comment biar author semangat up💚💚
See you next part🐺**