
Author Pov
Malam hari pun datang, Ashina sudah bangun sedari tadi dan langsung mandi karena badannya merasa lengket. Gadis itu duduk diteras luar yang berada disamping kamar Lucien, malam ini sangat indah, bintang dan bulan begitu gemerlap menghiasi langit malam yang sangat gelap.
Ashina rasa, hutan disini tidak terlalu buruk seperti yang dia pikirkan. Yang gadis itu lihat suasana Moon Stone Pack seperti kehidupan biasa yang ada disekitarnya, banyak orang yang mengobrol maupun anak kecil yang sedang berlatih bertarung maupun bermain.
Sangat menyenangkan. Tak terasa senyum Ashina mengembang begitu saja, suasana hatinya sekarang sudah membaik. Ditambah lagi saat dirinya terbangung dari tidurnya, kepala gadis itu berada diatas dada Lucien, dan lelaki itu memeluknya dengan sangat erat. Siapa yang tidak bahagia mendapati perlakuan manis oleh pasangannya sendiri?
Mata Ashina terpejam menikmati semilir angin malam yang meniup rambutnya yang tergerai bebas dan masih sedikit basah karena habis mandi. Tiba-tiba dirinya terkejut saat kedua tangan seseorang melingkar dipinggangnya yang ramping. Terasa jika tubuh orang itu bersandar dibahu Ashina.
Ya, siapa lagi jika bukan Lucien pelakunya? Gadis itu langsung membalikkan tubuhnya, kini dirinya bisa menatap wajah Lucien yang baru saja bangun dari tidurnya. "Kau sudah bangun?" kata Ashina sambil mengusap pelan wajah Lucien.
Lelaki itu menganggukkan kepalanya. Lalu membenamkan wajahnya disela leher Ashina, seperti tengah mengendus Ashina merasakan geli karena nafas Lucien.
"Luc hentikan, ini geli sekali!" ujar Ashina sambil mendorong tubuh Lucien. Lelaki itu menghentikan kegiatannya, belum mengeluarkan sepatah katapun membuat Ashina dibuat gemas oleh perlakuan lelaki tersebut.
"Mandi sana," suruh Ashina sambil mendorong pelan tubuh Lucien.
"Mandikan, oke?" ujar Lucien dengan suara seraknya seperti orang yang bangun tidur.
Tangan Ashina memukul pundak Lucien. "Kau ini sudah besar bukan anak kecil lagi yang minta dimandikan." Kata Ashina.
Lelaki tersebut tertawa pelan. "Siapa tahu kau ada niatan seperti itu, bukan? Aku hanya menawarkan saja, siapa tahu tawaranku benar." Ucap Lucien.
"Sudah-sudah, sana mandi. Ini sudah hampir malam." Oceh gadis tersebut.
"Baiklah, tapi saat aku mandi kau tidak boleh keluar terlebih dahulu dari kamar oke? Jika ada yang memanggilmu bilang saja sebentar lagi, mengerti?" petuah Lucien.
"Baiklah tuan Lucien, sekarang pergilah!"
Lucien tersenyum manis, lalu mnegecup pelan pipi Ashina dengan tiba-tiba dan langsung pergi begitu saja. Saat Ashina ingin protes, namun pipinya sudah sangat memerah karena malh dan hatinya seperti berdesir sangat kuat. Ada apa dengannya?
Beberapa menit berlalu, akhirnya Lucien selesai mandi dengan memakai handuk setengah badan. Dada bidangnya terbuka membuat Ashina yang tak sengaja melihatnya langsung berteriak dan menutup matanya.
"Aaaaa, Luc! kenapa kau tidak memakai bajumu?!" kata Ashina masih menutup matanya.
"Lemari bajuku ada diluar kamar mandi, tentu saja aku keluar tak memakai baju. Lagian kenapa kau harus berteriak? Bukankah nanti ini akan terbiasa kau lihat?" ucap Lucien seperti menggoda diakhir ucapannya.
"Menyebalkan, cepat pakai bajumu!" kata Ashina.
"Sudah, bukalah matamu,"
Perlahan tangan Ashina turun dan membuka matanya. Tercengang dibuatnya saat gadis itu ternyata dibohongi, Lucien masih belum memakai bajunya. Dengan wajah tersenyum smirik berubah menjadi gelak tawa yang menyenangkan, Lucien sangat senang melihat wajah Ashina seperti itu.
Karena kesal dibohongi dan ditertawakan, Ashina bangkit dari tempat duduknya dan berlari kearah Lucien untuk memukul lelaki tersebut, namun sayangnya Lucien langsung berlari menghindari amukkan Ashina.
Beberapa saat terjadilah kejar mengejar diantara mereka. Kasur menjadi berantakan karena mereka berlari melewati atas kasur juga, namun tiba-tiba tubuh Lucien oleng dan tangannya menarik tangan Ashina sehingga mereka terjatuh secara bersamaan diatas tempat tidur, untung saja bukan diatas lantai karena bisa jadi cideralah nantinya.
Posisi Lucien berada dibawah dan Ashina diatas. Tangan Ashina menyilang didadanya. "Kenapa kau menarikku!" protes gadis itu kesal.
"Aku ingin terjatuh denganmu," kata Lucien dengan nada menggelikan.
"Tidak akan, biarkan seperti ini sebentar." Ujar Lucien sembari terus mencium sekujur wajah Ashina sambil membalikkan posisi mereka dan kini Lucien berada diatas Ashina.
Hingga akhirnya suara ketukan pintu membuat aktifitas Lucien terhenti dan membuat Ashina bernafas lega. "Siapa?" kata Lucien.
"Tuan, makan malam sudah siap. Semuanya sudah menunggu dimeja makan," suara seorang Omega diluar kamar.
"Baiklah, aku akan turun. Kau bisa pergi sekarang," ucap Lucien.
Dirasa Omega itu sudah tidak ada didepan kamarnya. Ashina langsung menghindar dan membalikkan tubuh Lucien kearah samping. "Tubuhmu berat sekali!" keluhnya sambil berusaha bangkit dan merapihkan bajunya yang sedikit acak-acakan.
Lelaki itu tersenyum, lalu matanya menyadari sesuatu dari tubuh Ashina. "Kau memakai bajuku?" tanya Lucien saat kemeja besarnya melekat ditubuh Ashina sedari tadi.
Gadis itu tersenyum canggung. "Hehe, aku tak membawa baju Luc, kau tahu itu. Aku meminjam bajumu sebentar ya?" kata Ashina.
"Aku tak masalah, tapi kau terlalu... Argh, ini terlalu seksi hanya mengenakan atasan kemejaku yang kebesaran itu. Kau tunggu disini, oke? Aku keluar sebentar!" ucap Lucien sambil memakai kaos biasa dan pergi begitu saja dari hadapan Ashina.
Gadis itu merasa bingung, apa yang akan dilakukan Lucien kali ini? Dirinya menurut saja dan kembali menunggu Lucien balik kekamar. Beberapa menit berlalu akhirnya lelaki itu kembali datang dengan baju yang ada ditangannya.
"Ini, pakai baju milik Venus saja. Aku tak ingin kau terlihat seksi didepan orang lain selain diriku!" kata Lucien sembari memberikan baju tersebut.
"Sangat posesif!" gumam pelan Ashina.
"Tentu saja, kau milikku!" kata Lucien dan Zerky bersamaan, namun Ashina tak mendengar Zerky berbicara.
"Huh, telinga Werewolf memang sangat tajam. Aku berbicara pelan saja kau masih bisa mendengarnya dengan jelas," gerutu Ashina.
"Sudahlah tak perlu kau menggerutu seperti itu, cepat ganti baju dan kita turun kebawah untuk makan malam." Suruh Lucien.
Ashina hanya mengangguk patuh lalu masuk kedalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Dengan waktu cepat Ashina keluar dengan baju lengan panjang dan celana yang tak terlalu ketat.
"Sempurna!" ujar Lucien saat melihatnya. "Ayo keluar makan malam bersama," lanjutnya.
Lagi, Ashina hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan bersama keluar dari kamar menuju kemeja makan yang sudah diisi oleh keluarga Lucien. Sesaat canggung namun mereka langsung membiasakan diri.
Obrolan demi obrolan mereka lontarkan sepanjang makan malam. Gelak tawa tak lepas dari mulut mereka masing-masing, terlihat wajah bahagia yang mereka rasakan malam ini. Ashina sangat bersyukur tentang hal ini, dia bisa menemukan keluarga yang begitu hangat dan menyanganginya.
Pikiran Ashina yang terlalu jauh soal keluarga Werewolf yang dingin dan sadis itu perlahan memudar saat mendapati hal berbeda dari keluarga Anderson yang terlihat sangat harmonis.
\\\\\\\\\\\\\
To be continued....
**Uwwu gak?😂 semoga suka, jangan lupa like vote dan comment biar author semangat up. Terus dukung cerita LucAsh ya💚💚
See you next part🐺
*Wawaaaa✨***