
Author Pov
Hari pun berganti, dimana acara keluarga yang dibuat oleh keluarga Anderson dan usul dari Ashina akan dimulai. Matahari sudah ada diatas kepala yang artinya makan siang telah usai 10 menit yang lalu, keadaan saat sarapan atau makan siang hari itu sangat-sangat berbeda. Karena mereka yang berada disitu hanya terdiam untuk makan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Ambarita yang seharusnya sudah tak disini hari ini pun tengah asik berbincang dengan Lucien didepan teras rumah. Sedangkan Ashina tengah menyibukkan diri didapur mempersiapkan bahan apa saja yang akan dibutuhkan nanti malam, dibantu oleh Luna Ashley dan beberapa Omega lainnya.
Tak bisa dipungkiri sesekali mata Ashina menatap kearah mereka berdua yang setiap detik terdengar suara tawa bahagia dari mulut mereka. Ya, mereka berdua terlihat sangat bahagia namun tidak dengan Ashina yang merasakan hatinya seperti teriris-iris saat ini.
Apa dia harus mempercayai ucapan Kelvana jika dirinya bisa melawan Ambarita yang notabene-nya saja perempuan itu adalah Werewolf dan sedangkan dia hanyalah manusia biasa.
"Tidak ada yang tak mungkin didunia ini kak, selagi kita bisa melakukannya. Kenapa tidak mencoba terlebih dahulu? Bukankah tak baik menyerah sebelum bertarung?" sahut tiba-tiba Venus masuk kedalam dapur membuat Ashina yang ternyata melamun tersebut terkejut.
"Ve, kau mengejutkanku!" kata Ashina sambil memegang dadanya.
"Berarti kak Ashina daritadi melamun?" tebak Venus jahil.
Senyum Ashina terpancar tipis sambil berkata. "Kau ini,"
Venus ikut tersenyum, sedangkan Luna Ashley membiarkan mereka berbicara berdua saja. "Tapi apa yang aku ucapkan memang benar kak, jangan menyerah sebelum kita berperang. Aku ada dipihakmu!" kata Venus.
"Kau ini berkata apa, aku saja tak mengatakan apapun tapi tiba-tiba kau datang dan berbicara seperti itu." Ujar Ashina heran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Venus berdecak sedikit kesal. Lalu menoleh kearah belakang dimana Ibunya tengah sibuk dengan beberapa Omega saat itu. "Mom, aku bawa kak Ashina ya? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Ucap Venus.
"Baiklah, tapi jangan kau apa-apakan Ashina," seru Luna Ashley. "Jangan sampai kau membuat Ashina bersedih lagi dengan kejadian semalam." Sambungnya melalui Mindlink agar Ashina tak mendengarnya.
"Baiklah, beres!" kata Venus sambil mengacungkan ibu jarinya. "Ayo kak, ikut denganku!" katanya lagi sambil menarik tangan Ashina kearah kamar Venus.
Saat menuju kamar Venus, mata Lucien menatap Ashina yang juga tengah menatapnya. Tatapan itu terjadi beberapa saat sebelum Ashina dan Venus menutup pintu kamar dan tatapan itu berakhir.
"Hey, kau melihat apa?" tegur Ambarita sambil menepuk pelan lengan Lucien.
Lelaki itu sedikit terkejut, lalu berkata. "Tidak ada, aku hanya penasaran siapa perempuan itu. Seperti tidak asing untukku namun aku juga tak mengingatnya." Kata Lucien.
Ambarita seketika terdiam, "apa mantra itu sudah sedikit memudar? Kenapa dia seperti mengingat bayang-bayang gadis itu? Tapi permainan ini baru saja dimulai, dan nanti malam adalah permainan yang aku tunggu! Tak masalah, yang penting aku bisa berhasil merebut Lucien dari gadis itu. Akan ku buat mantra lebih lama agar Lucien terus bersamaku." Ucap Ambarita didalam hati.
"Kenapa kau melamun?" tegur Lucien bergantian.
"Ti-tidak ada apapun. Ah ya Luc, nanti malam akan ada pesta bukan? Apa keluargamu tak marah jika aku ikut bergabung?" tanya Ambarita.
Alis Lucien terangkat sebelah sembari berkata. "Tentu saja mereka mengizinkan, kau ini mate-ku. Keluargaku pasti senang akan hal itu," jawab Lucien.
Sebuah senyuman simpul terpancar dibibir Ambarita dan mereka kembali membicarakan obrolan apapun itu.
Disisi lain, dimana Ashina dan Venus berada didalam kamar. Mereka berdua duduk ditengah kasur seraya saling bertatap.
"Kak Ashina hampir satu bulan tinggal disinu bukan?" kata Venus. Gadis itu menganggukkan kepalanya sebagai jawab.
"Oke, selama satu bulan mungkin kita sering bersama tapi kau belum sepenuhnya tahu tentang diriku, biarku perkenalkan. Namaku adalah--" ucapan Venus terpotong oleh Ashina.
"Aku sudah tahu nama lengkapmu, bisakah langsung keintinya?" tanya Ashina.
"Kau tak asik! Tapi tidak masalah. Baiklah, kau tahu bukan jika keluargaku seorang Werewolf? Jadi aku termasuk. Aku adalah seorang Shewolf, aku juga memiliki Serigala yang sangat cantik dengan bulu putih yang lembut dan tebal." Kata Venus.
Mata Ashina berbinar mendengar cerita dari Venus. "Benarkah itu? Seperti bulu dari serigalanya Lucien? Apa aku bisa melihatnya?" kata Ashina menghujami beberapa pertanyaan.
"Maaf, lanjutkan kalau begitu!" kata Ashina.
"Aku memiliki serigala namun dia sangat pemarah. Dan aku juga memiliki kemampuan lebih dari itu, kau tahu kenapa aku berkata seperti itu saat didapur tadi?" ucap Venus, Ashina menggelengkan kepalanya kembali.
"Aku memiliki kemampuan membaca pikiran seseorang. Maka dari itu aku tadi tidak sengaja mendengar pikiranmu yang sangat random sekali," sambungnya.
"Benarkah? Kau bisa membaca pikiran siapapun?" tanya Ashina memastikan.
Kali ini Venuslah yang menganggukkan kepalanya. "Kak Lucien juga sebenarnya punya tapi dia sangat lemah akan kemampuan itu. Dan Mars dia bisa melihat perasaan seseorang melalui setuhan." Katanya.
"Sentuhan?"
"Iya, seperti menyentuh tangan atau tidak sengaja menabrak pundaknya." Kata Venus lagi.
"Kalian memiliki kemampuan seperti cerita-cerita dongeng saja. Andai aku bisa memiliki kemampuan juga seperti kalian," ucap Ashina.
"Ini yang kau tak tahu, tak selamanya seseorang memiliki kemampuan itu bisa mengendalikan kemampuannya. Jika kita tak bisa mengendalikan maka bencana akan datang." Ujar Venus.
Gadis itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Lalu dia teringat sesuatu. "Aku juga punya pertanyaan untukmu. Ah tidak, maksudku untuk kau dan juga Mars!" seru Ashina.
"Pertanyaan apa?" tanya Venus langsung penasaran.
"Aku tak akan memberitahukanmu jika Mars tak ada disini, bisakah kita mencari Mars terlebih dahulu?" pinta Ashina.
"Baiklah, mungkin dia ada dilapangan dengan Beta Grade untuk sekedar bertarung."
"Kalau begitu, ayo kita susul dia! Aku akan memberitahukan disana." Kata Ashina. Venus mengangguk setuju, lalu keluar pergi dari kamar menuju lapangan yang Venus maksud.
Saat ingin keluar dari rumah ternyata Lucien dan Ambarita tak ada lagi didepan teras rumah. Saat melewati depan teras rumah itu Ashina seketika teringat akan pertama kali dia kesini, ya dimana Lucien tiba-tiba menciumnya didepan Beta Grade. Namun sekarang? Itu seolah menjadi kenangan termanis sekaligus terpahit Ashina untuk saat ini.
"Kenapa kau berhenti disitu? Ayo!" kata Venus yang sudah ada didepan Ashina mendahului.
"Ah ya, baiklah!" Ucap Ashina sembari menyusul Venus.
Beberapa saat mereka mencari keseluruh Pack. Benar saja Mars sedang bersama Beta Grade dan juga beberapa Warrior disana sedang berlatih bertarung.
"Mars!" panggil Venus sembari melambaikan tangannya.
Lelaki yang dipanggil namanya tersebut menoleh kesumber suara. Dilihat jika itu saudari kandungnya, lelaki itu langsung menghampiri Venus dan Ashina.
"Ada apa?" tanya Mars.
Tangan kanan Venus menunjuk kearah Ashina. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua." Kata Ashina.
\\\\\\\\\\\\\\\\\\\
**To be continued....
Untuk part saat ini mungkin Ashina masih bisa dibilang 'lemah' tapi Author ingetin lagi ya kalo Ashina statusnya masih 'MANUSIA BIASA'. Kalo kalian terus pantengin, bakalan tahu kedepannya Ashina bakalan kayak gimana🙂
Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan comment✨
See you next part🐺**