
Author Pov (random banget ya hehe)
Sudah lebih dari 1 minggu setelah kejadian itu tak ada lagi pertemuan antara Lucien dan Ashina. Entah siapa yang tengah menghindar untuk bertemu, namun rupanya mereka sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing. Atau mungkin hanya pura-pura untuk baik-baik saja? Hanya mereka yang tahu itu.
Gadis itu sangat sibuk dengan pekerjaan hari ini, cafe begitu sangat ramai dimusim panas seperti ini. Hari yang cerah ditambah senyum Ashina yang tak pernah lepas menyambut para pelanggan yang masuk kedalam cafe tersebut.
Sedangkan Lucien juga sibuk dengan urusan Pack serta perusahaan keluarganya. Aura dia sama sekali tak berubah sejak kejadian itu, atau bisa disebut bagi setiap anggota atau rakyat Moon Stone Pack merasakan perubahan lebih kejam dari Alpha Lucien yang dulu mereka kenal. Sangat dingin, kejam dan tegas.
Balik lagi dengan Ashina saat ini. Gadis itu tengah menyenderkan tubuhnya diruang belakang. Sangat melelahkan, kakinya membutuhkan pijatan untuk sekedar meregangkan otot-ototnya. Saat tangan Ashina sibuk memijat pelan kakinya, tiba-tiba seseorang masuk kedalam ruangan tersebut. Bisa kita sebut itu adalah ruangan istirahat saat jam break karyawan.
"Ash, kau terlihat sangat lelah hari ini." Kata Anna yang duduk didepan Ashina.
Kepala Ashina yang semula menunduk lalu mendongak menatap Anna yang tengah meregangkan otot tangannya. "Ya begitulah, hari ini sangat ramai pelanggan. Tetapi aku senang, karena itu juga bisa membuatku... sedikit melupakan," ucap Ashina dengan nada pelan diakhir kalimat.
"Kau berkata apa diakhir ucapanmu tadi?" tanya Anna yang tak terlalu jelas mendengarnya.
"A-ah, ti-tidak ada. Kau salah mendengar kali, aku hanya bergumam sedikit, lupakan." Jawabnya sembari tergagap.
Sesaat kedua mata Anna memicing menatap Ashina curiga. Detak jantung Ashina tiba-tiba berdetak tak karuan. "Ke-kenapa kau menatapaku seperti itu, Ann?" katanya sedikit risih.
Bukannya menjawab, gadis itu tertawa lepas. "Hahaha, kenapa kau sangat takut sekali Ash. Apa ada masalah yang kau sembunyikan?" tanyanya lagi.
Gadis itu menggeleng. "Tidaka ada, hanya masalah ibuku saja yang semakin hari semakin cerewet," keluhnya.
Terdengar helaan nafas keluar dari mulut Anna, gadis itu menepuk bahu temannya seperti tengah memberi kekuatan. "Kau boleh menginap dirumahku jika kau mau, Ash. Kau tidak seharusnya bertahan lebih lama jika kau pulang kerumah hanya mendapati kekerasan saja." Kata Anna dengan nada sedihnya.
Ashina tersenyum tipis. "Kau tenang saja, aku masih bisa menghadapi ini." Ujarnya berusaha kuat.
Anna hanya menggelengkan kepalanya tak percaya. Memiliki teman seperti Ashina yang keras kepala dan pekerja keras memang membuat perasaannya sebagai teman sangat berbeda.
"Oh ya Ash, bagaimana dengan lelaki yang selalu bersamamu? Akhir-akhir ini aku tak melihatnya bersamamu ataupun sekedar mengunjungi cafe ini," tanya Anna seolah meluangkan waktu sisa istirahatnya.
Gadis itu mengedikkan kedua bahunya seperti tak tahu. "Aku bukan orangtuanya, mengapa kau menanyakan hal itu padaku?" tanya balik Ashina.
"Aku tahu itu, tapi bukan seperti itu maksudku. Ah kau kan yang paling dekat dengannya, ayo ceritakan. Apa kau ada masalah dengannya?" tebak Anna diakhir ucapannya.
Sesaat Ashina terdiam, melihat gadis didepannya ini hanya terdiam Anna langsung mengerti hal itu. "Jika kau tak ingin cerita, aku tak akan memaksa, Ash." Ucapnya lagi.
"Terakhir kalinya kita bertemu satu minggu yang lalu. Aku tak mengerti mengapa lelaki itu marah kepadaku," cerita Ashina.
"Ash, seseorang tak akan marah tanpa alasan yang jelas. Pasti lelaki itu---ah siapa namanya Ash, aku lupa," katanya sambil tertawa kecil.
"Lucien," jawab Ashina.
"Ya, Lucien. Mungkin Lucien punya alasan untuk marah denganmu, apa kau memiliki kesalahan yang kau sadari atau tidak?" ujarnya.
Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tak tahu, tetapi dia terakhir berbicara denganku karena dia meminta jawaban untuk hubungan kita, tapi---" ucapan Ashina terpotong oleh Anna.
"Kau tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, ini tidak mudah untuk memutuskan sesuatu seperti ini." Kata Ashina dengan nada pelannya.
"Ya mungkin aku tidak terlalu tahu tentang masalah kalian, tapi Ash. Aku hanya ingin memberitahumu, jika kamu berada diposisi Lucien saat ini dan kamu meminta jawaban sedangkan Lucien tak memberikan jawaban, apakah kau tak marah atau sedih? Coba pikirkan." Ujarnya.
"Tapi ini tidak sepenuhnya salahku, aku mengajaknya untuk berbicara baik-baik namun sepanjang perjalanan dia terus saja mendiamku, apa kau tidak kesal jika menjadi aku diposisi saat itu," ocehnya Ashina meluap.
"Ah mengapa masalahmu seperti suami istri saja? Sangat rumit untukku pahami, sudahlah yang jelas aku harap kalian segera baikan dan kau Ash harus bisa mengambil jawaban terbaik," ucapnya sembari menjeda beberapa detik.
"Aku akan kembali bekerja, kau juga. Waktu istirahat sudah berlalu, ayo cepat!" ajaknya sambil bangkit dari tempat duduk.
"Kau duluan saja," kata Ashina sambil menyandarkan tubuhnya karena lelah memikirkan masalah ini.
"Baiklah, jangan terlalu lama nanti boss akan marah." Ucap Anna sembari berlalu meninggalkan Ashina sendiri diruangan tersebut.
Setelah kepergian Anna, Ashina langsung menjatuhkan air matanya yang tertahan sedari tadi. "Aku tak tahu Luc, aku tak tahu apa yang aku rasakan saat ini untukmu. Mengapa kau menghindar dariku? Jika aku salah katakanlah, aku merindukanmu. Ya mungkin." Ucapnya dengan nada sedikit terisak agar tak ada yang mendengarnya menangis.
Gadis itu menatap langit-langit ruangan. Lalu kedua tangannya mengusap air mata yang sedari tadi jatuh, gadis itu bangkit lalu menghembuskan nafasnya pelan sebelum keluar untuk melanjutkan pekerjaan.
Disisi lain, tepatnya diMoon Stone Pack. Keadaan Lucien tak seperti orang-orang lihat, diluar jiwa kepemimpinan Lucien keluar begitu tegas, namun jika sudah sendiri? Hanya lamunan yang menjadi temannya saat ini.
Lelaki itu terus melamun didalam ruangan kerjanya, dia menatap sofa didepan matanya Tiba-tiba sebuah ketukan membuyarkan lamunan lelaki tersebut. "Masuk," katanya tanpa mengubah duduknya.
Ternyata mereka adalah kedua orangtua Lucien. Ya, siapa lagi jika bukan Alpha Drey dan Luna Ashley.
"Nak, apa kau baik-baik saja?" tanya Luna Ashley sembari menghampiri anaknya tersebut.
"Hanya banyak pikiran saja," jawab Lucien masih memandang kosong didepan.
"Apa kau ada masalah dengan gadismu?" tebak Alpha Drey.
Lucien hanya terdiam, menandakan jika tebakkan Ayahnya itu sangat tepat. Senyuman misterius terpampang jelas diwajah Alpha Drey sembari menatap kearah Luna Ashley.
"Aku akan memberimu hadiah, kalau begitu kita pergi dulu." Kata Alpha Drey sembari menarik tangan Istrinya agar keluar dari ruangan tersebut.
Lucien yang melihat tingkah laku kedua orangtuanya itu menatapnya dengan bingung, namun pikirannya sudah dipenuhi oleh masalahnya dengan Ashina saat ini.
"Kau sedang apa disana? Aku merindukanmu, kau tahu itu?" gumamnya pelan.
**TO BE CONTINUED...
Hayoloh rencana apa yang dibuat Alpha Drey? Wkwk, btw kemarin gak up karena aku sibuk iya sibuk ngehalu sama bias😭 kalo besok aku gak up berarti kuotaku habis🤣
Oke jangan lupa like vote dan comment biar author semangat up♥️
See you next part🐺**