
Ashina Pov
Kalian tahu, sejak pengumuman bahwa aku adalah Mate dari Lucien membuat hidupku kembali berubah. Banyak kebahagiaan yang terjadi, namun tak sedikit juga masalah yang mengampiri. Mungkin jika kalian ingin tahu sebenarnya aku dan Lucien tak selalu harmonis atau romantis.
Bisa saja masalah itu muncul karena ego kita masing-masing. Namun beruntungnya aku dan Lucien bisa meredakan ego itu masing-masing. Karena masalah aku tak boleh keluar jauh-jauh tanpa sepengetahuannya atau juga yang lebih parah saat aku kembali menanyakan siapa nama dari Mate Lucien sebelumnya.
Apa aku salah menanyakan seperti itu? Dia terlihat tidak suka, apa sesakit dan sedendam itu dia dengan mantan Matenya? Jika kalian bertanya kenapa aku sangat ingin mengetahui gadis itu, karena aku hanya ingin mengetahuinya saja. Apa itu salah, atau Lucien yang berlebihan?
Hari ini tepat 3 bulan aku tinggal di Moon Stone Pack, terlepas dari pekerjaanku sebagai pegawai Cafe kini hanya seperti orang bingung yang kerjaannya hanya duduk dikamar ataupun ditaman mengobrol dengan Kelvana. Ah aku jadi merindukan Anna disana, sahabat terbaikku!
"Ingat pesanku!" ujar Lucien sebelum berangkat kerja sambil merapihkan jasnya.
Aku memutar bola mataku malas. "Iyaa, kau sudah berkata seperti itu seratus kali Luc. Aku saja sampai bosan mendengarnya!" cercaku.
"Aku hanya memperingatimu saja," balas Lucien.
"Aku tahu. Pergilah, nanti terlambat untuk rapat." Kataku sambil ikut berjalan mengantar Lucien sampai kedepan mobilnya.
Lucien mengecup keningku sebagai kebiasaan barunya sebelum berangkat kerja. Dan aku mulai membiasakan tentang itu, walau aku sedikit malu karena Beta Grade selalu melihatnya karena dia tangan kanan Lucien.
"Jaga dirimu baik-baik, aku akan pulang sore nanti lebih cepat. Aku pergi dulu." Ucapnya sebelum lelaki itu masuk kedalam mobil diikuti dengan Beta Grade yang duduk disamping kemudi.
"Hati-hati dijalan, jangan lupa untuk makan siang." Ingatku yang dibalas anggukan dan senyuman kecil dari Lucien. Mobil itu melaju pesat meninggalkan Moon Stone Pack, Ashina melambaikan tangannya kecil kearah mobil.
Lalu membuang nafasnya karena pasti dia akan bosan lagi. Kedua orangtua Lucien jarang dirumah karena sibuk menghambiskan waktu berdua, sedangkan Mars dan Venus mereka juga sibuk dengan kuliah mereka. Lihat? Aku seperti gadis yang tidak berguna saja.
Aku menghambiskan waktu duduk diteras depan rumah saja sambil membaca beberapa buku. Namun pertanyaan itu seolah kembali menghantuiku, dan bertepatan dengan Kelvana yang lewat didepan teras rumah.
"Kelv!" panggilku sambil melambaikan tangan dan menyuruhnya agar mendekat.
Gadis sepantaranku itu mengangguk dan mendekat, lalu badannya dibungkukkan sedikit sebagai tanda hormat. Aku sudah memperingatinya agar seperti teman biasa saja, namun gadis itu lebih keras kepala daripada diriku sendiri. Dia bersikeras jika itu sudah menjadi kewajibannya.
"Ada apa memanggilku?" tanya Kelvana dengan suara akrabnya.
"Duduklah, kenapa kau berdiri saja? Aku ingin kau menemaniku berbicara, aku sangat bosan sendirian." Kataku saat melihat gadis itu malah berdiri dihadapanku.
"T-tapi, aku tak enak jika dilihat orang Pack saat aku berbicara dengan Luna seperti orang biasa saja." Ujar Kelvana dengan gugupnya.
Aku menghembuskan nafasku jengah. "Ayolah Kelv, aku memang orang biasa kau juga tahu itu. Jangan permasalahkan apa kata orang, aku ini juga temanmu. Duduk lah, sebelum aku mendorongmu untuk duduk dikursi itu!" ucapku sedikit mengancam mengikuti kebiasaan Lucien jika tengah memarahi warriornya.
Bukannya takut dengan ancamanku, gadis itu malah tertawa geli melihatnya. Tentu saja hal itu membuatku cemberut, menyebalkan sekali. Namun aku senang saat Kelvana menuruti perintahku untuk duduk dikursi tersebut.
"Lalu? Apa yang ingin kau ceritakan?" tanya Kelvana. Ah aku senang saat dia tak memanggilku dengan sebut Luna.
"Tentang Mate terdahulu Alpha Lucien, apa kau tahu?" tanyaku balik.
Seketika terlihat wajah Kelvana yang tadinya tersenyum manis kini berubah menjadi datar dan... tidak suka?
"Ada apa? Apa aku salah bertanya?" kataku lagi.
Gadis itu menggeleng. "Mungkin iya atau mungkin juga tidak. Tapi mengapa kau bertanya padaku? Kenapa tak tanyakan langsung pada Alpha Lucien?" ucapnya.
"Huft! Jika semudah itu aku pun tak akan bertanya padamu. Masalahnya, Lucien tak ingin memberitahukan itu!" kesalku sendiri.
"Jika Alpha Luc tak ingin memberitahukan itu, berarti aku pun tak ada hak untuk memberitahumu. Aku takut jika aku salah menjawab," ujar Kelvana.
"Ayolah, aku percaya padamu. Aku tak akan memberitahukan pada Lucien bahwa kamu yang memberitahukan itu, aku berjanji!" kataku dengan bersungguh-sungguh sambil menaikkan jari kelingkingku sebagai tanda.
"Tentu saja!" yakinku.
Kelvana menarik nafasnya sebelum dia menceritakan semuanya. "Jadi dulu Alpha Lucien menemukan Mate dipinggir sungai Emerland saat sedang berburu. Disitulah aroma tajam menusuk indra penciuman serigala Alpha Luc. Mungkin saja Mate nya dia juga merasakan keterikatan itu, singkat cerita mereka pun dekat hingga membawanya ke Pack ini," cerita Kelvana sedikit terjeda untuk mengambil nafas kembali.
"Entah angin dari mana, kejadian buruk itu menimpa. Saat Pack ini tengah mengadakan pesta kecil karena berhasil mengalahkan Pack musuh, tiba-tiba Mate Alpha Lucien berkata dengan lantang dan mereject nya secara sepihak tanpa adanya masalah. Hanya itu yang aku tahu." Lanjutnya mengakhiri.
Ashina mengangguk-anggukkan cerita Kelvana tersebut. "Kalau boleh tahu, siapa nama Mate nya?" tanya diriku seperti tertarik untuk bertanya seperti itu.
"Untuk soal itu, mungkin aku tak bisa memberitahumu. Maafkan aku," jawab Kelvana yang membuatku sedikit kecewa.
"Oh ayolah Kelv, ini pertanyaan terakhirku." Paksaku memohon.
"Luna Ash, tolong jangan memohon seperti itu padaku. Aku tak enak hati. Baiklah, tapi ini untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pergi." Ujarnya seperti mengalah.
Aku menganggukkan kepalaku dengan semangat. "Ayo jawablah!" semangatku.
"Ambarita Qershyta." Jawabnya dengan pelan berbisik ditelingaku. "Aku permisi dulu untuk melanjutkan pekerjaanku, permisi Luna." Pamitnya lalu meninggalkanku sendiri.
Saat kepergian Kelvana, aku masih mencerna nama itu baik-baik. Jika dipikirkan nama itu sangat cantik, pasti orang itu juga sangat cantik. Namun kenapa dia memutuskan hubungan dengan Lucien yang memiliki sisi baiknya walau terlihat kejam diwajahnya saja?
Aku langsung masuk kedalam rumah untuk menghilangkan pikiran nama perempuan tersebut dan mencari cara agar aku tak merasa bosan dirumah besar ini sendirian. Hingga tak lama rasa kantuk-ku menyerang dan tertidur diatas sofa.
Sore hari pun datang. Sayup-sayup aku mendengar langkah kaki seseorang mendekat kearahku, namun rasa kantukku seperti sangat melekat kali ini, dan aku merasakan sentuhan tangan seseorang menyentuh pipiku.
Mau tak mau aku pun membuka mata untuk melihat siapa yang datang. "Luc?" kataku dengan suara serak khas bangun tidur.
"Mengapa kau tidur disofa, Ash?" tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Aku ketiduran setelah membaca buku," jawabku sambil bangun untuk duduk, lalu Lucien duduk disampingku dan menyenderkan kepalanya disela-sela leherku.
"Baumu sangat harum." Katanya dengan suara yang ikut serak, kebiasaan!
"Aku baru saja bangun tidur dan belum mandi tapi kau mengatakan aku harum? Pujian yang sangat menyanjung hati." Sindirku.
"Mandi atau tidak itu tak mempengaruhi bau badanmu yang mirip seperti bau Vanilla." Ucapnya. Hah? Yang benar saja?
"Luc... Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" tanyaku dengan ragu dan ingin mengalihkan pembicaraan saja.
"Katakan saja apa maumu," kata Lucien sambil memainkan jari-jariku.
"A-aku, ingin me-melihat serigalamu. Boleh?" tanyaku dengan gugup. Lelaki itu berhenti memainkan jariku sambil menatapku dan berkata.
"Kau serius?" tanyanya dengan tak percaya.
///////////////////////
**To be continued.....
Hi guys, malem-malem ginikan emang referensi cerita tuh dateng gitu aja makanya up malem² jam kunti gini😂 semoga suka jangan lupa like vote dan comment biar author semangat up.
Jangan silent readers yak ಥ‿ಥ
Gak papa deh, masih dibaca pun udah syukur hehe( ◜‿◝ )♡
See you next part guys ♡**