
Author Pov
Setelah lama berbincang, Ashina memilih untuk pulang karena sudah larut malam. Walaupun keluarga Lucien menyuruh gadis itu untuk menginap semalam disini, namun dia menolak dengan alasan jika dirumahnya pasti sang Ibu tengah mencarinya sekarang.
Alhasil mereka meng-iyakan saja. Ashina diantar pulang oleh Lucien, sebelum pulang Luna Ashley berkata. "Nanti besok kau tidak usah berangkat kerja, karena kita akan pergi kerumahmu. Bukankah lebih cepat lebih baik?"
Ashina tersenyum tipis sembari menganggukkan kecil kepalanya. "Baiklah, aku akan menunggu kalian besok." Jawab Ashina, lalu berpamitan satu persatu kepada keluarga Lucien.
Mobil itu berjalan meninggalkan Moon Stone Pack, ditengah perjalanan tangan Lucien tak lepas menggengam tangan Ashina. Walaupun gadis itu sudah menegurnya namun Lucien adalah lelaki keras kepala, dia mengabaikan teguran gadisnya tersebut.
"Luc, jika kau mengemudi dengan satu tangan akan sangat bahaya. Fokus saja, lepaskan tanganku!" kata Ashina untuk kesekian kalinya berkata seperti itu.
"Oh ayolah Ash, aku sudah terbiasa menyetir mobil dengan tangan satu seperti ini." Ucap Lucien dengan matanya yang fokus kearah jalanan.
Mendengar hal itu membuat kedua mata Ashina memicing tajam melihat Lucien. "Lalu tangan satunya kau buat apa? Atau jangan-jangan kau juga seperti ini dengan gadis sebelumku bukan?" tuduh Ashina.
Bukannya menjawab, Lucien tertawa. Entah berapa banyak Lucien tertawa hari ini, dia sangat berbeda. "Tidak ada, aku hanya terbiasa dengan tangan satu Ash. Oh tunggu, apa kau tengah cemburu sekarang?" kata Lucien sekilas melirik kepada Ashina.
Wajah perempuan itu langsung mengalihkan pandangan kearah luar jendela samping. Namun tangannya tak lepas dari genggaman Lucien. Beberapa saat keheningan mengisi didalam mobil tersebut, sampai akhirnya tiba didepan rumah Ashina.
Gadis itu langsung melepaskan sealt belt nya dan membuka pintu mobil, namun ditahan oleh tangan Lucien. Ashina melirik kebelakang melihat Lucien.
"Apalagi?" tanyanya.
"Apa tidak ada salam perpisahahan untukku?" kata Lucien dengan mata yang berharap.
"Salam perpisahan? Seperti ini, sampai jumpa nanti besok Luc, apakah seperti itu?" tanyanya lagi dengan wajah polos.
Lucien mendengus kesal, lalu melepaskan tangan Ashina begitu saja. Membuat wajah Ashina seperti orang bodoh sekarang, namun tak lama, posisinya yang semula ingin keluar dari mobil kini duduk kembali. Gadis itu sedikit memajukan wajahnya kearah Lucien.
Cup!
Sebuah ciuman kecil didapati oleh Lucien dipipi kirinya. Wajah Ashina kembali menjauh, dan kini raut wajah Lucien perlahan tersenyum senang. "Aku menyayangimu." Ucap Lucien dengan nada manjanya.
Ashina keluar dari mobil Lucien, lalu berkata. "Ya aku tahu, sudah berapa kali kau bilang begitu terus." katanya dengan kekehan pelan.
Lucien ikut tersenyum. "Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa besok, Baby!" pamitnya.
"Ya pergilah sana!" ujar Ashina sambil menyuruhnya pergi.
Dengan kecepatan sedang, mobil itu pergi dari depan rumah Ashina. Untuk beberapa saat Ashina masih melihat mobil tersebut sampai benar-benar menghilang dari pandangannya. Setelah itu dia langsung membalikkan badannya untuk masuk kedalam rumah.
Alangkah terkejutnya Ashina saat melihat Ibu dan adiknya berada didepan pintu rumah sedang menunggu dirinya pulang. Langkah Ashina perlahan mendekat kearah mereka.
"Oh oh, lihatlah Al. Perempuan ini baru saja pulang, sangat tidak tahu waktu!" sindir Bu Meisha.
Ashina menundukkan kepalanya siap mendengarkan ocehan sang Ibu. "Aku berharap jika gadis ini tidak pulang kerumah, aku sudah muak melihat wajahnya setiap hari." Kata Alissa.
Kepala Ashina perlahan mendongak menatao mereka berdua. "Jika aku pergi dari rumah ini, apa bisa menjamin kebutuhan kalian tercukupi? Makan dengan hasil uangku saja sudah sangat sombong!" hardik Ashina tak ingin kalah.
Terlihat raut wajah Bu Meisha menahan kekesalan. "Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!" teriak bu Meisha.
"Kenapa? Aku juga muak mendengar ocehan kalian setiap hari terhadapku! Minggir, aku ingin masuk!" kata Ashina sambil menyingkirkan tubuh bu Meisha dan juga Alissa.
Untuk malam ini Ashina berhasil melawan Ibunya, walaupun dia tahu jika ini salah. Namun gadis itu juga lelah jika harus mengalah dan menjadi tersangka terus.
"Ayah, apa kau tak merindukanku? Aku akan mendapatkan pasangan sebentar lagi, kau tahu? Doakan diriku jika Lucien lelaki yang pantas untukku." Ucap Ashina sambil melihat kelangit-langit kamarnya sebelum tidur. Besok mungkin akan lebih baik.
Keesokan harinya, Ashina bangun dengan wajah yang bahagia. Semua bagian rumah seperti biasa dirapihkannya, sarapan pun sudah dia siapkan, sekarang sudah pukul sembilan pagi. Mungkin sebentar lagi keluarga Anderson akan datang kemari.
Ashina menghampiri sang Ibu yang tengah menonton tv dengan Alissa yang dibawahnya. "Bu, aku ingin mengatakan sesuatu," kata Ashina setelah berada disamping tempat duduk.
Bu Meisha melirik kepada Ashina. "Kenapa?" tanya bu Meisha dengan juteknya.
"Akan ada tamu yang datang dirumah ini, tolong untuk hari ini saja Ibu tak membuat masalah denganku ya?" pinta Ashina secara baik-baik.
"Bisa diatur, asalkan uang gajimu tambahkan untukku," kata bu Meisha memberi pilihan.
Mau tak mau Ashina harus meng-iyakan. "Baiklah, terserah apa katamu." Jawab Ashina, saat dirinya ingin masuk kedalam kamar tiba-tiba pintu depan rumah terketuk.
"Permisi," panggil seseorang dari arah luar.
Bu Meisha bangkit dan berjalan menuju pintu untuk membuka. "Sebentar." Katanya, lalu membuka pintu tersebut dengan wajah yang cengo. "Kalian siapa?" tanyanya.
"Saya Drey Anderson, dan ini keluarga saya." Kata Alpha Drey memperkenalkan diri beserta keluarganya.
Ashina menyusul kedepan untuk melihat. "Mom, Dad. Ayo masuk," ucap Ashina mempersilahkan. "Maaf jika rumahnya berantakan dan kecil sekali." Lanjutnya.
"Tidak apa-apa," kata Luna Ashley sembari duduk disofa tersebut, diikuti oleh Alpha Drey, Lucien, Mars dan Venus.
"Ada perlu apa kalian kemari?" tanya bu Meisha nyablak. Sedangkan Alissa menatap kagum kepada Mars.
"Kami kemari ingin meminta putrimu untuk menjadi pasangan putra pertamaku." Jawab Alpha Drey dengan nada wibawanya.
Seketika mata bu Meisha dan Alissa berbinar. Dia berbisik ditelinga Alissa. "Mereka sangat kaya bukan?"
"Ya, kelihatan sekali dari gayanya, Bu." Balas Alissa ikut berbisik.
"Ekhem, bagaimana?" kata Alpha Drey lagi.
"A-ah, aku tidak masalah. Kalian ingin putriku ini menjadi pasangan putramu bukan?" ucap bu Meisha sembari mengelus rambut Alissa.
Luna Ashley menggeleng. "Bukan gadis yang ini, tapi Ashina." Ujar Luna Ashley sembari menatap kearah Ashina yang tersipu malu.
Mata bu Meisha dan Alissa tertuju kepada Ashina. "Anak tak tahu diri ini kalian ingin jadikan pasangan putramu?" kata bu Meisha tak percaya.
Ah Ibu ini tak bisa diajak kerjasama, bukankah tadi dia sudah menerima kesepakatan dengan Ashina agar tak mencari masalah dengannya untuk hari ini? Tidak bisa dipegang ucapannya.
"Apa maksudmu?" tanya dingin Lucien yang sedari tadi diam, matanya menatap nyalang kearah bu Meisha dan juga Alissa.
\\\\\\\\\\\\\\\
**To be continued.....
Hayoloh, Lucien marah wkwk. Kira-kira setuju gak yah keluarga Ashina? Jangan lupa dukung terus dengan like, vote dan comment. Rekomendasiin juga sama temen yang suka genre ini🤗❤️
Hari ini udah up 2 mungkin udah cukup, see you next chapter guys💚💚
*Wawaaa✨***