My Mine Is Human

My Mine Is Human
52. Start



Author pov


Lucien dan Ashina meminum jus itu hingga habis, tidak bohong jika rasa jus itu sangat manis dan segar sekali. Mereka berdua serempak menaruh kembali gelas tersebut diatas meja didepan mereka, dengan senyuman manis yang Ambarita keluarkan saat pasangan tersebut menatap dirinya.


"Bagaimana?" tanya Ambarita.


"Ini sangat manis, terimakasih." Jawab Ashina dengan senyuman tipis, bagaimana pun juga dia harus sopan kan?


Ambarita menatap Lucien ingin mendengar jawab dari lelaki itu, namun Lucien tak kunjung bicara dan membuat Ambarita sedikit kesal dan kecewa. Saat Lucien membuka mulutnya Ambarita seperti berharap jika lelaki itu ingin mengeluarkan pendapat tentang jus yang diminum olehnya.


Namun sayangnya kekecewaan kembali memihak perempuan tersebut, Lucien menatap Ashina sembari meraih tangan kanan Ashina.


"Bisakah kita ke kamar? Aku hanya ingin berdua denganmu tanpa ada yang menganggu," ucap Lucien sembari menatap sekilas sinis kepada Ambarita.


Awalnya Ashina sedikit kebingungan. Namun langsung dia tanggapi dengan senyuman kecil dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, ayo." Katanya sambil berdiri bangkit.


Lelaki itu menyusulnya bangkit, lalu menarik pelan tangan Ashina agar ikut bersamanya. Namun Ashina menahan terlebih dahulu dan berkata sambil menatap Ambarita sebelum membalikkan badannya kearah kamar Lucien.


"Terimakasih atas Jus segar yang kau berikan, Lucien juga sangat menyukainya. Atas nama dia aku ucapkan terimakasih juga." Ujar Ashina dengan seramah mungkin sebelum Lucien kembali menarik tangannya dengan paksa karena dia kesal jika sudah melihat wajah perempuan tersebut.


Melihat kepergian sepasang Mate itu membuat kepalan tangan Ambarita mengeras. "Ini baru saja permulaan, kita tunggu saja saat malam tiba. Posisimu akan tergantikan olehku, Ashina yang malang." Kata Ambarita bergumam sendiri dengan nada sarkatisnya.


Disisi lain, Mars sempat melihat jika Ambarita tertawa namun dia tidak bisa mendengarnya dengan jelas apa yang perempuan itu katakan barusan. Namun saat Mars membaca raut wajah Ambarita, perempuan itu seolah tengah mempunyai rencana jahat, ini adalah kelebihan Mars yang sangat Venus sukai.


Menebak ekspresi seseorang lewat raut wajahnya dengan tepat sasaran. Jika itu benar, apa yang Ambarita rencanakan? Mars harus memberitahu hal ini kepada keluarganya, perempuan itu sangat bahaya. Harus segera keluar dari rumah ini atau kekacauan akan menghancurkan seisi rumah atau..... Pack?


Mars pergi dari tempat itu untuk menemui keluarganya yang berada diruang tertutup yang orang Pack tidak ketahui keberadaannya selain anggota keluarga. Disisi lain, Lucien dan Ashina berada didalam kamar dan melakukan kegiatan masing-masing seperti sekedar membaca buku atau melakukan pekerjaan kantor.


"Luc, 10 menit lagi aku akan pergi dengan Mom dan Venus. Kau mengizinkanku untuk ikut bukan?" tanya Ashina mengalihkan pandangannya dari buku kearah Lucien.


"Mengapa kau baru memberitahuku sekarang?" tanya balik Lucien.


"Maafkan aku, aku lupa memberitahumu. Ayolah, ini dengan Mom dan Venus saja untuk membeli beberapa bahan makanan untuk pesta besok malam." Kata Ashina terus membujuk.


Lelaki itu menghela nafasnya berat. "Baiklah aku izinkan, tapi ingat kau harus jaga diri baik-baik. Jangan melirik kesana kemari apalagi kepada lelaki lain, awas saja. Gamma Alvaro akan ikut dengan kalian, tidak ada bantahan atau jika membantah tidak pergi sama sekali." Ucap Lucien panjang lebar.


Kini gantian Ashina menghela nafasnya sembari menutup buku tersebut dan berjalan kearah Lucien. "Terserah apa katamu, terimakasih telah mengizinkanku. Aku tak seburuk itu sampai melirik kepada lelaki lain, kau saja sudah cukup," kata Ashina sambil berdiri disamping Lucien dan mengusap bahunya.


Lucien tersenyum simpul lalu meraih tangan kanan Ashina. "Kau gadis yang sangat imut, aku semakin mencintaimu." Ujarnya sambil mengecup tangan Ashina.


"Aku tahu itu. Baiklah bisa lepaskan tanganmu? Aku ingin siap-siap," ucap Ashina. Lelaki itu menuruti permintaan Ashina dan membiarkannya untuk bersiap-siap.


"Kau wangi sekali. Terlihat lebih cantik dari biasanya juga, bisakah kau membatalkan saja? Biarkan Mom dan Venus saja yang pergi." Pinta Lucien sembari menyembunyikan kepalanya disela-sela leher Ashina.


"Luc, hentikan kau ini seperti anak kecil yang ingin ditinggal oleh Ibunya kepasar saja. Aku tidak lama pergi, makan malam juga sudah sampai disini." Kata Ashina yang sudah siap dengan semuanya.


"Tapi..." ucapan Lucien terhenti saat ketukkan pintu kamar berbunyi.


"Kak Ashina, apa kau ada didalam? Kita sudah siap," teriak Venus dari luar dengan menaikkan satu oktaf suaranya.


"Venus sudah mencariku, biarkan aku pergi. Lepaskan," kata Ashina. Lagi-lagi lelaki itu menuruti apa yang Ashina ucapkan.


Gadis itu tersenyum. "Aku akan turun Ve," sahut Ashina. "Aku pergi dulu Luc, aku mencintaimu. Jaga dirimu baik-baik ya." Lanjut Ashina sambil mengecup sebelah pipi Lucien dengan cepat dan keluar dari kamar meninggalkan Lucien yang bergeming ditempat.


Lelaki itu mengerjapkan matanya seperti menelan kejadian barusan. Ashina menciumnya? Ya, itu sungguh Ashina yang mencium dia! Ah ini seperti mimpi, Lucien sangat menyukainya!


Kepergian para perempuan dikeluarga Anderson membuat suasana rumah terlihat sepi. Membuat Lucien sedikit jenuh dengan mengerjakan pekerjaannya diruangan tv. Lelaki itu memijat pelan kepalanya, tiba-tiba Ambarita datang dari arah belakang memberikan minuman kepada Lucien.


"Segelas air putih mungkin bisa membantumu sedikit tenang." Ujar tiba-tiba Ambarita sembari mengulurkan gelas itu kehadapan Lucien.


Lucien tak menggubriskan, membuat Ambarita tak ingin menyerah begitu saja. "Mengapa tak mengambilnya? Aku hanya ingin sekedar memberimu minum saja," katanya lagi.


Mata lelaki itu menatap curiga kearah gelas yang disodorkan oleh perempuan tersebut. "Kau curiga? Tenang saja, aku tak memberikan apapun diminuman ini." Yakinnya lagi. "hanya sedikit cairan saja." katanya didalam hati.


Masih menatapnya dengan curiga namun Lucien menerima air tersebut dan meminumnya. Karena Lucien memang tengah haus saat itu juga. Tegukkan pertama dan terakhir itu membuat Ambarita tersenyum miring dalam diamnya.


"Kau masih saja menurut padamu, aku makin jatuh cinta denganmu. Kembalilah denganku! Kita mulai dari awal lagi." Ucap Ambarita sambil menghampiri Lucien dan duduk disamping Lucien yang semakin memegangi kepalanya karena pusing.


Ruangan itu seolah berputar-putar dikepala Lucien yang melihatnya. Lalu tubuhnya terjatuh tepat kearah Ambarita yang tengah duduk disampingnya. Melihat minuman itu sudah bekerja ditubuh Lucien dan membuat lelaki itu tak sadarkan diri sekarang dipelukkannya membuat Ambarita tertawa jahat.


"Kau akan kembali kepelukkanku dan melupakan gadis manusia biasa itu!" gumam Ambarita dengan pelan.


Lalu dia memanggil beberapa anggota untung membawa Lucien kedalam kamarnya. Tidak, bukan kamar Lucien dan Ashina, namun kamar Ambarita yang tengah ditempatinya.


\\\\\\\\\\\\\\\\\\


**To be continued......


Huaaaa aku lupa up maap nunggu😭 semoga suka dan makin sukaaaa. Jangan lupa tinggalkan jejak like vote dan comment buat dukung cerita ini dan author semakin semangat up🤗❤️


See you next part🐺**