
Author Pov
Disisi lain, tepatnya dimana Lucien tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Untungnya saja jalanan malam ini sangat sepi, namun itu tetap saja membahayakan dirinya sendiri, tetapi harus bagaimana lagi? Ini Lucien, seorang Alpha terkejam tengah marah malam ini.
Entah apa sebabnya, perasaan Lucien tiba-tiba menjadi sangat panas dan kesal. Tentu saja hal ini bawaan dari amarah Zerky yang bercampur dalam diri Lucien. Karena kecepatan yang tinggi, mobil tersebut cepat sampai ditengah hutan dan terparkir mulus tepat didepan Moon Stone Pack.
Para penjaga yang berjaga didepan Pack membukakan gerbangnya agar mobil Lucien bisa masuk kedalam. Belum menurunkan kecepatan mobilnya, mobil Lucien melaju dengan membawa tanah-tanah yang berterbangan dibelakangnya. Lelaki itu keluar dari mobil dan disambut oleh Beta Grade dan Gamma Alvaro.
Mereka berdua bersamaan membungkukkan sedikit badan mereka saat Lucien keluar. Dengan wajah penuh amarah, Lucien berkata. "Kumpulkan beberapa Warrior yang ingin bertarung denganku malam ini," katanya.
Mereka berdua tertegun, terlihat dari aura sang Alpha yang dikelilingi oleh amarah. "Ba-baik Alpha, aku dan Gamma Alvaro akan memberitahu hal ini." Ucap Beta Grade dengan tergagap.
Tanpa mengatakan apapun, Lucien langsung pergi dari hadapan mereka dan masuk kedalam rumah. "Ada apa dengan Alpha Luc? Apa ada seseorang yang membuatnya semarah ini?" tanya Gamma Alvaro dengan berbisik ditelinga Beta Grade.
Beta Grade menaikkan kedua pundaknya tanda tak tahu. "Entahlah, aku rasa orang yang membuat marah Alpha Luc tidak memikirkan keselamatan dirinya." Balas Beta Grade.
Mereka sama-sama menggelengkan kepalanya, lalu pergi untuk memberi tahu para Warrior yang berniat bertarung dengan Lucien malam ini. Entah akan seperti apa malam ini jadinya.
Saat Lucien baru masuk kedalam rumah. Semua keluarganya tengah berkumpul diruang tamu. Luna Ashley melirik kearah Lucien yang ingin melangkah naik kedalam kamarnya.
"Luc, kau sudah pulang dari pesta?" tanya Luna Ashley kepada anak lelaki tertuanya.
"Ya, Mom." Jawab Lucien seadanya.
"Apa pestanya menyenangkan?"
"Masih buruk, banyak topeng palsu yang dipakai diwajah mereka." Katanya sambil membuka jasnya.
Alpha Drey terkekeh pelan. "Apa kau tengah marah, nak?" tanya Alpha Drey.
"Tidak," jawab Lucien.
"Aku bisa merasakan auramu dari jauh. Amarahmu sangat besar juga, aku harap malam ini kau tidak membuat masalah dengan melukai banyak Warrior." Kata Alpha Drey seperti memperingati anaknya.
"Drey," tegur Luna Ashley. Alpha Drey yang dipanggil namanya langsung menoleh lalu mengangkat kedua bahunya acuh, lalu melanjutkan menonton televisi.
Sedangkan kedua adik kembar Lucien hanya diam saja tanpa bermaksud ikut campur. Karena mereka juga merasakan aura sang kakaknya yang tengah dirundung amarah yang begitu besar, namun untungnya semarah apapun Lucien dia akan menurunkan amarahnya jika dengan keluarganya, apalagi dihadapan Luna Ashley.
Wanita yang menjadi ibu dari Lucien itu menghembuskan nafasnya pelan. Dirinya yang semula duduk kini berdiri bangkit dan menghampiri Lucien. Setelah berasa didepan sang anak, tangan Luna Ashley meraih lengan Lucien dengan senyuman diwajahnya Luna Ashley berkata.
"Kau tahu Luc, aku pernah bilang kepadamu saat usia mu baru beranjak 12 tahun. Jika kau sudah bisa menggantikan posisi Ayahmu, maka kau harus menjadi tegas dan bijak untuk menjaga Pack inu agar tak hancur. Tapi nak, bukan seharusnya kau melanpiaskan amarah pribadimu dengan Warrior kita yang tak tahu apapun." Kata Lun Ashley panjang lebar.
"Kau bisa melakukan hal apapun tanpa melukai orang disekitarmu." Sambungnya.
Lucien yang diberi perkataan tersebut hanya terdiam. Manik mata birunya kini berganti berwarna kuning keemasan. "Aku tidak punya cara lain untuk melampiaskan amarah ini Mom, biarkan aku melakukan hal apapun." Ucapnya dengan nada dingin.
"Kau Zerky bukan? Hey, kau serigala yang baik, kau tahu itu. Bawalah Lucien melampiaskan amarahnya dengan melakukan memukul samsak dikamarnya. Kau mengerti apa yang kuucapkan?" ujar Luna Ashley.
Luna Ashley menatap cemas kearah kamar Lucien yang sudah tertutup tersebut. Tiba-tiba usapan kecil didapatnya dari tangan Alpha Drey yang tengah menenangkan dengan wajah tersenyum.
"Biarkan saja dia melakukan apa yang menurutnya baik, dia sudah besar Shey. Bukan anak kecil lagi, dia pasti akan bertanggung jawab akan tindakkannya. Kita sudah mengajari dia dengan baik," ucap Alpha Drey seperti menenangkan dengan kata-katanya.
"Tapi Drey--"
"Sudahlah, ayo masuk kedalam kamar. Kau butuh istirahat yang cukup," kata Alpha Drey. Luna Ashley hanya menghembuskan nafasnya berat, namun tak menolak perkataan suaminya tersebut.
Sedangkan dengan Mars dan Venus dia hanya menatapnya dengan tatapan bingung. "Apa ini yang dinamakan dejavu, Mars?" tanya Venus dengan nada bingungnya.
"Kau benar, ini seperti tengah berputar kemasalalu saja." Jawab Mars yang sama bingungnya.
"Ah sudahlah, tugas kuliah kita saja masih banyak. Aku tak suka menambahkan pikiran dikepalaku." Ujar Venus sambil melanjutkan tugas kuliahnya, diikuti dengan Mars yang mungkin kebanyakan memakan cemilannya daripada fokus dengan tugasnya.
Disisi lain, tepatnya didalam kamar Lucien. Barang-barang yang semula rapih sekarang sangat berantakan. Ini bukan Lucien, tapi Zerky lah yang mengendalikan tubuhnya saat ini.
Walaupun tak berganti shift dengan menjadi serigala, namun Zerky sering melakukan amarahnya dengan tubuh Lucien. Serigala itu memang sangat licik, dia akan double membuat tubuh Lucien juga terluka nantinya.
Sedangkan Lucien berusaha sekuat mungkin berganti shift kembali dengan Zerky yang sudah menjadi-jadi. "Biarkan aku yang melakukannya!" kata Lucien berkata melalui mindlink.
"Ka Alpha tak becus, biarkan aku mengeluarkan amarah ini!" ucap Zerky membalasnya juga lewat mindlink.
Namun bukan Lucien namanya jika tak mempunyai ide selanjutnya. Dia membiarkan serigalanya mengamuk sebisa mungkin, jika dia sudah lelah maka dirinya akan mudah berganti shift.
Sialnya sudah 2 jam berlalu namun serigala itu semakin menjadi-jadi. Kamar Lucien sangat berantakan, karena kesal juga. Lucien akhirnya memaksakan diri untuk berganti dan berhasil, lalu dengan cepat memutuskan mindlink.
Tubuh laki-laki itu terjatuh dipinggiran kasurnya. Rasa letih menyergap keseluruh badannya, pikiran yang sudah kacau ditambah tubuh yang semakin lelah karena ulah Zerky. Lucien akan membalasnya nanti.
Dengan langkah yang gontai, Lucien mati-matian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Direndamnya tubuh tersebut dengan air hangat menggunakan bathtub, dia butuh ketenangan saat ini. Namun sialnya pikiran berkecamuk kepada kejadian ditaman tadi, bayangan wajah Ashina tak bisa dihindari olehnya.
"Apa yang kau inginkan sekarang Ash? Sedang mempermainkan hatiku?" katanya entah pada siapa.
\\\\\\\\\\\\\\
-**Ini sangat menyakitkan jika dalam suatu hubungan namun tanpa jawaban untuk memastikan. Kau menyuruhku menetap namun kau juga membuatku sakit.-
To be continued.....
Hi guys, makasih buat kalian yang udah kritik dan kasih aku semangat🤗 aku usahakan up setiap hari atau ada waktu luang setelah pekerjaan didunia nyata aku hehehe
Semoga suka, jangan lupa tinggalkan jejak komen dengan perasaan setelah baca part ini? Like dan vote nya untuk cerita LucAsh♥️
See you next part🐺**