
Author Pov
Selang beberapa waktu kemudian, Lucien keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat segar sekarang. Lilitan handuk dibawahnya dan telanjang dada sudah menjadi kebiasaan lelaki tersebut, dan Ashina harus terbiasa dengan hal ini tanpa harus terkejut secara tiba-tiba.
Ashina melirik kearah Lucien yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. "Sudah selesai? Aku sudah menyiapkan pakaianmu diatas kasur." Ujar Ashina sambil menunjukkan kearah kasur yang sudah terdapat baju Lucien.
"Terimakasih," ucap Lucien yang tak pernah ketinggalan. Hal itu juga menjadi kebiasaan untuk menghormati satu sama lain.
Lucien memakai baju tersebut, sedangkan Ashina tengah menyisir rambutnya yang cukup panjang. 5 menit berlalu akhirnya mereka keluar dari kamar dan turun untuk ke meja makan bersama yang sudah diisi oleh keluarga Lucien yang lengkap. Ah ya, Appa, Amma dan Anny juga ada dirumah mereka malam ini.
Appa dan Amma adalah Ayah dari Alpha Drey sebutan dari anak-anak mereka. Sedangkan Anny adalah Ibu dari Luna Ashley.
"Ah lihatlah, pasangan baru ini sudah turun akhirnya." Ujar Amma dengan senyuman.
"Aku kira mereka sengaja membuat kita menunggu lebih lama lagi." Sindir Venus dengan muka cemberutnya.
"Kau tak boleh seperti itu sayang," tegur Anny yang berada disamping Venus.
"Baiklah, maafkan aku. Jadi? Bisakah kita makan sekarang? Aku sudah sangat lapar!"
Semuanya tertawa setiap melihat keluhan Venus yang memang suka lapar dan tidak sabaran. Ashina dan Lucien duduk bersamaan dikursi yang masih kosong. Semuanya makan bersama, diselingi oleh gelak tawa seperti biasa.
Beberapa menit berlalu makan malam selesai, mereka kembali berkumpul dan melanjutkan obrolan mereka diruang keluarga yang cukup luas. Cerita demi cerita mereka lontarkan satu persatu tentang hari ini yang mereka jalani.
Ashina pun bercerita jika dirinya barusan bertemu dengan Zerky. Semuanya sempat tak percaya namun Lucien ikut memastikan jika yang diucapkan Mate nya itu benar, semula wajah mereka yang tegang kini mulai terbiasa kembali.
"Jadi kau sudah sepenuhnya menerima Lucien apa adanya?" tanya Amma Lucien.
Ashina mengangguk tanpa ragu. "Jika aku masih ragu, mungkin malam ini aku tak berkumpul dengan kalian semua," jawab Ashina dengan senyuman manisnya.
Jawaban Ashina membuat senyum dibibir Lucien mengembang seketika. Tangannya menggenggam erat tangan Ashina dan menatapnya dengan penuh cinta.
"Menjijikan," beo Mars yang ada disamping Venus yang sedang asik memakan makanan ringannya lagi. Sudah dipastikan Venus suka makan! Namun badannya bisa diseimbangkan.
"Mars, kau juga akan merasakan hal yang sama seperti Lucien jika kau bertemu dengan Mate-mu nanti." Kata Luna Ashley menyahut.
"Huh? Mana mungkin aku akan sebucin itu, berlebihan." Jawab lagi Mars.
"Benarkah? Lalu dikampus kau dengan gadis itu apa namanya? Apa ada sebutan lain yang lebih menjijikan dari itu, Mars?" tanya Venus sembari melirik kearah kembarannya.
Mata Mars melotot dan seperti meng-isyaratkan sesuatu jika gadis itu harus diam untuk tutup mulut. "Ah benarkah, Ve?" kata Lucien seolah ingin membalas.
"Tentu saj... aaww, Mars! Kau gila, ini sakit sekali!" pekik Venus saat mendapati cubitan dilengannya.
"Aku suruh kau diam!" gemas Mars.
"Tapi mereka juga harus tahu," ujar Venus dengan wajah cemberut sembari mengusap lengannya yang sakit.
"Mars kau tidak harus kasar dengan kembaranmu sendiri." Tegur Alpha Drey yang sedari tadi menyimak.
"Dia menyebalkan, Dad!" ucap Mars.
"Bukankah bagus jika kau dekat dengan perempuan? Itu artinya sebentar lagi Mate-mu akan datang. Atau itu memang Mate mu? Apa dia seorang manusia biasa juga?" tanya Appa-nya.
Bukan Mars yang menjawab melainkan Venus yang menggelengkan kepalanya dan berkata. "Bukan Appa, dia seorang--" belum sempat Venus menyelesaikan ucapannya. Mulut gadis itu sudah dibekap oleh Mars.
"Diamlah!" tekannya.
"Hmmpphh!!" ronta Venus berusaha lepas dari jeratan saudara kembarannya tersebut.
Setelah berhasil melepaskan tubuhnya, Venus langsung berlari sambil berkata tak jelas lagi. Hal itu membuat Mars mengejarnya dari belakang dan terjadilah kejar-kejaran untuk beberapa saat. Semua keluarga yang melihat hal tersebut hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua saudara kembar yang tak pernah akur tersebut.
Disisi lain, Ashina juga ikut tertawa. Lalu menatap Lucien yang tengah sibuk dengan laptop dipangkuannya. "Apa kau ingin minum sesuatu?" tanya Ashina, lelaki itu mengalihkan pandangannya dan menatap Ashina. "Nanti akan aku ambilkan jika mau." Lanjutnya.
Ashina membalasnya dengan senyuman. Dia berjalan kearah dapur untuk membawakan minuman untuk mereka semua. Saat mereka sibuk mengobrol, Mars dan Venus masih kejar-kejaran serta Lucien yang kembali fokus dengan laptopnya. Tiba-tiba sang Omega menghampiri mereka.
"Permisi Tuan, Nyonya," kata Omega tersebut sambil membungkukkan sedikit badannya hormat.
"Ada apa?" tanya Luna Ashley menghentikan obrlannya diikuti dengan yang lainnya.
"Ada tamu yang ingin bertemu dengan kalian." Jawab Omega tersebut.
"Oh, suruhlah dia masuk jika penting." Ucap Luna Ashley yang diangguki oleh Omega tersebut dan kembali berniat membawa masuk tamu tersebut.
"Siapa tamu yang malam-malam begini berkunjung kemari," beo Anny aka Ibu Luna Ashley.
"Entahlah." Jawab Luna Ashley.
Suara langkah seseorang mendekat, membuat perhatian semua keluarga tertuju kepada tamu tersebut. Dia seorang perempuan berbadan semampai dengan lekuk tubuh yang sangat bagus, rambut gelombang yang terurus dan polesan make up yang sangat cantik. Baju dress diatas lutut membaut aura gadis itu sangat sangat cantik.
"Kau?" kaget Luna Ashley dengan wajah tak percayanya.
Semula Lucien yang fokus dengan pekerjaannya kini menatap tamu tersebut. Betapa kaget dan berubahnya wajah Lucien dengan seketika saat melihat perempuan tersebut.
"Ambarita? Kenapa kau kemari?!" tanyanya tak suka.
Mendengar nama wanita tersebut Ambarita. Mars dan Venus menghentikan pertengkarannya dan ikut menatap gadis tersebut dengan wajah cengo. "Gadis itu?" tanya Venus berbisik kepada Mars. Lelaki itu menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Selamat malam, senang bertemu dengan kalian. Aku sangat merindukan kalian, terutama kepadamu, Luc." Ucap wanita tersebut yang tak lain adalah Ambarita mantan Mate Lucien yang mereject yang beberapa tahun yang lalu.
"Berani sekali kau datang kemari dan menunjukkan wajahmu!" sinis Amma dengan wajah tak sudi nya.
Tawa gadis itu terdengar seperti terkekeh pelan. "Apa kalian masih marah denganku soal kejadian dulu? Mengapa kita tak melupakannya saja dan kembali memperbaiki?" tanya Ambarita dengan nada percaya dirinya.
"In your dream!" gumam Venus menyahut.
"Oh, hay Ve. Senang bertemu denganmu kembali, kau tambah cantik." Puji Ambarita kepada Venus.
"Dan kau makin tak tahu malu datang kemari tanpa rasa bersalah." Sindir pedas Venus. Membuat kekesalan Ambarita lambat laun tersulut.
Saat wanita tersebut ingin membalas ucapannya. Ashina kembali datang dengan membawa minuman diatas nampan. "Minuman datang," kata Ashina berjalan dengan menatap minuman tersebut.
Lalu kepalanya menatap kedepan, betapa terkejutnya mendapati wajah keluarga Anderson tiba-tiba dipenuhi dengan amarah dan ada satu gadis yang berdiri dihadapan mereka. Hal itu membuat Ashina bingung.
"Oh, ada tamu? Kenapa tak duduk?" tanya Ashina sambil meletakkan minuman diatas meja. "Dan kalian, kenapa wajah kalian berubah seperti tak suka?" tanyanya lagi.
"Kau siapa?" tanya wanita tersebut kepada Ashina.
Ashina yang semula menatap keseluruh keluarga Anderson kini menatap kembali kearah Ambarita.
"Aku Ash--" ucapan Ashina terpotong oleh Lucien.
"Pergi kau dari sini!" marah Lucien dengan nada kasarnya. Hal itu membuat Ashina semakin kebingungan ada apa sebenarnya.
\\\\\\\\\\\\\\\\\
**To be continued.....
Cieee up dua kaliii. Hayoloh Ambarita datang lagiii, kenapa ya? Ada apa dia kembali ke keluarga Anderson? Jangan lupa pantengin terus. Kasih like, vote dan comment buat dukung cerita ini❤️❤️
See you next part🐺
Happy satnight and happy reading💚💚**