My Mine Is Human

My Mine Is Human
12. Keadaan rumah



Langkah Ashina ragu-ragu saat ingin memasuki rumahnya yang sudah dia tinggal kurang lebih 2 hari karena bertengkar dengan sang Ibu. Saat tangannya terulur ingin membuka gagang pintu, namun terlebih dahulu pintu itu terbuka oleh seseorang dan membuat Ashina sedikit tersentak lalu memundurkan langkahnya kebelakang.


Orang yang membuka pintu tersebut yang tak lain adalah adik kandungnya. Ya, dia adalah Adella anak kebanggaan Ibunya saat ini. "Kau pulang?" kata Adella dengan tatapan merendahkan.


Ashina tak menjawab ucapan adiknya itu, karena tak ada jawaban dari sang Kakak. Akhirnya Adella memanggil Ibunya yang berada didalam rumah. "Bu, gadis tidak tahu diuntung ini pulang! Cepat kemari." teriak Adella dari luar rumah.


Tak butuh waktu lama Bu Meisha keluar dari dalam rumah. Dia menatap nyalang kearah Ashina yang menundukkan kepalanya dalam-dalam seolah menerima dan siap dimarahi oleh Ibunya.


"Kau masih ingat jalan pulanh huh? Saya kira kamu sudah dimakan oleh binatang buas atau mati kelaparan." kata Bu Meisha dengan kata-kata tajamnya.


Ashina masih nampak bergeming ditempat, seolah tidak ingin berbicara ataupun menatap wajah mereka. Karena hari ini, dia tidak ingin berdebat dan menjadi pembicaraan tetangga sekitar lingkungannya lagi. Bukankah ada saatnya seseorang capek akan hal itu?


"Kenapa diam saja? Tidak sopan orangtua berbicara namun tidak menjawab dan menatap lawan bicaramu!" desis Bu Meisha.


Dengan keberanian yang dia kumpulkan, Ashina mengangkat wajahnya dan menatap kedua manusia yang ada dihadapannya ini. "Sudah aku bilang, aku belajar tidak sopan santun karenamu, ingat itu." ujar Ashina dengan setenang mungkin, walaupun didalam hatinya rasa takut sudah menjalar keseluruh tubuh.


Mendengar perkataan Ashina, membuat Bu Meisha murka dan mengangkat tangan kanannya berniat ingin menampar wajah Ashina namun tertahan karena ucapan gadis itu. "Mau menamparku lagi huh? Aku sudah rindu tidak mendapat tamparanmu, apa kau mau memberikan tamparan diwajahku lagi, Bu?" ucap Ashina dengan menekan kata terakhirnya.


Tangan kanan Bu Meisha yang masih berada didepan wajah Ashina kini turun tanpa disadari. Hal itu membuat Adella yang sedari tadi menyimak mengerutkan dahinya heran. "Kenapa Ibu tidak jadi menamparnya?" tanya Adella.


"Tangan Ibu sudah bersih dan tidak ingin terdapat kuman karena menampar gadis bodoh ini, lebih baik kita masuk saja daripada mengurus gadis tak tahu diuntung ini!" kata Bu Meisha sambil menarik tangan Adella agar masuk kedalam rumah.


Melihat Ibu dan Adiknya sudah masuk, Ashina menghembuskan nafasnya lega bercampur lelah. Ashina bukan tipikal gadis yang jika menerima kekerasan akan dibalas dengan kekerasan jika itu tidak ada untungnya.


Tapi, Ashina bukan tipikal gadis yang suka ditindas secara berlebihan, jika seseorang itu sudah kelewat batas mengatainya. Maka tak segan mulut Ashina akan membalikkan fakta yang dia tahu tentang orang itu ataupun mengembalikan kata-kata orang tersebut yang sudah terlontar untuknya.


Dengan langkah gontai, tubuh gadis tersebut masuk kedalam rumah dan menutup pintu utama rumahnya. Berjalan masuk kedalam kamar yang.... kapal pecah?


Mata Ashina melotot saat mendapati kamarnya yang berantakan seperti kapal yang terombang-ambing ditengah laut badai. Siapa yang melakukan hal ini? Lagi-lagi helaan nafas keluar dari mulut Ashina.


"Adik tidak ada pekerjaan! Suka sekali mengacak kamarku, jika aku balas pasti kaan mengadu kepada Ibu. Dasar pengadu!" gerutu Ashina sambil memungut buku-buku lamanya yang berserakan.


"Sedang mengataiku dibelakang hah?" tanya Adella dari belakang tubuh Ashina, tepatnya diambang pintu kamar Ashina.


Tubuh gadis tersebut otomatis langsung berbalik menatap Adella yang sedang menatapnya dengan kedua tangan dilipat didepan dada. "Kenapa kau mengacak kamarku!" protes Ashina.


"Kenapa memang? Tidak bolehkah? Tapi aku menyukainya." kata Adella sambil terkekeh geli.


"Kenapa diam? Tidak punya jawaban, huh?" katanya lagi dengan seringaian mengejek.


Ashina mendengus kesal, dia membalikkan kembali tubuhnya dan berjalan maju kearah Adella. "Kamu tau? Diam jauh lebih elegan daripada sibuk menghakimi dan mecari kesalahan seseorang lalu lupa untuk bercermin!" ucap Ashina penuh dengan kata sindiran.


Karena ucapan sang kakak, Adella tak bisa berkata apa-apa lagi. Seolah malu karena dipermainkan oleh Ashina. Melihat adiknya yang tak berkata lagi membuat sudut bibir Ashina terangkat dan menyeringai menang.


"Sudah selesai mencari masalah denganku adik manis? Bisa keluar dari kamarku sekarang juga? Aku ingin tidur dan kembali bekerja!" ucapnya lagi dengan perasaan bangganya.


Adella menatap nyalang kearah Ashina, mendengus kesal dan berjalan menjauh dari kamar Ashina dengan menghentak-hentakkan kakinya. Setelah dirasa sudah cukup jauh, Ashina menutup pintu kamarnya, hembusan nafas berat keluar dari mulut Ashina.


Dia akan menebaknya jika besok Ibunya akan memarahinya lagi karena Adella pasti mengadu kesang Ibu karena perbuatannya itu. Sudah menjadi kebiasaan, namun ada rasa bangga karena Ashina bisa mengalahkan kata-kata Adella dengan telak!


Gadis itu kembali sibuk merapihkan kamar kebentuk semula, hingga satu jam kemudian kamar kembali bersih seperti semula. Dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, gadis tersebut sama sekali belum sempat mandi ataupun makan malam. Pasti mereka berdua sudah makan terlebih dahulu.


Ashina yang tengah membaringkan tubuhnya diatas kasur pun segera bangkit mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi yang berada didalam kamarnya. Untuk sekedar merilekskan tubuhnya, Ashina mandi dengan berendam air hangat.


Selang beberapa lalu kemudian, perut Ashina keroncongan dan mulai meminta diisi oleh makanan. Dengan rambut setengah basahnya, gadis tersebut keluar dari kamar menuju dapur dan mengecek ada makanan apa yang tersedia. Namun saat mencari keseluruh tempat didapur dan kulkas, nihil tidak menemukan apapun.


Perutnya semakin meronta untuk diisi makanan. Saat itu juga dirinya teringat jika masih menyimpan beberapa lembar uang recehan yang cukup untuk membeli roti dan sebotol minuman, dengan langkah cepat Ashina merogoh saku dan menemukannya.


Sebelum keluar, matanya mengedar memastikan jika tidak ada orang rumah yang melihatnya. Dengan cepat Ashina keluar dari rumah dan bergegas pergi mencari makan. Tak jauh dari rumah, Ashina menemukan toko yang menjual makanan kecil namun padat yaitu roti dan minuman.


Dengan cepat memasuki toko dan membelinya, gadis itu keluae dan duduk dimeja yang sudah disediakan diluar toko tersebut. Dengan lahap Ashina memakan sampai habis roti tersebut, namun dirinya hampir tersedak oleh roti yang dikunyahnya karena suara seseorang yang dia kenal.


"Hanya memakan roti dipinggir jalan tidak membuat perutmu kenyang, Nona." kata lelaki tersebut sambil menyodorkan sebuah kantong plastik berisi makanan cepat saji dihadapan Ashina.


Ashina menatapnya tak percaya lelaki tersebut. "Kau--"


To be continued......


Hi guys maaf lama banget up nya😭 aku usahain sebisa mungkin aku luangin waktu yak, betah-betah nunggu hehe❤️ jangan lupa kasih like vote dan comment biar author semangat upnya🤗🦋 maaf kalo kata-katanya gak jelas atau ada typo wkwk.


See you next part guys🐺***