
Author Pov
"Iya, letakannya minuman itu dimeja dekat kolam berenang ya." Suruh Luna Ashley kepada salah satu Omega.
Orang itu mengangguk lalu melakukan apa yang diperintahkan oleh Luna Ashley. Sore hari sudah berganti menjadi malam yang gelap. Maka dari itu pesta yang direncanakan kemarin diadakan malam ini.
Semuanya nampak bahagia, begitu juga dengan Ambarita dan Lucien yang asik bersenda gurau dipinggir kolam berenang. Ashina yang sedang duduk dengan Venus terus memperhatikan gelagat dari Lucien.
"Tawa lebar itu juga pernah kau berikan padaku, Luc." spontan Ashina tanpa sadar berkata seperti itu.
Semua keluarga yang notabene nya memiliki pendengaran yang tajam langsung mengalihkan pandangan mereka kepada Ashina yang melamun memperhatikan Lucien. Begitu juga dengan Lucien dan Ambarita yang ikut menoleh kearah Ashina.
"Ash, apa kau baik-baik saja?" tanya Amma yang berada disamping kiri Ashina sembari memegang pundak Ashina.
Gadis itu tersadar dari lamunannya dan langsung menggelengkan kepalanya pelan agar tersadar dari lamunan. "A-ah, ya kenapa Amma?" tanyanya seperti orang bingung.
Amma tersenyum tipis. Wanita berumur 60 tahun itu masih terlihat sangat muda walaupun ada beberapa kerutan tipis dimatanya. "Apa kau merasa baik-baik saja?" tanya Amma lagi.
"Aku baik-baik saja Amma," jawab Ashina dengan senyuman kecilnya.
"Baiklah jika kau merasa baik-baik saja. Bilang kepada kita jika badanmu sedang tak enak, ya?" kata Amma dengan senyuman manisnya.
Ashina menganggukkan kepalanya dan membalas senyuman Amma. Mendengar jawaban dari Ashina membuat keluarga kembali tenang dan melanjutkan aktifitasnya masing-masing dipesta itu, termasuk Lucien dan Ambarita. Lalu Venus mencolek pundak Ashina, gadis itu menoleh kepada Venus.
"Kenapa?" tanya Ashina.
"Kak ingat apa yang kita rencanakan, kau harus terlihat baik-baik saja walaupun sebenarnya merasa sakit melihat perlakuan yang diperlihatkan oleh mereka. Jika kau gagal maka rencana kita juga akan gagal, kau tahu itu bukan? Tapi ingat--" ucapan panjang Venus terpotong oleh Ashina.
"Jika Ambarita kelewat batas, tak ada salahnya kita melawan. Aku ingat itu, Ash." Bisik Ashina pelan.
Sebuah senyuman bangga terbit dibibir Venus. "Ini baru kak Ashina kesayanganku!" bisik juga Venus dengan tertawa pelan.
Ashina juga ikut tertawa. Lalu pesta dimulai, Alpha Drey dan Mars yang memanggang barbeque, sedangkan Lucien, Venus memberikan bumbu-bumbu tambahan dijagung yang disediakan juga.
Ashina dan Ambarita ditugaskan untuk menyiapkan makanan penutup atau pencuci mulut. Semuanya terlihat baik-baik saja, hingga barbeque itu matang dan dimakan bersama oleh mereka. Tawa canda terdengar begitu bahagia, disisi lain Ashina tengah sibuk memilih minuman untuknya sendiri.
Namun tiba-tiba Ambarita menghampirinya yang sedang memegang minuman juga ditangan kanannya. "Perlu aku temani untuk minum?" tawar Ambarita.
Ashina terlihat acuh akan kedatangan Ambarita. "Kau tengah bermain diam-diam denganku?" tanya lagi Ambarita.
Lagi-lagi Ashina tak menggubrisnya. Perlahan kekesalan itu muncul membuat pegangan digelas yang dia pegang terlihat retak sedikit karena genggaman yang begitu kuat.
"Kau sedang memancing emosiku, gadis manis?" kata Ambarita sembari melangkah mendekat kearah Ashina.
"Oh ayolah Am, aku sedang malas bertengkar denganmu. Kenapa kau senang sekali mencari masalah denganku? Haus akan perhatian dari orang-orang rumah? Haha benarkan? Oh kasihan sekali," ejek Ashina dengan terkekeh pelan sambil menaruh kembali minuman ditangannya.
Ambarita melempar gelas tersebut diatas rumput-rumput membuat gelas itu tak pecah ataupun membunyikan suara yang membuat keluarga yang sedang berkumpul tak jauh dari jangkauan mereka tak mendengarnya.
"Kau semakin hari semakin sok berani denganku!" jengah Ambarita.
Ambarita mendorong tubuh Ashina cukup kuat, membuat gadis itu terdorong kebelakang dan untungnya jarak dari kolam berenang masih berjarak dua langkah saja dari Ashina saat ini. Jika dia kembali didorong maka dia akan terjatuh dikolam berenang.
"Kenapa kau mendorongku? Kesal?" tanya Ashina semakin menantang.
"Wanit sok lugu seperti kau tak pantas untuk Lucien!" kata Ambarita diselimuti amarah.
"Lebih tidak pantas dengan kau yang bermuka dua dan licin seperti ular berbisa bagi keluarga ini!" balas Ashina tak mau kalah.
"Kau!" amarah Amabrita.
Tangan perempuan itu ingin meraih rambut Ashina untuk menariknya. Namun gadis itu berhasil menghindar dan beralih kesamping, karena tenaga Ambarita dikeluarkan terlalu besar membuat perempuan itu terdorong oleh tubuhnya sendiri dan kehilangan keseimbangan. Alhasil Ambarita terjatuh kedalam kolam berenang. Suara seseorang jatuh kedalam air itu kembali menyita perhatian semua keluarga.
Mereka langsung menghampiri dimana mereka berdua berada. Ada yang terkejut sekaligus tersenyum tipis. "Luc, bantu aku!" teriak Ambarita seolah ingin tenggelam dikolam tersebut.
Lelaki itu menatap sekilas kearah Ashina yang juga tengah menatapnya. Tatapan tajam yang diberikan oleh Lucien mampu menyakiti mata sekaligus hati Ashina saat itu juga.
"Bertahanlah, aku akan membantumu!" balas Lucien lalu tanpa berpikir panjang langsung melompat kedalam kolam berenang dan membantu Ambarita keluar dari air tersebut.
Semua keluarga mundur selangkah memberi ruang kepada Ambarita. "Ambilkan selimut yang ada diatas meja dekat minuman itu!" kata Lucien sedikit menaikkan nada tingginya.
"Gadis itu telah mendorongku, Luc. Aku hanya ingin menemaninya untuk minum, tapi dia malah terlihat kesal dan langsung mendorongku." Adu Ambarita dengan tangisan disela-sela ucapannya.
Lelaki itu kembali menatap tajam kearah Ashina, gadis yang ditatap oleh Lucien itu berkata. "Dia berbohong, aku tak mendorongnya. Dia sendirilah yang mendorongku, dia ingin menyerangku tapi aku langsung menghindar dan tubuh dia kehilangan keseimbangan lalu terjatuh ke kolam itu," kata Ashina seolah menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Percayalah padaku, aku tak pernah bohong dengan kalian." Lanjutnya lagi dengan menahan tangisannya yang ingin pecah.
Mars kembali datang dengan membawa selimut yang diperintahkan oleh Lucien. Lalu memberikan kepadanya. "Aku tak ingin mendengar omong kosong dari mulutmu. Am, ayo kita masuk kedalam kamar. Kalian lanjutkan saja pesta ini, aku sudah muak dengan semuanya." Ujar Lucien yang membuat hati Ashina kembali seperti ditimpa oleh besi yang sangat berat.
Kepergian Lucien dan Ambarita membuat keluarga yang tersisa disitu bingung sendiri. Kenapa sifat Lucien sekarang sangat berbeda. "Apa kalian percaya denganku? Aku tak bohong soal itu, percayalah padaku. Hiks.." ucap Ashina yang akhirnya menangis begitu saja.
"Aku tak berbohong, perempuan itu berbohong, dia membohongi Lucien. Hiks." Katanya lagi dengan tangis yang semakin menjadi.
Luna Ashley menghampiri Ashina lalu memeluk gadis itu untuk sekedar menenangkannya. "Kita percaya denganmu, sudah ya jangan menangis?" kata Luna Ashley.
Gadis itu membalas pelukkan Luna Ashley. "Pesta malam ini selesai. Sudah larut malam dan sebaiknya istirahat kembali kedalam." Ucap Alpha Drey.
Mereka mengangguk, namun saat Mars ingin masuk juga tapi ditahan oleh Alpha Drey. "Mars, aku ingin berbicara dengamu." Kata Alpha Drey.
\\\\\\\\\\\\\\\\
**To be continued....
Hii guys, hayoloh kira kira kesel sama Lucien, Ambarita, atau Ashina? Atau semuanya kesel?๐
Jangan lupa kasih like vote dan comment ya๐๐
See you next part๐บ**