
Author Pov
Kedua sahabat tersebut menumpahkan rasa rindunya dengan saling bercerita satu sama lain. Sampai-sampai Lucien merasa jika dirinya seperti dianggap tidak ada keberadaannya saat itu juga, akhirnya lelaki tersebut menghela nafasnya jenuh. Badannya yang semula menurun kini duduk dengan tegak sembari berdehem.
"Apa kalian butuh satu hari untuk saling bercerita? Ash, aku bosan." Ujar Lucien merengek seperti anak kecil minta pulang.
Seketika pembicaraan mereka terhenti dan mentapa bersamaan ke arah Lucien dengan wajah lelaki itu tertekuk masam.
"Apa kau ingin makan?" tanya Ashina.
Kepala Lucien menggeleng. "Aku ingin pulang," jawabnya dengan nada menggemaskan.
Seketika detak jantung Ashina nampak terhenti beberapa detik. Kenapa dia merasa Lucien saat itu sangat menggemaskan sekali, apalagi dia bertingkah tidak biasanya didepam orang selain dirinya. Ashina langsung melirik kearah Anna yang tengah menahan tawanya.
"Ka-kau bisa menunggu untuk beberapa menit lagi ya?" kata Ashina.
"Aku bilang pulang, maka kita harus pulang." Kekeh Lucien pada pendiriannya.
Ashina membuang nafasnya begitu saja. "Anna, seperti kita harus mengakhiri cerita hari ini. Aku harap kau bisa datang ke pernikahanku, dan kau akan dijemput oleh orang suruhan Lucien agar tak tersesat. Maaf jika ini mendadak memberitahukanmu." Ucap Ashina.
"Tidak apa-apa, aku senang kau masih mengingatku dan mengundang keacara pernikahanmu. Aku pasti akan datang dan membawakanmu hadiah yang spesial!" ucap Anna.
"Kau tidak perlu repot-repot membawakanku hadiah. Kau datang saja aku sudah sangat senang, buk--" ucapan Ashina terpotong.
"Ash..." panggil Lucien yang sudah berdiri didepan pintu keluar.
Gadis tersebut menoleh kesumber suara. "Iyaa aku datang," ujar Ashina mencoba bersabar. Lalu kembali fokus kepada Anna. "Maafkan, dia memang suka bikin orang kesal." Lanjutnya.
Anna tertawa pelan. "Dia sangat menggemaskan, jika kau bukan temanku, sudah kurebut dia darimu." Canda Anna.
"Berani kau rebut dia, aku tusuk matamu." Balas Ashina lalu berakhir dengan tawa.
"Aku pergi dulu, sampai jumpa besok An! Aku menyanyangimu." Pamit Ashina berpelukan sebentar dengan Anna lalu keluar dari Cafe dan menyusul Lucien yang sudah berada didalam mobil dengan wajah masih tertekuk.
Ashina masuk kedalam mobil dan memakai seatbelt nya. Tanpa berbicara Lucien langsung menjalankan mobilnya menuju kembali kerumah, disepanjang perjalanan hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Sampai akhirnya Ashina jenuh dengan hal itu.
"Luc berhentilah marah kepadaku!" katanya dengan nada kesal.
"Aku tak marah denganmu," jawab Lucien acuh.
"Tapi sifatmu menunjukkan hal seperti itu."
Lelaki tersebut hanya terdiam tak lagi menyahut ucapan Ashina. "Iya maafkan aku jika membuatmu bosan dan mengabaikanmu karena terlalu asik berbicara dengan Anna," kata Ashina.
"Sudah tahu tapi tak menyadarinya," gumam pelan Lucien.
"Namanya juga manusia, sifat alamiah jika dia seperti itu," ucap Ashina.
"Huh, manusia? Ya kau benar." Kata Lucien tak jelas.
"Kau menyebalkan!"
"Biarkan saja." Tak mau kalah Lucien.
Setelah itu tak ada pembicaraan lagi sampai akhirnya mobil tersebut berhenti di depan Moon Stone Pack. Lucien langsung menghentikan mobilnya dan membuka sabuk pengaman lalu pergi begitu saja, hal itu membuat Ashina tercengang. Sekarang apa yang harus dia lakukan?
Kembali memarahinya bukanlah solusi yang tepat untuk saat ini karena besok adalah hari kebahagiaan mereka berdua. Oke, jalan satu-satunya adalah, Ashina harus membujuknya agar tak kembali marah.
Gadis tersebut keluar dari mobilnya. Lalu menyusul Lucien yang menunggunya disamping mobil, saat dirinya baru berdiri disamping Lucien, lelaki tersebut ingin beranjak pergi namun langsung ditahan oleh Ashina.
"Kita harus membicarakan ini," kata Ashina.
"Luc, aku tahu kau kesal. Tapi aku sudah meminta maaf padamu, ayolah jangan seperti anak kecil seperti ini. Kita bicarakan baik-baik, begini saja kau boleh meminta apapun aku akan melalukannya asalkan kau tidak seperti ini, ish menyebalkan!" ucap Ashina panjang lebar.
Gadis tersebut menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sebuah senyuman licik tergambar dibibir Lucien. "Kalau begitu, lakukan ini." Kata Lucien sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah bibir dirinya sendiri.
Mata Ahsina langsung melotot. Lelaki ini memang sangat licik!
"Enak saja, tidak mau. Yang lain saja." Tolak Ashina.
"Oke, kalau begitu biarkan saja seperti ini. Jika Mommy bertanya ada apa, aku tak akan membantumu menjelaskannya." Ujar Lucien.
Wajah Ashina seketika nampak bingung. "Alpha yang sangat licik sekali," desis Ashina.
"Sudah menjadi salah satu sifat seorang Werewolf," balas enteng Lucien. "Jadi bagaimana? Mau menerimanya atau menolak?" tanyanya lagi.
"Baiklah, baiklah. Tapi tutup matamu," kata Ashina.
Lucien langsung menutup matanya, lalu sebuah kecupan kecil mendarat dibibir Lucien. Lelaki itu langsung membuka matanya sesaat setelah Ashina menjauhkan tubuhnya, Lucien tersenyum senang sedangkan Ashina menahan malu entah untuk apa.
Lalu gadis tersebut pergi begitu saja masuk kedalam rumah. Lucien menahan tawanya sembari menyusul Ashina.
Hari sudah menjelang malam, semua dekorasi sudah disiapkan hingga pada akhirnya hari yang dinanti-nanti datang juga. Bulan kini berganti dengan mentari yang sangat cerah hari ini.
Suara burung seolah-olah lebih ceria didengar dari hari-hari biasanya. Ashina yang berada diruang untuk meriasi wajahnya tersebut kini nampak sudah selesai dengan hiasan diwajahnya yang tak terlalu tebal dengan gaun biru muda yang sangat cantik bermotif bunga-bunga dibawah gaunnya dan atasannya, gaun tersebut melekat ditubuh Ashina sangat cantik. Rangkaian hiasan kepala memenuhi rambut hitam Ashina yang tersanggul modern namun menyisakan beberapa rambut terlihat lebih anggun.
Luna Ashley dan Venus datang masuk kedalam ruangan tersebut. Penata rias pamit mengundurkan diri dan meninggalkan ruangan tersebut, kini tinggalah Ashina, Luna Ashley dan Venus.
"Astaga! Apakah ini benar dirimu kak? Kau jauh lebih-lebih cantik dari biasanya! Gaunmu sangat cocok untuk tubuhmu, daebak! Aku sangat menyukainya." Heboh Venus membuat mereka tertawa.
"Ve kau terlalu berlebihan, tapi terimakasih. Kau juga sangat cantik dengan gaun birumu." Kata Ashina.
"Ya, aku menyadari itu." Ucap Venus membetulkan jika dirinya memang cantik.
Luna Ashley kini menatap Ashina dengan sangat dalam namun juga lembut. Entah mengapa tiba-tiba mata Luna Ashley berkaca-kaca seperti orang ingin menangis.
"Mom, kenapa kau menangis?" tanya Ashina khawatir.
Luna Ashley menggelengkan kepalanya. "Kau tahu, aku sangat senang hari ini. Setelah semua yang kalian lalui sangat berat, namun kalian berhasil bertahan sampai diposisi ini." Jawab Luna Ashley.
Keadaan langsung menjadi haru. Baru begini saja sudah meneteskan air mata, bagaimana jika didepan altar nanti dan didepan para tamu undangan? Ashina tak bisa membayangkannya.
"Aku juga sangat senang saat kalian masih mempercayaiku dan membantuku untuk melawan Ambarita, aku sangat beruntung." Kata Ashina.
"Bisakah suasana haru ini dihentikan? Ayolah, make-up ku sudah bagus, aku tak ingin terhapus karena air mata." Sahut Venus. Walaupun berkata seperti itu, Venus tak bermaksud benar-benar mengatakannya. Hal lain mengatakan jika menangis saat itu bukan waktu yang tepat karena acara akan dimulai.
Semuanya tertawa kecil, lalu menghapus air mata yang berada disudut mata mereka. "Sudah siap?" tanya Luna Ashley sembari menggandenga tangan kanan Ashina dan disebelah kiri Venus menggandeng tangan Ashina juga.
Gadis tersebut mengangguk, lalu mereka berjalan menuju altar yang sudah disiapkan dan ditunggu oleh Lucien yang sudah berdiri di sana dan para tamu undangan yang hadir.
Saat Ashina, Luna Ashley dan Venus berjalan di red carpet yang sudah digelar menuju Altar. Semua mata tamu undangan terfokus kepada pesona Ashina yang sangat anggun dilihat. Begitupun dengan Lucien yang langsung terpaku dengan pesona dari Mate-nya.
Zerky nampak melolong senang melihat Ashina dengan aura yang sangat cerah. Ini hari yang membahagiakan untuk mereka.
\\\\\\\\\\\\\\\
**To be continued.....
Hi guys, semoga sukaaaa jangan lupa comment buat part ini, like vote juga biar author semangat up!!!
See you next part🐺
Oh iya, kira-kira begini gambaran gaun dan hiasan kepala Ashina💙**