
Author Pov
Ashina dan Kelvana menghampiri Ambarita yang terluka dibagian pipi kanannya. "Bagaimana dengan tadi? Apa itu sangat menakjubkan, Am?" tanya Ashina saat mereka berhadapan.
Ambarita mengangkat kepalanya menatap Ashina dan Kelvana bergantian. Perempuan itu tersenyum miring, lalu berdiri bangkit dan maju selangkah mendekat kearah Ashina.
"Kau jangan terlalu bangga dulu, itu belum seberapa dengan kekuatanku yang sudah aku simpan. Kau seharusnya meminta maaf terlebih dahulu dan menyesali perbuatanmu sebelum aku mengirimkanmu kepada dewa kematian." Ujar Ambarita yang membuat emosi Ashina sedikit tersulut.
Tangan Ashina mencekal tangan Ambarita, namun perempuan itu langsung menghempaskan tangannya saat sebuah getaran menyakitkan yang dirasakan oleh tangannya.
"Aaawww," ringisnya sembari menjauhi tangannya dari Ashina. Gadis itu bingung saat melihat Ambarita kesakitan, padahal dirinya belum melukai atau mencengkram tangan Ambarita terlalu keras.
"Kenapa kau kesakitan?" tanya bingung Ashina.
Ambarita melototkan matanya tajam. "Kau!! Berani sekali menyetrum tanganku dengan kemampuanmu!" jawab Ambarita dengan menekan nadanya.
Ashina semakin bingung mendengar jawaban Ambarita, lalu menoleh kearah Kelvana yang ada disampingnya. Sebuah senyuman tipis menjadi jawaban Kelvana saat itu, seketika seperti kilas balik waktu Ashina kembali teringat. Apakah ini yang dimaksud teka-teki Kelvana tentang kekuatan Lucien yang diberikannya untukku? Tapi bagaimana dia menggunakannya?
"Benarkah?" kata Ashina sembari memegang pipi Ambarita dan perempuan itu kembali menjauh sembari meringis.
"Kau gila!" teriak Ambarita sembari melayangkan sebuah serangan namun masih bisa dihindari oleh Ashina.
"Lihat? Gadis yang kau bilang manusia biasa ternyata juga memiliki kemampuan untuk membawamu menemui dewa kematian. Ups tunggu," kata Ashina sembari melirik kearah Kelvana.
"Kelv, apa kau ingin membantuku menolong Ambarita untuk menemui kematiannya?" tanya Ashina. Kelvana yang diberi pertanyaan seperti itu tergelitik, tidak sia-sia jika dia mengajari Ashina selama ini.
Perempuan itu mendekat juga kearah mereka. "Tentu saja, aku rasa perjalanan akan sangat menyenangkan jika kita mengantarnya beramai-ramai." Ujar Kelvana.
Tanpa berbicara sepatah katapun, Ambarita kembali menyerang dengan bola api nya. Namun dengan cekatan mereka bisa menghindar dan mengambil ancang-ancang.
"Ash, ingat apa yang aku ucapkan padamu tadi. Sekarang waktunya!" kata Kelvana menyuruh Ashina yang langsung diangguki oleh Ashina.
Sebuah tongkat berbentuk seperti petir muncul dibalik rambut panjang dibelakang Ashina. Gadis itu mengarahkan tongkat itu kepada Ambarita.
"Dieu loup-garou Aidez-moi à éradiquer le mal et à restaurer le bien!" ucap lantang Ashina mengeluarkan mantra yang diberikan oleh Kelvana.
Sebuah sinar putih perlahan memancar semakin lama semakin besar. Entah dari mana angin besar itu datang kembali namun bisa dikendalikan oleh Ashina, dengan sekali hempasan yang mengarah kepada Ambarita membuat perempuan itu terpental cukup jauh.
Disisi lain para Rogue akhirnya mulai tumbang dan ada juga yang melarikan diri karena kekuatan yang dimiliki oleh warrior cukup kuat. Dengan segala kebringasan, Alpha Drey, Lucien, Beta Grade dan Gamma Alvaro serta para anggota tak gentar terus melayangkan cakaran dan pukulan.
"Luc, para Rogue hanya tersisa lima. Kita harus bekerja sama lebih keras agar mereka semua tumbang. Kemenangan sudah ada diatas puncak kita!" teriak lantang Alpha Drey.
Mendengar hal itu sahutan demi sahutan para warrior yang berganti shift menjadi serigala mereka masing-masing melolong bahagia. Kemenangan akan disambut dengan suka cita.
Kembali lagi kepada para perempuan. Mereka seperti tak ingin kalah satu sama lain juga, Ambarita masih bisa bangkit sambil terus mengeluarkan jurusan demi jurusan. Lalu tongkat yang dipakai oleh Ashina tiba-tiba patah oleh sihir Ambarita. Perempuan itu tersenyum licik, sedangkan Ashina terlihat cemas.
"Kelv, bagaimana ini?" tanya Ashina.
"Mau tak mau kau harus memakai tangan kosong saja, percayalah. Kau berlatih bertarung cukup bagus hanya dalam hitungan hari, percaya pada dirimu sendiri. Maafkan aku tak bisa membantumu, kekuatanku sudah terkuras karena disalurkan kepada tubuhmu. Kematian Ambarita hanya bisa dilakukan oleh tanganmu sendiri." Jawab Kelvana sembari terduduk lemah ditanah karena energi nya dikeluarkan cukup banyak karena tongkat sihir tersebut.
Ternyata dugaan Kelvana salah, Ambarita memiliki kemampuan diluar kendalinya. "A-akan aku coba." Kata Ashina walaupun sedikit ragu.
Ambarita tersenyum miring. "Apa kau terlihat takut sekarang?" tanya Ambarita.
"T-tidak, aku tidak takut padamu sama sekali!" ujar Ashina.
"Tunggu! Aku hanya memakai tangan kosong, tidak adil jika kau memakai sihirmu. Tangan kosong harus dengan tangan kosong juga!" ucap Ashina seketika jiwa saat masih sekolah dasar nya terulang dikepala.
"Tidak masalah, aku ahli dalam bertarung." Ujar Ambarita, lalu tanpa aba-aba perempuan itu melayangkan pukulan kearah pipi Ashina membuat gadis itu tak bisa mengelaknya.
Sebuah darah disudut bibir Ashina membuat gadis itu meringis karena bibirnya ternyata sobek. Karena tersulut emosi, Ashina maju dengan segala dendam yang dia punya. Gadis itu melayangkan pukulan juga kearah Ambarita namun masih bisa dihindari.
Serangan demi serangan mereka lakukan secara bergantian. Ashina mulai kehilangan tenaganya, namun tiba-tiba terlintas sebuah ide didalam kepalanya. Dengan senyuman licik Ashina menepis kaki Ambarita dan menangkapnya sebelah.
Perempuan itu hampir kehilangan keseimbangannya. Namun masih bisa diseimbangkan kembali. "Turunkan kakiku!" perintah Ambarita.
"Baiklah, tapi rasakan ini dulu!" ujar Ashina lalu menendang **** ********** Ambarita dan menghentakkan kaki Ambarita sehingga perempuan itu jatuh tersungkur. Kesempatan bagus bagi Ashina untuk menjejak perut Ambarita, perempuan itu meringis kesakitan.
Ditindihnya tubuh Ambarita sembari mendekatkan wajah mereka. "Kau pikir manusia biasa tak mempelajari ilmu bela diri?" kata Ashina dengan nada campurnya.
Perempuan itu memandang kesal Ashina, saat wajah Ashina ingin menjauh tiba-tiba matanya melihat sebuah permata berwarna merah tua dikepala Ambarita. Gadis itu langsung mencabutnya dan menjauhkan tubuhnya dari Ambarita lalu berdiri.
"Wow lihat, ini sangat cantik. Apa kegunaannya?" tanya Ashina sembari melirik kearah Ambarita.
Ambarita melototkan matanya saat permata itu ada ditangan Ashina saat ini, dengan memegang perutnya yang nyeri karena diinjak Ashina, perempuan itu berkata. "Kembalikan permata itu padaku! Berani sekali kau memegang milikku!" tersulut Ambarita.
"Tapi kau juga berani sekali memeluk Lucien didepanku!" tertawa geli gadis tersebut, lalu melirik kearah Kelvana. "Kelv, apa kau tahu apa kegunaan permata ini? Apa yang harus kita lakukan dengan permata miliknya?" tanya Ashina.
"Aku lihat permata itu tak berguna sama sekali jika kita gunakan Ash. Bagaimana jika kau menghancurkannya?" usul Kelvana.
"BERANI KAU MENGHANCURKANNYA AKU AKAN MEMBUAT KALIAN MENYESAL!" teriak keras Ambarita sembari bangkit berdiri dan langsung menyerang balik Ashina.
Tubuh Ashina terjatuh diatas tanah dan posisi Ambarita ada diatas tubuhnya. Permata yang Ashina pegang terpental tepat didepan Kelvana. "Kau akan mati Ash, kau akan mati!!" teriak murka Ambarita sembari mencekik leher Ashina dengan sangat kuat.
Gadis itu berusaha memberontak, nafasnya tersengal-sengal. "Ke-kelv, ha-hancurkan permata i-ituhh!" kata Ashina berusaha berbicara.
Kelvana langsung meraih permata tersebut dan mencari batu yang cukup keras. Saat mendapatkan batu yang dicarinya Kelvana langsung segera menghancurkannya.
"JANGAAAANNN!" teriak Ambarita sesaat permata itu benar-benar dihancurkan oleh batu.
Perempuan itu melepaskan kedua tangannya dari leher Ashina lalu menjauhkan badannya juga. Kedua tangannya kini berganti menutup kedua telinganya, lalu menarik rambutnya sendiri sembar terus berteriak dengan sangat keras.
"AAARRGGGHHH, AKU MEMBENCI KALIAN SEMUAA!!" Teriak Ambarita untuk terakhir kalinya sebelum tubuh itu terjatuh begitu saja tanpa sadarkan diri.
Mendengar keributan, para lelaki dan warrior yang sudah menghambiskan para Rogue mendekat kearah mereka.
"Ada apa ini?" tanya Alpha Drey.
\\\\\\\\\
**To be continued....
Serius, author juga tegang ngetiknya🤣 semoga suka deh, jangan lupa banyak banyak like vote dan comment ya😍💚💚
See you next part guys🐺**